
"Maafkan aku karena terlambat." ucap Liu Xiu pelan ketika dia mulai duduk di salah satu bangku yang kosong, dengan meja yang sudah penuh dengan makanan di hadapannya.
"Tidak, Master. Kami akan menunggu Master selama apapun. Anda tidak perlu memikirkan kami." kata Alpha dengan tegas.
Seperti biasa, Alpha adalah orang yang kaku.
"Kalian tidak perlu menunggu ku jika aku sudah terlalu lama. Seperti tadi ada beberapa kejadian tidak terduga." jawab Liu Xiu.
Dia lantas menatap Ketujuh yang lainnya.
Alpha dan Beta sedang berbincang, sambil menghadap ke arah Liu Xiu, Dain menutup matanya sendiri sambil menyilangkan tangan, Eina, Celica, dan Ghea yang sedang berbicara sendiri, dan Fischia yang terlihat tidak sabar untuk menyantap makanan hingga air liur nya sedikit menetes.
Liu Xiu tersenyum melihat itu semua. Dia tahu, walau dia jauh dari keluarga, tapi dia punya keluarga sendiri di sini.
Namun Liu Xiu berpikir bahwa dia harus melatih mereka lebih baik lagi. Tidak semua berjalan sesuai dengan keinginan, dan sekarang dia terlihat seperti memanjakan mereka.
Tapi..
"Kalian semua! Mari kita makan terlebih dahulu. Setelah itu, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian!" kata Liu Xiu membuka.
Itu membuat semua orang menatapnya heran, tapi Liu Xiu hanya tersenyum misterius sambil mengawali makan.
***
"Baiklah. Kalian semua sudah selesai, bukan? Sekarang ada hal yang ingin aku bicarakan." kata Liu Xiu.
Semua segera terlihat serius. Dain yang biasanya tidak peduli dengan sekelilingnya sekarang membuka mata, terlihat fokus. Bahkan Fischia yang biasanya hanya fokus terhadap makanan, sekarang memperhatikan Liu Xiu.
Liu Xiu menarik nafas pelan, lantas mulai berkata.
"Kalian cobalah hidup sendiri-sendiri." kata Liu Xiu.
Itu seperti vonis berat bagi Ketujuh yang lainnya, dan membuat mereka berhenti bernafas sejenak. Itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Mendengar itu sedikit membuat mereka tidak percaya.
("*Apa ini? Apakah kita melakukan kesalahan?")
("Apa kita membuat Master marah?")
("Apakah kita akan berakhir dengan di buang?")
("Kita harus berpisah dengan Master? Dan dengan kalian semua? Itu sulit*!!")
Seketika, orang orang disana berpandangan. Seakan menggunakan telepati, mata mereka saling berkomunikasi satu sama lain.
"Master!! Kenapa? Kenapa Master mengatakan itu? Apa Master akan meninggalkan kami? Apa ini karena Fischia nakal? Fischia berjanji tidak akan makan banyak banyak lagi, jadi jangan tinggalkan kami!" kata Fischia cukup keras.
Pelupuk matanya mulai basah, dan air matanya mulai mengalir dari mata hitam nya yang indah.
Itu membuat yang lainnya bersyukur, karena Fischia yang blak-blakan mengatakan kata kata itu mewakili mereka semua.
Melihat ekspresi sedih semua orang, dan kata-kata Fischia barusan, Liu Xiu segera sadar bahwa ada sesuatu yang salah.
"M-maaf! Salah pengertian. Salahku untuk menjelaskannya secara separuh separuh." sahut Liu Xiu cepat membenarkan kalimatnya. Karena jika tidak, Fischia akan benar benar menangis!
"Maksudku, kalian harus bergerak secara terpisah selama 3 hari ini." kata Liu Xiu membenarkan kalimatnya cepat.
"Jadi, kalian akan bergerak secara terpisah selama 3 hari ini. Tidak boleh ada yang berhubungan satu sama lain, dan jika kalian melihat yang lain anggap saja mereka hanya orang lain. Intinya, cobalah menyamar dengan menjadi satu dengan kota ini." sambung Liu Xiu.
Semuanya saling menatap satu sama lain, mencoba memahami apa yang Liu Xiu katakan.
Dain hanya diam sambil mengangguk, sepertinya mengerti. Sementara itu, Beta menjelaskan beberapa hal pada Alpha sambil berbisik.
"Yahh, kalian tahu? Ini adalah kota pusat para Adventurer berkumpul. Pasti ada sangat banyak informasi, baik itu yang tidak penting, sampai yang paling penting seperti informasi tentang musuh. Aku ingin kalian mencari informasi itu." ucap Liu Xiu.
"Misi ini hanya 3 hari, dan setelah itu, kita akan berkumpul untuk menjadikan informasi itu informasi yang utuh." jelas Liu Xiu sambil mengangguk.
"Berarti, kita mulai untuk bergerak sendiri sendiri? Selama 3 hari kedepan?" tanya Beta memperjelas.
Semua berpandangan, dan tersenyum.
"Dengan kata lain, Master tidak membuang kami, bukan?" tanya Fischia dengan wajah setengah menangis.
"Tidak tidak. Kata katamu dapat membuat orang lain salah paham, jadi tolong hentikan itu. Ini adalah latihan. Kalau kalian sudah paham apa yang aku pelajari selama ini, seharusnya seperti ini saja akan mudah untuk kalian." Liu Xiu mengangguk dalam diam.
"Hehh? Memang apa yang pernah Master ajarkan? Ahh! Aku tahu! Makanan Master enak!!" kata Fischia tersenyum lebar.
Liu Xiu hanya menghela nafas, sementara Beta menatapnya dengan mata berbinar sambil memegang buku diary di tangannya, menuliskan sesuatu.
"Apakah ini akan berhasil, atau justru berubah menjadi bencana?" tanya Liu Xiu pelan.
***
Ini adalah malam yang indah, dimana bulan bersinar terang di atas langit malam. Dengan beberapa bintang yang menghiasi langit bagai pernak pernik yang berwarna warni, itu membuat siapapun terpesona memandangnya.
"Bahkan langit malam sepertinya terlihat sama. Itu tetap indah." terdengar suara pelan. Dari suaranya jelas bahwa dia seorang wanita.
Orang itu mulai menulis pelan, di sebuah buku. Dia menulis dengan bahasa asing yang tidak akan dimengerti siapapun disini.
?!
"Siapa disana?" tanyanya tiba tiba.
Dia merasakan sebuah keberadaan yang ada di belakangnya, berjalan perlahan.
"Ahh, aku tetap saja ketahuan, ya? Kau benar benar hebat, Beta." kata sosok itu. Dia lantas melanjutkan berjalan sambil mengangkat tangannya, lalu duduk di sebelah Beta sambil ikut menatap bintang.
"Kau bahkan tidak berusaha untuk menghilangkan keberadaan mu, Dain. Jadi tidak mungkin aku tidak tahu kau datang."jawab Beta.
Mereka berdua diam, sambil menatap ke atas. Dain dan Beta, mereka terlihat jauh, tapi sebenarnya akrab satu sama lain. Tidak, Ketujuh orang itu memang akrab dari sisi manapun orang melihat mereka.
"Jadi, kau pasti sudah mengerti, bukan?" kata Dain mengawali pembicaraan.
Beta menarik nafas sesaat, dan dia lantas tersenyum.
"Ya. Master ingin kita semua menjadi mandiri. Selain itu, dia juga sudah pernah bilang bahwa kita akan dipisah ke 5 negara. Bagaimanapun, itu adalah tujuan Master." kata Beta tersenyum pahit.
"Yahh, itu benar. Master sangat berhati hati, untuk orang sekuat dirinya. Itu jujur membuatku takut." Dain mulai berdiri.
"Aku takut dengan apa yang akan kita lawan. Kalau Master sudah masih belum apa apa jika dibandingkan dengan itu, maka apa yang bisa kita perbuat? Rasanya tidak mungkin kita bisa berbuat sesuatu." lanjut Dain.
"Dain..." terdengar suara lirih Beta yang mencoba menyangkal itu, tapi itu benar.
Dain adalah orang yang jarang bicara, dan selalu memiliki intuisi yang kuat. Untuk dia berbicara sebanyak ini, jelas ada sesuatu yang dia khawatirkan.
"Aku juga merasa bahwa kau dan Master terlihat mirip, kau tahu!" kata Dain lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Beta heran.
"Entahlah, tapi aku merasakan sesuatu yang sama dengan mu saat aku melihat Master. Mungkin itu berhubungan dengan kekuatanmu, dan juga berhubungan dengan kekuatan Master. Aku tidak bisa mengatakan itu pasti, karena itu hanya perkiraanku." kata Dain panjang lebar.
Itu membuat Beta terdiam sejenak, memikirkan apa yang dimaksud Dain.
"Apakah maksudnya?" bisik Beta lirih.
"Ahh, sepertinya kau sudah menemukan jawabannya. Kalau begitu, aku pamit dulu. Aku ingin segera melakukan misi. Alpha sudah berangkat dari tadi, kan?" kata Dain sambil melambaikan tangan.
Sedetik kemudian, Dain pergi, dan menghilang dari hadapan Beta dengan cepat dan tanpa jejak.
"Hufft. Dain. Dia benar benar pintar dan baik, sekaligus misterius. Aku sedikit penasaran bagaimana dia bisa menjadi seperti itu." keluh Beta pelan.
"Tapi untuk kalimatnya tadi..." Beta sedikit mengernyitkan dahi.
"Apakah yang dia maksud Reinkarnator?" lanjutnya pelan.