
Suzu sejak awal sepertinya memang memiliki rencana sendiri.
"Aku tidak akan menebak nebak apa yang akan terjadi, tapi kemungkinan aku akan ada rencana. Apa kau bisa membantuku?" Tanya Suzu sambil tersenyum penuh arti.
"Ha ha! Kukira kau akan dengan cepat menyambar apa yang akan aku katakan. Kau wanita yang menarik, ya!" Soeye tertawa keras, dengan tajam menatap Suzu.
"Ahahaha, aku sudah menduganya."
"Lalu, jangan panggil aku wanita karena aku benar benar masih 6 tahun. Selain itu, kau juga wanita, bukan?" Suzu membalikkan kata katanya, membuat Soeye terdiam.
"Baiklah. Kita sudah mulai berteman, bukan? Aku juga tahu bahwa kau juga ingin segera keluar dari sini. Karena aku tahu, penyebab kenapa kau menjadi thief menunggumu pulang," Suzu memberhentikan kalimatnya disana, sedangkan Soeye tampak memalingkan muka.
"Yahh, kita harus tahu penyebab dan kemungkinan kita bisa tahu apa kita harus melarikan diri atau tidak. Aku yakin melihat Syila disana." Suzu sedikit melambai pada perempuan yang terlihat malu malu.
"Eh- apa? Kenapa? A-Aku? Apa aku dibutuhkan?" Dia menjawab dengan tergagap.
Semua orang mengangguk segera.
"Baiklah apa yang akan kita lakukan dengannya sekarang?" Soeye sedikit penasaran.
"Oke. Kita laksanakan rapat darurat sekarang. Kita kumpulkan informasi yang ada, dan mungkin akan membuat kita mencapai kesimpulan." Suzu mengawali menjadi kepala mereka.
(Ahh, aku menjadi sok memimpin! Yahh, walaupun aku tahu, bisa juga ini kujaikan latihan untuk hal yang lebih tinggi. Selain itu, aku juga dikenal anak guild master, bisa diikuti dengan mudah.) Suzu membatin.
"Pertama, alasan kenapa kita semua diculik, harus diketahui. Kenapa mereka menculik kita semua?" Dia bertanya.
"Maksudku, apa persamaan diantara kita?" Suzu bertindak sebagai moderator disana.
"Ras?" Seseorang angkat bicara.
"Me-menurutku alasan itu terlalu umum. Jika mereka benar benar menculik kita karena ras, mungkin mereka akan menyulut api perang antar ras." Syila berbicara pelan.
Semuanya terlihat memperhatikan.
"Dan mereka akan melakukannya terang terangan dengan mengatasnamakan ras tertentu, jadi kita pass kemungkinan ini?" Syila segera melanjutkannya.
Entah kenapa itu sedikit lucu.
"Kalau begitu, bagaimana dengan umur?" Kini Senya yang mengutarakannya.
"Itu, mungkin saja. Kalau aku 6 tahun, dan ada beberapa kakak kelas kita, dan Soeye disana-"
"10 tahun." Soeye menginterupsi singkat.
"10 tahun ya, mungkin jaraknya adalah sebesar itu. Dan kemungkinan besar mereka juga mengincar para anak dengan Magic Point tinggi. Karena mereka mengincar para murid pada kelas S." Jelas Syila.
"Kalau begitu, jelas sudah kalau kita memiliki Fehl tinggi, dan umur yang mirip. Selanjutnya?" Suzu menjembatani keheningan.
Tapi tetap, keheningan tidak hilang.
"Ahh, tidak! Tunggu dulu! Kita belum bertanya apa apa pada Larvest ini, bukan?" Soeye berteriak dengan nada protes. Semua berpandangan.
"Sebut namaku saja, jangan nama keluargaku. Kita sudah berteman kan?" Suzu tersenyum.
"Ahh, terserah. Maksudku, bisa saja kunci dari rapat ini ada dia Suzu. Dia pasti memiliki beberapa informasi penting." Jelas Soeye.
"O-oke, seperti apa?" Jawab Suzu sedikit bingung.
"Bagaimana kau tertangkap, aku yakin kau tidak akan tertangkap dengan mudah, bukan?" Tanya Soeye.
"A-ah, soal itu. Aku bahkan tidak tahu dari asal mana mereka menyerangku. Jadi itu termasuk mudah, mungkin?" Jawab Suzu sambil menggaruk kepalanya.
"Yhaa!" Teriak mereka semua hampir secara bersamaan. Dan kemudian, Suzu ingat sesuatu.
Kembali, hening melanda
"Tunggu! Kau punya kakak?" Semua teman sekelasnya berteriak tidak percaya!
"Kenapa tidak masuk akademi?"
"Apakah dia tidak terlalu pintar jadi tidak bisa masuk akademi?" Semua segera bertanya mendekat.
"Oke satu satu! Aku punya kakak, dia bisa dibilang kembar denganku karena berumur sama denganku." Suzu mendorong semuanya perlahan.
"Dia bukannya tidak layak untuk akademi, tapi akademi yang tidak layak untuknya. Dia terlalu pintar untuk akademi." Jelas Suzu sambil berhenti sesaat.
"Dan kalau bisa dibilang, dia bisa disetarakan, tidak. Jauh lebih baik dalam hal analisis jika dibandingkan dengan Syila." mendengar itu, semua tercengang.
Karena memang Syila saja sudah dikenal dengan pemikirannya yang paling cepat di kelas.
"Kalau kalian minta pendapatku, Ren adalah sosok yang mengerikan. Dia cerdik dan berkepala dingin." Cerita Suzu panjang lebar.
Semuanya terdiam mendengar itu. Tapi Soeye dengan cepat memahami sesuatu.
"Kalau dilihat dari cara Suzu menceritakannya, Suzu sangat menghormatinya, dan berarti dia sangatlah hebat."
"Kalau dia mengetahui ini, maka!" Soeye berteriak.
"Dia akan segera mengetahui siapa dalang penculikan ini, dan menyarankan Guild Master untuk membuat party pencarian besok!" Syila menyahut senang.
Tapi tampaknya yang lain masih belum terlalu mengerti.
"Dengan kata lain, kita hanya harus menunggu sampai besok, dan party penyelamat akan datang!" Jelas Syila.
"Yaa!" Teriak mereka semua yang ada disana senang.
Sampai sampai, monster mirip kuda yang ada di sebelah mereka meringkik keras.
Tentu saja, halitu mengundang perhatian para penjaga!
"Hei! Ada apa?! Diam!" Seorang penjaga yang terlihat membawa seorang anak lagi menggebrak pagar kayu. Semua sontak terdiam.
Sesosok anak berambut putih yang berjalan terseok. Yang keadaannya sekarang tidak bisa dibilang baik.
Suzu panik, segera berlari mendekati gerbang.
"Rambut putih itu, jangan jangan?!" Suzu sedikit panik ketika melihat anak dengan rambut putih yang diseret mereka berdua.
"Ahh, itu bukan Ren." Suzu segera menarik nafas panjang ketika tahu kekhawatirannya salah.
Dia bisa bernafas lega sekarang.
Suzu mengira bahwa karena Ren mengejarnya, dia jadi dikejar dan ditangkap penculik ini.
"Lagi lagi mereka menangkap anak kecil, ya!" Senya sedikit berbisik ke arah Suzu. Dari nada suaranya, dia terdengar ketakutan.
"Tapi mereka tidak membawanya kemari. Itu agak mencurigakan." Soeye setengah menggumam pada dirinya sendiri mengatakan pikirannya.
(Hmm, aku sepertinya pernah tahu tentang hal ini, tapi dimana aku membacanya? Aku lupa!) Soeye mengingat sesuatu membuat wajahnya berubah.
Penjaga itu berlalu dengan cepat, meninggalkan sel mereka semua.
Mereka yang tadi terdiam segera melanjutkan suka cita mereka akan kebebasan mereka yang besok datang.