Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 54 - Sebelum Semua Berakhir



"A-ah, sepertinya aku berlebihan. Kota ini hancur sekarang. Aku ingin tahu, apa ini bisa disebut berhasil?" Seorang pria dengan jubah hitam melayang di atas kota Eldergale.


Jubah itu tidak alami, karena itu dibuat dari Dark Magic. Itu jelas sangat kuat, tidak perlu ditanya lagi.


Selain itu, terlihat bahwa dia sebenarnya bisa melayang tanpa menggunakan seekor wyvern, hanya dengan menggunakan jubahnya.


Dia mengendarai seekor wyvern, monster yang dikatakan sebagai kerabat naga.


Wyvern itu tidak hanya tenang di atas sana, tapi juga menembakkan beberapa bola api untuk menghancurkan kota Eldergale.


Hanya dengan sekali tembak, rumah rumah dan tembok tembok pun hancur, rata dengan tanah. Walaupun rata rata rumah penduduk menggunakan kayu, tapi itu tetap dihitung sebagai serangan yang sangat kuat.


Kota yang tadinya indah, kini hancur tanpa menyisakan apapun lagi. Bekas bekas kejayaannya kini menghitam, begitu juga dengan para warganya.


Hampir tidak ada satupun yang tersisa, kalaupun ada itu adalah keajaiban.


Tapi, keajaiban adalah sesuatu yang menyakitkan setelah harapan.


"Sebenarnya jika ada remaja umur 10 atau 12 tahun yang bisa selamat, mungkin aku akan mengambilnya sebagai anak buahku, mengikatnya menjadi budak. Tapi melewati umur 15, aku menolaknya. Orang dewasa bukan tipe ku, sih." Orang itu masih mendecakkan lidahnya.


"Dengan begini, tugasku selesai. Aku penasaran apakah peringkatku dalam [Ten Apostle of Demon God] naik?" dia memainkan dark magic di tangannya, membentuknya menjadi kembang api.


Kembang api itu indah, tapi mengerikan. Hanya percikan kecil darinya saja sudah menyebabkan kehancuran yang luar biasa.


"Dan juga, ini sangat membosankan! Aku kira akan ada suatu perlawanan terjadi di sini, karena sebelumnya aku mendengar bahwa monster kecil yang kukirimkan selalu menghilang!" Teriak orang itu sambil mengangkat kedua tangannya.


Sayangnya, orang yang dia maksud sedang pergi, dan dia bahkan belum sampai di kota saat ini.


"Kalau ada orang yang bisa membunuh monster itu dengan mudah, maka pasti aku, Gordo yang hebat ini akan datang dan menjadi lawannya. Bukankah itu sebuah kehormatan besar?" Dia terbahak bahak.


Walau begitu, kemampuannya tidak bisa dianggap remeh. Kemampuannya benar benar sesuai dengan omong besarnya.


Orang itu adalah Gordo. Dia adalah anggota ke-10 dari [Ten Apostle of Demon God]. Karena itu, dia sering dipanggil Tennie oleh para seniornya.


Kekuatan yang dia miliki, adalah mengendalikan dark magic, membuatnya menjadi apapun yang dia inginkan.


Tidak ada yang tahu, dari mana dia mendapatkan kekuatan besar itu, tapi yang tahu hanyalah itu adalah sebuah kemampuan yang mengerikan.


Contohnya sekarang, dia membuat boneka boneka dari dark magic, yang bahkan bisa bergerak sendiri untuk menghancurkan kota.


Selain itu, cadangan dark magic nya sangat banyak, dan bisa dibilang tidak terbatas, karena sejatinya dark magic tercipta dari kebencian yang ada di seluruh dunia, dan Gordo mendapat kekuatan nya dari sana.


Dengan kata lain, ketika masih ada kebencian di dunia ini, kemampuannya tidak terbatas.


Walau terlihat begitu kuat, dia masih dianggap lemah oleh beberapa seniornya.


"Mungkin lebih baik aku hancurkan seluruh kota ini, ya? Hitung saja menghancurkan barang bukti. Aku bisa bilang ke kultus bahwa aku menemukan lawan kuat dan menghancurkannya di sini." Gordo berkata pelan, lalu mengangkat tangannya.


"Aku benar benar tidak mau ada yang selamat dari kota ini. Itu sangat merepotkan!" dia melebarkan kedua tangan.


Dari kedua tangannya keluar beberapa benda hitam yang mengerikan. Itu jatuh ke tanah perlahan, jadi seperti jatuh dari langit.


Itu perlahan membentuk sebuah badan, dengan sebuah club' di tangannya. Monster setinggi 5 meter itu pun bangkit, seperti baru saja terbangun dari tidur panjangnya.


Dia berdiri tegak, seperti siap menerima perintah.


"Ledakkan kota ini jika semua yang ada sudah mati! Aku sudah bosan berada disini!" Gordo berteriak, memberi monster itu perintah.


Gordo berbalik, lalu menarik tali pada Wyvern, memerintahkannya untuk pergi.


Hanya saja, dia pergi ke terlalu cepat. Entah keberuntungan atau kesialan yang dia alami. Karena Ren, dia datang beberapa saat setelah Gordo pergi.


***


"Hyaaahh!!" Roy yang masih bertahan menyerang beberapa monster hitam itu sekuat tenaga. Dia terpisah dari Childe, saat monster besar yang barusan dibuat oleh Gordo, yang merupakan bom jatuh.


Dan sekarang, dia harus berhadapan dengan monster monster hitam itu sendirian.


Yang lebih parah, monster yang terbesar dan membawa klub justru mengalihkan perhatiannya ke arah Roy dan yang lainnya.


"Sial! Ini sulit!" Roy masih terdesak ketika dia mengayunkan pedang besarnya. Di belakangnya, ada istrinya, Nina dan Edna yang sedang berlari ke tempat persembunyian khusus.


Mereka benar benar terpisah dengan Ruly, karena Ruly dengan sigap mengevakusi warga.


Hanya saja, Ruly tidak ada lagi yang bisa dievakuasi.


Keadaan mereka terpojok, sedangkan yang bisa melawan monster monster itu hanyalah petualang Rank-S seperti Childe dan Roy. Itu tidak sebanding dengan banyaknya monster yang muncul.


"[Boost Up]!" Edna yang bisa menggunakan beberapa sihir support meneriakkan mantra, lalu menyalurkannya pada Roy.


Roy terkejut, tapi juga tersenyum. Dia cepat mengalahkan beberapa monster yang ada di sekelilingnya.


Monster monster kecil segera disapu bersih oleh Roy, hingga tersisa salah satu, yang terbesar.


Walau begitu, waktu sihir penguat Edna tidaklah lama, dan juga monster hitam itu terus berdatangan dan terlalu banyak untuk Roy tangani sendiri. Apalagi, dia harus memperhatikan kedua orang yang dia lindungi, pertarungan ini semakin menjadi sulit.


"Ugh, kalau aku harus mati, setidaknya mereka berdua harus selamat. Aku cukup khawatir dengan Syila. Tapi ada Childe disana, mungkin aku harus berdoa." Roy semakin terpojok oleh monster yang semakin banyak.


Nina dan Edna masih terus berlari, ada sebuah tempat persembunyian di dekat gunung, yang bisa digunakan.


Tapi karena serangan ini terlalu mendadak, evakuasi yang dilakukan pemerintah Guild menjadi terlambat.


"Kalau begini terus, semua orang akan mati. Setidaknya, aku ingin kamu selamat, Edna. Jika ini menjadi lebih gawat, tolong. Tolong larilah. Kumohon. Aku ingin menjadi sedikit berguna." Nina berhenti dan berteriak ke arah Edna.


Mungkin karena keadaan saat itu terlalu mengerikan, yang ada di pikiran mereka hanyalah kematian.


"Tidak tidak! Kita, kita pasti akan selamat. Ayo, ibu! Kita pasti selamat. Walau aku tidak tahu bagaimana keadaan kak Ruly sekarang. Tapi aku yakin!" Edna menarik lagi ibunya untuk kembali berlari.


("Aku yakin. Aku yakin!") Edna masih berteriak dalam hati, berdoa.