Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 6: Bab 10 - Sebelum bencana



("Kekuatan yang gila!!") teriak Kurls dalam hati nya. Bagaimana pun, benang yang dia punya terbuat dari mithril, salah satu dari beberapa logam terkuat yang bisa dibentuk sebelum Admantiun.


Bisa melonggarkan itu hanya dengan kekuatan biasa, Kurls tidak bisa mengukur seberapa kuat musuh yang dia hadapi kali ini. Dan juga, Mithril bukanlah sesuatu yang bisa di tarik dengan semudah itu.


Dengan kata lain, itu memang kemampuan Gordo.


("Aku sudah tahu dia sangat kuat, tapi aku tidak menduga dia sampai sekuat ini?!!") kata Kurls dalam hati nya, seraya menggertakkan gigi nya geram.


KRTAKKTAK TAK!!!


Suara benang benang yang mulai putus terdengar mengerikan di telinga Kurls. Kurls tidak bisa bergerak sekarang, karena tangan nya penuh untuk menahan semua benang Mithril, mencegah Gordo melepaskan diri.


Tapi, walau Kurls tidak bisa memberikan serangan mematikan, Kurls masih berusaha melemparkan jarum beracun yang segera menancap ke beberapa anggota tubuh Gordo.


"SIALAANN!!!" Gordo menguatkan diri, ketika jarum jarum racun mulai menusuk tubuh nya.


Tidak hanya itu, benang benang Mithril mulai mengiris kulit kulit Gordo. Padahal, biasanya itu memotong makhluk hidup dengan mudah nya. Itu menunjukkan berapa kuat nya kulit dan pertahanan Gordo.


"Ughh...." Kurls merengkuh pelan, mencoba betadu kekuatan untuk tetap mengurung Gordo dalam ikatan nya.


TAASSS!!!


Suara benang benang yang putus terdengar seperti vonis bagi Kurls. Dia benar benar tidak menyangka Gordo akan menembus salah satu dari trik membunuh terbaik nya. Tapi itu hany sesaat, ketika Kurls segera mendapat ketenangan nya kembali.


Gordo yang sudah bebas tersenyum mengerikan, dan bergerak cepat.


"Mati!" teriak Gordo, sambil bergerak cepat, bagaikan suara yang tiba tiba mengarahkan pedang yang dia buat dari Dark Magic ke arah Kurls.


Kurls lagi lagi terkejut, tapi dia masih bisa menangkis serangan pertama Gordo, menghentikan serangan itu tepat sebelum pedang nya menembus dafa Kurls.


"Kuhh...." Kurls merengkuh pelan, sebelum merasakan kekuatan besar mengalir ke tangan nya. Dia tahu, dia tidak akan bisa menahan serangan itu, dan berusaha sekuat mungkin hanya untuk mengubah serangan Gordo.


TRANG TRANG TRANG TRANG!!!


Ratusan suara dentang yang berbunyi terdengar nyaring, membuat telinga yang mendengar berdenging.


Hanya beberapa detik, tapi berbagai jurus sudah terlewat. Lebih dari puluhan kali, nyawa Kurls hampir melayang. Dan sebalik nya, serangan Kurls semakin jarang mengenai Gordo. Terlihat jelas, siapa yang diuntungkan di pertandingan ini.


Dan semua yang menonton pasti sudah tahu, siapa yang akan memenangkan pertandingan ini.


"Ahh!! Dasar gorengan kecil tidak berguna! Sangat keras kepala!!" teriak Gordo semakin tidak sabar.


Semua gerakan Gordo semakin kasar, juga semakin kuat. Bagaimanapun Kurls lebih baik dalam hal pengalaman, tapi kekuatan nya sangat jauh berbeda dari kekuatan Gordo. Bahkan, bisa menahan nya sampai saat ini bisa dibilang luar biasa.


BUGGGH!!!


Sebuah pukulan dari tangan kosong Gordo berhasil mengenai perut Kurls.


"Fuaghh!!?" Kurls terkejut dengan serangan tiba tiba dari Gordo yang mengarah ke perut nya. Sedikit mengeluarkan darah dari mulut, Kurls melayang, terpental oleh efek pukulan keras dari Gordo, yang membuatnya terbang hingga 20 meter!!


Dampak pukulan Gordo terlalu kuat, hingga menimbulkan bekas di perut Kurls. Dan juga, walau sudah terbang sejauh 20 meter, Kurls baru berhenti ketika menabrak sebuah pohon di belakang nya.


Itu adalah sebuah kesalahan yang hanya ada sepersekian detik, dan Gordo berhasil memanfaatkan celah tersebut. Bisa dibilang, serangan 1 hit yang membunuh dari Gordo.


"Kof.. Kof..." Kurls terbatuk pelan, mengeluarkan sejumlah darah dari mulut nya. Kurls juga masih berusaha bergerak, menyeret diri dan tubuh nya dengan seluruh hidup nya.


"Ahh, akhirnya kau kena juga. Kau benar benar mirip dengan kecoa! Yahh, setidak nya hanya itu yang bisa aku puji dari mu!!" terbaik Gordo sambil berjalan mendekati Kurls, yang sudah mengeluarkan seluruh tenaga hidup nya hanya untuk bergerak.


("Ughh. Ini benar benar mengerikan. Bahkan tanpa sulit, dia membunuh ku hanya dengan satu kali pukul. Ahh, setidak nya aku bisa mengulur waktu untuk Nona dan Lulu... Semoga mereka bisa selamat.") batin Kurls berdoa.


Kurls menghela nafas, terasa sedikit lega dengan berdoa barusan. Tapi, melihat Gordo dia tidak yakin itu bisa terjadi.


Senyum sinis terlukis di wajah Gordo, yang berjalan mendekati Kurls yang masih berjuang untuk bernapas.


"Oh ya. Bagaimana dengan dua serangga yang sedang berlari itu, ya?" tanya Gordo pelan.


Segera, setelah mendengar itu, mata Kurls yang mulai menutup mendelik.


"B-BER-BERHENTI!! A-APA YA-YANG AKAN K-KAU LAKUKAN?!!" teriak Kurls dengan marah. Dia bahkan memuntahkan beberapa darah, ketika dia berteriak.


"Huh? Apa yang kau katakan? Sejak awal, aku bermaksud membunuh kalian semua, tahu? Dan di saat pertarungan tadi, aku sedang menyebarkan sihir ku untuk mencari mereka. Yahh, itu cukup berat, tapi mudah untuk ku, kau tahu?" kata Gordo meremehkan sambil tertawa, membuat Kurls hanya bisa menatap tidak percaya.


Kurls hanya diam, melongo, dengan tatapan kosong yang terpancar di mata nya. Bagaimana pun, dia tidak bisa menerima bahwa dia berkorban untuk sesuatu yang tidak ada guna nya.


"Ahh, sejak awal kau bahkan tidak serius, kah?" tanya Kurls pelan, sebelum akhirnya dia terjatuh, menutup mata di atas kubangan yang diciptakan dari darah nya sendiri.


Kurls menyadari, bahwa saat dia menahan Gordo, dan bertarung dengan seluruh kekuatan nya disana. Sedangkan Gordo sendiri hanya bermain main dengan nya.


Dia menyadari, bahwa Gordo sudah merencanakan itu semua, untuk memfokuskan diri mengejar Ruly dan Lulu.


("Jika aku tahu ini akan terjadi....") batin Kurls sebelum nafas nya mulai berhenti, dan sebelum Gordo mengayunkan tangan, membelah nya menjadi beberapa bagian.


***


"Kurls...." bisik Ruly pelan saat berlari.


Ini adalah beberapa saat sebelum pertarungan antara Gordo dan Kurls dimulai. Dengan kata lain, ini adalah saat awal awal Kurls berusaha mengulur waktu agar Ruly bisa kabur.


"Nona Ruly! Saya mengerti kekhawatiran Anda, tapi mari kita serahkan dia pada tuan Kurls! Anda tahu sendiri, bukan? Sekuat apa tuan Kurls?" tanya Lulu sambil masih mencoba mendorong Ruly untuk terus berlari.


Sebenarnya Ruly ingin menyangkal itu, tapi dia tahu. Kurls menahan Gordo sendirian untuk mereka berdua.


"Untuk tidak selamat dari sini, itu berarti mengkhianati harapan Kurls, kah?" bisik Ruly pelan.


Ruly menggertakkan gigi pelan, sebelum akhirnya mengepalkan tangan, menahan rasa kesal di dalam diri nya.


"Baiklah, Lulu! Kalau begitu, kita lari sekuat tenaga! Jangan salahkan aku jika tertinggal, loh!!" kata Ruly dengan senyum getir di wajah nya.


Dengan begitu, mereka berdua belari sekuat tenaga, menuju kota Cerida yang bisa ditempuh sekitar setengah hari jika mereka berlari.


Itu yang mereka pikirkan, sampai...


?!!


"Nona!! Awas!!" teriakan nyaring Lulu terdengar, ketika mereka berdua masih fokus melarikan diri. Ruly yang mendengar itu tak urung menoleh, tapi dia merasakan dorongan dari belakang nya, dan menyadari bahwa Lulu mendorong nya sekuat tenaga.


Itu adalah sebuah benda hitam, yang sekarang berubah bentuk menjadi benda tajam yang menyerang mereka berdua!!


"ARRGGGHH!!!"


"LULU!!" kedua teriakan itu tumpang tindih terdengar, bersamaan dengan suara benda yang menembus tubuh seseorang.


Itu adalah Dark Magic Gordo, yang dia lepaskan saat selesai memberikan pukulan mematikan kepada Kurls. Dengan kata lain, sekarang Gordo sedang tertawa senang, melihat Kurls yang jatuh di tangan nya hanya dengan sekali pukulan.


Dan sebenarnya, sejak awal Dark Magic Gordo sudah mengikuti Ruly, tapi ketika mereka akan pergi terlalu jauh, Gordo menyerang nya.


Dia menargetkan Ruly, karena tahu Ruly adalah orang yang dilindungi oleh Kurls dan Lulu. Tapi dia tidak menyangka, Lulu justru melompat untuk melindungi Ruly.


"Lulu! Lulu!! Pertahankan kesadaran mu! Biar aku gendong kau dan membawa mu ke kota yang terdekat!!" teriak Ruly sambil mencoba memapah Lulu, yang mulai kesulitan berdiri.


Darah mengalir dari perut nya yang sedikit berlubang, berkat tusukan barusan.


"T-Tidak. Jangan pedulikan saya, Nona! To-tolong lari lah saja dan se-selamatkan diri anda! Orang itu benar benar berbahaya! Akan sangat sulit untuk mengalah kan nya!" ujar Lulu dengan sedikit terbata bata.


"Mana mungkin aku bisa melakukan itu!!" teriak Ruly.


Dia merubah posisi, dan mencoba untuk mengangkat Lulu, tapi tidak bisa. Itu hanya membuat nya jatuh ke tanah, tersungkur.


"Nona Ruly.... Jika dia sudah menyerang kita, itu akhirnya Tuan Kurls juga sudah berusaha sekuat tenaga di sana. Jika anda tidak melarikan diri, mungkin tidak akan sempat lagi!" rintih Lulu lagi lagi memperingatkan.


Ruly terdiam sesaat, lalu meringis, dengan air mata yang mengalir di pipi nya.


DOR DOR DOR DOR DOR!!!


Suara kehancuran terdengar dari arah hutan, yang lama kelamaan semakin keras. Selain itu, debu besar juga terlihat datang bersamaan dengan suara keras itu.


Dengan garis lurus, Ruly dan Lulu bisa melihat hutan yang terangkat, dan pecahan pecahan tanah yang terbang ke langit, ditabrak sesuatu yang tidak bisa mereka berdua lihat. Pasalnya, itu adalah benda yang ditutup oleh kegelapan.


"Ahh, ini kah akhir nya?" bisik Ruly pelan, terduduk.


Ruly sudah menyerah terhadap sesuatu yang datang mengejar nya, mengincar nyawa nya. Dia tidak tahu, apa yang terjadi. Yang dia tahu, dia tidak akan bisa lari dari ini.


"Maafkan aku tidak memenuhi janji ku, Ren!" rintih Ruly, sebelum kesadaran nya menghilang, ditelan kegelapan yang datang ke arah nya.


***


"Maafkan kakak karena tidak bisa menepati janji, Ren...." suara Ruly yang melemah terdengar oleh Ren, diikuti sosok nya yang mulai menjauh ke arah cahaya.


"Tidak, kak Ruly! Apa yang kau maksud? Kenapa? Hey!" teriak Ren dari sisi lain. Tapi, Ruly terlihat tidak mendengar nya, dan hanya terus melayang tenang ke arah cahaya.


"Hei! Kakak! Apa kau dengar aku?!" teriak Ren lagi, semakin khawatir.


Tapi orang yang dia panggil tetap sama, tidak ada jawaban, baik suara atau gerakan.


"KAKAK!!" teriak Ren lagi, kini dengan tegas. Tidak ada jawaban, Ren menjadi sedikit kesal, dan berusaha untuk berlari. Tapi ketika baru beberapa langkah Ren mengejar, sebuah tembok transparan menahan Ren, membuat nya jatuh terduduk memandang punggung Ruly yang semakin menjauh, dan mulai hilang ditelan cahaya.


***


"WHOAHH!!" suara teriakan terdengar menggema, diikuti beberapa suara benda yang terdengar terjatuh karena kecerobohan orang yang berteriak. Dengan sedikit nada menyesal, orang tadi segera membereskan semua benda yang berjatuhan, berserakan di sekeliling nya.


"Gawat!! Aku ketiduran!!" teriak Ren panik.


Mungkin karena kelelahan, baik secara fisik atau mental, Ren baru saja tertidur saat membuat ramuan MP di meja kerja nya. Dia segera pindah ke tempat dimana sebuah cairan sudah masuk ke beberapa botol yang dikemas rapi.


"Tapi..."


"Apa maksud mimpi tadi, ya?" tanya Ren pelan.


Mimpi yang dia maksud adalah mimpi tadi, dimana dia ditinggal Ruly yang melangkah ke cahaya saat dia ditahan sebuah penghalang aneh.


Ren terdiam sesaat, sebelum wajah nya menjadi buruk karena memikirkan beberapa hal yang mungkin terjadi. Tapi dengan cepat, dia menepuk muka dengan keras, dan menggelengkan kepala cepat.


"Tidak tidak tidak! Tidak ada yang terjadi dengan kak Ruly! Lagi pula, kalaupun ada bandit atau apa, jelas Kak Ruly, atau bahkan kemungkinan terburuk Paman Kurls pasti masih bisa menghadapi mereka, kan?" tanya Ren, mengerut kan kening nya.


"Ya. Akh tahu seberapa kuat paman Kurls, dan aku sendiri juga sudah pernah melewati jalan itu. Sangat aman." lanjut Ren menenangkan diri nya sendiri dengan kata kata nya.


"Benar. Ini benar! Aku hanya terlalu khawatir dengan kak Ruly saja!" dan akhirnya Ren mengambil kesimpulan itu sambil mengangguk pelan. Dia mencoba mengusir rasa tidak nyaman yang ada dalam diri nya, berharap apa yang ada dalam mimpi nya hanyalah bayangan nya saja.


Dengan segera, Ren mengemas lagi meneliti barang barang, yang besok akan dia gunakan. Tetap, Ren merasa itu tidak cukup karena apa yang dia lawan besok adalah seseorang dari kultus.


Dengan begitu, dia terus menyiapkan bekal sepanjang hari.


***


Keesokan harinya...


Matahari bersinar seperti biasa. Ren sedang menatap keluar jendela, melihat tanaman yang gembira menyambut pagi.


Kali ini, dia terbangun dari tempat tidurnya, menyingkap selimut dan termenung sebentar.


"Ini adalah hari penentuan. Semua yang aku lakukan selama ini aku pertaruhkan hari ini. Aku juga sudah membuat berbagai rencana, jadi ini seharusnya mudah. Tidak peduli bagaimana melihatnya, aku yakin semuanya pasti berhasil!" bisik Ren pelan seraya tersenyum dengan tangan mengepal kuat.


Itu adalah tanda tekadnya selama ini, untuk bisa menyelamatkan kota kelahiran nya, dan orang orang yang dia cintai.


"Humm, aku melihat dia pasti akan menyerang saat siang menuju sore, bukan? Aku ingat ketika petang, aku berlari sekuat tenaga untuk datang kemari, dan mengetahui itu semua sudah terlambat..." kata Ren, dengan wajah tertunduk.


Dia bergidik sesaat, ketika mengingat masa lalu yang mengerikan itu. Dan segera menggeleng cepat.


"Tidak tidak! Aku sudah mendapat kesempatan ini! Aku tidak boleh menyia-nyiakan nya!! Ya! Saat ini dan dulu berbeda. Saat ini, ada aku disini! Apapun yang terjadi, aku harus bisa mengubah masa depan!!" teriak Ren yakin.


Dengan begitu, dia berjalan pelan, ke arah jendela, membukanya sebelum menarik nafas untuk menghirup udara pagi.


Ada perasaan untuk memberi tahu keluarganya soal ini, tapi Ren pikir itu hanya sia sia. Lagipula, tujuan Ren adalah untuk melindungi keluarga nya, jelas dia tidak ingin melibatkan mereka apa pun yang terjadi.


Jika masih ada kemungkinan untuk berjuang sampai akhir, Ren akan melakukan apapun itu.


"Yahh, yang aku bisa hanya seperti ini saja."