Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 3: Bab 9 - Rencana



***


"Hmm, Suzu dan Aina bukannya tidak bisa keluar, bukan?" tanya Ren ketika mereka sedang melakukan rapat rencana.


Semua menatap Ren bingung, karena tidak paham apa yang dia bicarakan.


"Humm, maksudku, jika kalian berdua merubah penampilan, aku yakin kalian tidak akan diketahui. Sejujurnya, aku pernah mendapat skill [Replacement], dan itu benar benar berguna." Ren mengungkapkan.


"Apakah kau benar benar bisa?!" Suzu mendekat dengan mata yang sangat antusias.


Melihat itu, Ren hanya mengangguk sambil menyiapkan beberapa barang.


Ren akhirnya melakukan [Replacement] kepada Suzu dan Aina, mengubah mereka menjadi kedua Beast, tapi berbeda jenis.


Suzu menjadi Beast kelinci dengan telinga yang panjang dengan ekor bundar, sedangkan Aina menjadi Beast rubah dengan telinga besar dan lancip, serta ekor yang cukup besar.


Itu benar benar mengubah penampilan mereka.


Selain itu, warna rambut Suzu yang awalnya biru, berubah menjadi biru, tapi lebih ke arah putih.


Warna rambut Aina berubah, menjadi lebih ke arah kuning keemasan. Mungkin karena pengimajinasian Ren yang mengikuti pikirannya di dunianya yang sebelumnya.


"Hwaa! Apa ini?! Kenapa aku punya ekor ditambah telinga yang panjang?!" Suzu berteriak histeris sambil menggerak gerakkan telinga nya.


"Humm. Ini bagus. Apakah kamu harus menggunakan palu di tangan? Itu benar." Ren mengangguk melihat Suzu.


Dia benar benar membuat apa yang dia pernah di anime yang pernah dia tonton dulu!


"Hei! Ren! Jangan lupa bahwa aku adalah mage! Aku mage!" Suzu berteriak sambil masih mengecek tubuh tubuhnya.


"Ya ya ya. Sudahlah. Setidaknya, dengan begini kalian sudah tidak ada masalah untuk keluar." kata Ren sambil mulai menggumam diam.


Dia mengambil beberapa peralatan dari Inventory nya sendiri, dan membagikannya.


"Kalian akan bergerak bertiga. Kak Edna, Suzu, dan Aina. Ibu, tolong menunggu di penginapan. Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan orang banyak karena ini berbahaya." Ren kembali menunduk.


Semua tersenyum, dan Nina mendekati Ren dan mengelusnya.


"Kami tulus membantumu. Selain itu, kamu juga pasti memiliki banyak hal yang kamu pikirkan sendiri. Ibu juga tahu, kamu melakukan ini untuk kami semua." kata Nina sambil mengelus kepala Ren yang menunduk.


Ren hanya tersenyum, lalu mengangguk tegas.


"Baiklah. Sudah diputuskan. Paman Kurls memiliki tugas tersendiri. Suzu menjadi Shia, seorang spearman magic, sedangkan Aina, alias Senko, seorang support yang memberikan support menyerang dengan beberapa serangan." jelas Ren.


Mereka mengambil barang barang yang Ren keluarkan. Ini sebenarnya adalah barang barang Ren yang dia buat untuk penyamaran. Karena terlalu banyak penyamaran yang dia buat.


"Dan aku tidak perlu penyamaran lagi, bukan?" tanya Edna sambil mengambil salah satu pedang, menghunuskannya.


"Ya. Kalau begitu, mari kita bahas rencana masing masing orang!" Ren mengangkat tangan.


***


"Aku tidak tahu apa yang Ren pikirkan, tapi menculik seorang anak itu sudah keterlaluan!" Edna masih berjalan dengan marah, menendang batu kecil yang ada di sekitarnya.


"Apa yang kalian tertawakan?" Edna sedikit cemberut melihat keduanya.


"Yahh, aku memang melihat Ren aneh, tapi sepertinya lucu melihatmu bertingkah seperti ini. Entah kenapa, hanya sedikit menyegarkan bagiku." jawab Suzu.


"Menyegarkan, kah?" Edna sedikit tersentak mendengar itu. Sedikit air mata muncul di matanya, yang segera dia hapus.


Sepertinya tidak ingin diketahui siapapun.


"Hum! Itu bagus! Tingkahku memang membuat kalian merasa segar kembali, bukan?" tanya Edna sambil membuat pose otot.


Mereka tertawa bersama, melihat itu.


Edna tersenyum, melihat kedua orang di depannya tertawa lepas.


"Baiklah. Coba kita ingat bagaimana tugas kita kali ini?" Edna bertanya setelah mereka selesai tertawa. Suzu dan Aina segera menerawang ke atas, mengingat.


"Hmm, aku masih ingat ketika Ren berkata: tugas kalian yang pertama adalah mengantar ibu ke penginapan. Itu adalah tugas terpenting kalian." kata Suzu sambil menempelkan telunjuknya ke pipinya.


Semua kembali mengingat, dan mengangguk.


"Ya! Lalu, ada juga dia bilang bahwa kita harus masuk ke dalam Guild, dan masuk dalam pencarian Suzu dan Aina." Edna mulai bicara.


"Memang terdengar aneh, tapi kata Ren, tempat persembunyian yang lain aman adalah tempat yang tidak terduga. Jelas, mana mungkin ada orang yang bodoh untuk mencari dirinya sendiri." kata Edna sambil tertawa sinis.


"Lalu, sekalian kami harus mencari keberadaan Weiss, dan di saat yang tepat kami harus memancing dia ke tempat yang ditentukan. Benar benar aneh." kata Edna lagi.


"Yahh, ini adalah tugas yang berat untuk kita bertiga jalankan, tapi karena Ren memberikan tugas penting pada kita, itu artinya dia percaya pada kita semua, bukan?" tanya Suzu sambil mengangguk senang.


Mereka bertiga kembali tertawa, sambil terus berjalanl q ke arah Guild.


Tujuan mereka untuk mendaftar, dan untuk mengikuti Quest darurat, mencari Aina dan Kurls. Itu masuk ke dalan Quest darurat kemarin.


"Utamakan keselamatan. Itu yang dikatakan Ren. Ini adalah misi yang berbahaya, jadi lebih baik mundur jika kita ketahuan." Edna mulai berbisik.


Dan mereka pun mulai masuk ke Adventurer Guild...


***


"Baiklah. Mereka semua sudah pergi. Aku akan menjelaskan tugas milik paman Kurls." aku menyiapkan diri, mengambil peta.


"Paman pasti tahu, siapa penguasa Furyuun, bukan?" aku berjaga jaga bertanya padanya.


Paman Kurls mengangguk.


"Ya Rice Ravinder. Dia adalah walikota yang langsung ditunjuk oleh raja untuk mengolah Furyuun." jawab paman Kurls cepat.


"Bagus jika paman tahu. Pembicaraan akan menjadi cepat."


"Aku ingin paman menculik anak Rice Ravinder, Thui Ravinder!"