Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 4: Bab 2 - Kehidupan Tenang di Furyuun



Setelah kejadian kecil itu, Thui dan Aina dimarahi habis habisan oleh Suzu. Tidak dimarahi, lebih tepatnya meraka dikerjain habis habisan olehnya.


Mereka mendapat ceramah eksklusif dari Suzu selama beberapa jam dengan posisi kaki terlipat, menghadap kebawah. Mereka dilarang untuk bersila, karena itu adalah hukuman untuk mereka.


Tapi, karena pembelaan teman teman yang lain, membuat Suzu akhirnya melepaskan mereka.


***


Sudah seminggu, Ren terbangun dari tidurnya. Sekarang, dia benar benar mengeluh karena dia tidak diperbolehkan untuk keluar dari kamar untuk melakukan apapun.


Oleh karena itu, dia memilih untuk melakukan latihan fisik di kamarnya.


Selama seminggu ini, semua orang sudah mendatangi Ren setiap hari, dan bahkan Thui dan Aina ingin tidur di kamar Ren, tapi jelas Ren tidak memperbolehkan nya. Selain itu, mereka berdua juga dihadang Suzu dan juga Edna.


Karena dari dulu Ren sudah terbiasa untuk mengurangi tidur, Ren hanya tidur sebentar.


Dia merasa sudah cukup tidur waktu itu, dan sekarang tubuhnya kaku karena sudah lama tidak digerakkan.


Awalnya Ren ingin melompat dari jendela untuk kabur keluar rumah, tapi ternyata mansion Rice ada pengaman sihir untuk mencegah orang keluar ataupun masuk lewat jendela. Itu membuat Ren mengumpat sesaat kala itu.


Itulah kenapa dia memutuskan latihan di kamarnya.


Setelah seminggu, dan akhirnya Ren sudah diperbolehkan keluar dan bisa berjalan jalan. Dia melihat aktivitas anak anak, yang melakoni pembelajaran di Akademi.


Terutama Aina, yang dilatih untuk menjadi seorang Assasin oleh Kurls.


Saat istirahat, Ren juga pernah mendatangi Kurls untuk meminta pendapatnya tentang Aina. Dia bertanya bagaimana menurut Kurls tentang Aina.


Jawaban Kurls positif, dimana dia mengakui kehebatan Aina.


Aina memiliki kekuatan yang luar biasa, tidak seperti teman teman Beast yang lainnya. Dan Kurls juga mengatakan bahwa sebenarnya Aina terlalu cocok dalam mengambil semua peran, sehingga dia bisa dibilang sempurna.


Aina juga memiliki tekad yang kuat. Biasanya, anak seumuran mereka akan ciut jika dihadapkan dengan situasi dimana mereka harus membunuh lawan.


Tapi Aina benar benar melakukan semuanya dengan keinginan membunuh yang bagus.


"Tapi, paman Kurls. Ajari Aina untuk menghilangkan nafsu membunuhnya. Ada banyak orang di luar sana yang mampu merasakan nafsu membunuh yang diberikan lawannya,"


"Dan jika seorang Assasin tidak menahan nafsu membunuhnya, posisinya bisa jadi diketahui, dan otomatis akan berbahaya untuk Aina. Sebenarnya bukan hanya pada Aina, tapi pada seluruh muridmu yang akan menjadi Assasin, Paman Kurls." saran Ren ketika menonton pertarungan kecil Aina dengan anak seumuran nya.


Kurls yang mendengar itu tertawa sedikit.


"Saya sudah pernah melakukan itu, nak Ren. Tapi begitu Aina menyamarkan keinginan membunuhnya, itu benar benar tersamarkan dengan sangat baik, hingga saya mengira Aina hanya ingin bermain dengan saya, bukan untuk membunuh saya,"


"Jujur saja, saat itu entah kenapa saya jadi meremehkan Aina sesaat, dan itu membuat saya lengah dan hampir menerima serangan cepatnya." tutur Kurls.


("Apakah Aina memiliki skill [Poker Face]? Itu bukanlah hal yang tidak mungkin, karena selama ini dia bisa membuat beberapa akting yang bagus. Ngomong ngomong, bagaimana dengan Thui? Dia memiliki akting yang bagus. Apa itu bakat?") hati Ren bertanya Ren dalam tawanya.


Ren kembali pergi untuk mengunjungi Akademi, menengok Suzu. Dan beberapa hari lalu, Edna juga mulai bersekolah disana.


Tapi mungkin karena terbiasa, Ren menghilangkan hawa keberadaan sesaat sebelum pergi. Itu membuat Kurls terkejut.


?!


"Nak Ren, benar benar sulit dipercaya, tapi dia menghilang dengan sempurna. Tidak. Dia tidak menghilang. Dia membaur dengan sekelilingnya, membuat hawa keberadaannya menjadi netral. Benar benar kemampuan yang luar biasa." kata Kurls kagum sambil menatap punggung Ren.


Sebenarnya, hal itu juga yang membuat Ren diabaikan oleh beberapa penjaga toko.


Ren merasa aneh karena setiap toko yang dia datangi orangnya sangat acuh, karena ketika dia masuk, tidak ada yang menyambutnya dan hanya sibuk meneruskan pekerjaan mereka masing masing.


Tapi dia tidak terlalu memikirkan hal itu.


Ren awalnya hanya melihat lihat di Akademi. Dia juga dicegat di gerbang, tapi ketika Ren mengucapkan nama Suzu, mereka membiarkan Ren lewat.


"Humm, aku datang salah waktu? Sepertinya meraka masih dalam pelajaran, ya?" gumam Ren sambil berjalan pelan di lorong.


Dia menggunakan maskernya topengnya sekarang.


Topeng dan set baju itu adalah pesanan Ren, yang dia minta ke Rice untuk di datangkan bahan bahannya.


Pasalnya, Ren mengira bahwa berjalan jalan sebagai manusia adalah hal yang buruk. Dia juga harus membiasakan dengan hal itu di luar sana.


Tapi akhirnya Ren justru bersikap rendah dengan mengambil kulit monster Harimau dan beberapa sisik monster Ular air, yang dia bentuk menjadi baju pelindungnya sekarang.


Itu tidak terlalu tertutup, tapi tetap menyembunyikan beberapa hal penting seperti mulutnya.


Mungkin karena sihir Ren yang dominan adalah Dark Magic sekarang, skill [Transmutasi] nya sekarang membuat semua baju itu dengan set hitam hitam. Itu benar benar tidak kontras dengan lantai Akademi yang berwarna keemasan dengan biru sekarang.


?!!


("Pendeteksi kehadiran, kah? Siapa yang melakukannya? Atau ini adalah salah satu dari latihan di Akademi?")


Ren membatin ketika dia merasakan sedikit keganjilan di kakinya. Dengan begitu, dia segera tahu siapa yang menggunakan sihir pendeteksi kehadiran.


Tentu, Ren tidak mudah terdeteksi dengan sihir lemah seperti itu. Bahkan, Kurls bisa melewati itu sambil menguap.


"Edna, bagaimana mungkin kau bisa melakukan itu? Itu hebat!!" terdengar sayup sayup suara pujian dari sebuah kelas. Ren langsung tahu, itulah kelas yang salah satu muridnya mengaktifkan sihir.


Dan Ren juga segera sadar, bahwa itu adalah kelas Edna.


"Huum, kelas 1G kah? berapa banyak kelas yang ada di sekolah ini?" tanya Ren sedikit heran.


Tapi, dia bingung, bagaimana untuk dia mengintip masuk, sedangkan tidak ada celah seperti jendela apapun untuk melihat.


Hanya ada pintu, dan itu pun tertutup rapat.


"???"


Ren menemukan sebuah benda menarik di dekat pintu. Itu tidak akan bisa ditemukan dengan mudah karena memang letaknya benar benar disembunyikan dengan baik.


Bahkan Ren juga kalau tidak mengamati pintu untuk mencari celah, dia tidak akan menemukan alat itu.


"Heehhh, ada alat seperti ini, kah? Aku penasaran apakah ini buatan siswa di sini atau memang sistem pengaman di Akademi ini?" tanya Ren berbisik sambil menatap alat sihir itu baik baik.


Tapi semakin lama diperhatikan, Ren segera tahu, bahwa itu menyalurkan suara dan memperkuatnya dengan sihir.


"Tampaknya ini buatan siswa? Bukankah ini luar biasa?!!" Ren memiringkan kepalanya sambil mengelus elus alat itu dengan telunjuknya.


"Ahh!" terdengar pekikan dari dalam kelas, membuat semua kericuhan tadi berhenti. Ren juga mulai menguping.


"Ada apa, Reine? Apakah ada sesuatu yang menyakiti telingamu?" tanya seorang pria yang nampaknya adalah pengajar di kelas itu.


Mendengar itu, Ren sedikit tersenyum sambil kembali mengelus alat yang dia temukan tadi.


"Hnhnnhh!!" siswi bernama Reina itu kembali memekik pelan, sambil menutup telinganya. Dia juga diam diam memutuskan sihir yang menghubungkan dengan alat yang ada di pintu dengan telinganya.


"Sepertinya ada seseorang di depan pintu, pak?" jawabnya.


Pengajar itu hanya bingung, karena bahkan dia juga tidak merasakan keberadaan siapapun di balik pintu. Tapi, dia tetap menurut dan membuka pintu, yang dibaliknya ada Ren yang sudah bersiap mengangkat tangannya.


"Halo!" kata Ren pelan menyipitkan matanya seperti tertangkap basah.


"Anda?!" pengajar itu terlihat terkejut. Dia pasti tahu siapa Ren.


"?!!" Edna yang melihat Ren dari tempat duduknya segera berdiri sambil sedikit menggebrak meja.


Ren sedikit terkikik sambil memberikan pose "ssshtt!" pada pengajar dan Edna yang mengetahui jati dirinya.


"Yahh, maafkan saya. Saya tersesat di Akademi ini dan tidak tahu harus kemana. Dan saya menemukan sesuatu yang menarik di kelas ini, jadi saya ragu ragu untuk mengetuk." kata Ren sambil sedikit berakting.


Dia menaikkan [Seduce] untuk beberapa orang yang curiga dengan keberadaannya di kelas.


"O-ohh, begitu. Kalau begitu, mau melihat masuk?" si pengajar tergagap sambil melirik Edna. Edna hanya menarik nafas, terlihat pasrah sambil kembali duduk.


"Dengan senang hati!" kata Ren tersenyum lebar.


Penampilan Ren yang menggunakan setelan hitam hitam sangat mencolok di kelas, membuatnya sedikit menjadi pusat perhatian sementara.


Tapi saat pengajar menepuk tangannya tiga kali, semua kembali ke pelajaran.


("Oh ya. Dari dulu aku sangat ingin menjadi guru. Mungkin aku akan menjadikannya salah satu dari tujuanku nanti.") batin Ren sambil tersenyum.