
"Seven Knights. Mereka akhirnya masuk dalam pertempuran kah?" Kei tertawa pelan sambil menonton dari atas gelapnya langit malam.
Di sebelahnya, ada Cilia yang sedang menimang nimang jika di antara kedua kubu terjadi pertempuran, siapa yang akan menang.
"Bocah itu pasti menyadari, Alford adalah seorang Reinkanator. Dan Ren pasti mengetahui bahwa kekuatannya berbeda dengan Alford, dan dia juga pasti sadar bahwa dia jauh dari akal sehat di dunia ini. Ini benar benar menarik melihat mereka akan bekerja sama." lanjut Kei lagi.
"Menurut Master, mereka akan bekerja sama?" tanya Cilia.
"Ya! Kenapa tidak? Mereka akan bekerja sama untuk mengalahkan monster itu. Atau lebih mudahnya, Seven Knights akan memperalat bocah itu agar bekerja untuk mereka."
"Seven Knights tahu, monster itu sulit untuk mereka kalahkan. Jadi pasti mereka akan menyerahkan monster itu pada Ren." lanjut Kei.
Setelah itu, Kei memalingkan wajah lagi, ke arah pertempuran.
"Lantas dia akan tahu kebenaran. Itu adalah akhirnya." Kei sedikit tertawa mengejek, tapi wajahnya menjadi gelap. Cilia juga menyadari itu, hanya diam sambil sedikit berjaga.
Kei memang tidak tertarik dengan pertarungan itu. Dia hanya menonton dari tadi, dan tidak campur tangan sedikitpun. Dia benar benar seperti komentator disini.
Dia tidak mendapat keuntungan dengan mencampuri masalah mereka. Itu sudah cukup untuk Kei menahan tangannya.
"Dimengerti, Master." jawab Cilia pelan.
***
"Seven Knights?!! Seven Knights yang itu? Mereka yang terbaik di bidang mereka, dan merupakan pahlawan yang melindungi kerajaan ini? Apakah kalian Seven Knights yang itu?!!" Edna berteriak ketika mendengar kata "Seven Knights".
Sebenarnya, Edna sangat mengagumi Seven Knighs. Dia bahkan bercita-cita untuk masuk ke salah satunya.
Mendengar Edna yang mengenal mereka, Ren menurunkan kedua senjatanya, tapi tetap bersiap untuk apapun.
"Yahh, aku terkejut kau tahu sebanyak itu. Tapi benar. Itu adalah kami." ucap Alford sambil menggosok kepala dengan tangannya.
"Setidaknya, kita saat ini adalah rekan, bukan? Kita harus bekerja sama untuk melawan Monster itu." lanjut Alford sambil mengulurkan tangan ke arah Ren. Dia tersenyum, sedangkan Ren masih menatap curiga padanya.
Semua yang ada di sana hanya menahan nafas ketika Ren menerima jabatan tangan Alford.
Melihat itu, keenam yang lain segera mendekat.
"Monster itu benar benar aneh. Setelah menerima sihirku yang diperkuat, itu bahkan masih berdiri." seorang wanita yang membawa tongkat dan berjubah tiba tiba masuk ke pembicaraan.
"Ya. Serangannya juga sangat kuat. Dia bahkan bisa menembus [Cover] milikku." sambung orang berbadan besar dan kekar.
Mendengar itu, Ren terkejut.
("Perisai itu memang lebih kuat dari perisai transparan milik kak Edna, tapi itu jauh lebih lemah dari tembok es kak Edna loh!! Bagaimana mungkin itu bisa dia katakan kuat?!!") batin Ren berteriak.
("Ditambah lagi, serangan sihir? Memang itu besar, tapi itu tidak lebih efektif dari [Ice Proyektil] yang dibuat kak Edna! Bagaimana standar kekuatan mereka?")
Ren masih kebingungan ketika mendengar mereka bertujuh saling mendiskusikan tentang serangan mereka tadi ke monster hitam.
Sementara itu, monster hitam masih terus merusak beberapa bangunan lain.
"Hei! Selagi kalian mengoceh, kota ini akan hancur, bodoh!!!" teriak Ren sambil menarik salah satu dari mereka yang membawa pedang untuk mengikutinya.
Ksatria pedang itu dengan terpaksa meninggalkan teman temannya, dan mulai memberantas monster kecil yang ada.
Ksatria itu tidak bisa dibilang jelek, tetapi tidak bisa dibilang terampil. Ketika Ren hanya membutuhkan beberapa tebasan, Ksatria itu harus bersusah payah untuk mengalahkan satu. Bahkan, dia harus dibantu oleh salah satu elf pemanah.
Sedangkan, Alford dan yang lainnya menonton dari jauh.
("Aku tidak menyangka ada orang orang yang lebih kuat dariku di dunia ini. Ini benar benar berbahaya!")
("Tapi monster itu terlalu kuat. Terlalu beresiko untukku melawannya. Ada baiknya membiarkan dia melawannya, lalu aku bisa menyingkirkan nya saat dia selesai dan kelelahan melawan monster itu.")
Alford tersenyum, dan seperti biasa, senyum yang berwibawa.
"Hey! Kemarilah!! Aku punya rencana!" Alford berteriak kepada Ren dan anak buahnya yang sedang bertarung. Mendengar itu, mereka berdua segera melompat mundur.
"Kamu tahu kecepatan kami kurang. Karena itu, kami akan menyerahkan monster yang paling besar untuk mu, Ren."
"Dan kami akan mengurus monster kecil, sambil terus memberikan dukungan padamu. Aku dan Rian akan menyerang bersamamu, jadi jangan takut." kata Alford sambil menggandeng salah seorang temannya.
"Kau tahu aku hanyalah manusia, bukan? Apa kau mau bergantung padaku? Dan bagaimana aku bisa mengalahkan musuh sebesar itu?!!" Ren sengaja membuat alasan.
"Aku tahu kau manusia, tapi kau bukanlah manusia biasa. Aku tahu kau pasti memiliki beberapa trik." jawab Alford sedikit mengejek.
"Dan kau lihat di bagian dada monster itu? Ada sesuatu yang menyala berwarna biru di dadanya. Itu sepertinya adalah jantung miliknya. Kemungkinan dia akan mati jika kita menikamnya di bagian itu."
"Dan itu adalah tugasmu. Senjata kami tidak akan melukainya, tapi entah kenapa senjatamu jauh lebih kuat dari kami." lanjut Alford.
Dia sekarang membuat senjata sebagai alasan mereka tidak mampu melawan.
Ren mengecam pelan, tapi agar tidak terdengar, dia sedikit menutup mulutnya.
"Kak Edna. Aku merasakan sesuatu yang tidak enak disini. Aku akan mencoba membawa kak Edna, tapi jangan jauh jauh darimu saat pertarungan berlangsung." Ren sedikit berbisik ke Edna.
Edna yang mendengar itu sedikit terkejut, lalu menoleh dengan wajah tidak percaya. Tapi dia tetap menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Oke! Aku akan mengikuti rencana itu. Tapi, aku ingin membawa Edna! Aku dan dia adalah partner yang tidak bisa dipisahkan. Dengan kata lain, aku dan Edna adalah satu pasang. Aku pergi, dia pergi. Begitu juga sebaliknya!" kata Ren tegas.
Itu membuat Edna sedikit memerah memikirkan kata kata Ren yang bisa membawa ke arah kesalah pahaman.
Alford melirik Edna sesaat, tapi kemudian dia mengangguk.
"Baiklah. Itu pun tidak apa. Kalau begitu, apa kita sepakat?!" tanya Alford.
"Baiklah!!" Ren segera bangkit, menaruh kembali pedang Azantium nya ke dalam Inventory secara diam diam. Tapi mungkin ada yang menyadari, bahwa pedangnya menghilang.
Pemanah dan pengguna tombak segera menyerang monster hitam itu dari jarak jauh, dan Ren juga segera berlari membawa Edna dengan menggendong di kedua tangannya.
Sementara itu, Alford dan yang lain menghalau monster untuk mendekat.
"Yosh! Dukung aku seperti tadi, kak Edna! Jangan sampai kalah dengan mereka!!" kata Ren ketika dia menurunkan Edna di tengah medan pertempuran. Edna mengangguk yakin.
Dengan begitu, Ren segera berlari dan mengambil pedang Azantium nya dari dalam Inventory.
Dia tidak menahan dirinya lagi, dan hanya menebas dengan sekuat tenaga dan menambah kecepatannya seperti yang dia lakukan sebelumnya.
Dia berusaha untuk mengincar bagian dada monster itu, tapi sepertinya monster itu juga memiliki insting khusus.
Ren tidak segan untuk menebas punggung, untuk membuat sebuah celah. Tapi monster itu tidak bertindak gegabah sambil terus melindungi bagian dadanya.
Ada suatu saat ketika monster berhenti bergerak, dan berusaha mengatakan sesuatu.
"Apakah perasaanku saja, tapi~" Ren sedikit mundur ketika pedangnya bersentuhan dengan cakar panjang monster yang menyerang.
"Dia menangis?" Ren sedikit bertanya ketika melihat wajah monster terlihat basah.
Hati Ren juga sakit ketika dia melawan monster itu, tapi Ren masih mengabaikannya. Saat itulah, monster itu berusaha mendekat, dan Ren menganggap itu adalah kesempatan.
Dia segera bergerak secepat mungkin, melewati seluruh celah tangan, dan bergerak menuju ke arah jantung monster itu.
"RENN!! TUNGGU!! HENTIKAN!!!" Edna berteriak menyadari sesuatu.
"Tu-tunggu! Jantung itu?!!" mata Ren terbelalak, ketika dia mendengar teriakan Edna dan matanya juga menatap sesuatu yang bersinar di dada monster itu.
Segera, Ren mundur dengan ekspresi yang tidak dapat digambarkan.
"Ren! Kau baik baik saja??" tanya Edna yang segera mendekati Ren. Tapi, matanya sudah penuh dengan air mata yang mengalir deras.
Nafas Ren tidak teratur, dan kepalanya pun pusing. Dia melihat dunia dengan cara yang berbeda, seperti bergerak dengan sendirinya. Detak jantung nya juga semakin cepat, dan membuat itu semakin berisik setiap detiknya.
"Ren. Apakah kau tahu?" tanya Edna sambil memeluk Ren, mulai menangis.
Ren hanya diam, menerima Edna yang menangis di dadanya. Wajahnya kosong, menatap monster itu dengan tatapan kemarahan yang luar biasa.
Tapi dia masih bisa menahan semua amarahnya karena masih ada Edna yang menangis di pelukannya sekarang.
"Ya. Aku tahu."
"Itu bukanlah jantung. Itu adalah liontin. Tepatnya, liontin ibu saat itu." jawab Ren pelan.