
Langit langit yang berbeda, lagi.
Aku terbangun di sebuah ruangan gelap yang aneh, dimana aku tidak bisa melihat ke sekeliling ruangan, tapi aku dapat melihat tubuhku dengan jelas.
Bawahku dingin, sepertinya ini air?
Kukira terakhir kali aku sedang bertarung melawan monster itu, bukan?
"Ahh, berarti aku mati, lagi?" aku hanya bisa melihat tanganku yang kini sudah penuh luka. Tidak hanya itu, tubuhku anggota tubuhku tidak bisa digerakkan dengan baik lagi.
Aku meraba ke bagian dada, dan merasakan lubang di sana. Ugh, ini mengerikan.
"Yahhh, mau bagaimana lagi jika lawannya seperti itu, mana mungkin aku bisa bertahan, bukan?" aku hanya mengangguk, menggumam pelan.
!!!
Aku merasa sakit di dadaku. Tidak! Jantungku sudah hilang, tapi aku masih bisa merasakan sakit?
!!!
Ahhhh!!! Kepalaku dipenuhi teriakan teriakan kesakitan dari orang banyak!!!
!!!
Tiba tiba muncul orang orang yang berjalan dari kegelapan, yang berjalan seperti zombie. Aku berusaha lari, tapi menemukan dari arah sebaliknya pun mereka sudah mendekat.
"Apa apaan ini? Aargggh!!!" aku berusaha menjauhi makhluk makhluk itu, tapi sakit di kepalaku masih terus berlanjut.
Aku jatuh berlutut, menahan sakit yang ada.
Suara suara terdengar bersahutan di kepalaku, suara minta tolong dari orang banyak. Tapi ketika aku melihat ke atas langit, disana ada semacam layar di langit yang hitam kelam.
"Ahhh!! Tidak!! Ren! Tolong! Tolong kami!!" aku melihat bayangan kak Edna yang ditangkap monster itu.
"Tidak! Hentikan!!" aku berteriak, mencoba menggapainya, tapi aku hanya jatuh saat mencoba berlari, jatuh ke tempat yang berair ini.
"Ren! Tolong!" kini suara terdengar dari belakangku.
"Ibu?!" ibu ada di belakangku, berjalan dengan terpincang.
Keadannya sangat buruk, yang mana tangan kirinya hilang, dengan darah yang mengalir di dahinya. Aku tak urung panik, menghampirinya.
"Ibu! Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ibu bisa sampai sini? Tidak tidak tidak! Aku harus mencoba menyembuhkan Ibu!" aku sangat panik hingga tidak bisa berpikir lagi.
SRATT!!
Suara itu terdengar jelas dari ibuku.
Aku bisa melihat ibu yang ditembus oleh cakar monster tadi.
"Kenapa, Ren? Kenapa kamu tidak menolong ibu?!" ibu bersandar di bahuku, dengan mulut mengeluarkan darah.
Aku hanya membelalakkan mata, tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
"Tidak! Bukaan! Ini bukan kenyataan!" aku berteriak dan berlutut.
Seketika, di lututku muncul seseorang, itu adalah Syila! Syila sedang berbaring, dan tanganku entah bagaimana bergerak untuk menggendongnya.
"Kenapa? Kenapa Ren? Kenapa kau tidak menolongku?" Syila mengatakan hal itu, lalu seketika dia menjadi kabur.
"Tidak."
"Kenapa kamu tidak menolongku?!" kali ini suara kak Edna.
"Kenapa kamu tidak menolongku?!" ini suara Aina.
"Ren? Kenapa kamu tidak menolong kami?!" yang sekarang suara Suzu.
Aku tidak tahan dengan suara suara yang terus menerus bersahut sahutan di kepalaku. Sedangkan aku hanya bisa menutup telinga walaupun itu semua tetap terdengar jelas.
Tanpa kusadari, zombie zombie yang ada di sekelilingku sudah datang, dan menempel padaku. Mereka semua bermata merah, dan mengatakan hal yang sama.
"Ayo! Marahlah! Jatuhlah dalam kemarahanmu!!!" dan entah bagaimana, aku mulai masuk ke dalam air itu secara perlahan.
"Tidak!" apa ini? Adegan horror apa ini?
"Tidakk!!" aku hanya bisa berteriak, menutup mata.
***
"Ren?" itu suara kak Edna yang samar samar memanggilku.
"Tidakk!!!" aku membuka mata cepat, lalu mendapati wajah kak Edna yang tepat berada di atas wajahku, mengamatiku.
Apakah ini asli? Apakah ini kenyataan?
Itulah yang pertama kali aku pikirkan saat melihat kak Edna. Aku mencoba menyentuh wajahnya, lalu aku menyentuh wajahku sendiri.
"Syukurlah!!" kak Edna memelukku, menangis seperti tak memperdulikan apapun.
Tunggu! Bukankah aku sudah mati? Kenapa? Apakah ini dunia nyata? Atau dunia mimpi? Dan tadi itu apa?
Teringat jelas apa yang terjadi padaku tadi. Aku segera meraba dadaku, mencoba memastikan jantungku.
Gila! Ini benar benar tertutup secara sempurna, dan tidak ada bekas lupa sedikitpun! Apakah kak Edna bisa menggunakan [Sanctuary] juga?
Aku mencoba duduk, walau kak Edna masih di bahuku, menangis. Aku menoleh ke sekeliling.
Terlihat kota Furyuun yang sudah hancur separuhnya, dan awan mendung yang terlihat aneh. Sepertinya akan hujan.
"Syukurlah Ren!! Kukira kamu sudah mati!" kak Edna masih menangis.
Hujan turun, membuat kami berdua basah karenanya.
Itu menghapus air mata kak Edna, dan tentu saja membuatku kedinginan, maka aku segera berdiri sambil sedikit menenangkan kak Edna.
"Yahh, sebenarnya aku memang sudah mati sih." kataku menggaruk kepala.
"Heh? Apa?" seperti biasa, tanggapan kak Edna sangat cepat!
"Aku akan menjelaskan semuanya nanti. Untuk saat ini, mari kita kembali dan menyapa orang orang yang ada di sana, untuk mendapat hal yang sepatutnya kita dapat." kataku.
Kak Edna hanya tersenyum, lalu mengangguk. Kami akan berjalan, ketika aku hampir terjatuh karena aku benar benar tidak memiliki tenaga.
"Ren! Sudah kuduga kau tidak baik baik saja! Tunggulah! Aku akan memanggil bantuan untuk membawamu sebentar!" kak Edna kembali terlihat khawatir denganku.
Daripada itu, aku lebih khawatir dengan paman Kurls, Suzu, Aina, dan ibu.
Tapi apa daya, aku tidak bisa melakukan apapun sekarang.
Masih ada setengah topeng di wajah kiriku, jadi aku melepasnya. Pandanganku yang tadinya agak kemerahan kini sudah kembali normal. Selain itu, aku bisa merasakan rasa sakit seperti terbakar ada di seluruh tubuhku.
Tak lama kemudian, muncul orang orang yang membawa benda mirip dengan tandu yang di gerakkan dengan sihir, jadi yang mengangkat lebih ringan.
Aku membiarkan orang orang membawaku dengan tandu, ke balaikota.
Uhh, aku menjadi bahan tontonan orang orang.
Berbeda dengan awal saat aku menunjukkan diri sebagai manusia, mereka tidak memandang rendah diriku lagi.
Mereka memandangku dengan rasa hormat, dan mata penuh terima kasih. Tidak jarang banyak anak anak yang melambaikan tangannya padaku, tersenyum.
Padahal penampilanku sekarang benar benar compang camping, bahkan untuk berdiri saja aku tidak mampu sekarang.
Sepertinya aku berhasil. Aku berhasil membuat manusia seperti diriku dihargai. Ya. Ini sangat menyenangkan.
Entahlah, tapi rasa lelah menumpuk sekarang, jadi aku akan tidur sebentar mungkin?