
Pertandingan dihentikan oleh Kurls karena dia masing masing peserta sudah terpojok.
"Duel ini berakhir imbang!" kelas Kurls.
Seketika, Ren dan Suzu terduduk, dan mengambil nafas panjang.
"Hufft. Ini melelahkan. Kau benar benar tidak menahan diri, Suzu. Apa yang akan terjadi jika aku tidak berhasil melarikan diri tadi? Kau lupa aku hanya manusia?!!" teriak Ren. Suzu yang mendengar itu hanya tertawa, sambil menggaruk kepalanya.
"Benarkah? Aku kita itu kau, Ren. Kalau itu kau pasti akan baik baik saja." jawab Suzu tenang.
Dia juga merasa senang, bahwa dia bisa bertarung seimbang dengan Ren.
"Luar biasa. Dia bisa menahan imbang senior Suzu bahkan tanpa menggunakan sihir! Apa apan itu? Apa dia punya skill khusus?" Jill dan yang lain turun, setelah pertandingan dikatakan benar benar selesai.
Edna juga segera mengambil alih, dan menyembuhkan keduanya segera.
"Yahh, latihan yang bagus sebelum aku pergi. Tapi ingat. Aku akan menjadi lebih kuat setelah aku kembali. Kalian juga jangan sampai tertinggal, ya!" kata Ren sambil sedikit mengelus kepala Aina yang mendekat.
Aina tersenyum menerima itu, sementara yang lainnya menjadi lebih bersemangat.
"Benar. Kalau begitu, berjanjilah kembali, Ren. Saat itu, marilah kita berduel lagi." kata Suzu, berdiri lalu mengulurkan tangan, membantu Ren berdiri.
("Itu agak terdengar seperti flag, bukan?") tanya Ren dalam hati.
Dia tersenyum, lalu memandang semuanya sekali lagi. Dia berpikir untuk saat ini, lebih baik mengikuti alur cerita yang sudah ada, dan tidak bergerak seperti apa yang dia mau.
"Itu bagus. Dan jangan lupa tugas khusus yang aku berikan pada kalian berdua." kata Ren.
Suzu dan Edna tersentak, mengingat tugas yang Ren berikan dengan kertas waktu itu. Walau begitu, mereka tetap mengangguk dengan yakin.
***
"Kak Ren, apakah kau harus pergi?" tanya Aina dengan wajah sedih.
Sekarang adalah waktu yang Ren jadwalkan untuk pergi. Dia berencana untuk menuju Negara Afsel, dan merubah namanya sesuai dengan apa yang dia ceritakan dulu.
Dari sana, dia akan mencoba melihat dunia lebih luas.
"Aku harus, Aina. Bukankah kita sudah pernah berbicara tentang ini sebelumnya? Kamu pasti tahu hari ini akan datang, bukan?" kata Ren memegang pundak Aina yang sekarang sedikit bergetar.
"Hum. Kakak benar. Aina tidak akan menangis!" kata Aina yakin.
"Anak pintar, anak pintar!" Ren mengelus kepala Aina, yang membuat Aina kembali tersenyum. Dia lalu menoleh ke arah orang orang lain yang sedang mengantre untuk berbicara dengannya.
"Nak Ren, tolong bawalah ini. Ini adalah artefak kota kami. Aku yakin itu pasti akan mempermudah perjalanan." Rice datang ke depan, dan menyerahkan sebuah cincin kepada Ren.
Ren sedikit kebingungan, tapi Rice hanya tersenyum.
"Itu adalah cincin yang bisa berfungsi sebagai sebuah Inventory. Aku lihat kau membawa barang yang sangat banyak, jadi aku yakin kau akan kesulitan untuk membawanya." kata Rice.
Ren segera sumringah mendengar itu, dan dia berterima kasih segera sambil mengaktifkan cincin itu, memasukkan semua barang ke dalam sana.
Setelah itu, sebuah acara perpisahan terjadi sejenak, sebelum akhirnya kereta yang akan mengantar Ren tiba.
Itu adalah pedagang yang melewati Furyuun, karena dia ingin pergi melanjutkan berdagang ke Afsel. Dan karena dia membutuhkan penjaga, Ren bisa menumpang dengan alasan menjaga pedagang itu.
"Melihat orang orang yang mengantarmu, sepertinya kau adalah orang yang penting, ya?" kata pedagang itu sambil memanggil Ren.
Ren yang sedang berada di gerbong tertawa.
"Tidak tidak. Aku hanyalah orang yang bodoh dan berdosa, yang tidak tahu apa apa. Aku tidak pantas mendapat hal hal sebaik itu." jawab Ren dengan tawa yang dipaksakan.
Keadaan segera menjadi hening.
"Oh ya, paman. Siapa namamu? Agak tidak menyenangkan untuk tidak mengetahui nama teman seperjalanan. Dan perkenalkan, namaku Liu Xiu. Aku adalah seorang pendekar pedang. Aku memang seorang manusia, tapi jangan khawatir. Aku cukup yakin dengan kemampuan ku." kata Ren sambil memperkenalkan diri.
"Ohh begitu kah? Baiklah. Namaku Rose. Aku lahir di Kerajaan Kin ini, tapi dibesarkan di Afsel. Itulah kenapa aku berakhir menjadi pedagang." kata pria itu sambil terus mengemudi.
"Baiklah, paman Rose. Apakah ingin aku yang mengemudikan kereta ini? Aku sedikit mampu mengemudikan kereta." jawab Ren.
Rose tertawa mendengar itu.
"Kau bisa melakukannya? Itu mengejutkan! Kalau begitu, saat aku lelah tolong gantikan aku." katanya.
"Dan juga, aku beri sedikit nasihat. Kerajaan Afsel tidak terlalu mendiskriminasi Ras. Asalkan kau punya uang, kau akan diterima di sana. Dan aku yakin, anak sepertimu akan beradaptasi dengan mudah!" lanjut Rose sambil kembali tertawa.
"Itu bagus. Baiklah, paman. Aku akan mengingat itu." jawab Ren.
Dengan begitu, mereka akhirnya berbincang tentang banyak hal, sementara Ren juga menanyakan beberapa hal sambil terus mengasah pedangnya. Memang aneh, tapi dia benar benar melakukannya selama perjalanan.
Sampai akhirnya, matahari terbenam. Mereka berencana untuk bermalam di ibukota. Tapi sepertinya mereka agak terlambat.
Hasilnya, mereka sampai di Ibukota terlalu malam.
Walau begitu, tetap ada beberapa tempat yang mau menampung mereka. Ren menolak untuk tidur di penginapan, karena dia sedang menghemat pengeluaran. Dia lebih memilih tempat lain untuk tidur.
***
"Selamat pagi, Rose. Kita berangkat sekarang?" tanya Ren yang sudah bercokol di atas tempat duduk kusir.
Dia sudah bangun pagi pagi, dan sudah membersihkan kereta Rose, membangunkan kuda, dan memberinya makan. Jadi saat Rose selesai sarapan, semua sudah selesai dan siap untuk berangkat.
"Kau benar benar rajin, ya!! Aku jadi ingin mempekerjakan mu." kata Rose.
"Anggap saja ini adalah imbalan karena beruntungnya kita tidak bertemu bahaya apapun di jalan. Dan semoga saja itu tetap seperti itu." jawab Ren.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan, sampai ke kota Howtie, yang merupakan kota pelabuhan milik Kerajaan Kin.
Menurut Rose, disini juga merupakan tempat yang bagus untuk berdagang, tapi tidak sebaik Kerajaan Afsel.
Menunggu kapal cukup lama, membuat mereka harus bermalam di Howtie, sebelum akhirnya di pagi hari berlayar untuk menuju Fuheng, kota Perdagangan di Afsel. Kota itu berdekatan dengan kota Petualang, Li Tian.
Kota Li Tian ini adalah kota yang dituju Ren, untuk memulai hidup barunya.
Dan benar, tidak ada hal buruk yang terjadi saat di perjalanan. Itu membuat mereka sampai dengan mudah ke Fuheng.
Sesampainya di Fuheng, Ren yang sekarang namanya Liu Xiu berpisah dengan Rose.