
Di sebuah tempat yang tidak diketahui keberadaan nya dan tidak terganggu konsep waktu...
"Master. Sepertinya mereka belum datang. Tapi, apakah mereka akan datang? Kali ini masalahnya hanya sepele, tidak mencakup tentang dunia." sebuah suara lembut terdengar.
Itu adalah suara yang berasal dari seorang wanita, dengan sayap putih tertutup ditambah belati yang berada di pinggang nya.
"Jangan panggil aku Master disini. Aku membiarkan mu saat di luar, tapi jangan lakukan itu disini. Apalagi saat pertemuan, karena posisi kita sekarang sam!" teriak seorang laki laki berambut hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya.
"Aku akan melakukannya nanti jika mereka sudah datang, Master. Seperti yang kuduga, memanggil Master dengan nama Kei agak sulit..." jawab si wanita.
Ya, mereka berdua adalah Kei dan Cilia.
Mereka sedang berada di ruangan dengan meja besar melingkar, dan terdapat beberapa kursi berbentuk seperti singgasana di tujuh bagian. Sementara itu, Kei duduk seperti menunggu, dan Cilia mendampingi nya, berdiri di belakangnya.
"Hufft. Setidaknya, duduklah di kursi terlebih dahulu!" ucap Kei menanggapi pernyataan Cilia tadi.
"Baiklah, Master. Sepertinya Master benar benar tidak bisa tenang, ya?" tanya Cilia sambil sedikit mengedipkan mata.
Dia lantas berjalan tenang, ke sebuah kursi kosong terdekat, dan duduk di atasnya.Tapi dia menggeser kursi itu, mendekat ke arah Kei dan tersenyum sambil bertopang dagu, duduk di sebelah Kei.
Kei yang menonton itu hanya menghela nafas, lelah.
"Tapi, mengejutkan kau ada disini, Weinia! Bukankah biasanya kau yang paling sering membolos, karena katamu malas?" tanya Kei mengalihkan perhatian.
Di sana, sudah ada salah seorang yang sudah datang sejak awal, yang sedang menaruh kepalanya di atas meja, dengan nafas keputus asaan.
Pria dengan rambut yang agak agak acakan, dan kantung mata terlihat membuat matanya seperti panda. Selain itu, bekas air liur juga terlihat mengalir di tepi mulutnya, membuat dia jelas barusan tidur.
"Karena aku mendengar kau yang mengajukan pertemuan ini, Kei. Aku berangkat." jawab laki laki itu dengan suara rendah.
Saking rendahnya, orang mungkin akan mengira bahwa dia hanya bergumam untuk dirinya sendiri, dan lebih parah mungkin akan mengira dia sedang ngelindur karena terlihat dia sedang mendengkur sekarang.
"A-ahh, apa baik baik saja?" tanya Kei sedikit khawatir.
"Mungkin aku terkena kutukan ini, oleh karena itu aku merasa lesu. Maaf tapi aku hanya hadir di sini, aku tidak akan berbicara banyak. Aku ingin... tidur...." katanya sambil sedikit menguap.
"Kau punya terlalu banyak kekuatan, Weinia. Bukankah baik untuk sekali kali melepaskannya?" tanya Kei.
"Ahh, aku terlalu malas untuk itu. Aku akan melakukannya jika kau berbuat untuk menghancurkan seluruh dewa. Saat itu aku akan ikut bertarung. Jika tidak, jangan... libatkan...a... kuu...." katanya semakin pelan.
"Sepertinya dia sudah tidur sekarang, Master." bisik Cilia pelan.
"Yahh, biarlah. Dia sudah hadir disini saja sudah cukup. Setidaknya itu menambah suara jika sesuatu terjadi." jawab Kei.
Kei menutup matanya pelan, lalu mendongak. Saat itu dia merasakan sebuah perbedaan ruang dan waktu, lalu sedikit mengawasi satu tempat.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian, sebuah robekan ruang hitam tercipta, yang lama kelamaan semakin membesar.
"Orang itu datang juga, kah?" tanya Cilia mewakilkan perasaan Kei.
"Ohh Kei! Sudah lama! Seperti biasa kau masih terlihat lemah, ya!! Dan Weinia, ughh... k-kau... masih terlihat seperti biasa ya! Sama sekali tidak terlihat memiliki model yang bagus!! Kau harus meniru ku, terlihat tampan seperti biasa!" seseorang dari dalam ruangan itu keluar.
Sosok itu keluar dari ruang hitam itu dengan jubah putih dan topi mirip koboy dengan aksesoris bulu di atas topinya. Dia tertawa, sambil melambai ke semuanya.
Orang itu merasakan tatapan tajam ke arahnya sedikit merinding, lalu mengambil topinya.
"Y-Yahh, Kei. Jangan terlalu serius seperti itu. Matamu terlihat mengerikan jika berbentuk seperti itu, kau tahu!" kayanya setengah berteriak.
Dia pantas duduk di seberang Kei, seperti menjauhi nya. Dia juga sedikit menjauhi Weinia, dan terlihat waspada padanya.
Kei hanya menarik nafas, tidak ingin meladeni itu lebih lanjut, dan hanya menoleh ke pintu hitam yang tidak kunjung tertutup, menandakan belum semua orang keluar dari sana.
Saat itulah sebuah burung gagak hitam keluar, dan terbang memutar, sebelum turun di meja depan salah satu singgasana.
"Apa itu? Familiar? Kenapa?" tanya Kei sedikit heran.
"Yahh, soal itu..." orang dengan jubah putih itu sedikit memasang wajah datar dan menyambung kedua jari telunjuk di tangannya.
"Kenapa, Xie Liang?" sela Kei cepat, memberi tekanan pada pria yang diketahui namanya Xie Liang.
"Aku sudah mengajak Rinko langsung, tapi kau tahu sendiri bagaimana dia, bukan? Dia bilang, kenapa aku harus datang ke dalam pertemuan itu, dan melihat Kei dan Cilia yang bermesraan?!! Aku tidak terima! Aku sangat iri! Begitu." jawab Xie Liang sambil menirukan sebuah suara perempuan dengan nada tinggi.
"Ara!" Cilia tersenyum sedikit sambil menutup mulutnya, mendengar itu. Dia sedang membayangkan ekspresi Rinko ketika mengatakan itu.
Dia segera berdiri, dan menuju familiar Rinko dan menggodanya dengan beberapa kata memancing.
"Memang seperti dia. Dan jangan tiru bagaimana dia bicara! Itu menjijikkan!" kata Kei.
"Benar benar menjijikan...." tanggap Weinia.
"Aku bingung apakah kau benar benar tidur...." bisik Xie Liang pelan.
"Kalian semua! Berisik! Langsung saja masuk ketipu utama!! Aku ingin cepat cepat pergi dari sini! Dan gumpalan lemak, sialan kau!! Dengan badan seperti itu kau bisa menjerat laki laki!! Ughh, aku sangat iri!!!" sebuah teriakan melengking tinggi terdengar dari gagak yang digoda Cilia dari tadi.
Kei yang mendengar itu tertawa pelan, lalu terbatuk sedikit untuk mengembalikan suasana. Cilia juga segera kembali ke tempat duduknya, di sebelah Kei.
"Baiklah! Kalian semua pasti sudah tahu, kenapa kalian dipanggil kemari, bukan?" kata Kei dengan lantang.
"Kira kira, kami sudah tahu. Tapi apakah kau yakin, ini akan tetap dilanjutkan? Dia masih belum datang, loh!!" sahut Xie Liang sambil menghidupkan cerutu di tangannya.
"Dia tidak akan datang, dan sejujurnya dia paling menolak pembahasan kali ini." jawab Kei.
"Karena semua orang sudah berkumpul, mari kita mulai, Rapat 6 Demon Lord sekarang!!" lanjut Kei dengan suara yang terdengar menggelegar, menggema ke seluruh ruangan.
Walau begitu jumlah mereka baru 5, tapi memang penyebutan rapat adalah Rapat 6 Demon Lord.
Ya. Mereka semua adalah orang orang yang disebut Demon Lord karena kekuatan mereka.
Mereka juga memegang masing masing kutukan di tubuh mereka. Kei, si Wrath Lord yang mewakili kemarahan, Cilia the Lust yang mewakili hawa nafsu, Weinia the Sloth Guy, yang mewakili kemalasan, Rinko the Envy Girl, yang mewakili iri hati, dan Xie Liang the Pride, yang mewakili kesombongan.
Sebenarnya masih ada satu lagi, yang mewakili Ketamakan dan kerakusan. Tapi dia menolak datang untuk pertemuan kali ini.
"Kita akan melakukan rapat, yang membahas tentang tumbuhnya Wrath Seed yang terjadi akhir akhir ini!!" sambung Kei, sekarang dengan wajah yang serius.