
Aku berhasil mengakhiri ini sesuai dengan keinginanku. Duel antara aku dengan Suzu, dan semua yang aku rencanakan.
Ini berjalan sangat lancar, bahkan sampai aku sedikit curiga. Kenapa ini terlalu lancar.
"Pemenangnya, Suzu!" Wasit yang sudah datang ke arena mengangkat tangan Suzu, dan memberi pernyataan kemenangan.
"Yeaahh!!!"
"Woooaaa!!!"
"Benar benar pertarungan yang luar biasa, bukan?"
"Tapi hasil seperti yang diduga. Suzu menang walau perbedaannya tipis, ya?"
Aku hanya bisa tersenyum bahagia mendengar ini semua. Sorak sorai ini, euforia ini, ini bukan semua untuk Suzu. Ada juga yang terselip untukku, seorang manusia.
Yahh, walaupun gaya bertarung ku sedikit aneh, tapi setidaknya aku sudah menumpang nama pada Suzu.
Di saat terakhir, aku akan mengeluarkan seluruh kemampuanku untuk mengetes kemampuan perisai yang dia buat. Kalau tidak salah, namanya adalah [Absolute Shield].
Dan sudah kuduga, pedang itu tidak akan kuat jika aku melepaskan seluruh kekuatanku padanya. Pedang itu terbelah jadi dua, dan jelas aku dinyatakan kalah.
Selain itu, aku perlu menyembuhkan tangan kananku. Ini benar benar sakit setelah aku menghancurkan tanah yang Suzu buat.
Tidak, kalau aku tidak segera mengobatinya, aku akan segera kehabisan darah!
Aku melihat Suzu yang mulai bangkit, dan melepas semua sihirnya.
Arena yang basah kembali kering, dan es es yang indah berkilau mulai menghilang. Uhh, aku sangat menikmati sihir es itu, jujur.
"Ayo Ren! Kita kembali!" Wajahnya sedikit marah, tapi aku tahu ada rasa senang diantara wajah yang marah itu. Tapi, melihat wajahnya itu membuatku mengingat seseorang.
***
"Kak Ren!!!" aku mendengar suara seorang anak yang sepertinya aku kenal. Dan beberapa detik kemudian, aku juga mendapat pelukan dari belakang seperti dia akan membunuhku!
"Kak Ren, apa kau baik baik saja? Kau tidak apa kan?" dia, Aina mengatakan itu sambil mengecek tangan kananku.
Yahh, sekarang aku sedang berada di fasilitas medis Akademi. Disini ada seseorang perempuan, sepertinya murid Akademi yang mampu menggunakan sihir penyembuhan. Dan oleh karena itu, tanganku mulai kembali seperti semula.
Dia adalah perempuan yang pemalu, bisa dibilang mirip kak Edna. Kenapa pemilik light magic seperti itu semua?
"Re-Ren?!! Si-Siapa ini?!!" Suzu hampir berteriak ketika melihat Aina.
Ahh, aku juga belum mengatakan padanya, ya? Jelas dia terkejut. Aku agak berdoa agar dia tidak mengira Aina adalah anakku.
"Yahh, ini adalah Aina. Aku menemukannya sendirian, dan aku membawa nya. Bagaimana? Apakah itu adalah sebuah kesalahan?" tanyaku, berusaha untuk berpura pura tidak tahu apapun.
"Yahh, tapi-" sepertinya Suzu agak keberatan, ketika Aina langsung mengambil tangan Suzu.
"Jadi ini adiknya kak Ren ya? Aina sangat senang bisa bertemu denganmu! Aina mungkin tidak berguna, tapi tolong rawat Aina!" kata Aina memperlihatkan pose imut.
"Tapi," Suzu masih terlihat kerepotan. Tapi aku tahu, dalam dirinya sedang terjadi perang hebat.
Aina semakin membuat pose aneh sambil tetap memegang tangan Suzu.
"Tapi," wajah Suzu semakin bermasalah. Uhh, ayolahh jangan buat ini bertele tele. Apa kau ingin menerimanya atau tidak? Aku ingin berteriak seperti itu.
Suzu memejamkan matanya, lalu berteriak sedikit.
"Ahh!! Kau sangat imut sekali!! Baiklah! Walau seluruh dunia melawanku sekalipun, aku akan mendukungmu untuk selalu bersama kami!!" Suzu berteriak sambil memeluk Aina, mengosok gosokkan pipinya ke wajah Aina.
Jadi begitulah. Sepertinya mereka berdua bisa akrab.
Aku tersenyum pelan ketika melihat mereka berdua sedikit sibuk sendiri.
"Tadi itu adalah pertarungan yang sangat bagus, Ren!" paman Kurls menepuk bahuku dari belakang. Itu memberiku sedikit perasaan bangga.
"Ya, terima kasih. Itu adalah pertunjukan nya. Bukankah itu menyenangkan?" aku sedikit bercanda padanya.
Wajahnya tersenyum tenang, lalu tertawa lagi.
"Ahahaah! Anda mungkin akan melampaui siswa Akademi Lanjutan bahkan tanpa masuk kesana!" Kurls tertawa terbahak bahak sambil memukul punggung ku.
Aku senang, aku bisa berbicara, mengobrol dan bercanda seperti biasa sekarang. Bahkan jika aku manusia, tetap ada banyak orang yang bisa menerimaku.
"Ahh, sepertinya Aina mengganggu reuni keluarga kalian, jadi maafkan Aina!! Kami akan undur diri, jadi kami permisi! Paman Kurls, apa kamu sudah selesai dengan Ren?" Aina setengah berteriak sambil menutup mulutnya!
Suzu menarik tangan Aina, lalu menggeleng cepat.
"Tidak tidak tidak! Jangan begitu! Silakan berkunjung kapanpun! Akan menyenangkan untuk melihat datang lagi!" Suzu terlihat melemah melihat Aina. Itu lucu.
Mereka berdua pun pergi, ketika penyembuhan tanganku juga sudah mulai selesai.
***
Aku sekarang sedang duduk melepas penat di kamar Suzu.
Aku sudah berkali kali kemari, jadi aku sudah tidak penasaran lagi dengan isinya.
Yang aku cari hanya satu hal, perangkat teh!
"Hei, Suzu. Kapan kau akan selesai mandi? Dan kenapa kau mengurungku di dalam kamarmu?" Aku terduduk diam sambil mengetuk penghalang yang Suzu buat tadi.
Sebenarnya itu adalah penghalang yang tipis bagiku. Dan kalau aku ingin. Menghancurkannya, aku bisa dengan mudah menghancurkannya.
Hanya dengan beberapa tiupan saja ini akan hancur!
Beberapa saat kemudian, suara gemericik air terdengar.
"Aku yakin kamu akan berkeliaran di luar dan menambah masalah lagi. Tidak. Aku tidak ingin itu." Jawab Suzu pelan. Dan beberapa saat kemudian, suara kembali menjadi hening.
Ya. Suzu juga memasang penghalang suara saat dia mandi sekarang.
Ugh, aku bisa saja menggunakan skill [Sharp Hearing] untuk mendengarnya dan berfantasi dengan itu, tapi sayang aku bukanlah orang mesum.
"Baiklah Suzu, aku akan meminjam dapurmu sebentar." Aku berteriak demikian, lalu meluncur ke dapur. Tidak ada jawaban dari Suzu, berarti dia tidak masalah aku menggunakannya.
Ruangan asrama ini sangat besar. Mirip perpustakaan di rumahku. Atau mungkin bisa disebut apartemen di dunia lamaku.
Ini terdiri dari ruang tamu, satu kamar tidur, ada juga dapur kecil dan kamar mandi. Ini cukup lengkap. Selain itu, seperti rumah bangsawan lainnya, asrama ini dibangun menggunakan batu dan sudah berwarna terdesain sangat indah.
Beberapa asrama kelas bawah masih ada yang dibuat dari kayu, dan dengan peralatan seadanya.
Aku menyeduh teh sambil menyenandungkan musik. Oh ya! Aku belum mendengar musik satupun di dunia ini. Dan tadi aku menyenandungkan lagu dunia lain, umm maksudku dunia lamaku.
Aku penasaran apakah ada piano di dunia ini. Aku ingin memainkan Moonlight Sonata first movement sekarang.
Tapi kalau aku melihat tahun penemuan Piano yang muncul di abad 17, sepertinya belum ada di dunia ini. Eh, tapi ada anak anak yang bereinkarnasi, bukan? Seharusnya sudah ada piano disini.
Eh, sepertinya aku mulai ngelantur. Ahh, sekalian saja, Suzu adalah anak akademi, bukan? Seharusnya dia tahu beberapa informasi.
"Hmm aku akan bertanya pada Suzu. Sekalian saja aku akan bertanya tentang dewa dewa." Aku berkata pelan sambil terus melakukan pekerjaanku.
Aku mendengar suara Suzu yang sudah keluar ruangan. Dengan segera aku membawa teh set beserta teh yang aku bawa ke kamarnya.
Untuk yang mengharapkan kejadian kejadian aneh, itu tidak akan terjadi karena aku juga tahu batasku!
"Ah, Ren. Terima kasih atas teh nya." Suzu sedikit mengibaskan rambutnya, membiarkannya kering. Aku hanya tersenyum pahit, sebelum menaruh teh itu di meja tengah.
"Hei Suzu!" Aku melemparkan sebuah ramuan pemulih sihir dengan tingkat efektivitas medium. Dia sempat meliriknya sesaat, lalu segera meminumnya.
Tubuhnya bercahaya hijau, sama seperti warna potion itu. Aku yakin MP nya sudah pulih.
"Humm, aku heran kenapa kau memiliki benda benda ini, Ren?" Tanya Suzu. Jelas karena aku ingin menelitinya dan juga menggunakannya! Aku ingin bilang begitu sebenarnya.
"Yahh, aku juga ingin menyerahkan beberapa untukmu, anggap saja oleh oleh dariku." Aku menyodorkan sebuah kantung yang sedari tadi aku bawa.
Suzu menerima itu, lalu melongok melihat isinya sesaat.
"Ya. Ini sangat tepat sampai aku merasa ini semua kamu rencanakan, Ren." Jawabnya. Seperti biasa indranya itu sangat tajam ya?
"Yahh, apa kau tahu apa yang terjadi di arena hari ini?" Tanyaku mengangkat sebelah alisku.
Dia hanya mengangguk, lalu mengambil duduk di hadapanku, mengambil tehnya.
"Ya. Aku kalah dan kau menang." Jawab Suzu tenang. Walau dia terlihat tenang begitu, aku tahu bahwa bibirnya sedikit bergetar, mulai condong membentuk wajah cemberut.
"Ha ha! Kamu memiliki telinga yang buruk! Sudah jelas wasit mengatakan kamu yang menang!" Teriakku tertawa.
Dia diam, lalu menaruh cangkir teh nya kembali ke meja.
"Bahkan aku pun tahu bahwa kemenangan itu hanya beruntung. Pedangmu patah, bukan? Aku pasti sudah kalah jika kamu menggunakan pedang sungguhan."
Dia tertunduk sedih. Tapi kuakui, dia bisa menahan ku sebegitu banyak adalah prestasi yang luar biasa.
Walaupun aku belum menggunakan sihir sih.
Aku bahkan menahan diriku ketika melawan kak Ruly dan kak Edna kemarin. Dan saat pertandingan ini, dia berhasil menahanku sebanyak itu dengan yahh, bisa dibilang kekuatan penuhku. Walaupun aku belum bergerak cukup cepat.
"Hei hei. Jangan sedih begitu! Aku memang bukan lawanmu. Santai saja." Jawabku terkekeh.
"Hmmphh!" Dia cemberut, menggembungkan pipinya.
Aku tertawa tapi dia memalingkan wajahnya.
"Yahh, kamu bisa dibilang cukup kuat untuk menyaingi kak Ruly dan kak Edna. Kau mungkin sekarang yang terkuat, tapi maaf. Aku akan terus bertambah kuat!" Kataku membesarkan suaraku, menghiburnya.
Dia menghela nafas, terlihat banyak yang dia pikirkan.
"Hei, Ren. Bagaimana kamu bisa sekuat itu? Apa motivasimu?" Tanyanya.
Heh? Motivasi? Sebenarnya aku juga agak bingung.
Aku kembali mengingat ingat. Apa motivasimu untuk menjadi yang terkuat? Kenapa aku ingin menjadi lebih kuat?
Apakah benar hanya untuk menjadi terkuat? Untuk menjadi orang terkenal?
Untuk apa kekuatan ku ini?