Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2:Bab 12 - Itu adalah Sebuah Kesalahan



"Oi oi! Yang benar saja!" Aku terperangah ketika melihat makhluk yang ada di depanku.


Itu menggeram rendah sambil membuka matanya tanda mengetahui keberadaan ku. Yang berarti kondisiku bertambah gawat.


"Apa ini?!" Itu menggeram tanda tak suka.


Apapun itu, aku tidak bisa bergerak sembarangan. Semuanya, bahkan hidupku sendiri bisa berakhir hanya karena ini.


Karena dia-


"Apa kau, benar benar ras Naga?" Aku membenarkan posisi duduk sambil tangan kiri ku menyiapkan segalanya, masih terkagum dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sekarang.


-Ras Naga.


Mereka adalah ras yang sebenarnya terkuat, tapi tidak tertarik dengan peperangan. Mereka tertarik dengan pertarungan, hanya dengan sesuatu yang setara dengan mereka.


Seperti party yang kuat, atau petualang kelas A atau bahkan S, yang datang untuk menantang mereka. Dan naga ini, aku menaksirnya memiliki kekuatan sebesar 2 kali paman Childe, tidak. Bahkan lebih besar.


Ras Naga, mereka hanya berjumlah ratusan, tapi sudah cukup untuk memulai kembali perang jika mereka mau.


Deskripsi singkat, mereka hanyalah ras malas yang suka bertempur, tapi tidak suka memulainya. Dengan kata lain, mereka hanya melayani yang menantang saja.


Aku dengar beberapa dari mereka bisa mengambil bentuk manusia, merupakan naga yang sudah berusia lebih dari 500 tahun. Mereka biasanya lebih suka menyamar dan mengambil hidup damai.


Untuk kecepatan, ras Naga memiliki kecepatan yang bisa dibilang cukup cepat dalam mode manusianya, tapi lambat di mode naga nya.


Tentu, dengan tubuh sebesar itu, tidak mungkin untuknya bergerak gesit. Tapi untuk terbang, dia bahkan bisa mencapai kecepatan suara!


Ini yang membuat mereka adalah ras yang sangat kuat.


Tapi tetap, dengan sisik sekeras Admantium, material terkeras kedua di dunia ini. Serta cakar dan taring yang bahkan lebih tajam dari Azantium, mereka tidak terkalahkan dalam bentuk naganya.


Terkadang, mereka juga bisa mengendalikan sihir, sehingga bisa menyerang menggunakan mantra.


Mereka kadang memiliki elemen khusus dalam diri mereka, yang biasanya digunakan untuk menyerang dengan banyak cara.


Jujur saja, aku sangat mengagumi ras Naga, oleh karena itu aku mengetahui banyak tentang mereka.


"Untuk memastikan saja, apa kau bisa berubah mengambil bentuk manusia? Seperti wanita pelayan, atau mungkin anak yang imut?" Ya!! Aku harus menanyakan hal ini pada semua Naga!!


Ini tidak masalah bahkan dengan harga diri, tapi ini tentang ideologi!


Aku akan dapatkan satu Naga yang bisa berubah seperti itu!!!


"Apa? Apa maksudmu? Apa kau mengejekku? Aku belum bisa mengambil bentuk manusia, tahu! Aku belum bisa mendapatkannya!" Dia berteriak, sepertinya marah.


Seketika aku terkejut.


"Jadi dia bukanlah naga yang bisa berubah?" Aku berbisik perlahan mengingat itu.


Ahh, ini bukan saatnya untuk itu. Dia terlihat marah.


"Maafkan saya, manusia rendah yang bodoh ini. Saya terlalu bodoh untuk tidak mengetahuinya dengan mataku sendiri. Seharusnya sejak awal hambamu ini menyadi betapa mulianya dirimu. Maafkan kebodohan saya, naga yang terhormat." Aku mencoba menyanjungnya.


Aku dengar mereka ras Naga memiliki perasaan yang mudah tersanjung, jadi aku mungkin bisa menipunya menggunakan kata kata.


Aku selalu menganalisis keadaanku disini. Aku sudah membuat satu pedang Azantium untuk berjaga jaga. Jadi, senjataku sudah mampu melawannya.


Sisiknya sekeras Admantium, yang berarti bisa ditembus oleh senjata Azantium ku ini. Masalah pertama soal sisik yang keras, sudah aku atasi.


Kau tahu? Sekuat apapun serangan yang dia gunakan, jika itu tidak mengenaiku, semua itu akan sia sia!


Tinggal sentuhan beberapa trik, aku bisa menang melawannya.


Tapi itu jika aku memiliki sihir.


Sihir adalah sesuatu yang bisa dapat mengubah keadaan pertempuran sangat signifikan. Aku hanya bisa menggunakan 1/6 kekuatan sihirku disini. Itu adalah batas yang menyedihkan!


Kecuali jika ada sebuah penghalang disini, aku bisa mengeluarkan kekuatan penuh dengan mudah.


Karena penghalang itu akan menyerap kebocoran Fehl dan otomatis melindungi ku dari kehancuran tubuhku sendiri.


Akan menyenangkan jika aku membuat penghalang di tubuhku, lalu itu menyerap Fehl ku sendiri. Tapi sayang, dalam Fehl juga bekerja sistem magnet.


Itu berarti jenis Fehl yang sama akan saling menolak, dan jenis yang berbeda akan saling menarik.


"Guhahaha! Kau memang benar. Walau kau bodoh, bagus sekali kau bisa segera mengakuinya. Aku menyukaimu, jadi akan kubiarkan kau pergi, bocah." Dia memukul mukul tanah sambil sedikit bergoyang.


"Kau hanya bocah ingusan yang secara tidak sengaja masuk ke sini, aku akan menganggapnya begitu." Dia tertawa keras, sambil menunjuk gua besar tempat aku masuk menggunakan cakarnya.


Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Dengan segera, aku bersujud padanya, dan mengaktifkan [Poker Face] dan membuat kata kata mengharukan.


"Terima kasih, tuan naga yang hebat! Sudah mau melepaskan hambamu. Kalau begitu, saya permisi dulu." Aku segera bangkit, seperti orang yang ketakutan dengan tergesa gesa melarikan diri.


("Hmm, akting yang bagus.") Aku hanya bisa memuji diriku.


2 langkah aku berjalan dengan cepat, bahkan kedua pedang Azantium hasil [Transmutasi] juga aku tinggalkan di tempat aku duduk sebelumnya. Ketika aku terus mencoba berlari.


Ya. Dia adalah keberadaan yang belum bisa aku lawan saat ini. Aku bisa membunuhnya tapi sama saja dengan menyetorkan nyawa!


"Dung!!!" Aku menabrak sesuatu yang tidak terlihat, dan membuatku terduduk kembali ke tempat asal.


Ehh?!!


("Jangan bilang?!!!!")


"Hahaha! Apa kau pikir aku benar benar aku akan mengatakan itu? Ahhaahgahgaa! Manusia itu benar benar bodoh ya?! Aggahagahaga!" Suara tawanya menggelegar di seluruh ruangan besar sebesar lapangan bola itu.


Yahh, aku sudah mulai memetakannya dari tadi sebenarnya.


("Jangan bilang ini adalah?!!!")


"Kau tahu, aku sudah membuat penghalang di sekeliling ini, dengan kekuatanku. Bahkan hal sekecil "mana" pun tidak akan masuk. Apa lagi kau, kau tidak akan bisa apa apa." Dia menyeringai.


"Karena itu jangan langsung mati dalam satu serangan ya!" Dia tertawa sombong.


"Heehhh," aku tidak bisa menahan tawaku.


("Ini benar benar bagus! Benar benar bagus!")


"Kau benar benar bodoh!" Aku tidak perlu memainkan kata-kata, atau berpura pura lagi sekarang. Karena justru, ini kesempatanku.


"Apa?" Naga bodoh itu hanya berhenti tertawa.


"Kau menggali kuburan mu sendiri!!!"