Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 47 - Ren vs Suzu



"Apa maksudmu?" Suzu bertanya pelan ketika Ren mengulurkan tangan.


Ren mengajak nya untuk berlatih tanding, sebagai ganti Rian yang sekarang sudah ditandu, bukan. Diseret keluar arena.


"Ayolah, Suzu. Bukankah kau ingin berlatih bersamanya?" Dyas mendorong Suzu untuk menerima tangan Ren.


"Itu benar, Suzu! Hajar dia! Walaupun itu adalah keluargamu, dia hanyalah manusia!" Teriak salah seorang penonton, yang kemudian diikuti sorak sorai yang lainnya.


Suzu mengubah wajahnya menjadi datar ketika mendengar itu.


"Ayolah, Suzu. Aku punya beberapa alasan tersendiri. Nanti akan kuceritakan padamu. Ayo kita latihan." Bisik Ren pelan di dekat telinga Suzu.


Suzu yang mendengar itu menjadi senang, ketika diajak kembali latihan oleh kakaknya. Dia dengan segera menyetujuinya, dan meraih tangan Ren dengan cepat. Segera suara riuh penonton kembali terdengar.


"Tak kusangka ini akan menjadi pertarungan antar keluarga Larvest!"


"Tapi manusia itu luar biasa! Maksudku, dia bahkan bisa mengalahkan Rian! Dan sepertinya, pertarungan yang baik akan terjadi di sini. Entah kenapa aku menantikannya!"


"Ya. Manusia itu cukup berani. Tapi dia kuat!"


"Ya, betul!"


Suara suara respect terdengar dari bangku penonton, yang kembali ricuh dan menepukkan tangannya. Siapa sangka pertarungan kecil tidak resmi bisa menjadi pertarungan yang sangat dinantikan di akademi?


Banyak orang mulai memilih siapa yang akan menjadi pemenang di pertandingan ini. Semua saling beradu argumen.


Atmosfer di arena kembali hidup, dengan masuknya Suzu ke arena. Sedangkan guru guru akademi yang berada di sana sebagai pengawas hanya terdiam ternganga melihat kejadian ini.


Kalau bisa dianalogikan, Ren adalah sebuah ketidak normalan di Akademi ini.


"Ayo taruhan! Taruhan bagaimana hasilnya! Untuk siapa kau bertaruh?"


"Aku bertaruh 15 perak untuk Suzu!"


"Aku 5 perak untuk manusia itu!


"Aku! Aku!" Ada beberapa orang yang mulai bertaruh dengan uang untuk mencari siapa yang menang pada pertandingan ini. Ren yang mendengar itu semua, hanya tersenyum licik.


("Betul. Inilah yang ingin kulakukan! Aku ingin manusia juga punya tempat di dunia ini!") Dia tidak bisa membendung kebahagiaannya.


Tak berbeda dengan Suzu, dia juga senang, bisa berlatih tanding dengan kakaknya, tapi dia bingung, apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus menahan dirinya semaksimal mungkin? Karena jelas, ini akan menjadi pertarungan sihir dan manusia membawa pedang!


"Wasit! Tolong arahkan para guru untuk membuat penghalang di sekitar arena!" Ren mengangkat tangan berbicara pada guru laki laki yang menjadi wasit di sana.


Wasit itu mengerti, lalu keluar arena, menyampaikan hal itu pada seluruh guru pengawas untuk membentuk perisai penghalang.


Sepertinya bahkan wasit itu sendiri tahu sekuat apa sihir Suzu.


Semua, bahkan Suzu yang melihat itu terkejut. Pertarungan kecil yang diremehkan justru sekarang mirip festival Akademi, yang harus menggunakan penghalang.


"Nah dengan ini, kau tidak perlu menahan diri, Suzu." Kata Ren sedikit menancapkan pedangnya kayu nya ke tanah.


"Eh? Tapi-"


"Suzu!" Ren berteriak membuat Suzu terdiam.


"Serang aku seperti kau ingin membunuhku! Karena aku juga akan menyerangku dengan perasaan yang sama!" Teriak Ren. Suzu terdiam, lalu tersenyum.


("Ini, ini adalah!") Suzu melihat Ren seperti itu, membuatnya mengingat sesuatu.


("Ini adalah perasaan yang sama dengan latihan waktu itu!") Suzu mengingat latihan yang pernah mereka lakukan antara sihir Suzu dengan kemampuan Ren.


Saat itu, Suzu ingat jelas dia kalah.


"Aku mengerti. Aku tidak akan kalah lagi, Ren!" Dia mengambil tongkat sihir yang disediakan dengan segera di pinggir lapangan.


Sorakan sorakan kembali terdengar dari pinggir lapangan, membuat suasana semakin meriah. Bahkan para wali yang mampir untuk mengunjungi keluarganya juga merasa terhibur disini.


("Heh, dia mencoba melawan Suzu, ya?") Seseorang menatap dari atas gedung, dengan wajah senang.


("Ini bagus. Aku bisa melihat perkembangan Suzu secara total disini.") Lanjutnya. Siapa orang ini? Apa hubungannya dengan Suzu?


Tapi jelas tidak ada yang menyadari keberadaannya di tengah-tengah keramaian ini.


"Kalau begitu!" Wasit dari luar berteriak keras. Suasana seketika menjadi hening.


"Pertarungan, dimulai!" Teriakan wasit mengawali pertandingan, yang diiringi sorakan penuh semangat dari para penonton.


Ren segera bergerak, mendekati Suzu dengan cepat. Tak ingin kalah, Suzu juga mulai merapalkan mantra penguat tubuh. Tapi, seketika Ren sudah berdiri di samping Suzu.


"Aku sudah bilang, jangan menahan diri." Ren tersenyum, lalu menendang Suzu, membuatnya terpental jauh.


("Apa?! Aku memang bisa melihatnya, tapi aku tidak bisa membaca gerakannya!") Suzu berpikir ketika dia bergerak dengan berputar, menahan jatuhnya di udara.


Ren tidak membiarkan Suzu mengambil nafas, dan segera melesat untuk mengambil beberapa serangan kepada Suzu. Ren tahu, bahwa Suzu bisa menangani itu semua. Jadi tidak mungkin Suzu akan mendapat luka.


Sengaja, Ren bergerak ke kanan dan kiri, tapi tetap bertujuan lurus, ke arah Suzu yang baru mendarat.


Dia bergerak ke kiri, lalu melompat untuk mengincar bagian kanan Suzu.


("Bahu kiriku?!) Suzu terkejut dan segera memasang mantra.


"[Absolute Shield]!" Rapalan mantranya disingkat, dan penamaannya juga agak aneh bagi orang lain. Tapi itu adalah hal yang sangat luar biasa.


Serangan Ren segera ditangkis oleh perisai itu, tapi kenyataannya serangan Ren berhenti sesaat di perisai, sebelum pedang kayu itu memecahkan perisai yang terlihat kokoh itu.


"Ugh!" Suzu terlihat panik, dan dengan segera mengaktifkan sistem pertahanan terakhir di cincinnya. Disana, ada sebuah gulungan mantra, yang menyimpan mantra pertahanan. Itu dengan segera melapisi tubuh Suzu, membuat tubuhnya kembali terpental oleh serangan Ren.


("Hou! Kecepatan pengaktifan yang luar biasa. Biasanya para penyihir membutuhkan waktu cukup lama saat interval diantara selesai merapal dan sihir itu keluar. Tapi Suzu hanya membutuhkan kurang dari 1 detik!") Ren mengangguk senang.


Kecepatan pengaktifan itu kurang lebih sama dengan Ren.


"Pertahanan mu luar biasa, Suzu. Dan jeda interval yang sangat bagus. Itu bahkan lebih cepat daripada kak Edna." Ren berhenti sambil mengibaskan pedangnya.


"Oh, begitu kah? Tapi kak Ren, apa yang terjadi sampai kakak menjadi sekuat ini?" Suzu bertanya, tapi sambil menyiapkan mantra.


"Ahaha, aku lebih suka untuk tidak mengingatnya. Selain itu, jangan panggil aku kak, bukan?" Ren mengangkat pedangnya untuk menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, Ren. Aku tidak akan menahan lagi, lho!" Kata Suzu tersenyum.


"Harusnya aku yang bilang begitu!" Ren kembali melesat maju, tanpa ada aba aba apapun. Tapi Suzu sudah menyiapkan semuanya.


"[Icycle Proyektil]!" Suzu berteriak, melemparkan beberapa tombak es kecil yang diarahkan ke Ren yang berlari.


Tentu saja, Ren tidak memecahkan semuanya, tapi juga menghindar. Dia melompat, mencoba menggapai Suzu. Tapi Suzu sudah lebih siap untuk itu.


"[Wind Barier]!" Suzu berteriak, mengeluarkan sihir angin yang berputar di sekelilingnya. Membuat Ren terpental mundur.


("Dia membuat perisai angin? Aku harus bergerak mengikuti arus angin itu untuk bisa memasukinya!") Ren menganalisis nya sebentar sambil berputar di udara, lalu segera bergerak lagi.


"Kau terlambat! [Agriass Lunidiass]!!" Suzu berteriak, memunculan tembok batu yang tinggi di sekeliling Ren, dan dengan cepat menutupnya.


"Untuk langkah selanjutnya, [Inferno]" Suzu menciptakan api untuk membakar semua yang ada di dalam perangkap itu.


Secara sekilas, siapapun yang ada di sana pasti mati, paling tidak terluka. Dan yang tersisa hanya Suzu yang berdiri tersenyum puas di sana.


("Ugh, ini menghabiskan hampir separuh MP ku untuk membuatnya berhenti.") Suzu terkekeh dalam hati.


("Tapi paling tidak, kali ini aku bisa menang!!") Suzu tersenyum penuh kemenangan kali ini.


Semua penonton bersorak senang melihat itu. Beberapa tidak percaya dengan pertarungan yang mereka lihat. Arena menjadi sedikit, tidak. Cukup bisa dibilang hancur karena itu.


?!


Suzu menoleh begitu merasakan keberadaan lemah di belakangnya.


Srett! Penghalangnya terbelah, kemudian sebuah tangan muncul, mendorong Suzu. Tapi Suzu masih dengan sigap melompat sebelum itu membahayakan dirinya.


"Ba-bagaimana bi-bisa?!" Suzu menyiapkan diri lagi untuk menunggu orang yang menyerangnya.


"Jangan bilang kau berpikir tembok sekecil itu bisa menghentikanku? Jangan lupa, Suzu. Aku punya kekuatan yang cukup untuknya." Ren menyibakkan pedangnya, menyapu debu yang menutupi tubuhnya.


Semua terdiam. Antara kagum , takut, dan takjub, semuanya bergabung menjadi satu. Tapi, bagaimana dia bisa keluar, itu adalah pertanyaannya.


Jawabannya adalah Ren mengkorbankan tangan kanannya untuk terluka. Sekuat tenaga dia menghancurkan dinding batu di belakang, lalu segera bergerak ke arah Suzu.


"Ren, tanganmu!" Suzu kaget ketika melihat sosok Ren muncul dengan darah di tangan kanannya.


Tangan kanannya juga terluka sangat banyak. Itu yang terjadi jika kau memukul batu sekeras mungkin. Beberapa kain di pakaiannya juga sudah mulai hancur, mungkin karena pertarungan ini.


"Kau tahu, menjadi manusia itu sulit. Satu satunya jalan adalah menjadi kuat dengan caramu sendiri. Dan bahkan aku bisa menjadi kuat seperti ini, lho!" Ren mengepalkan tangan kanannya yang penuh darah ke depan, menunjukkan tinju pada Suzu.


Suzu melihat itu, tersenyum sedikit.


("Memang Ren sekali, ya?") Dia tertawa kecil, sekaligus terlihat tenang dengan itu.


Ren kembali bergerak, kini berputar mengelilingi Suzu. Dan seketika dia mendekat. Tapi Suzu sudah mengetahui itu, dia mengaktifkan pelindung berlapis pada tubuhnya.


Selain itu, Suzu sudah menyiapkan sesuatu sendiri.


Trcakk!! Pedang kayu yang dipegang Ren terhenti. Tangan kiri Ren yang dia buat untuk memegang pedang sekarang sedikit bergetar ketika pedangnya kayunya bersentuhan.


"Hou!" Ren tersenyum senang.


Suzu menangkis menggunakan tombak es! Tombak es Suzu berdiri kokoh menghalangi pedang Ren untuk masuk menyerang Suzu.


Tombak es itu memiliki pegangan bundar yang halus, dan tepat untuk digenggam Suzu.


Pada dasarnya, itu adalah tongkat sihir Suzu, tapi dia melapisinya menggunakan es untuk memperkuatnya.


Ren dengan segera merubah arah serangannya, dan menyerang Suzu bertubi tubi. Tapi itu semua hanya mengikis perisai Suzu sampai habis.


"Kali ini giliranku! [Wind Blow]!" Suzu berteriak, dan angin keras menghempaskan semua yang ada di sekitarnya.


Tidak hanya Ren, bahkan batu batu yang menjadi dasar arena, juga ikut melayang dan membuat sebuah jejak lingkaran di bawah kaki Suzu.


"[Water Area]!" Suzu menodongkan tombaknya, dan arena dengan segera dipenuhi air. Di tanah tanah. Ini membuat semua yang ada di arena menjadi basah.


Tidak hanya sekali, tapi tampaknya air itu permanen, membuat arena tidak kering bahkan jika tersapu angin sekalipun.


"Lalu, [Frozen]." Suzu memegang tombaknya dengan kedua tangannya, lalu berusaha menyangga tubuhnya.


Abu es berterbangan, dan membekukan area itu seketika. Penonton terperangah melihat pertunjukan sihir yang begitu indah. Bahkan Ren sempat terpana dengan itu. Tapi, Ren menyadari sesuatu.


("Fehl dia akan habis! Aku harus segera mengakhiri ini.") Ren membatin, dan menjejekkan kakinya ke tanah yang berair.


"Eh?! Ini?" Ren terkejut ketika es mulai memanjat di kakinya.


"Benar, Ren. Kau terperangkap. Dan, [Geo Proyektil]. Aku berdoa kamu tidak terluka terlalu banyak." Suzu mulai terduduk, dengan tombak yang menyangga tubuhnya.


Puluhan batu keluar dari belakang Suzu, terbang mengarah ke Ren yang terjebak di es.


Ren tahu bahaya mengintainya jika dia terus berdiam di sana. Dia sekuat tenaga menghancurkan es, dan mulai berlari menghindar.


Berlari di sana sangat berat, karena es yang ada terus menerus menjerat kakinya.


Dia berlari ke arah dinding, membuat kakinya leluasa. Dengan beberapa gerakan, dia memecah batu batu yang ada, dan beberapa lainnya dia buat untuk pijakan.


("Dengan begini!") Ren membatin ketika dia melompat jauh, ke arah Suzu yang terduduk karena hampir kehabisan MP.


"[Absolute Shield]" Suzu meneriakkan skillnya sebelum dia benar benar terjatuh dengan tombak es di tangannya.


Ren melihat itu memegang pedang kayu dengan kedua tangannya, dan terbang menuju perisai itu.


"Hgraaaagghh!!" Ren berteriak penuh semangat ketika pedangnya menatap penghalang yang terlihat kuat itu. Sebuah suara retak terdengar perlahan, sedangkan Suzu terus menodongkan tombak es nya, mulai kehabisan MP.


Krak! Suara patahan terdengar, dan Ren mendarat sempurna dengan pedang yang mengarah ke leher Suzu.


"Cukup! Pertandingan selesai!" Wasit juga melihat itu, mengangkat tangannya untuk menghentikan pertandingan, sekalian membatalkan penghalang yang ada.


Suasana menjadi sepi, dan semua orang membelalakkan matanya.


.


.


.


.


.


.


Note: Author ga tau kenapa bab sebelumnya double. Bahkan bab itu udah Author hapus, tapi ga tau dah. Maaf buat yang bingung, Author juga ga tahu kenapa 🤣🤣