
Aku menunggu Aina bangun sebelum kembali ke atas permukaan. Aku sudah mendapat barang yang kuiinginkan. Selain itu, masih banyak yang ingin aku kerjakan, jadi mari kita akhiri hari ini sekarang.
Tak banyak pembicaraan antara aku dengan Aina saat di perjalanan. Entah kenapa, suasana menjadi canggung.
Selain itu, Aina juga tampak terganggu dengan sesuatu. Tangannya tidak bisa diam di tempatnya, selalu sibuk ke tempat tempat lain.
Yahh, terserahlah.
Aku tidak lupa mengubah penampilanku, memakai masker dan assasin suite untuk melengkapi penyamaran ku.
"A-anu. Ba-bagaimana denganku, kak?" Aina menarik sedikit bajuku sambil menaruh tangan kirinya di dadanya, menunduk.
Ahh, aku sudah berencana untuk membawanya setelah kami sampai di Guild supaya itu jelas, jadi aku tidak bisa memberitahunya disini.
"Ikutlah aku ke Guild. Aku membutuhkanmu untuk menjadi saksi sedikit." jelasku.
Yaahh, aku ingin mengarang beberapa cerita tentang apa saja yang terjadi. Tidak. Aku hanya akan menambah beberapa cerita agar menjadi lebih menarik.
Aku dan Aina masuk ke Guild yang cukup ramai itu. Aku sebisa mungkin tidak membuat suara yang berlebih. Karena memang, aku tidak ingin memanggil beberapa hal yang tidak mengenakkan.
"Permisi, aku ingin menjual beberapa bahan dan batu sihir. Aku bisa melakukan nya di sini, bukan?" Aku mengetuk meja resepsionis sambil melihat seseorang yang sedang melakukan beberapa pekerjaannya.
"Oh, tuan Nier! Saya sudah menduga anda akan datang! Silakan kemari, saya akan menilai kan semuanya untuk anda!" dia tersenyum.
"Ha? Kenapa kau tahu namaku?!"
"Fu Fu Fu. Saya selalu ingat nama nama yang menghasilkan banyak uang lho!" jawabnya jujur. Uhh itu benar.
Aku hanya mengangguk sambil menyerahkan beberapa barang dari Inventory ku. Ada banyak hal, salah satunya ada tanduk Minotaur, dan ada batu sihirnya sekalian.
"Kalau begitu, saya akan menerima ini. Oh ya, sekalian saja, saya meminta kartu identitas petualang anda, untuk menyiapkan kenaikan rank anda. Anda bisa menunggu beberapa saat selama itu." Resepsionis guild petualang, Cathy berkata dengan ramah.
Walau begitu, dia adalah manusia, sama sepertiku. Sangat luar biasa dimana dia bisa masuk ke guild ini tanpa menimbulkan masalah, yang mana itu adalah pencapaian yang luar biasa.
"Ahh, untuk anak ini!" aku menyelanya sebelum dia mengakhiri pembicaraan.
"Aku menemukannya ketika dia diserang monster. Dia adalah pembawa batu sihir yang disewa seorang petualang, tapi petualang itu terkena jebakan Dungeon dan mati disana." aku mulai menggunakan skill [Poker Face] dan [Seduce]. Ini adalah skill yang berguna.
"Aku mengambilnya dan menyelamatkannya. Apa kau mengenalnya?" Aku bertanya ketika dia sedikit mengintip ke arah kami wajahnya juga sedikit terkejut di sana.
Dan ketika aku meletakkan tangan di meja resepsionis, dia tersentak.
Aku tahu kau sedikit terkejut, jadi tolong jangan sembunyikan itu!
"A-Ahh, benar. Aku mengenalnya. Jadi, apa yang akan kau lakukan?" Dia menanyaiku balik.
Hmm, mungkin ini saat yang bagus untuk memintanya bersamaku. Lagipula, aku sudah cukup mengenal Guild ini. Dan ekspresi Cathy seperti ingin memaksaku membawanya!
Aku jadi sedikit curiga bagaimana Aina bisa menjadi pembawa batu sihir dari sebelumnya hanya gelandangan!!
"Aku ingin membawanya. Bagaimana? Apa perlu beberapa prosedur untuk ku bisa membawanya?" Aku bertanya sambil mencondongkan badanku masuk ke resepsionis.
Aku berusaha memaksanya untuk tidak melakukan beberapa hal keformalan untuk ini. Dan itu berhasil.
"B-baiklah! Anda bisa membawanya, tapi dengan syarat Aina sendiri juga mau bersama anda!" Dia berteriak berusaha menjauhkan wajahku darinya.
Yahh, baiklah. Kalau begitu, masalah selanjutnya hanya Aina. Aku berjongkok untuk mensejajarkan kepalaku.
"Jadi, begitulah Aina. Aku akan bertanya padamu. Maukah kamu ikut denganku? Atau kamu ingin tetap disini?" aku menatap matanya yang mulai berkaca kaca.
"Umm, aku membutuhkanmu. Tapi, kamu bisa menolaknya jika kamu tidak mau." aku mengatakan ke intinya.
Yahh, sepertinya aku salah kalimat. Kalimat tadi seperti-
"Hei! Jangan bilang kamu ingin melamarnya?!!" si Cathy berteriak marah.
"Apa kau bodoh? Aku tidak mungkin melakukannya!" oh tidak! Aku memang mengucapkan beberapa kalimat yang aneh.
Setelah melakukan beberapa drama comedy, aku kembali menatap Aina, dan hanya mendapat tubrukan dari tubuhnya.
Itu menjatuhkan ku.
"Terima kasih, kakak! Aku, tidak. Aina akan bekerja keras agar tidak dibuang oleh kakak! Aina sangat berterima kasih!!" dia memelukku erat, ketika aku terjatuh karena dia menuburkku.
Dengan kata lain, dia ada di atas badanku sekarang.
Tunggu! Kita sedang berada di tengah tengah Guild! Jangan lakukan ini! Dan lagi, orang orang di dalam Guild menatapku dengan tatapan tajam. Dan banyak perempuan menatapku dengan tatapan rendah!
Oi oi! Jangan kira aku lolicon sialannn!!
"A-aku tahu! Jadi, tolong menjauhlah dariku!" aku berteriak sambil mengangkatnya sekuat tenaga. Karena jika tidak, dia akan mencekik ku dengan pelukannya!
"A-Ahh, baiklah. Maafkan Aina. Aina hanya terlalu senang!" dia tersenyum sambil memegang kedua tangannya di dada.
Eh tunggu! Kenapa kau mengubah cara mu memanggil dirimu sediri?!
"Baiklah. Sepertinya aku harus segera pergi. Permisi!" aku harus segera melarikan diri dari sini!
Aku harus langsung mengunjungi pan Kurls sekarang. Ada beberapa hal yang ingin aku lakukan, tapi aku tidak bisa mengajak Aina.
"Umm, Mari kita lakukan sesuatu dengan lukamu, Aina!" aku mempercepat langkahku.
Aina hanya mengangguk sambil mengikutiku. Entah ke,, dia terus memasang senyum di wajahnya sepanjang jalan.
"Paman Kurls!" Aku membuka masker hitam yang menutupi wajahku, lalu menyapa paman Kurs. Kebetulan aku bertemu dengannya di jalan.
Dia terlihat bingung melihatku, apalagi Aina.
"A-Ahh, tolong abaikan itu. Tolong rawat anak ini, sampai aku kembali. Umm, tolong rapikan dia dan rawat luka lukanya. Aku akan pergi beberapa saat." Aku menyerahkan Aina pada paman Kurls.
Aina sedikit takut, tapi aku memegang bahunya.
"Baiklah, Tuan Muda." Kurls menjawab dengan bercanda.
"Tuan muda?" dan parahnya, Aina dengar itu dan menanggapinya!
"Kurls!!" aku memelototinya sambil cemberut.
Dia hanya tertawa kecil, lalu berlalu menjauh menggandeng Aina.
"Baiklah. Sekarang, aku akan mengumpulkan sedikit informasi." Aku berjalan pelan, meninggalkan meja resepsionis.
Kota Cerida ini adalah salah satu kota besar di Kerajaan Kin. Ini cukup dekat dengan ibukota, Dowtie. Dan tentu saja, aliran informasi ke kota ini sangat cepat.
Seperti misalnya poster buronan, atau informasi besar di ibukota, seperti pembunuhan atau pencurian.
Dan tempat yang paling mudah untuk mengumpulkan informasi adalah tavern. Ini mirip bar, dan sangat ramai oleh orang orang.
Bermacam macam orang ada di sini, mulai petualang, pedagang, orang biasa, bahkan bebeepa orang yang tampak beradab juga berkumpul di sini. Tak heran aliran informasi seperti berpusat di tavern ini.
"Permisi." Aku masuk ke tavern, setelah membuka pintu pelan. Suara musik riang mulai masuk ke telingaku, dan riuh ramai kegiatan juga mulai terdengar.
"Ah, silahkan duduk di manapun yang kosong! Silahkan pesan dengan mengangkat tangan, aku akan menerima pesanan mu segera." Aku mendengar teriakan dari salah seorang pelayan, seorang gadis yang bersemangat.
Aku sepertinya tidak melihatnya beberapa bulan lalu. Apa dia baru? Entahlah. Tapi perawakannya itu, sangat cocok untuk dijadikan pelayan bar.
Dia cukup cantik, dengan gesit melayani pelanggan kesana kemari. Dia bisa membawa beberapa pesanan dengan cepat itu mengesankan.
"Sejujurnya, aku lebih suka teh daripada bir." Aku menggumam pelan pada diriku sendiri.
Silahkan sebut aku sebagai penggila teh! Karena memang aku bisa meminumnya terus menerus jika aku mau.
Aku juga tahan minum alkohol, walau umurku tampak tidak memenuhi. Selain itu, karena efek samping pertumbuhan Fehl ku, tubuhku tampak lebih tinggi daripada remaja seumuranku.
Aku mengangkat tangan, menunggu pelayan itu melihatnya sebelum menurunkan tanganku.
"Apa pesanan anda?" Dia datang dengan cepat. Mengagumkan.
"Minuman apa saja yang ada di sini? Dan mana yang lebih baik?" aku menjadi pelanggan baru disini, jadi aku harus memulainya dari awal.
"Untuk minuman yang murah, ada bir biasa yang dicampur air. Dan yang saya sarankan adalah Mead, Bir yang dicampur madu. Harganya sedikit lebih mahal, tapi rasanya jauh lebih enak." jelasnya.
Yahh, aku sebenarnya sudah tahu, tapi tetap saja tidak ada teh disini.
"Kalau begitu, aku akan pesan Mead satu gelas." aku menimang nimang makanan sekadang.
"Dan untuk tambahan, beri aku sepotong daging yang empuk. Oh ya! Aku juga minta dua potong lagi dibungkus. Beri masing masing sepotong roti untuk yang dibungkus. Jadi berapa?" Aku mengatakan pesananku. Dan aku juga sedikit lapar sekarang.
"Itu saja? Totalnya 83 perunggu!" Katanya tersenyum.
Hmm, agak mahal ya? Tentu saja sih, karena memang daging adalah makanan yang agak mewah disini.
Aku mengambil 1 perak dari kantongku, dan menaruhnya ke nampan yang dibawanya. Itu bernilai 100 perunggu di sini, jadi itu lebih dari cukup.
Ngomong ngomong, aku mendapat 38 perak dengan menjual beberapa bahan di Dungeon tadi. Jumlah yang sangat banyak.
"Baiklah. Tolong tunggu sebentar." Si pelayan mundur, lalu berlari kembali.
"Sekarang, ayo kita cari sedikit informasi." Aku mengaktifkan [Sharp Hearing] dan [Sharp Eyesight]. Itu adalah skill yang sangat berguna untuk pengintaian seperti ini.
Sekarang lebih ramai daripada biasanya, tapi skill ini bisa menanganinya.
"Ahh, ada informasi tentang kultus ya? Rencana baru? Penculikan, harga pasar, uh." Aku menutup mataku ketika mendengarkan mereka semua berbicara.
Tunggu! Bukankah percakapan ini sangat berbahaya? Aku akan fokus ke salah satunya!
"Rencana kultus yang sempurna, kita sepertinya sedang diawasi. Eh?" Aku sedikit terkejut mendengar itu semua.
("Ada yang sadar dengan skill ku ini? Ini sangat langka. Lebih baik aku aktifkan [Poker face] untuk berjaga jaga.") Aku membatin mengubah pikiranku menjadi waspada.
Orang ini, pasti sangat kuat.
Aku juga memainkan uang di tanganku, untuk mengurangi kecurigaan.
Beberapa saat kemudian, ada sepasang yang berdiri. Dia menggunakan sebuah jubah bagus yang kelihatannya memiliki efek khusus di dalamnya.
Aku tidak bisa menebak jenis kelamin mereka. Jubah itu terlalu menutupi tubuhnya!
("Pasti mereka, tapi akan baik untuk tidak mengikutinya. Bisa saja teman di sebelahnya sama kuatnya dengannya, yang bisa merasakan skill ini.") Aku menghembuskan nafas tenang, lalu beberapa saat kemudian, pelayan itu kembali.
"Maaf sudah menunggu! Silahkan dinikmati!" Pelayan itu menurunkan nampan, dan menaruhnya ke depanku.
Dia menurunkan pesanan ku satu persatu, sampai hanya tersisa kembaliannya saja.
"Ah, sisanya untukmu saja." Aku berkata pelan. Dia masih 9 tahun, sangat muda. Tapi sudah bekerja, bahkan sangat baik.
"Benarkah? Terima kasih!" Pelayan itu kembali dengan wajah berseri seri.
Aku kembali mengingat kedua orang orang itu. Mereka membicarakan sesuatu hal tentang sebuah rencana, dan nama baru seperti "Kultus" muncul.
Apakah itu adalah bagian dari gereja? Aku tidak tahu.
"Tapi, perasaan ini, ini mirip dengan perasaan waktu itu. Ketika aku berhadapan dengan orang yang dapat mengacaukan [Evaluator] ku. Apa apan ini?"