
Sementara Yuan Yi dan Jian Koo sedang berdiskusi di ruangan lain...
"Ahh, aku sedikit bosan, apakah aku bisa berjalan jalan?" tanya Liu Xiu pelan.
Dia menoleh ke arah pelayan yang sedang duduk memejamkan nata sambil menunduk, menunggu perintah yang ditujukan padanya. Tapi sepertinya itu diniatkan untuk mencegah Liu Xiu pergi ke sembarang tempat.
Sekarang Liu Xiu sedang berada di jantung kota Li Tian, dan dengan beberapa hal yang misterius disini, membuat Liu Xiu penasaran.
Tapi melakukan beberapa tindakan yang tidak baik juga akan membuat keberadaannya di Li Tian agak terancam.
("Mungkin aku harus mengurungkan niat untuk berkeliling? Ahh, tapi ini semua membuatku haus.")
"Anda ingin minuman seperti apa, tuan Liu Xiu?"
("Whoa?!! Apa apaan itu?!! Bagaimana mungkin? Apa dia esper? Kenapa dia bisa tahu apa yang aku pikirkan?!!") teriak Liu Xiu dalam hati.
"K-kalau begitu, teh hijau tolong." jawab Liu Xiu.
Pelayan itu mengangguk, lalu menyentuh peralatan teh, mulai mengerjakan pekerjaan nya. Lalu Liu Xiu sedikit memperhatikan pelayan itu.
("Humm? Rambut hitam? Itu cukup mengejutkan. Di dunia ini sangat jarang orang orang dengan rambut hitam. Hanya beberapa Beast dan manusia, jadi aku jarang melihat rambutnya.") pikir Liu Xiu mengomentari pelayan itu.
Tapi apapun itu, Liu Xiu tahu bahwa pelayan itu tidak memikirkan apa yang Liu Xiu pikirkan, yang membuatnya bingung.
Dia lantas menyajikan teh yang baru saja dibuat, sambil menunduk perlahan.
Diam diam Liu Xiu mengagumi bagaimana pelayan itu membuat teh, dan beberapa cara untuk menyebutnya. Karena sebenarnya Liu Xiu adalah seorang maniak teh, jadi dia mengawasi betul cara membuatnya.
("Caranya membuat teh, dan rasanya, serta aroma nya benar benar luar biasa. Aku harus berguru padanya.") pikir Liu Xiu setelah mencoba teh yang dihidangkan.
"Terima kasih atas pujian anda. Hanya saya masih belum cukup untuk mengambil murid." kata pelayan itu dengan nada datar.
"Apa kau esper?!!" teriak Liu Xiu menanggapi nya.
"Ha ha ha! Jangan pikirkan soal Amako! Dia adalah pelayan terbaik kami, tapi saya akui dia agak aneh. Dia sudah berwajah datar seperti itu sejak aku membawanya dari Kekaisaran Nikoku. Tapi, dia adalah anak yang baik."
"Ahh, untuk kemampuan nya, dia mampu mengetahui keinginan orang yang dia layani, selama itu berhubungan dengan menyajikan sesuatu. Dia bisa tahu, jika apa yang anda pikirkan berhubungan dengan penyajian. Itu membuatnya tahu selera anda." lanjut Jian Koo lagi.
Jian Koo masuk tiba-tiba tanpa peringatan, tapi Liu Xiu tidak terlalu terkejut dengan itu. Karena memang Jian Koo tidak bermaksud untuk mengendap-endap.
Liu Xiu diam sesaat, memandang Amako dengan wajah bingung. Dia memiringkan kepala sesaat, lalu pindah menatap Jian Koo.
Di belakang Jian Koo, terlihat Yuan Yi yang berjalan masuk dengan wajah lelah, sekaligus kecewa.
Liu Xiu sedikitnya bisa menebak apa yang terjadi dengannya. Tapi...
"Amako. Apa kau punya nama keluarga?" tanya Liu Xiu tiba-tiba.
Itu membuat Amako, bahkan Jian Koo tersentak, tapi sudut mulut Jian Koo justru meningkat, membentuk bulan sabit, namun Jian Koo dengan segera menutup mulutnya yang mengeluarkan pikiran jahatnya.
"Uhm. Maafkan aku. Apakah anda mengetahui tentang negara itu?" tanya Jian Koo menyela.
"Humm, tidak. Hanya saja, nama dan wajahnya mengingatkan ku pada sesuatu. Tapi, apakah aneh untuk ku menanyakan nama keluarga miliknya?" tanya Liu Xiu.
Liu Xiu belum memahami perbedaan "Nama keluarga" dan "Nama bawaan dari keluarga". Bisa saja orang yang mendengar nya menganggap sebagai kesalahan, tapi setelah mendengar jawaban Liu Xiu barusan membuat Jian Koo dan Yuan Yi yakin.
"Hoo... Apakah nak Liu Xiu sudah sempat berkunjung ke negara itu?"
"Tidak, belum. Saya hanya mendengar beberapa cerita tentangnya. Tapi kebanyakan orang tidak menceritakan negara itu secara detail. Bagaimanapun, sulit mencari informasi tentang nya." jawab Liu Xiu.
Liu Xiu paham, saat ini dia sedang diinterogasi, dan dia harus mencari jawaban yang tepat saat ini.
Tidak mungkin baginya untuk mengatakan bahwa dia adalah reinkarnator, dan ada negara yang memiliki pengaturan nama yang mirip seperti itu.
Jian Koo mengangguk, sambil sedikit menggumamkan "Dia belum kesana, kah?".
"Saya mengerti. Nak Liu Xiu adalah orang yang suka mengumpulkan informasi, bukan?"
"Aku mengerti. Jadi bagaimana, Amako?" Jian Koo menoleh ke Amako yang masih menatap mereka tetap dengan wajah datar.
"Sato."
"Humm?"
"Sato Amako. Namaku Sato Amako." jawab Amako.
Sepertinya Amako tidak terlalu keberatan. Tapi itu semakin membuat Liu Xiu menjadi lebih penasaran dengan Kekaisaran Nikoku.
"Baiklah. Saya akan mengutarakan maksud saya." Liu Xiu duduk tegak.
"Saya sudah melihat bagaimana nona Yuan Yi mempraktekkan kemampuan ilmu bela diri yang sangat luar biasa. Dan karena beberapa hal, saya tidak bisa melakukan hal itu."
"Itu membuka mata saya, bahwa saya bukanlah apa apa kecuali kentang goreng kecil belaka. Dan mendengar saran Yuan Yi, saya benar benar terlatih untuk mengikuti pelatihan. Terutama bagaimana Yuan Yi menunjukkan pada saya kemampuan nya. Itu sangat mengagumkan."
Liu Xiu mengarang sedikit cerita, yang membuat Yuan Yi mendelik marah.
"Oleh karena itu, bisakah saya untuk menjadi murid anda? Mungkin akan menjadi beban, tapi tolong!! Saya ingin menjadi orang yang lebih berguna!! Aku ingin lebih banyak membantu orang, tapi saya sadar bahwa itu membutuhkan kekuatan! Saya mohon, Terima saya sebagai murid anda!!" teriak Liu Xiu penuh dengan penekanan.
Suasana hening sesaat, sementara Jian Koo menatap Liu Xiu tajam. Dia lantas menoleh ke arah Yuan Yi, seperti bertanya dan meminta beberapa konfirmasi.
Sementara Yuan Yi hanya mengangkat bahu, Liu Xiu masih menunduk, mempertahankan posisinya untuk memohon.
Jian Koo menghela nafas,
"Huftt. Aku bisa melihat bahwa kau tidak berbohong. Aku juga bisa melihat tekad mu bukanlah palsu. Itu semua nyata, ketika kau mengatakan membutuhkan kekuatan untuk melindungi orang lain."
"Kalau begitu?!!"
"Tapi!! Saat ini bukan aku yang menjadi Kepala Keluarga. Hanya Kepala Keluarga Li yang berhak memutuskan hal hal seperti itu. Dan itu sudah aku serahkan pada anakku. Aku hanya bertindak sebagai Guru khusus Yuan Yi sampai sekarang." kata Jian Koo.
Mendengar itu, Liu Xiu menunduk dengan ekspresi sedih. Yahh, sejak awal dia tidak mengira bahwa semuanya akan berjalan lancar, jadi Liu Xiu tidak terlalu kecewa.
"Lalu, bisakah aku bertemu dengan Kepala Keluarga Li? Saya mengerti ini sulit, tapi bisakah saya memintanya?" tanya Liu Xiu.
"Huh? Kita akan segera menemui nya sekarang." kata Jian Koo sambil berdiri. Yuan Yi hanya menghela nafas, lalu sedikit berbalik. Dia mengambil tongkat yang terlihat seperti pajangan, dan menyerahkan nya pada Jian Koo.
Tidak sempat terlihat, tapi Amako sudah membersihkan teh set dan mengosongkan ruangan itu. Itu kembali membuat Liu Xiu kagum.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana? Ikuti aku!' kata Jian Koo menggerakkan tongkatnya memberi tanda.
Liu Xiu tidak paham, tapi dia hanya menurut dan mengikuti Jian Koo dan Yuan Yi.
Mereka berdua berjalan dan berhenti di bagian rumah yang tidak beratap, dan menaiki sebuah batu persegi seluas 3 kali 3 meter dengan batu oranye yang menopang di bawahnya.
Liu Xiu mengikuti, dan naik ke atas batu itu, sampai dia menyadari....
"Batu ini mulai melayang?!" tanya Liu Xiu sedikit terkejut.
Dia melihat Jian Koo, yang terlihat senang sambil menyalurkan sesuatu yang berwarna kuning keemasan dari tubuhnya ke batu itu, dengan perantara tongkat kayu.
Liu Xiu tidak bisa tidak kagum melihat itu, dan dia menyimpulkan bahwa energi itu, energi kehidupan yang membuat batu itu melayang semakin tinggi, mulai meninggalkan kantor kerja dan mendekati batu yang melayang tenang di atas mereka.
Itu tidak membutuhkan waktu lama, sampai batu melayang itu perlahan mendekati dan mensejajarkan tinggi dengan batu yang lebih besar dan menopang sebuah rumah mewah, yang membuat Liu Xiu menganga melihatnya.
Mereka bertiga turun dari batu kecil, dan berpindah ke batu melayang tempat rumah itu berada. Tepatnya, mereka sekarang berada di depan gerbang besar.
"Besar..." kata Liu Xiu mengungkapkan apa yang dia pikirkan.
Yuan Yi yang mendengar itu tidak bisa berhenti tersenyum, bahkan terlihat bangga dengan apa yang terjadi pada Liu Xiu.
"Yahh, aku tahu kau akan terlihat seperti itu. Bagaimanapun, selamat datang. Ini adalah kediaman Keluarga Li. Kau harus merasa terhormat karena kmari loh!! " kata Yuan Yi