Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 31 - Pengetahuan Adalah Kekuatan!!



Aku berjalan menuju penitipan kereta kuda, dimana biasanya Kurls ada disana sambil membersihkan kereta, atau memberi makan kuda kuda. Bagaimanapun, dia memang pria yang rajin.


"Paman Kurls! Apa kau ada di dalam?" Aku datang ke tempat itu, tapi tidak menemukan siapapun.


("Apa dia di dalam? Apa yang dia lakukan?") Aku mencoba mengintip sedikit ke dalam kereta.


Kulihat Paman Kurls dan Aina yang sedang tertidur lelap. Bahkan teriakanku barusan tidak cukup untuk membangunkan mereka.


Eh, tunggu! Bagaimana bisa Aina akrab dengan paman Kurls secepat itu?!


"Ah, dia kelelahan? Memang seharusnya kita beristirahat." Aku mengangguk pelan, sambil menaruh kedua bungkusan makanan di kursi sebelah mereka berdua tidur.


Aku melihat Aina dibungkus beberapa perban, karena dia memang awalnya terluka.


Uhh, seharusnya kau tidak perlu sejauh ini, paman Kurls. Jika kau memperban luka luka Aina, itu hanya akan berakhir dengan memperban seluruh tubuh Aina, karena memang lukanya bahkan sudah tidak terhitung.


Tapi melihat pakaian, rambut serta tubuhnya, aku yakin paman Kurls mengurus Aina dengan baik.


Aku yang memandang mereka berdua hanya bisa tersenyum, sampai akhirnya telinga kecil Aina bergerak pelan.


"Ups! Apa aku membangunkannya?" aku sedikit berbisik menyadari itu.


Aku menutupnya dan kembali berjalan jalan di kota Cerida.


Ya, mungkin itu yang terbaik.


"Aku tidak ingin menimbulkan banyak masalah, jadi mungkin lebih baik aku menghindari beberapa hal seperti pemicu flag aneh." Aku berjalan sambil sedikit berfikir, dan juga melihat kanan dan kiri keadaan kota.


Tentu saja aku menggunakan kembali setelan penyamaran ku, karena itu adalah hal wajib dilakukan di sini.


"Tapi, rasanya aku melupakan sesuatu yang penting. Apa itu?" Aku menggumam sambil mengunjungi sebuah kios makanan di pinggir.


Karena tidak ada hal khusus yang harus kulakukan, ada baiknya aku menikmati sebentar kota Cerida ini.


"Bu, jika boleh tahu, apa ini?" Aku sedikit tertarik dengan jajanan mirip bakso yang ditusuk. Itu tampak enak.


"Ah, kamu belum tahu makanan ini? Ini adalah meatball. Makanan yang enak. Walaupun bukan makanan khas kota Cerida, tapi aku bisa membuatnya dengan rasa yang mirip lho! Apa kau mau satu?" Cerita ibu penjual itu.


Aku terkejut, karena aku mendengar sebuah kata yang tidak asing dengan itu. Meatball. Kalau tidak salah, itu bakso? Dan kenapa namanya sama? Itu membuatku bingung.


"Ah, ya. Tolong beri aku dua tusuk!" Aku segera menyambutnya.


"Ya, silakan." Dia memberiku 2 tusuk makanan bernama "meatball" itu, sementara aku memberinya 2 perunggu. Itu adalah harga yang tepat untuk ini.


Untuk masing masing 1 perunggu, itu adalah makanan yang cocok. Ukurannya pas di mulut, dan rasa bakso nya juga enak. Ibu ini memang koki yang hebat!


Tapi sayang, makanan ini sejatinya adalah bakso. Jika ingin ditusuk, akan lebih enak jika ini dibakar sedikit, dan diberi kecap atau beberap saus.


Tapi ini hanya bulatan biasa yang ditusuk.


"Bu. Kalau boleh tahu, dari mana makanan ini berasal? Aku ingin mencari rasa aslinya." Aku mencoba mencari informasi.


Mungkin aku bisa memakan bakso berkuah disana.


"Oh ya! Kau petualang, ya? Apa kau akan pergi ke beberapa tempat?" Tanyanya.


Heh? Oh ya! Aku seorang petualang sekarang.


"Yahh, aku merencanakan beberapa hal di masa depan. Mungkin salah satunya itu." Aku tersenyum sedikit, walau itu tidak akan terlihat karena masker ku.


"Hmm itu bagus. Makanan ini berasal dari kota Soatie di kerajaan Aentiah. Dan yang paling menarik, hidangan di sini berasal dari pemikiran anak pemimpin kota nya sendiri, nona Claire. Dia sangat pintar! Walau masih berumur 7 tahun, tapi dia sudah bisa memikirkan makanan ini sendiri!" Jelasnya sambil berseri seri.


"Oh ya! Mereka menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Afsel, dan katanya, bahan baku Meatball ini berasal dari sana, Lo!" Sambungnya.


("Hmm sudah dapat dipastikan bahwa anak pemimpin kota Soatie, seorang Reinkarnator. Dia membawa pengetahuan masa lalunya, kah?") Aku paham sedikit situasinya.


"Yahh, sepertinya aku harus merencanakan ulang rute bepergian ku. Dan mungkin aku akan mengunjunginya." Aku mengucapkan salam, sebelum pergi meninggalkan toko itu. Dan sekarang, aku mendapat informasi baru. Dan aku ingat hal penting yang aku lupakan.


Aku sedikit yakin pencipta bakso dunia ini pasti suka memasak.


"Kerajaan Aentiah, kah? Sepertinya tidak masalah bahwa aku menuju kesana. Kerajaan itu terbuka untuk semua orang, bahkan menjadi kerajaan terbesar." Aku mengangguk sambil menuju guild.


Kerajaan Aentiah, adalah kerajaan yang dulunya tidak terlalu besar. Tapi, beberapa kerajaan lain bergabung setelah melihat kemajuan ekonomi kerajaan Aentiah. Dengan kata lain, mereka tidak ingin menunjang perekonomian, dan membebankannya pada kerajaan Aentiah.


Tapi kerajaan Aentiah justru membalikkannya, dan menjadi kerajaan yang makmur. Aku dengar ada kerajaan manusia di dalamnya.


Dan jelas saja, manusia dan ras lainnya diperlakukan sama rata. Ini adalah kerajaan yang pasti akan kudatangi nanti.


Sedangkan kerajaan Afsel, tidak jauh berbeda dengan kerajaan Aentiah. Hanya saja, unsur kesama rataan tidak ada di Kerajaan ini.


Karena pada dasarnya kerajaan ini adalah kerajaan perdagangan, jelas uang adalah hak yang penting disana.


Singkatnya, jika kau kaya, kau punya apapun di sana.


Sebuah prinsip yang nyaman bagiku, mungkin.


Oh ya. Aku dengar, kerajaan ini adalah kerajaan yang berbentuk kepulauan, dengan berbagai macam hewan laut yang dapat dimakan.


Selain itu, ada banyak peternakan disini. Jadi mereka bisa mengirim daging dan beberapa ikan ke Negera lain.


Oleh karena itu, kerajaan ini terkenal sebagai objek wisata.


Ditambah dengan posisinya yang strategis, kerajaan ini menjadi kerajaan yang hidup dengan perdagangan, kota yang ramai, serta keindahan alamnya.


Mungkin mereka bisa sebesar Aentiah, tapi aku tidak yakin untuk bisa menyamainya.


Kriieeet!


Suara khas pintu itu terdengar ketika aku membuka pintu, masuk ke dalam Guild petualang kota Cerida ini.


"Permisi, Cathy. Apa sudah selesai?" Aku masuk dan segera menghubungi resepsionis.


Dia tersenyum, lalu mengundangku masuk.


Uwahhh, aku tidak menyangka akan dibawa masuk kemari. Aku dibawa ke ruangan Guild master, yang merupakan tempat sakral bagi para Adventurer.


"Silakan tunggu disini. Guild master akan menemui mu langsung sekarang." Katanya sambil menutup pintu.


Aku melihat sekeliling. Sebuah ruangan tunggu yang nyaman, beserta dengan teh dan beberapa manisan yang terlihat enak.


Sebuah cara menjamu yang cukup mengesankan. Aku memujinya karena menyediakan teh disini.


"Baiklah. Seperti apa Guild Master ini?" Aku agak menantikannya.


Aku berharap bahwa dia adalah orang yang mampu berpikir, setidaknya seperti paman Childe. Agak sulit jika aku harus berhadapan dengan orang orang otak otot.


"Maaf sudah menunggu!" Suara lembut dan anggun terdengar ketika pintu terbuka.


Aku hanya bisa ternganga ketika melihat sosok di baliknya. Walau begitu, itu tidak akan terlihat karena mulutku tertutup, bukan?


"Uhm, ini mengejutkan." Aku secara spontan mengatakan pikiranku.


"Kenapa?"


"Aku tidak menyangka guild master kota Cerida ini adalah perempuan. Sangat mengejutkan." Ya. Aku mengatur ulang sifat ku. Bagaimana? Luar biasa, bukan?


"Haha! Kau sangat jujur ya! Tapi seperti itulah petualang sejati. Aku sudah mendengar nya, lho! Kau bergabung ke guild kota ini di 2 tahun lalu. Dan kamu memberikan hasil yang besar, tapi hanya datang beberapa bulan sekali." Dia duduk di depanku, menyilangkan kakinya.


"Dan sekarang, dia sudah melampaui peringkat B dengan mudah. Apa ini?" Dia bertanya pelan sambil memakan camilan manis dengan santai.


"Cukup mengerikan juga, kau mengetahui itu semua." Aku menatapnya tajam.