Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 1: Bab 22 - Shinigami



Suasana sedikit hening saat ini. Tapi aku harus melakukan ini sekarang.


"Kau tahu, aku sudah mengetahui nama asli Rury. Aku juga sudah mengetahui bahwa engkau yang mengubah nama Rumia menjadi Rury."


"Tapi aku tidak tahu kenapa kau tidak mengubah wajahnya saja. Mungkin ada sesuatu yang berhubungan dengan Rumia yang dulu. Aku tidak tahu apa itu." Aku secara spontan mengatakannya.


Suasana tetap hening. Semua terdiam, terutama Ellen yang terdiam melihat Rumia. Aku menutup mata perlahan menunggu jawaban darinya.


"Lalu, apa maksudmu kamu bisa menyelamatkan mereka?" Kini Alan menyilangkan tangannya didada, menatapku tajam.


Aku tahu, mungkin ini cobaan darinya, tapi segini saja tidak akan menggoyahkan ku.


"Sebenarnya, yang pertama kali menyadari ritual tersebut adalah aku. Dan yang bertemu dengan penculik itu juga pertama kali adalah aku." aku tersenyum.


"Selain itu aku memiliki skill yang dapat menemukannya. Jadi daripada mengandalkan para tim yang tidak tahu tempatnya, seperti mencari jarum di atas tumpukan jerami, lebih baik aku sendiri yang berangkat." Aku mau tak mau mantapkan tekad ku mengatakannya pada Ellen.


"Apa maksudmu?! Kalau kau saja bisa menemukannya, kenapa tidak dengan yang lain? Apa istimewanya dirimu? Padahal kau hanyalah manusia belaka!" Katanya sambil mulai mencela.


Aku sedikit melirik Rumia. Tampak jelas dia serasa ingin mengatakan sesuatu, tapi tetap terlihat diam menahannya.


Aku juga sebenarnya tahu, bahwa Ellen tidak bermaksud mengatakan hal itu. Dia mendekam tangannya erat serta menggigit bibirnya dengan kuat.


Itu menandakan bahwa dia sebenarnya hanya memancing kemarahan ku untuk membatalkan niatku.


"Kau sudah tak bisa menghentikanku lagi. Kau hanya bisa membantuku." aku berjalan memutar.


"Aku memberimu pilihan! Apa kau ingin mereka kembali dan membantuku, atau membiarkanku sendiri sana dan beritahukan semua orang bahwa manusia ini yang menyelamatkan mereka. Pilihlah!" Aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini. Aku harus segera mendapat kesepakatan.


"Apapun yang terjadi kau tidak akan pergi!" Dia menyentak dengan nada tinggi.


Aku sedikit terkejut dengan itu.


"Kau tahu, kenapa aku melarangmu?" Suasana menjadi canggung. Aku tidak bisa lagi menekannya! Entah kenapa dia seperti mengalirkan perasaan bersalah padaku.


"Aku juga punya seorang cucu. Dia masuk ke kelas S di Akademi Dasar yang sama dengan adikmu. Dan dia juga sekarang diculik. Aku tidaka ingin melihat, Aku tidak ingin lagi mengetahui anak-anak itu diculik, atau apapun itu. Karena itu, jika aku mengenalmu dan mengetahui mu mati, entah apa yang akan terjadi pada hatiku." Jelasnya panjang lebar.


Ahh, sepertinya aku paham. Sifat keibuannya itu, membuat dia menyukai anak anak. Membuat dia menolong Rumia, dan membuat dia tidak mau untuk kehilangan mereka.


Mungkin itu sebabnya dia berusaha menghentikanku.


"Apa kau meragukanku?!" Aku tidak bisa berhenti di sini sekarang.


"Biar kutanya lagi. Apa kau meragukanku?!" Aku mulai melepaskan keinginan membunuh, ditambah dengan kekuatan sihir ku.


Sejujurnya, ini sedikit berlebihan. Dan sebenarnya, aku harus menghemat Fehl agar bisa kugunakan nanti.


"Apa ini? Sangat tidak mengenakkan!" Rumia yang menyadari perubahan itu.


"Ugh!" Aku memuntahkan sedikit darah dari mulutku. Tentu saja ini membebaniku. Tapi, itu justru lebih membebani mereka semua yang ada di dalam ruangan ini.


"Baiklah cukup! Aku tahu kau serius. Aku tahu kau bisa mengalahkan mereka. Justru kalau kau yang pergi aku semakin percaya." Kata Ellen memegang bahuku lembut.


(Cih! Kau tidak melakukannya dari tadi! Aku sudah terluka, tahu!)


Aku harus sedikit menggerutu untuk itu.


"Baiklah. Aku memang manusia, tapi aku memliliki kesempatan untuk bisa menyelamatkan mereka. Aku, Ren Larvest. Berjanji untuk membawa mereka kembali, apapun yang terjadi. Terutama Suzu, dan juga cucumu, manager!" Aku menunduk kepala kearahnya.


"Baiklah. Aku akan melakukan ritualnya sekarang." Katanya sambil mengambil sebuah barang di bawah meja kasir. Aku sudah menduganya, tapi aku tetap terkejut.


Siapa yang tidak terkejut mengetahui manager itu menyimpan tongkat sihir sepanjang 2 meter di bawah meja kasir?


Begitulah. Aku seperti di "baptis" oleh Ellen. Dia mengeluarkan sebuah skill yang menyinari ku, aku mendengar bahwa chant nya sebentar, tapi efeknya cukup lama.


Aku ditanyai sebentar, seperti apa rupaku ketika aku berubah. Dan aku hanya mengubah warna rambutku, dan namaku saja.


Aku menjadi sesosok Yami Ayama umur 6 tahun, karena wajahku sebenarnya persis dengan dunia lamaku. Dan juga, aku mengubah namaku menjadi "Shinigami".


Artinya juga sama dengan dunia awalku. "Malaikat Maut." Aku akan menjadi malaikat maut bagi mereka!


Karena aku bukanlah orang yang naif. Mereka yang berani melakukan ini padaku hanyalah mati untuk balasannya.


Aku juga mengubah pakaianku menjadi hitam untuk tambahan.


Aku menggunakan setelan ringan dengan beberapa aksesoris di leher. Tapi dengan kerudung di atas kepala. Selain itu seluruh perlengkapan ku sangat ringan.


"Uwaaah! Kau benar-benar jadi orang yang berbeda, Ren!" Teriak Rumia sambil memegangi wajahku.


"Seperti ini saja cukup, manager! Aku tidak ingin membebanimu lebih lanjut." Aku segera berdiri menghadap Ellen.


Skill: [Change], [Replacement] acquired


Apa? Yah walaupun sudah kuduga, tapi aku tetap terkejut ya. Lagi lagi aku mendapatkan skill. Kalau skill [Change] mungkin adalah skill yang membuatku kembali ke wujud semula.


Sedangkan untuk [Replacement] itu adalah skill yang dipakai oleh Ellen untuk mengubah namaku. Seperti yang kuduga dari Easy Mode!


"Sepertinya aku membuang-buang waktu di sini. Aku akan segera berangkat. Jangan khawatir, aku pasti menemukan mereka!" Kataku sambil melangkah keluar dari toko.


"Ren! Berjanjilah kembali! Kalau kau kembali-"


"Yup sampai disana saja!" Aku segera menutup mulut Rumia.


Kamu tahu, itu seperti flag kematian bagiku. Aku tidak ingin mendengarnya. Walau sepertinya dia tidak mengerti, tapi dia tersenyum.


"Baiklah selamat tinggal!" Aku melambaikan tangan sambil kembali berlari cepat ke arah hutan.


Pakaian ini terasa sangat ringan. Tidak. Bukan hanya ringan, pakaian ini juga mungkin menambah kecepatan ku.


Aku curiga dia menambahkan beberapa status pada bagian ini. Tapi, terima kasih.


Baiklah! Tujuan kedua sudah tercapai. Sekarang aku harus melakukan apa yang sulit. Mencari mereka.


Walaupun sebenarnya aku masih mengingat perasaan dari jubah aneh kemarin, aku bisa mencarinya dengan cukup cepat dengan mengalirkan Fehl ku. Dan tentu saja, itu akan sangat berat bagiku.


"Sepertinya, tidak ada pilihan lain bagiku ya? [All Map Exploration]!" Aku dengan segera sampai di hutan di luar kota. Disana aku dengan segera meneriakan nama sikilku. Tentu, ini hanya mencakup beberapa wilayah. Tapi tidak jika ku mengalirkan Fehl ku ke dalamnya.


"Ugh sial! Ini sangat berat!" Aku mulai sedikit mimisan. Namun, aku tidak bisa berhenti sekarang. Ya! Aku harus menemukannya!


Tubuhku mulai merasakan sesuatu yang tidak mengenakannya, bersamaan dengan peta wilayah baru terbuka di pikiranku. Sesuatu seperti organ dalamku diremas oleh sesuatu yang semakin lama semakin kuat.


Yang paling parah adalah daerah sekitar ulu hatiku. Disana sangatlah menyakitkan. Tapi, aku masih bertahan dengan itu.


"Ahhhh! Semangat, tubuhku! Sebentar lagi! Sebentar lagi!" Aku terus mencoba meemberikan kata kata positif pada diriku sendiri.


"Ahhkk!" Darah keluar dari mulutku, cukup banyak hingga mengalir ke bawah. Tapi, aku mendapat hal yang lebih penting.


Aku berlutut, dengan darah di tangan dan mulutku. Apapun itu, tidak menghentikanku untuk tersenyum. Aku sedikit menyeka darah di mulutku.


"Kutemukan kalian!"