
Kami segera sampai di depan gerbang Dungeon rank B itu. Dan tentu saja, penjaga yang berada di sana masih sama. Dia sepertinya mengenali Suzu, karena raut mukanya langsung berubah seketika.
Dia seperti nya akan mengatakan sesuatu, tapi aku langsung segera memotongnya.
"Pak penjaga, kemari sebentar." Aku mengambilnya menjauh, lalu menunjukkan kartu Adventurer rank A milikku. Penjaga itu dengan segera bergetar.
Pasti mudah bagiku untuk masuk ke Dungeon Rank-B seperti ini.
"Ma-maafkan saya, tuan Nier. Saya tidak mengetahui bahwa itu anda. Kalau begitu, semua orang pasti aman bersama anda!" Katanya tersenyum
("Cih! Penjilat handal!") Aku dalam hati menggerutu.
"Ayo, Suzu! Sebelum ini menjadi semakin sore!" Aku menarik Suzu untuk segera masuk.
Sebenarnya, aku ingin masuk ke Dungeon Rank-A. Tapi mau bagaimana lagi, keselamatan Suzu adalah yang terpenting.
Walau dia sangat kuat, tapi keadaan di Dungeon bisa berubah sewaktu waktu. Itu sedikit mengerikan.
Kami berjalan bersama. Yang kubawa sekarang adalah pisau Azantium pendek dengan panjang bilah kira kira 35 cm. Tapi jelas Suzu tidak akan tahu perlengkapan ku sebegitu kuat.
Suasana Dungeon cukup sepi, tapi jelas kami tidak boleh lengah. Kebanyak monster yang muncul adalah monster tingkat B, monster jenis hewan dan tanaman. Itu mudah ditangani oleh sihir, atau bahkan dengan sekali potong oleh pisau.
"Agak membosankan, ya Suzu. Exp kita juga tidak bertambah terlalu banyak. Bagaimana jika kita langsung ke ruangan Boss?" Tanyaku padanya. Aku benar-benar bosan disini, tahu!
"Ah, baiklah. Tapi, bagaimana cara ke ruangan Boss? Aku hanya tahu jalan sampai lantai 10 saja." Kata Suzu menunduk.
"Santai saja santai! Mudah menemukan jalan ke ruangan Boss! Tinggal ikuti saja jalan yang paling besar, dan kita akan sampai!" Kataku sambil menunjuk lurus.
Memang biasanya seperti itu. Justru karena itulah Dungeon kesulitan rendah sebaiknya dibersihkan secepat mungkin.
Memang, Dungeon itu sangat luas. Mereka memiliki banyak jalan yang bercabang dan menyesatkan.
Tapi akhirnya cabang hanyalah cabang. Itu hanya untuk memperlama kami menunju lantai selanjutnya. Aku biasanya suka Dungeon yang bercabang banyak, karena jelas akan banyak monster yang muncul.
Tapi kalau Dungeon selemah ini, tidak ada sesuatu yang bisa aku dapat bahkan dengan membunuh ratusan monster disini!
Uhh, apakah aku sudah menjadi seorang maniak pertempuran?
Aku biasanya menjelajah ke jalan lain karena biasanya ada jalan baru yang belum ditemukan dan monster relatif banyak. Tapi disini jauh lebih sepi dari dugaanku!
Dan aku juga mencoba melihat kemampuan Suzu untuk melawan monster.
Tapi setelah aku lihat lagi, kemampuan Suzu benar benar luar biasa. Dia memiliki bakat untuk menjadi penyihir terbaik di dunia. Akan menyebalkan jika bakatnya itu sia sia di kerajaan yang menyedihkan, dengan penguasa bajingan.
Dia sangat baik dalam menganalisa musuh, dan menggunakan serangan yang efektif di sini. Tapi karena kebanyakan monster disini adalah tipe tumbuhan, dia sering menggunakan sihir api.
Aku jadi curiga dengan "Weiss" ini. Apa dia ingin mengeksploitasi Suzu demi kepentingannya?
Sepertinya benar. Aku tidak bisa melihat orang "Weiss" ini dengan penilaian baik, berdasarkan beberapa masalah yang sekarang ada di kota Furyuun.
Dan tentang orang mesum musuh Aina, aku juga belum menemukannya. Apakah dia bangsawan kota ini karena dia mampu mencari hal hal seperti itu?
"Kita sudah sampai!" Panggilan kecil Suzu memecah lamunanku.
"Eh? Ah, benar!" Aku segera memperhatikan sekelilingku. Sial! Aku terlalu fokus memikirkan hal lain, tanpa sadar aku sudah sejauh ini.
"Mau istirahat dahulu?" Aku menawarkan air padanya. Yah, air ini hanya sedikit, yang aku gantung di pinggang. Tujuanku hanya melengkapi penyamaran, karena aku bisa mengambil air sebanyak mungkin dari space magic yang bisa ditinggali.
Tapi sekarang jelas tidak mungkin.
"Terima kasih." Suzu tanpa basa basi menyambar air itu.
"Tapi, Suzu. Kau cukup terampil dalam Tombak, ya?" Aku bingung kenapa dia bisa menggunakan tombak dengan begitu baik ketika statistik STR nya sedikit.
Suzu diam sambil memiringkan kepalanya, lalu mengambil tombaknya.
"Ah, itu karena aku memiliki skill [Spearsmanship]. Jadi aku bisa menguasai tombak sampai tingkat tertentu tergantung level skill ini. Ngomong ngomong, sekarang ini ada di level 2." Jelasnya sambil membentuk 2 jari sambil tersenyum.
Heh? Apa itu? Cheat! Tidak perlu berusaha terlalu keras, dan akan dapat menguasai senjata itu asal levelnya tinggi? Sistem level memang keras, ya?
"Oh ya, Ren. Aku ingat kamu tidak memiliki skill [Swordmanship], kan? Lalu apakah kau hanya mengayunkan pedangmu mengikuti insting?" Tanyanya.
Hmm jelas aku tidak memiliki skill itu. Bahkan aku tidak tahu syarat apa yang harus dipenuhi.
"Ah, yang pertama, kamu harus masuk ke Akademi. Dan di sana, kamu akan diuji untuk menyerang dengan berbagai macam senjata. Misal saja, tongkat sihir dan pedang."
"Lalu, ketika serangan ku memberikan damage sampai batas tertentu, kamu bisa mendapat job, beserta skill khususnya.
"Seringnya, setiap orang hanya bisa mendapat 1 job, seperti Mage, Swordman, Marksman, bahkan Tank. Tapi ada juga kondisi orang bisa menggunakan 2 atau 3 senjata! Dan tidak ada yang lebih dari itu." Penjelasan Suzu mudah diakal.
Tapi, Akademi kah? Aku harus masuk dan menjalani tes, bukan? Sedikit sulit dan sedikit mudah. Ketika di Akademi, aku memperlukan pengakuan, dan itu tidak didapat dengan mudah.
Dan yang menyenangkan adalah bisa mendapat masing masing skill itu. Dari yang kudengar, skill itu bisa menggandakan kemampuan pemiliknya.
Jika itu dikalikan dengan variabel awal, maka semakin tinggi variabel itu, maka hasilnya juga akan semakin besar!
Dan lagi, aku juga sudah menguasai hampir seluruh senjata, mulai dari sihir sampai cambuk sekalipun, senjata paling langka digunakan di dunia ini.
Ditambah dengan bantuan sistem-chi, aku yakin sistem-chi akan dengan mudah memberikan skill itu padaku.
Ah, ngomong ngomong, sistem-chi adalah panggilan baruku pada sistem dunia ini. Karena dia sering ngambek dan perilakunya yang aneh mengingatkannya pada adikku, Yurichi.
"Ren?" Aku terkejut ketika sebuah suara kecil memanggilku.
"Ah, ya. Mendapatkannya pasti sulit." Aku menjawab tidak karuan.
"Tidak. Aku yakin kamu bisa mendapatkan 2, aku lihat kau mahir menggunakan pedang, dan kini kamu menggunakan pisau!" Katanya. Kini dia bersemangat.
"Ah, kau benar. Kalau begitu, mari kita hajar boss lantai itu!" Aku mengangkat tangan, bersorak bersama Suzu.
Aku membuka pintu lantai boss, dan itu terlihat menunggu kami berdua sampai masuk. Bentuknya pohon, dengan banyak sulur yang menjalar di sekelilingnya.
Mungkin disebut Trent. Itu jelas monster yang lemah terhadap api.
"Baiklah Suzu. Kamu akan merapal mantra yang kuat, dan kita akan mengahabisinya dalam sekali serang. Gunakan sihir api, aku akan membukakan jalan untukmu." Jelasku memberikan komando. Suzu mengangguk tajam.
Aku berlari menuju Trent itu. Trent itu berteriak keras, menyerangku menggunakan sulur sulur yang siap melilitku. Tapi itu semua hanyalah tanaman. Tidak ada gunanya melawan Azantium.
Aku menghancurkan satu persatu akar yang datang, dan dengan cepat mengambil inisiatif lain.
Regenerasi nya sangat cepat. Itu menyebalkan. Tapi aku sudah punya rencana lain.
Sangat menyebalkan karena monster ini benar benar tidak bisa diam dengan tentakel, hmm menyebut tentakel agak aneh. Baiklah. Dengan sulur tanaman nya yang sangat banyak.
Itu berputar putar seperti ingin menangkap ku dan terus menghujaniku dengan pukulan pukulan yang hanya menghantam lantai Dungeon.
Tapi, itu tetaplah Monster yang tidak memiliki kecerdasan.
Monster di dunia ini selalu mengarah pada orang yang memberikan damage terbesar. Itu sangat membantu saat mengalihkan perhatian.
Akar akar itu menyatu, membentuk 2 buah tembok besar, dan berusaha untuk mengapitku dengan cepat.
"Maaf saja, tapi aku sudah pernah melawan sesuatu yang lebih keras dari ini!" Aku mengingat pertarungan ku dengan Suzu. Kalau dibandingkan, ini hanya secuil dari pertarungan itu.
Aku berhasil menghancurkan kedua tembok tanaman, dengan gerakan cepat dari belatiku terhadap tembok itu, lalu segera berlari mengebor ke tengah tubuhnya!
Monster itu kini memiliki lubang menganga di tengah tubuhnya.
Bahkan jika beregenerasi, itu pasti akan membutuhkan waktu lama!
"Suzu! Sekarang!" Aku memberi aba aba pada Suzu, yang segera membakar Trent itu menggunakan [Inferno] miliknya. Itu kesulitan beregenerasi, karena aku sudah membuat luka besar tadi.
Trent itu terbakar, dan kemudian menghilang dengan cepat, berganti dengan item yang berjatuhan.
"Sudah kuduga itu akan menghilang." Teriak Suzu sambil berlari menuju drop item yang ada.
Sepertinya dia sangat senang dengan pertarungan ini. Dan aku? Sangat bosan!
Drop item rank B, aku tidak terlalu membutuhkannya. Karena paling ketika dijual hanya dapat sekitar 10 koin perak. Itu terlalu murah!
"Ayo kita kembali! Sudah hampir sore sekarang!" Aku mengajak Suzu untuk masuk ke lingkaran teleportasi, sedangkan Suzu masih mengumpulkan beberapa item drop.
"Baiklah!" Dia menurut.