Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 4: Bab 16 - Menjadi Murid!



"A-ahh. Dimana aku?" sebuah kalimat klise diucapkan Liu Xiu ketika dia bangun dari tidurnya. Hanya saja, ketika melihat ke sekeliling dia tidak mengenali dimana dia sekarang.


Dia sadar, ada di dalam sebuah rumah kecil dari kayu. Walau begitu, ini terasa sangat nyaman untuknya. Liu Xiu melihat ke luar jendela, menyadari bahwa malam sudah mendekat.


"Ugh... Benar juga. Aku kalah, kah? Aku kalah dalam pertarungan itu ya?" kata Liu Xiu pelan setelah mengingat semuanya.


Mengingat itu, Liu Xiu mengepalkan tangannya perlahan.


"Menyebalkan! Menyebalkan! Sangat sangat menyebalkan!!" katanya pelan sambil meninju-ninju lantai dengan kepalan tangannya.


"Dia hanya Beast biasa, bukan? Dia tidak menggunakan sihir atau keajaiban yang luar biasa. Kenapa aku bisa kalah darinya?! Kenapa?! Kenapa?!" giginya gemertak, semakin dia meneriakkan ketidakpuasannya itu.


"Kalau begitu, aku sama sekali tidak bertambah kuat, bukan?" bisik Liu Xiu. Kini pandangannya menggelap, menatap ke bawah.


Diluar sudah senja, tanda malam akan datang. Yuan Yi yang selesai berlatih juga sudah selesai, ingat dengan perkataan kakeknya yang mengatakan bahwa Liu Xiu akan bangun saat malam. Karena itu, dia segera pulang lebih awal hari ini.


Dia sedikit mendengar suara suara dari ruangan Liu Xiu, karena itu dia memutuskan untuk menguping sebentar.


Yuan Yi mendengar Liu Xiu yang tidak puas dengan hasilnya melawan Tang Xin, dan beberapa kata lainnya. Mendengar itu, Yuan Yi hanya mengguman diam.


("Dia tidak puas mendapat hasil yang begitu baik setelah melawan ayah? Aku tidak mengerti lagi.") pikirnya.


Karena Liu Xiu sudah berhenti berbicara, Yuan Yi mengetuk pintu, menggesernya dan masuk ke ruangan Liu Xiu.


"Liu Xiu! Kau sudah sadar, kah?! Ahh, ini lebih cepat dari yang kukira, tapi syukurlah! Apakah ada beberapa tempat yang terasa aneh atau terasa sakit? Kalau ada, tolong katakan. Kalau kalau akan menjadi berbahaya di kemudian hari." kata Yuan Yi setelah masuk.


Liu Xiu tersenyum sedikit, menyadari yang sedari tadi mendengarkan perkataannya adalah Yuan Yi. Tapi Liu Xiu sedikit bingung, kenapa dia harus menyembunyikan dirinya tadi?


"Aku tidak apa sekarang. Setidaknya, setelah mendapat perawatan dari kau dan kakekmu, aku tidak apa." jawab Liu Xiu tenang.


"Kalau begitu itu bagus." Yuan Yi mengambil air, dan menyodorkan kepada Liu Xiu untuk meminumnya.


Liu Xiu hanya mengangguk, menerima itu sebagai ramah tamah yang memang seharusnya. Saat menerima air, dia teringat lagi.


"Ayahmu, seorang idealis, bukan?" kata Liu Xiu pelan.


Yuan Yi sedikit terkejut mendengar itu, tapi dia juga tersenyum pahit.


"Yahh, kau benar. Ayahku benar benar menjunjung tinggi nama keluarga. Dia akan melakukan apapun untuk menjaga nama keluarga Li tetap baik. Salah satunya adalah menyingkirkan ku karena kemampuanku yang kurang." bisik Yuan Yi.


"Aku dicoret dari daftar pewaris keluarga Li. Dia akan membesarkan murid murid yang dia pikir baik untuk menjadi pewaris. Sementara aku dibuang." lanjutnya lagi.


Liu Xiu sedikit mengangguk mendengar itu, sambil mengamati ekspresi sedih dari Yuan Yi.


"Apakah kau ingin menjadi pewaris keluarga Li?" tanya Liu Xiu.


"Bukanlah jelas? Aku sangat ingin berada di posisi itu! Itu adalah sebuah kehormatan besar, yang bahkan serasa mimpi untuk aku gapai! Kalau ditanya apakah aku menginginkannya, aku jelas menginginkannya!" teriak Yuan Yi yakin.


Liu Xiu mengangguk, tapi dia merasa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


"Kau. Benarkah itu yang kau pikirkan? Apakah kau berlatih keras hanya untuk itu?" tanya Liu Xiu.


"Hanya? Kau memang aneh. Itu bukan sesuatu yang bisa dibilang "hanya", kau tahu? Aku ulangi sekali lagi, itu adalah posisi dengan kehormatan besar." jawab Yuan Yi sambil tertawa kecil.


Liu Xiu mendengar itu menarik nafas, merasa Yuan Yi tidak mengerti apa yang ingin dia katakan.


"Baiklah. Apakah kau berlatih keras untuk mendapatkan kehormatan, kekuasaan, dan sebagainya itu? Apakah kau merasa kau tidak pantas mewarisi tempat itu karena Chi mu yang sedikit? Dan apakah benar itu yang kau inginkan?" tanya Liu Xiu tajam.


Kini Yuan Yi tidak bisa berkata kata. Bagaimanapun, kalimat Liu Xiu menggapai bagian hatinya yang terdalam. Itu mengetahui apa yang selama ini dia bimbangkan.


("Dia, walau terlihat seperti anak kecil, tapi aku tidak tahu seberapa banyak pengalaman hidupnya. Apakah dia seorang sosok yang awet muda?") pikir Yuan Yi.


Terjadi keheningan sesaat, ketika mereka saling berusaha menebak pikiran satu sama lain. Tapi hasilnya, justru Liu Xiu yang mendapat lebih banyak informasi.


"Ya ya ya. Mari kita akhiri topik ini disini. Tidak baik untukmu membicarakan hal hal berat setelah kau bagun, Liu Xiu." kata Jian Koo yang tiba tiba masuk ke ruangan.


"Benar. Aku pikir kau akan masuk lebih cepat tadi." sahut Liu Xiu.


("Itu berarti kau sudah tahu kakek disini dari tadi?") pikiran Yuan Yi bertanya dengan matanya yang sedikit mendelik.


Jian Koo masuk ke dalam ruangan, ikut duduk diantara mereka berdua. Dia mengambil air, meneguknya sedikit, sambil terus mengamati Yuan Yi dan Liu Xiu. Tapi keduanya hanya diam.


"Kenapa? Silakan lanjutkan saja apa yang kalian bicarakan tadi." ucap Jian Koo agak bingung.


Walau sebenarnya Jian Koo tahu, agak canggung untuk mengatakannya di hadapannya, dia tetap menunggu. Liu Xiu tahu apa yang diinginkan Jian Koo, dan hanya menarik nafas.


Dia yang awalnya duduk di seberang Yuan Yi bangkit, dan berjalan menuju hadapan Jian Koo, dan mulai duduk.


Tiba tiba, Liu Xiu menundukkan kepala, bersujud di hadapan Jian Koo. Itu jelas membuat kedua orang yang melihatnya terkejut, bahkan tidak bisa berkata apa apa!


"Tolong ajarkan saya menggunakan energi kehidupan!" teriak Liu Xiu yakin.


Jian Koo dan Yuan Yi melongo, hanya saling memandang dalam diam. Tapi setelah beberapa saat, Jian Koo tersenyum, begitu juga dengan Yuan Yi. Yuan Yi akan menjawab bahwa memang itu yang diinginkan ayahnya, tapi Jian Koo segera menghentikan nya.


"Kau tahu aku tidak bisa sembarangan mengajarkan ilmu ini, bukan?" kata Jian Koo dengan nada datar.


"Walau begitu... Walau begitu!! Tolong buat pengecualian untuk saya!! Saya memohon dengan sangat. Bagaimanapun, saya harus bisa menguasai kemampuan ini!!" teriak Liu Xiu sambil lagi lagi membenturkan kepalanya ke lantai, bersujud.


"Apakah kau pikir hanya dengan bersujud aku akan mau melakukannya? Dan lagi, kenapa kau harus menguasai kemampuan ini?" tanya Jian Koo.


Liu Xiu menggerakkan giginya kesal, karena dia mengingat tentang Albert. Bagaimanapun, dia adalah orang yang membuat Liu Xiu maju untuk mengetahui rahasia dunia. Dan lagi, dia sudah dititipi kekuatan dan perasaan banyak orang, membuatnya tidak bisa berhenti disini.


"Karena..." Liu Xiu berpikir sesaat.


Dia tidak mungkin menceritakan semuanya secara gamblang disini. Tapi dia juga tidak bisa berbohong juga. Hatinya memiliki konflik, membuatnya mengalami dilema besar saat ini.


"Kenapa? Apakah kau benar benar tidak percaya dengan orang yang akan menjadi gurumu?" desak Jian Koo.


("Aku takut aku harus membunuh mu kalau aku mengatakannya, itu yang ingin ku katakan....") pikiran Liu Xiu benar benar menahannya untuk mengatakan hal itu, tapi akhirnya dia berhasil menemukan alasan.


"Aku memiliki beberapa sahabat yang menitipkan sesuatu yang sangat penting. Dan aku pikir, dengan mampu mengendalikan Chi ini, aku bisa mengabulkan harapan mereka!" kata Liu Xiu pelan sambil mengepalkan tangan, menyalurkan rasa amarah.


("Itu bukan bohong sih. Tapi dengan menguasai kekuatan ini, aku pikir bisa selangkah lebih dekat dengan kebenaran itu!!") hati Liu Xiu juga berteriak yakin.


Bagaimanapun, skill [Poker Face] milik Liu Xiu berada di level maksimal, jadi mudah baginya untuk memainkan perasaan di wajahnya.


Yuan Yi yang melihat itu sedikit merasa bersalah karena itu. Karena sejak awal ayahnya sendiri, Yang Xin sudah meminta pada Jian Koo untuk mengajarkan ilmu ilmu dasar pengendalian Chi pada Liu Xiu.


Sementara itu, Jian Koo justru terlihat bangga dan tanpa salah sedikitpun. Itu membuat Yuan Yi sedikit kesal dengannya.


"Hufft. Kau benar benar memaksa, bukan? Apapun yang terjadi, kau akan tetap memintaku untuk menjadi gurumu, bukan? Kalau melihat karaktermu, kau akan terus mengejarku sampai aku mau menjadi gurumu, bukan?" kata Jian Koo sambil menyilangkan tangannya.


"Jadi?!" segera, wajah Liu Xiu menjadi cerah. Padahal, dia tersenyum licik dalam hatinya!!


"Baiklah. Aku akan mengajarimu dasar dasarnya." jawab Jian Koo dengan nada sedikit terpaksa.


Walau begitu, Liu Xiu sudah melompat senang, merayakan itu. Yahh, memang itu hanya aktingnya, tapi setidaknya apa yang dia lakukan membuat Jian Koo tersenyum.


"Tapi! Kau harus bekerja keras! Tidak ada sesuatu yang didapat dengan mudah! Kau tidak boleh mengeluh melalui pelatihan apapun!!" sela Jian Koo dengan nada tegas. Mendengar itu, Liu Xiu dengan segera mengubah sikap, dan kembali duduk.


"Dimengerti, Guru!!" teriaknya.


("Ahh, latihan keras, kah? Kalau itu tidak membunuhku, mungkin aku bisa mengatasinya.") keluh Liu Xiu dalam hatinya.


Yuan Yi sedikitnya paham akan tabiat kedua orang yang ada di hadapannya, hanya bisa tersenyum canggung.


("Mereka berdua benar benar kedua orang yang sejenis!") pikirnya.