
"Ini, dimana?" Ren mulai bangun dari pingsannya. Dia yakin sebelumnya dia sedang berada di hutan, dengan keadaan mengerikan karena terlalu banyak menggunakan sihir.
Dan sekarang, ketika dia bangun dia berada di dalam kamar, dan itu kamarnya.
Ren mulai bangun, mengganti posisi ke duduk. Dia merasakan sesuatu yang hangat di tangan kirinya. Disana terdapat Edna, anak ketiga keluarga Larvest yang sedang tertidur menimpa tangan kiri Ren.
Sebenarnya, yang menemukan dan membawa Ren kembali setelah pingsan di hutan adalah Edna.
Dia menggantikan Ruly yang tidak bisa kemana mana karena menahan Seiurd, jadi Edna dengan segera menyusul Ren.
Dia tahu bahwa Ren berenang melewati sungai dengan arus deras itu.
Dia bahkan mengikuti Ren hingga ke toko "Tea Paradise". Jadi, praktis dia sudah mengetahui semuanya.
Sebelumnya, sebelum kejadian ini dia sudah mengikuti Ren sejak lama, karena dia memang penasaran dengan Ren.
Dia juga sudah tahu, bahwa Ren adalah manusia karena dia sudah berumur 8 tahun ini, yang berarti dia sudah masuk Akademi Dasar.
Edna juga bisa dibilang adalah orang yang berbakat, karena jumlah MP dasarnya tidak jauh berbeda dengan Suzu.
Dan penguasaan elemennya juga cukup langka di funia ini.
Edna sudah curiga pada Ren, tapi dia belum menemukan hal hal yang membuatnya yakin.
Seperti dia pernah menyusup ke kamar Ren yang berada dekat perpustakaan, tapi dia hanya menemukan Ren yang terbaring, terlihat tertidur.
Padahal memang Ren sedang melakukan "ritual" yang biasa dia lakukan di perpustakaan.
Edna ada di tempat kejadian ketika Ren mengeluarkan sihir sekuat tenaga.
Dan setelah menyaksikan itu semua, Edna kini tidak ragu lagi.
Dia membawa Ren yang pingsan untuk kembali ke rumah.
"Apa aku disembuhkan?" Ren bertanya pelan ketika dia bangkit dari tempat tidur, meninggalkan Edna.
Edna sepertinya tertidur pulas, karena bahkan dia tidak sadar ketika digendong Ren untuk naik ke atas kasur Ren, memberinya selimut.
Ren yang masih agak bingung itu masih sedikit tidak bisa berpikir. Dia hanya melihat seragam penyamarannya yang dia gunakan sebelumnya yang tergeletak di atas meja dengan beberapa bercak darah.
Ren sedikit terkejut. Dia berlari ke kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya, berbeda dengan kamar lainnya di rumah ini.
"A-Aku, masih dalam mode Shinigami?" Ren sedikit bingung.
Dia juga berpikir dia pernah mendapat skill [Change] dan [Replacement] dia segera paham, bahwa skill tadi memiliki efek permanen.
"Rambutku masih hitam. Dan kalau kulihat lagi, ini adalah diriku sebelumnya. Jadi aku bereinkarnasi dengan wajahku dunia sebelumnya? Kukira aku akan sedikit berubah disini." Dia bergumam perlahan ketika melihat wajahnya dalam pantulan air.
Badannya belum bersih sepenuhnya. Masih ada beberapa bercak darah yang belum dibersihkan, tapi Ren mudah membersihkannya sendiri.
Dia juga hanya mengenakan bawahan dari setelan hitam yang dia pakai malam tadi.
"Uwahh, segar sekali!" Ren berjalan pelan keluar setelah mandi. Tapi, melihat seragam dengan bercak darah di depan matanya, dia menjadi sedikit tidak enak.
"Kalau begitu," Ren bersiap, mengarahkan tangannya ke arah seragam, membuatnya bersih seketika.
"Ahh, kalau dia dunia sebelumnya, ini adalah life magic, bukan? Biasanya namanya [Clean] ya? Mungkin lebih baik aku menamakannya seperti itu." Ren mengangguk perlahan.
Sebelanrnya, dia bisa menggunakan sihir itu pada dirinya sendiri, tapi jelas dia tidak ingin melakukannya.
Dan menurutnya, itu bukanlah yang disebut mandi.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka. Ren cukup terkejut dengan itu. Terlihat Ruly membawa sepoci teh ditambah air panas. Mungkin berniat menyeduhnya di sini.
Dia juga membawa beberapa gelas ditambah nampan.
Ruly juga sedikit terkejut ketika melihat Ren yang sedang berdiri menatapnya tajam.
"Ah Ren! Kau sudah sadar ya?!" Ruly segera berlari, bagaikan melempar nampan di meja makan, dan memeluk Ren.
"Syukurlah! Kukira, kukira kau! Dia berteriak menangis memeluk Ren yang masih membeku.
Saat ini, Ren dalam masalahnya sendiri, karena dia benar benar tidak bisa bernafas karena dipeluk erat oleh Ruly.
"Kan sudah kubilang untuk berhati hati!" Ruly berteriak sambil memegang kedua bahu Ren.
Ren tersenyum melepaskan kedua tangan Ruly dari bahunya.
Walau begitu nafasnya masih sedikit tersengal-sengal.
"Aku selalu ingat itu! Dan juga, aku selalu berhati hati! Bahkan, aku tidak terkena satupun serangan musuh sama sekali. Jika kau tidak percaya," Ren perlahan menoleh ke arah Edna yang masih tertidur.
"Aku akan membangunkannya!" Kata Ruly sambil beranjak segera menuju Edna. Tapi Ren menghentikannya.
"Biarkan saja. Aku tahu dia pasti kelelahan karena tadi malam mengobatiku sebegitu keras." Ren juga tahu berapa parah lukanya.
"Justru sangat luar biasa ketika dia tidak kehabisan MP tadi malam, membuatku sembuh total seperti ini." Ren berjalan perlahan sambil memakai sebuah pakaian sehari harinya yang berbeda dengan biasanya.
Biasanya, Ren menggunakan pakaian khas keluarga Larvest, yang memiliki beberapa renda khusus. Tapi dia memakai baju seperti biasa jika dia sendiri.
"Ya. Kau benar. Kau terluka sangat parah ketika kau sampai disini. Sangat beruntung Edna memiliki sihir ruang dan bisa memasukkanmu dalam ruangannya untuk memperlambat bertambah parahnya keadaanmu." Jelas Ruly.
Sihir ruang adalah salah satu kemampuan Edna. Dan sihir ruang miliknya agak khusus, karena bisa memasukkan orang ke dalamnya.
Padahal biasanya, orang atau makhluk hidup lainnya tidak bisa masuk ke dalam sihir ruang biasa.
Ren yang mendengar itu seketika tertarik.
"Sihir ruang?!" Mata Ren membulat.
Ya. Elemen yang masih samar dia gunakan adalah elemen ruang. Dengan kata lain, dia tidak bisa membayangkan bagaimana Space Magic itu terbentuk.
"Ah, eh?!" Edna terbangun karena ramainya suasana di kamar saat itu.
"Kenapa ada banyak orang disini? Ehh! Kenapa aku ada di kasur? Bagaimana dengan Ren? Atau jangan jangan, aku menindihnya?!" Edna berteriak perlahan ketika menyadari posisinya.
"Bodoh!" Ruly menggetok kepalanya.
"Lihat sekelilingmu dahulu sebelum berpikir yang aneh aneh!" Kata Ruly sambil berkacak pinggang.
Edna menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, melihat situasi sekarang. Dia melihat Ren yang melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Yo, kak Edna. Terima kasih banyak untuk yang semalam, ya! Aku pasti mati kalau tidak ada kamu!" Ren tersenyun jujur.
"Ah Ren!" Edna segera berdiri.
Dia mulai memegang kedua bahu Ren, mengguncangnya.
"Bagaimana kau menggunakan sihir hebat itu! Jelaskan padaku! Selain itu, kenapa rambutmu berwarna hitam? Jelaskan! Jelaskan!" Edna mengguncang tubuh Ren dengan hebat, menyebabkannya mengalami pusing.
"Aku juga ingin tahu apa yang terjadi." Ruly justru menanggapi Edna yang masih mengguncang Ren.
"Untuk pertama, bisakah kau melepaskanku, kak Edna?" Mata Ren terlihat mulai berputar, tidak berada di tengah.
"Ahh, maaf."
"Oke." Ren menggelengkan kepalanya perlahan.
"Yang kedua, bagaimana keadaan Suzu sekarang? Aku akan bunuh diri jika usahaku tadi malam sia sia." Ren mengungkapkan arti kekecewaannya dengan ekstrim.
"Hei! Kalau begitu, aku juga akan bunuh diri karena penyembuhan ku akan sia sia!" Teriak Edna menimpali.
"Hei hei! Tidak ada yang bunuh diri, oke! Suzu baik baik saja. Ceritanya, dia diselamatkan oleh thief buronan. Jadi, thief itu sepertinya akan diberi beberapa hadiah." Ruly menjelaskan sambil sedikit merinding.
"Soeye kah?" Ren menggumam perlahan sambil melantunkan skill [Change] untuk merubah warna rambutnya kembali menjadi putih.
"Kau kenal?" Ruly menyelidik.
"Ya. Saat aku masuk ke sana, aku membutuhkan seseorang untuk bisa membawa Suzu dan tang lain." Jelas Ren.
"Ah! Cewek yang kau terkam itu?" Teriak Edna tiba tiba.
"Eh?!"
"Ya! Kau menangkapnya di hutan, bukan? Lalu kau menindihnya dan menahan kedua tangannya. Aku cukup bertanya tanya apa yang kamu lakukan saat itu." Jelas Edna.
Dan tentu saja, itu membuat kesalahpahaman.
"Ren!!"
Tatapan Ruly menjadi tajam. Bahkan, senjata Ren tadi malam kalah tajam dari tatapan Ruly sekarang.
"Y-ya, dia berlari tanpa tujuan. Aku juga tidak punya pilihan lain selain memberitakannya debgan paksa. Hum. Tidak ada pilihan lain." Ren menutup mata sambil mengangguk perlahan.
"Baiklah! Anggap saja ceritamu benar, lalu bisakah kau menceritakan bagaimana kejadian tadi malam?" Tanya Ruly sambil mulai duduk di meja.
Ren mengetahui itu, lalu mengambil perlengkapan teh yang sudah dibawa oleh Ruly tadi.
Dia mulai menyeduhnya, membuatnya sesuai dengan seleranya.
Karena memang pada dasarnya salah satu hobi Ren adalah minum teh.
"Bagaimana kalau kita bersama minum teh? Aku juga menyiapkan teh yang enak lho!" Ren berusaha mengalihkan perhatian.
"Apalagi, pagi hari seperti ini memang cocok untuk minum teh." Kata Ren lagi sambil mempersilahkan Edna duduk.
Mereka semua tersenyum, tahu itu bukanlah saran, tapi perintah. Walau wajah Ren tersenyum, dalam hatinya dia menyuruh.
"Baiklah. Bagaimana?" Edna merapikan rambut hijau se-bahunya setelah duduk.
Ren mengambil nafas. Dia tahu, bahwa ini adalah rahasia terbesar dalam hidupnya.
Tapi mau bagaimana lagi, mereka berdua sudah tahu, bahkan Edna sendiri sudah melihat Ren menggunakan Sihir dengan mudah.
Ren mulai menceritakan bagaimana dia melarikan diri, dan kemudian mengubah namanya. Dia juga mengubah warna rambutnya.
Tapi seketika Edna memotong.
"Tidak tunggu. Aku sudah mengetahui itu semua! Tolong ceritakan ketika kau pergi ke dalam gua itu!" Sela Edna. Walaupun sebenarnya dia adalah orang yang pemalu, bahkan hampir tidak pernah berbicara dengan orang.
Tapi begitu menemukan sesuatu yang menurutnya menarik, dia seperti berubah karakter. Bahkan Ren dan Ruly pun tidak pernah melihat Edna se-antudias ini.
"Tidak. Kak Ruly belum mengetahui itu." kata Ren
Seketika Ren menyadari sesuatu.
"Dan juga kak Edna," Ren menghentikan perkataannya di tengah jalan dan berjalan pelan ke arah Edna.
"Heh? Apa? Ke-kyaaaah!"
Edna menjerit ketika Ren sampai di depan wajahnya, memegangi kepalanya sambil menunjukkan wajah yang mirip zombie.
"Kau bahkan sudah tahu sampai sana, tapi tidak berniat membantu?!" Ren benar benar membuatnya takut sekarang.
"Oke oke! Maafkan aku! Aku hanya bisa mengikutimu sampai luar," jawab Edna dengan tidak mau menghadap Ren dan suara yang pelan.
"Heeehhh," Ren memberikan tatapan sinis tidak percaya.
"Baiklah baiklah! Aku takut masuk ke dalam tahu! Jadi aku hanya berjaga jaga di luar." Edna berteriak.
Dia dengan segera memutar otak untuk mencari alasan yang cocok.
"Dan, dan, oh ya! Aku menjagamu! Siapa tahu terjadi kejadian tidak terduga seperti itu, aku bisa membawamu pulang!" Edna berteriak senang ketika menemukan alasan yang bagus.
"Hmm, baiklah. Mungkin itu cukup." Ren menutup matanya sambil menyilangkan tangannya di dada.
Edna mengambil nafas lega, lalu mereka tertawa bersama.
"Baiklah. Akan kulanjutkan." Kata Ren.
Dia melanjutkan ketika Ren bertemu dengan Soeye, memintanya untuka membantunya dalam penyerangan yang dia lakukan.
Sebenarnya, Ren takut tanggapan mereka akan berubah ketika tahu dia meluluhlantakkan seluruh tempat itu.
"Aku sedikit tertarik dengan patung itu," Edna tidak hanya fokus ke sesuatu yang menarik perhatiannya.
Seperti yang Ren duga.
"Hum hum. Kau menghancurkan mereka sekalian markas mereka ya? Itu bagus. Kalau bisa, basmi mereka sampai ke akar akarnya!" Ruly justru menyemangati Ren.
Cukup aneh, tapi tidak dengan standar dunia ini. Hukum di dunia ini masih belum berjalan dengan baik, jadi masih berlaku hukum rimba, siapa kuat, dia yang berkuasa.
Ren menarik nafas lega ketika semua yang dia bayangkan itu tidak terjadi.
Tapi menurutnya, mereka tidak terlalu fokus dengan kekejamannya, tapi fokus ke sekte itu sendiri.
"Tapi ngomong ngomong, kenapa kamu bisa terluka begitu parah? Kalau dari ceritamu, kamu tidak terkena serangan sedikitpun, bukan? Tapi aku melihat lukamu sangat parah, bahkan sampai beberapa organ dalammu berbahaya." Ruly heran.
"Walaupun aku melihat kau terkena hempasan angin dari sihirmu sendiri, tapi aku yakin kau tidak akan terluka sedalam itu, bukan?" Edna mengatakannya.
Saat ini Edna benar benar antusias.
"Tunggu kak Edna! Apa karaktermu selalu seperti ini?" Ren mencibir sedikit.
Semua salaing berpandangan, kemudian melihat ke arah Edna. Sedangkan Ruly menahan tawanya.
"Ba-baiklah! Terserah kau saja! Jawab pertanyaanku!" Edna berteriak sambil mengambil cangkir teh nya.
Ren hanya menggeleng gelengkan kepala.
"Hmm, kalian sudah tahu, bahwa aku memiliki Fehl yang sangat banyak jika dibandingkan dengan anak biasanya, bukan?" Ren bertanya pelan, sambil mengubah pandangannya menjadi serius.
"Heh?! Benar?! Aku belum tahu ini! Bisa menggunakan sihir saja sudah sangat mengejutkan! Dan sekarang, cadangan Fehl mu sudah melebihi biasanya?!" Teriak Edna menggerakkan tangan di meja.
Lagi lagi, Ren berpandangan dengan Ruly, melihat Edna yang sangat antusias dengan ini.
"Ahh, kau belum tahu, ya?" Tanya Ruly dengan wajah polos.
"Mau bagaimana lagi, aku jarang berbicara dengannya." Jawab Ren dengan menutup mata, memasang mimik wajah menyayangkan.
Mereka terdiam sesaat, sebelum akhirnya Ren melanjutkan.
"Yahh, begitulah. Aku memiliki Fehl jauh lebih banyak dari kalian. Dan itu membuat masalah untuk diriku yang sekarang. Kalian tahu bukan? Semakin banyak Fehl mu, semakin banyak Fehl yang bocor, kadang membentuk aura tersendiri." Ren memulai penjelasannya.
"Ahh, ya. Kadang kita bisa merasakan Fehl lawan hanya lewat udara," tanggap Edna.
"Nahh, selama ini, Fehl ku bocor perlahan, dan jika itu terlalu berlebih, maka akan merusak tubuhku. Dengan kata lain, jika aku menggunakan sihir, aku yang sekarang hanya membunuh diriku sendiri." Ren menyilangkan tangannya.
Semua terdiam, memikirkan penjelasan Ren.
"Apa maksudmu? Bukannya kau bisa menggunakan sihir dengan normal di saat latihan, bukan?" Tanya Ruly keheranan.
"Ahh, ya. Kalian pasti tahu ada pelindung di kawasan keluarga Larvest?" Ren bergantian menyesap teh lemonnya.
(Memang benar. Aku sedikit lupa tapi aku mendapat laporan bahwa kualitas penghalang menjadi lebih kuat.) Ruly membatin dalam diam.
"Apa jangan jangan?!" Edna berteriak memecah keheningan.
"Ya! Seperti yang kalian pikir. Sepertinya aku secara tidak sengaja memperkuat penghalang ini!" Ren hanya tersenyum menanggapi mereka.
Sebenarnya ini seperti hubungan mutualisme antara Ren dengan penghalang ini, karena penghalang ini menyerap kelebihan Fehl, membuat Ren baik baik saja ketika mengeluarkan sihir, dan penghalang ini juga bertambah kuat.
"A-ah, rasanya akal sehatku menjauh ketika bersamamu." Kata Ruly sambil tertawa.
Mereka terlihat senang, tapi Edna tampak ingin mengatakan sesuatu. Dia menatap ke bawah, dengan tatapan sedikit kesulitan.
"A-anu!" Edna berteriak.
Sebenarnya, Edna yang selama ini mengikuti Ren, karena dia ingin Ren melatihnya.
Dia adalah putri Larvest yang memiliki cadangan Fehl besar, dan bisa bahkan menggunakan 3 elemen sihir di dunia ini.
Sayangnya, sihir yang dapat dia gunakan bisa dibilang tidak terlalu berguna. Edna dapat menggunakan elemen cahaya, es, dan ruang.
Sebenarnya, itu semua adalah hal yang sangat langka, tapi jika itu semua berada pada satu orang, itu dianggap tidak berguna.
"Ada apa, Edna?" Ren menanggapi wajah bermasalah Edna.
"Bisakah kamu-" kata kata Edna terputus.
Tok!
Pintu terketuk, sebelum akhirnya terbuka. Terdapat orang dengan wajah tegas, tapi dari matanya memancarkan kebaikan dan kelembutan.
Semua yang ada di sana terkejut, dimana mereka kedatangan tamu yang tidak terduga.
Dan lagi, itu adalah seseorang yang berkedudukan tinggi.
"Selamat pagi, nama saya Childe Royze. Senang bertemu dengan kalian." Childe melangkah masuk perlahan, sambil menahan pengawalnya dan menyuruh mereka kembali.
Suasana menjadi tegang, terutama ketika Ren ingat bahwa dia adalah salah satu ayah dari anak anak yang diculik.
(Apa ini Shinigami? Dia terlihat mirip dengan apa yang kulihat saat itu. Hanya rambutnya yang berbeda, kah?) Childe membatin dalam diam.
"Aku ingin bicara berdua denganmu, Ren Larvest!"