Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 1 - Childe Royze



"Aku ingin bicara bedua denganmu, Ren Larvest!" Childe masuk sendirian, ketika beberapa pengawalnya dia suruh kembali ke pintu depan.


Tentu saja, ibu Ren, Nina Larvest sudah menerimanya dan mengerti. Nina mengira Childe akan memuji anaknya sedikit, karena kemarin Ren yang memberikan saran untuk menyelamatkan anak anak sesegera mungkin.


Dan Nina belum tahu bahwa Ren yang menyelamatkan mereka.


Tidak, sebenarnya tidak ada yang tahu.


"Kalau begitu, kami berdua," Ruly gugup menunduk.


Dia berjalan perlahan keluar. Sedangkan Edna, memberi salam dengan menunduk sambil mengangkat rok nya sedikit sebelum keluar.


Mereka beringsut keluar sambil sedikit berbisik bisik, dan terlihat sedikit mimik khawatir yang keluar di wajah mereka


"Baiklah, sepertinya sekarang sudah cukup sepi untuk kita bicara bersama." Childe menutup pintu, lalu menghela nafas.


("Ada apa ini? Apa aku membuat suatu kesalahan? Aku yakin tidak. Seingatku, anaknya ada dalam barisan anak yang diculik.") Ren berusaha meyakinkan diri.


("Mungkin untuk persiapan saja, aku harus menggunakan [Evaluator]!") Ren mengangguk yakin lalu menggunakan [Evaluator] level maksimalnya pada Childe.


...Nama: Childe Royze...


...Level: 56...


...Ras: High Elf...


...Job: Mage, Knight...


...Title: One Who Can Get More Than 1 Job...


...HP: 15.460. Strength: 125...


...MP: 56.000 Agility: 34...


...Deffence: 348....


...Skill: [Fire Magic], [Ice Magic], [Slash], [Power Up], [Evaluator], [Map Exploration], [Fehl Channeling], [Healing Field Area (High)], [Sincronation Magic], [......


("STOOP! Kepalaku pusing mengetahui sebanyak itu skill nya! Bukankah itu gila?! Apapun yang terjadi, statistiknya semuanya menang dariku, kecuali Agility. Artinya, jika ada sesuatu aku hanya bisa kabur darinya?!") Ren berteriak panik dalam hati.


Walau begitu, dia tetap bisa menjaga wajahnya untuk tidak menunjukkan hal hal itu.


("Skill [Poker Face], terima kasih!") Ren berteriak, ketika skill [Poker Face] lagi lagi menyelamatkannya.


"Apa kau menilaiku?" Childe pelan duduk di hadapan Ren sambil mengambil gelas yang baru, lalu menuangkan teh ke dalamnya.


Ren terkejut, mengetahui [Evaluator] nya dapat dirasakan. Tapi cukup mengejutkan, [Evaluator] nya tidak di tangkal.


"Teh yang enak. Ini bahkan lebih enak dari buatan pelayanku," Childe mengangguk perlahan dengan nada suara lembut, seperti pada seorang anaknya.


"A-ah, itu saya yang membuatnya. Maaf karena saya yang membuatnya. Maafkan saya." Ren menunduk dalam dengan sopan.


Walaupun di kehidupan lamanya tidak ada ajaran bersikap bangsawan, tapi dia tahu bagaimana harus bersikap. Jadi tidak perlu tatakrama bangsawan untuk mempelajarinya.


Childe hanya diam menanggapi itu, tampaknya dia sudah mulai sedikit menilai Ren.


"Baiklah. Sepertinya kau sudah mengenalku. Tapi aku akan kembali memperkenalkan diriku." dia mulai berdiri.


Childe tidak berbohong. Dia benar-benar pernah diundang untuk menjadi seorang penyihir kerajaan Sierch.


Selain karena cadangan Fehlnya yang besar, dia juga bisa bertarung dengan gaya bertarung ksatria.


Kelebihan itu membuatnya dipandang sebagai orang yang langka, karena bisa mengatasi lebih dari 1 job. Tapi itu juga yang menghalangi jalannya untuk menjadi penyihir istana.


Banyak orang yang menentang untuk membiarkan Childe menjadi penyihir kerajaan, karena dia dinilai bukanlah murni mage.


"Y-ya. Saya sudah menduga bahwa anda adalah orang yang hebat. Tapi saya tidak menduga bahwa anda memiliki pencapaian yang luar biasa. Orang sepertiku tidak akan bisa menyamai derajat Anda, tuan Childe." Ren kembali merendah.


Childe juga kembali duduk.


"Ahahahha! Aku menyukaimu! Kau benar benar tahu bagaimana cara menyanjung orang!" Teriak Childe sambil tertawa.


("Aku tidak heran dia dipanggil menjadi penyihir kerajaan. Dan lagi, bisa bergerak dalam gaya bertarung ksatria? Dia seperti tidak bercelah!") Ren berteriak dalam hati.


("Aku yang sekarang tidak akan bisa apa apa dalam menghadapinya. Aku jadi berpikir dia bisa menghabisi para pemuja Demon God itu sendirian!") Ren kini mengangguk dalam diam.


"Baiklah aku akan masuk ke tujuan utamaku." Childe menaruh gelasnya setelah selesai tertawa. Kini wajahnya menjadi serius tapi penuh kebahagiaan.


"Terima kasih banyak, sudah menyelamatkan putriku!" Ren terkejut.


Jelas saja Ren terkejut. Childe menundukkan kepalanya, hampir menyentuh meja.


"A-apa yang kau katakan? Aku hanya memberitakan apa yang aku tahu, dan ayah yang bergerak cepat. Selain itu, aku juga mendengar ada seorang anak yang menyelamatkan mereka. Kalau tidak salah, namanya Soeye." Ren berdiri, kini salah tingkah.


Childe masih diam, dalam posisi tertunduk. Itu cukup lama sehingga Ren kembali duduk.


"Aku tetap berterimakasih." Kembali Childe berkata. Matanya terlihat berkeca kaca, mungkin mengingat keselamatan putrinya.


"Sudah saya bilang, saya tidak melakukan apapun. Angkatlah kepala anda! Terutama, kepada saya, seorang manusia seperti ini!" Ren tidak tahu harus bilang apa lagi.


"Apa dia berbuat seperti ini untuk anaknya? Bukankah ini berlebihan?" Ren masih bertanya tanya dalam hati.


"Aku tahu kau manusia. Tapi, kau melakukan hal yang seperti manusia!" Jelas Childe. Ren semakin bingung.


"Apa maksud anda? Saya hanya membagi pengetahuan seadanya. Apakah manusia masih terlalu berlebihan untuk itu, bahkan sampai anda menundukkan kepala anda?!" Tanya Ren, kini dengan nada bicara yang meninggi.


"Saya lupa bilang, bahwa nama orang yang menyelamatkan mereka semua belum pernah kami umumkan, bahkan untuk orang orang guild. Hanya aku dan Roy yang tahu namanya." Childe tersenyum senang, penuh kemenangan.


Ren hanya membeku mendengar itu, ketika dia menyadari itu kesalahannya.


("Bodohnya aku! Aku tidak menyadari jebakan sekecil itu! Bukankah ini berbahaya?") Tanya Ren dalam hati sambil memaki dirinya sendiri.


Skill [Poker Face] nya bisa menutupi kekagetan yang akan terpancar di wajahnya, tapi dia tidak bisa menutupi dirinya yang tidak bisa berkata apapun.


"Jadi, dari mana kau bisa mengatahui nama itu?" Kini Childe kembali menghirup tehnya.


("Gawat! Dia benar-benar memancingku!") Ren mulai panik.


"Baiklah jika kau tidak ingin mengaku. Haruskah Aku memanggilmu "Shinigami"?" Kata Childe mengibarkan bendera kemenangan.


Ren terduduk, merasa pusing akan itu semua. Siapa yang menduga bahwa jati dirinya akan terungkap secepat ini?


("Ahh! Bukannya jadi diri seorang protagonis akan terungkap di akhir cerita? Kenapa ini di awal? Ah, aku lupa aku bukanlah protagonis!") Ren yang lelah memasang wajah pasrah.