Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 3: Bab 29 - Balas Dendam dan Keputusasaan



"Kalau begitu, ayo kita bermain!" Ren membuka mata, kemudian menyeringai senang. Aura yang dia keluarkan sekarang bahkan bisa membunuh orang biasa, tak heran jika kini Gordo ketakutan.


"Pertama, mari kita lepaskan kau dulu." kata Ren.


Wajah Gordo terlihat cerah. Dia juga menyiapkan tangannya untuk mengendalikan Dark Magic ketika Ren mengambil pisau.


SRING!!!


Pisau itu mengiris, dan lengan kiri Gordo terkulai setelah bebas. Tapi yang ada bukanlah tawa dari Gordo, melainkan teriakan mengerikan darinya.


Ya. Ren memotong tangan kiri Gordo sampai ke siku.


"Humm, itu untuk warga kota. Kau masih punya tiga yang lain untuk Ayah, kak Ruly, dan Syila!" kata Ren.


Pisau yang dia gunakan kini berbalut aura merah, yang membuat setiap serangan memberikan kutukan seperti api hitam yang membakar. Bahkan Gordo yang sejatinya memiliki regenerasi yang cukup baik, kini tidak bisa menggunakannya.


"Sialan kau! Apa kau ingin membunuhku?! Bunuh saja aku! Dan senior akan memburumu! Dan semua yang berhubungan denganmu akan mati!" teriak Gordo dengan sisa tenaga.


Ren mengingat Aina, orang orang yang ada di Furyuun, dan keluarganya. Membayangkan mereka semua diburu, membuat pikirannya kacau.


Dalam beberapa detik, kedua kaki dan sisa tangan Gordo menghilang, dan membuat dia jatuh tak berdaya!


Itu adalah pemandangan mengerikan bagi orang biasa, dan tentunya untuk Ren. Tapi Ren sudah tertutup matanya oleh dendamnya, membuatnya tidak mengasihani Gordo sekarang.


"Jangan bercanda! Mari kita mulai permainan nya sekarang. Aku akan memberimu kemampuan terkuatku sekarang, begitu juga sebaliknya." kata Ren.


"Tu-tu-tunggu! Aku bahkan tidak bisa berdiri! Apa kau sebut ini adil?!" Gordo berteriak.


Ren tertawa, lalu mengangkat tangannya, mengarahkannya ke arah Gordo.


"Hanya orang bodoh yang menunggu lawannya siap."


"Dan juga, aku tidak suka bermain bersih, tahu! Aku akan memberimu [Seven Gate of Despair]. Ups! Karena aku tidak bisa menggunakan Light Magic lagi, apakah ini [Six Gate of Despair]? Yahh, terserahlah. [Lightning Root]!" sebagai pengganti benang, akar akar listrik keluar dari tanah, menyetrum Gordo.


"[Bladefields of Wind]!" Ren melanjutkan skill nya yang selanjutnya, dan membuat Gordo kembali berteriak. Dia penuh dengan luka sayat di tubuhnya sekarang.


Gordo sudah hampir kehilangan kesadaran. Selain itu, dia juga sebenarnya sudah mati jika tidak ditahan oleh skill Ren.


"Ke-kenapa a-aku belum m-mati?!!" tanya Gordo setengah putus asa.


"Membunuhmu? Tidak tidak. Aku akan memberimu apa yang aku rasakan saat itu. Aku tidak akan membunuhmu dengan mudah." Ren tertawa, mengambil dagu Gordo.


"Oh ya. Senior? Ahh! Perempuan tadi kah? Apa Humm, aku ada ide menarik tentang itu." kata Ren berhadapan dengan wajah Gordo sekarang.


Raut muka Gordo berubah, ketika mereka membicarakan Dela. Itu membuat Ren tahu, bahwa dia penting bagi Gordo.


"Kau tidak akan bisa menyentuh senior! Dia sangat kuat! Dia tidak akan dikalahkan olehmu!" teriak Gordo. Sebenarnya dia sedikit panik ketika tahu seniornya akan diincar oleh Ren.


"Entahlah, siapa yang-"


PYARR!!


Kata kata Ren terpotong oleh suara pecahan, yang itu merupakan pecahan penghalang yang Ren buat. Itu hancur karena serangan terus menerus dari Dela, yang menyerang penghalang itu dari luar.


Seketika, Ren melompat karena merasakan [Critical Preception] yang aktif. Dan hampir tidak ada jeda, Dela datang mencungkil tanah dengan sabit besar yang dia bawa.


Tidak berhenti sampai disitu, Dela masih menyerang Ren dengan banyak sihir, membuat Ren kesulitan untuk mempertahankan posisinya.


"Ahahaha! Kau panjang umur sekali ya, senior!" Ren tertawa, sambil menyapu debu yang menempel di bahunya.


"Kau juga! Kenapa kau tidak mengundangku dalam pestamu?!" Dela terkikik sambil menjilat sedikit bibirnya. Dela melirik ke arah Gordo, dan mengangkat alis.


"Hoo! Kau memilih yang lebih lemah dahulu? Walau begitu, kau tidak akan bisa mengalahkan ku. Sangat ironis, bukan? Bagaimana jika kita berkenalan terlebih dahulu?" kata Dela dengan nada santai.


"Kau tahu aturannya, bukan?" Ren sendiri sudah menyiapkan beberapa sihir untuk berjaga jaga.


"Baiklah. Aku adalah Dela. Posisi kelima dari "Ten Apostle of Demon God". Walau begitu, aku adalah Elf dan aku yakin akan kemampuan sihirku loh! Bisa dibilang, aku nomor dua di antara kami!" teriak Dela sambil tertawa.


Ren tersenyum, sepertinya ada banyak yang dia pikirkan, seperti kekuatan Dela, dan apa yang akan dia lakukan pada Gordo selanjutnya.


"Hehh! Posisi kelima kah? Baiklah. Panggil saja aku Shinigami. Ras ku adalah Manusia. Walau begitu, aku juga bisa mengendalikan sihir loh!" kata Ren sambil menundukkan kepalanya.


Seketika, Dela berada di belakang Ren, bersiap mengayunkan sabit besarnya ke arah Ren!


Ren sedikit terkejut, tapi segera bereaksi cepat dengan mengaktifkan penghalang pada tubuhnya, membuat sabit Dela menghantam penghalang sesaat, sebelum akhirnya penghalang itu pecah.


Ren sedikit tidak percaya bahwa penghalangnya dipecahkan, dia melompat sambil melempar beberapa pisau dan sihir air dan api untuk membuat kabut, menyamarkan pandangan musuhnya.


Tapi Dela tidak muncul dari kabut itu, melainkan dari atas Ren.


Tidak hanya berhenti sampai disitu, Dela terus memborbardir Ren sampai setengah menit, membuat sebuah kawah besar di tanah. Gordo yang melihat ini sambil sekarat hanya bisa terkagum-kagum.


"Dengan begini-"


"Berakhir, kah?!" Ren memotong kata kata Dela yang mendarat di pinggir kawah itu.


Ren terlihat sedikit babak belur, tapi dia masih berdiri dengan tenang. Padahal Ren sudah menggunakan skill terkuatnya sekarang.


"Kau benar benar kuat, yah? Kalau begitu, bagaimana kalau kita negosiasi?" Ren mulai berdiri, sedikit terhuyung.


Dela menatap Ren penuh curiga. Tapi dia tetap waspada. Ren membawa Gordo mendekat, menerbangkannya dengan Sihir Angin. Gordo benar benar dalam kondisi yang mengenaskan, dan tidak bisa mati karena skill Ren.


"Dia sekarat. Aku bisa membunuhnya kapanku aku mau. Tapi jika kau melepaskanku, aku juga akan melepaskan nya. Jujur saja, aku tidak akan bisa menang sekarang." Ren menganvkat bahu.


Dela tertawa terbahak bahak mendengar itu. Dia memutar sabit besarnya, dan hanya memegang dengan tangan kanannya sekarang.


"Kau membuatnya menjadi tameng setelah terpojok, ya? Aku mulai bertanya tanya apakah kamu benar benar orang yang berpihak pada jalur yang berbeda dengan kami?" kata Dela.


"Terserahlah. Bagaimana?" tanya Ren. Tapi di dalam matanya, Ren memiliki rencana sendiri.


"Kau tahu? Aku tidak memandangnya sebagai rekan!" kata Dela tertawa senang.


"Gacha!" Ren sedikit berbisik.


Itu membuat Gordo yang ada di sana membelalakkan mata, terkejut. Tapi dia masih berusaha untuk tidak menerimanya.


"Tadi, Senior bilang apa?" tanya Gordo pelan.


"Ya dasar bodoh! Kau hanya alat! Alat agar aku bisa mencapai puncak! Alat agar aku bisa bertarung lebih banyak! Seperti ini! Kau memancing nya! Ha ha ha! Kau bodoh mengira aku menjadi rekanmu. Level kita berbeda jauh, bodoh!" teriak Dela sambil tertawa.


Dela tertawa memegangi perutnya. Ren tersenyum sedikit, sedangkan Gordo menatapnya dengan tatapan kosong.


"Kau lihat, Gordo? Dia hanya memandangmu sebagai alat. Setelah apa yang kau katakan tadi, setelah kamu mengaguminya sedemikian rupa, setelah kamu berharap padanya sedemikian rupa." kata Ren menaburkan garam pada luka.


"Diam!" Gordo berteriak, masih tidak terima.


"Yah yah yah. Itu mengharukan tapi-" Dela memutar sabitnya, lalu seketika muncul di titik buta Ren, menyerang kepala Ren.


Ren tersenyum ketika merasakan hawa keberadaan di belakangnya, dan memindahkan Gordo, mengarahkannya ke sabit Dela. Ren benar benar membuatnya sebagai tameng.


Orang biasanya akan berhenti, tapi tidak dengan Dela. Dia meneruskan serangannya, hingga menembus Gordo dan menggores dada Ren.


Itu membuat Gordo terkejut, tapi tidak dengan Ren. Ren sepertinya sudah memperkirakan ini akan terjadi, dan menempatkan penghalang tebal untuk menahan Dela.


Ren melompat mundur, jauh hingga terlihat seperti terbang sambil membawa Gordo. Hingga sampai di tepi kawah, dia menurunkan Gordo, atau lebih tepatnya melemparkannya.


"Lihatlah dirimu, Gordo. Benar benar menyedihkan." Ren berjalan memutari Gordo.


"Hentikan!" Gordo terlihat frustasi.


"Kau mempercayai nya, tapi dia tidak menganggap mu rekan atau apapun. Kau hanya dianggap alat olehnya, untuk memenuhi keinginan egoisnya." kata Ren lagi.


"Hentikan!!" air mata Gordo mulai mengalir dari matanya yang kosong.


"Dan yang lebih ironis, kau akan berakhir dibunuhnya." tambah Ren.


"Hentikan hentikan! Hentikan! Hentikan!!" Gordo berteriak, air matanya mengalir semakin deras.


"Sudah, tolong! Tolong bunuh aku! Aku mohon! Akhiri aku dari ini! Tolong! Aku sudah tidak bisa!" Gordo memohon pada Ren dengan mata kosong penuh dengan keputus asaan.


Ren sedikit tersenyum, balas dendamnya sudah tercapai, jadi tidak ada gunanya untuk meneruskannya.


Dia mengambil pedangnya, mengakhiri Gordo sebelum dia melemparkannya ke arah Dela, yang kemudian dibelahnya lagi. Akhir yang mengenaskan untuk Gordo.


Ren sudah selesai dengan Gordo, jadi dia membunuhnya cepat.


"Aku tidak ada urusan lagi denganmu, jadi aku akan pergi. Aku tidak akan mengusik kalian, jika kalian tidak mengusik ketenanganku. Kalian sejatinya adalah organisasi yang salah di dunia ini." Ren berkata keras pada Dela yang masih berada di bawah.


"Dan aku ingin hidup tenang di dunia ini bersama dengan keluarga ku, jadi aku akan menyingkirkan suatu hal yang akan mengganggu kehidupan ku." lanjut Ren.


"Jadi bersiaplah! Aku akan kembali jika menurutku kalian perlu dihancurkan." kata Ren sambil terbang, mulai pergi.


Dela hanya menatap Ren dengan mata permusuhan yang kuat, dengan mayat yang ada di sekelilingnya.


"Shinigami? Dia orang yang mengerikan!" bisik Dela pelan.