
Aku bertemu seorang gadis Beast. Namanya adalah Aina. Dia adalah seorang Pahlawan asli dari dunia ini yang memiliki status aneh.
Aku tidak tahu bagaimana, tapi dia berakhir di Dungeon ini, dengan Adventurer yang aneh.
Tunggu! Dia masih muda, kau tahu! Dia bukannya berakhir di sini!
Ahh, tapi intinya, sekarang dia sedang menangis, dipelukanku selama sekitar 10 menit. Aku tidak keberatan jika dia memelukku seperti biasa, bahkan aku dengan senang hati melakukannya.
Tapi dia memelukku seperti ingin membunuhku! Tapi apa ini memang cara dia memeluk orang lain?
"GRRMHHHH!!!" oh ya! Aku sampai lupa pada monster kepala dua yang aku tahan tadi. Tapi mau bagaimana lagi, setidaknya, tunggu sampai dia tenang, dasar monster tidak berperasaan!!
Ahh, maafkan. Aku seharusnya tidak mengabaikannya. Kau tahu, semuanya pasti paling benci digantungkan.
Jadi lebih baik aku segera membunuhnya.
"Aina, lepaskan aku." aku mengendurkan pelukan Aina. Dan Aina terlihat bingung untuk beberapa saat.
Aku menunjuk ke monster yang sedang terjepit disana, mulai marah. Beberapa saat kemudian, Aina menoleh, lalu memasang wajah terkejut.
Sudah kuduga dia melupakannya.
"Baiklah! Sudah kubilang kau harus diam, bukan!" aku membuka penghalang yang mengekangnya dari tadi.
Grrhhooaahhhh!!!
Dia berteriak setelah bebas. Betapa kekanakannya...
"Baiklah. Kau sudah senang karena bebas, bukan? Kalau bisa, beri aku item yang bagus!" aku hanya bisa berteriak senang.
Oh ya! Aku sepertinya ingin mencoba hal baru. Selain itu, aku juga harus menunjukkan sesuatu pada anak ini.
"Umm, Aina. Bisa kamu lempar semua batu sihir yang kamu punya ke monster itu? Aku ingin mencoba sesuatu." Aku menarik tas yang dia bawa.
Uwahh! Aku tidak menyangka akan sebanyak ini. Berapa lama dia sudah berada di dalam Dungeon ini?
Bahkan jumlahnya sampai puluhan, walau berbagai ukuran yang kecil.
Atau bisa dibilang sama dengan satu batu sihir yang dimiliki boss. Humm, kalau dibandingkan dengan hasilku sekali jalan, ini sangat sedikit sih.
"H-hah??!!! Kakak mau membuang ini semua? Ini sangat banyak lho!!" dia berteriak histeris.
Astaga. Jika dia bilang segitu saja banyak, apa yang dia bilang jika melihat hasil berburu ku hari ini? Ahh, standar dia terlalu rendah.
Tidak. Apa standar ku saja yang terlalu tinggi?
"Yahh, pokoknya lempar saja semuanya ke monster itu. Kalau kamu memiliki lebih banyak, kamu bisa melemparkannya juga!" aku berteriak sambil masih mengawasi monster itu.
Orang yang sering membaca beberapa novel pasti akan mencoba ini.
Ini sering muncul dalam cerita manapun, dimana nantinya akan menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Ya. Ini akan menjadi lebih seru!" aku sedikit tertawa ketika Aina berhasil melemparkan semua batu sihir yang dia punya ke dalam mulut monster.
Ya. Seperti yang sering muncul dalam cerita, aku memberi makan monster tersebut.
Dengan memberinya makan, itu akan menjadi lebih besar, dan kebanyakan akan menjadi lebih ganas. Dan tentu saja, drop yang diberikan pasti akan lebih baik.
Aku penasaran apakah ini juga berlaku padaku.
"Baiklah, Aina. Mundurlah. Sekarang adalah bagianku. Maksudku, tidak akan membiarkan yang satu ini lolos!" aku menepuk bahu Aina, memintanya mundur. Seperti biasanya, monster itu berubah ke arah yang mengerikan.
Monter itu sudah berubah, menjadi bentuk yang cukup aneh. Itu memliki kepala tiga, dengan satu kepala sapi, satu lagi kepala goblin, dan satu lagi kepala aslinya.
Oi oi! Apa ini?! Apa ini adalah sebuah acara prank? Aku sudah menduga bahwa monster itu akan menjadi sesuatu yang aneh, tapi bukankah ini terlalu aneh?
Jujur, monster itu menjijikkan.
Dengan begitu, aku mengingat pertarungan ku melawan boss kedua. Uhh, itu tidak berguna karena aku tidak banyak mengingat. Aku hanya ingat aku mengeluarkan sihir api tingkat rendah dan itu tiba tiba meledak.
Sepertinya aku harus pemanasan sedikit. Kalau begini, aku sepertinya harus mengasah skill assasin ku? Jujur saja, aku tidak memiliki skill itu bahkan jika aku menyamar menjadi assasin.
"Kakak? Kakak mau melawan itu? Kakak yakin?" Aina menatapku dengan sedih, sepertinya khawatir.
"Hum!! Jangan khawatir! Oh ya! Aku tidak bisa ke atas nanti, jadi temani aku sampai targetku terpenuhi. Tunggu aku dan beristirahat lah." kataku sambil membuka sihir ruang.
"Aku yakin dan tidak salah lagi, kakak itu manusia! Bagaimana bisa kakak itu tetap tenang dalam kondisi seperti ini?" aku samar samar mendengar Aina yang berbisik seperti itu.
Ahahaha, sekarang sepertinya aku memiliki tujuan lain untuk mengalahkan monster ini.
Aku mengambil belati pendek di belakang, tapi monster itu tiba tiba menyerang dengan cepat menggunakan ekornya.
Aku mau tidak mau melompat untuk menghindari serangan cepat miliknya.
Ugh, aku sedikit meremehkan Agility nya. Apapun itu, Seluruh statusku hampir semuanya lebih besar darinya, kecuali status Strength ku.
Ngomong ngomong, monster ini memiliki level 55, yang bahkan hampir dua kali lipat levelku.
"Kau sangat bersemangat ya? Kalau begitu, beri aku waktu tiga detik." aku tersenyum sambil menyiapkan belatiku.
"Dan aku akan membunuhmu."
GRARRAAHHHHH!!!!!
Itu tampaknya marah. Baiklah. Aku adalah laki laki. Aku selalu menepati janjiku.
"Satu." aku memaksa untuk bergerak dengan kecepatan maksimalku, untuk menghilangkan kaki sebelah kirinya. Itu membuatnya kehilangan keseimbangan, sehingga jatuh ke arah yang sama.
Aku segera menendang tanah, menghilangkan ketiga kepalanya sekaligus. Itu mudah karena dia menjadi lengah disebabkan kehilangan keseimbangan.
Untuk memastikan kematiannya, aku membelah dadanya, membuat garis panjang dari dada hingga bagian perut monster itu yang berbentuk seperti kuda itu, bahkan sampai terlihat batu sihirnya.
"Tiga." aku melemparkan darah yang ada di belatiku, sambil selesai menghitung.
Monster disana berhenti bergerak, dan beberapa saat kemudian itu segera menghilang, dan menjadi pecahan cahaya dan beberapa item serta batu sihir yang besar dan aneh.
Itu hening sesaat sampai aku memasukkan belati ke sarungnya kembali.
Itu bukan belati terbaikku, tapi hanya produk gagal dari hasil aku belajar dalam membuat sesuatu, tapi itu cukup baik hingga batasnya.
Aina bergerak keluar sambil bergetar. Dia juga hanya bisa melongo melihatku disana.
"Ka-Kakak, bisa menang? T-Tapi, apa itu tadi? Aku bahkan tidak melihat apapun, tapi tiba tiba monster itu sudah jatuh dan tiba tiba juga monster itu berubah menjadi barang barang! Tidak, ini tidak mungkin!! Dari manapun aku melihat ini tidak mungkin!" sepertinya Aina mulai kehilangan kesehatannya.
"Tentu saja! Apa kau pikir aku gila karena melawan monster itu tanpa perhitungan?" Aku mulai mengambil item item yang berserakan.
Item item itu belum pernah aku lihat sebelumnya, tapi mungkin berharga di atas.
"Kau tahu, aku tidak akan masuk ke dalam pertempuran yang tidak akan kumenangkan. Pengecut memang, tapi itulah cara kerja dunia ini." aku selesai memungut barang dan memasukkannya ke dalam inventory ku.
Aku berdiri, dan berkacak pinggang menghadap Aina yang hanya terdiam masih melongo menatapku.
"Kakak, siapa kamu sebenarnya?" dia akhirnya bertanya seperti ini.
"Aku? Kau sendiri lihat saja sudah tahu kan? Aku hanya manusia biasa loh!!" aku tersenyum penuh arti.
"Manusia biasa tidak akan bisa melakukan itu!" Dia berteriak menanggapi perkataan ku barusan. Aku hanya bisa tertawa sambil mengacak acak rambutnya.
Yahh, mungkin aku sedikit berlebihan dalam menunjukkan kekuatanku.
Tapi mau bagaimana lagi.
Sesekali, aku juga mau terlihat keren, bukan?