
Sudah 4 hari, tapi Ren masih belum menunjukkan tanda tanda akan bangun. Itu membuat semua yang ada disana menjadi khawatir.
Ren memang masih bernafas, tapi detak jantungnya lemah. Dia bahkan belum makan atau minum apapun selama 4 hari ini, membuat kulitnya terlihat semakin buruk.
Tapi hampir setiap orang tetap menunggu dan menemani Ren yang masih tidak sadar itu.
Pada malam hari kelima, Ren akhirnya membuka matanya.
("Langit langit yang berbeda~") batin Ren saat pertama kali membuka matanya.
Dia ingin segera bangun, tapi seluruh badannya benar benar sakit, seperti ditusuk ribuan pisau di seluruh tulang dan sendinya. Akhirnya dia mengurungkan niat untuk menggerakkan tubuhnya, dan hanya mencoba melirik ke sekeliling.
("Mereka semua?") Ren sedikit bingung ketika melihat orang orang yang ada di sekitarnya.
Suzu, Edna, Thui, Aina, bahkan Kurls juga menunggu Ren, dengan posisi tidur sambil duduk setengah sadar dari Kurls.
("Begitukah? Aku ada di Furyuun, ya?") Ren bertanya dalam hati sambil menarik nafas. Dia menatap langit langit, tapi setelah itu dia menutup matanya.
Beberapa saat kemudian, dia menangis.
Mengingat apa yang terjadi di Ronia, mengingat bahwa dia tidak bisa apa apa, mengingat bahwa dia akan bertemu Suzy dan Aina.
Mengingat dia melarikan diri.
("Kalau begini, mana mungkin aku punya muka untuk bertemu mereka semua?!!") teriak Ren dalam hati.
Dia mencoba untuk mengaktifkan sihir air, tapi itu tidak terjadi. Seperti ada sesuatu yang mengikat dirinya, membatalkan proses pembuatan sihirnya.
("Aku benar benar tidak bisa menggunakan sihir lagi?") Ren mengambil kesimpulan singkat.
Dia berpikir bahwa kemampuan sihirnya juga sudah disegel bersamaan dengan kemampuan terkutuk miliknya. Padahal, yang disegel Kei hanyalah kemampuan Ren untuk mengendalikan elemen elemen alam, tapi kekuatan sihirnya tetap ada.
Tapi karena Ren tidak berpikir jernih sekarang, dia berpikir bahwa Kei mengembalikannya kembali menjadi manusia normal, tanpa sihir atau sesuatu yang mengerikan.
("Aku harus menjauh dari mereka semua. Jika aku ingin mereka hidup tenang, jika aku ingin mereka hidup bahagia. Aku harus pergi dari kehidupan mereka.") pikir Ren sambil sedikit tersenyum, menatap langit langit dengan tatapan kosong.
Itu susah menjadi keputusan Ren.
Dia akan merubah kepribadianya. Dia akan menunjukkan bahwa dia baik baik saja di hadapan keluarganya, agar dia bisa pergi dan menjauh untuk sementara.
***
"Ren!!!" Suzu berteriak senang ketika melihat Ren sudah bangun keesokan harinya. Dia membantunya duduk, agar dia bisa minum atau makan.
Keadaan seketika menjadi ricuh, ketika berita sudah sadarnya Ren tersebar. Banyak orang yang ingin menjenguk Ren sekarang, tapi sekarang dibatasi hanya keluarganya dan walikota.
"Aku sudah tidak apa, Suzu. Kau pasti sudah tahu," Ren mengambil nafas.
"Kau pasti sudah mendengar semuanya dari kak Edna. Maaf, itu semua benar. Aku benar benar bodoh untuk menyerahkan ibu pada Gereja. Dan sampai sekarang aku tidak bisa memaafkan diriku." kata Ren pelan.
Suzu terdiam. Dia tidak bisa membantah apapun.
"Walaupun aku menangis dan meratapi semuanya, itu tidak akan mengubah keadaan. Itu hanya membuat ibu sedih disana." lanjut Ren lagi.
Kurls dan Edna sedikit tersenyum setelah mendengar itu. Mereka berfikir bahwa Ren bisa melewati ini dengan baik.
Padahal hati Ren masih menjerit tersiksa.
"Jadi, apa yang akan anda lakukan sekarang, Ren?" tanya Kurls yang masih menyilangkan tangannya, berdiri dari kejauhan.
"Aku? Aku mungkin akan pergi mengelilingi dunia sendirian setelah ini. Seperti yang pernah Kei katakan, aku terlalu sempit dalam melihat dunia. Aku ingin lebih mengetahui banyak hal tentang dunia ini. Apalagi, aku masih 12 tahun di sini,"
"Aku akan kembali ke Furyuun, sekitar 2 tahun lagi. Kalian tidak perlu khawatir tentang aku. Aku juga akan mengirim surat beberapa bulan sekali." lanjut Ren.
Semua yang ada di sana terlihat bingung, kecuali Edna. Dia sepertinya sudah menduga ini.
"Lalu, apa yang akan kau katakan pada yang lainnya? Yang lainnya belum tentu mengizinkanmu, loh!" kini Rice masuk pembicaraan.
"Seperti aku akan pergi mengendap ngendap begitu saja. Aku tidak akan seperti itu! Aku akan menetap di sini, mungkin untuk satu bulan. Dan juga, tubuhku sekarang bahkan belum bisa digerakkan. Dengan jangka waktu itu, aku pasti bisa meyakinkan meraka." kata Ren sambil mengedipkan satu matanya.
Ruangan itu seketika dipenuhi tawa kecil dari tingkah laku Ren barusan.
"Kau juga sudah besar. 3 tahun lagi, kau akan memasuki usia dewasamu. Berapa lama kamu ingin pergi?" tanya Rice lagi.
"Aku? Aku ingin melihat lihat, dan mungkin akan kembali saat Suzu dan kak Edna ingin masuk ke Akademi Lanjutan. Tentu, aku ingin masuk ke Akademi Lanjutan juga bersama kalian berdua. Kalian tinggal balas pesanku atau apapun, aku akan segera kembali." jawab Ren dengan wajah gembira.
Ren memiliki skill [Poker Face] yang selalu aktif, membuat isi hatinya yang sebenarnya tertutup oleh topeng tebal di mukanya.
Tapi tidak ada yang menyadari itu.
"Ahh, itu benar. Aku juga harus segera masuk ke Akademi juga, ya?" tanggal Edna.
Yang lain hanya tersenyum, begitu juga dengan Kurlsyang mengamati ekspresi Ren. Dan Suzu juga terlihat lebih baik.
"Tapi, Ren," Suzu mulai ragu.
"Apakah kau tidak merasa dendam dengan Gereja? Aku ingat kau sangat membenci mereka. Ditambah dengan insiden ini, aku yakin kau sangat membenci mereka. Apa kau diam diam akan balas dendam pada mereka sendirian? Dan itu tujuanmu pergi sendiri?" tanya Suzu kritis.
Sebenarnya semua orang sedikit menduga itu, tapi tidak ada yang berani mengatakannya. Semua hanya memilih diam daripada merusak suasana.
Mendengar itu, senyum di wajah Ren mengendur, berganti dengan ekspresi gelap di bawah matanya.
"Aku tidak bisa bilang bahwa aku sudah melupakan itu semua dan tidak dendam pada mereka...." Ren berhenti sesaat.
"Tapi aku tidak akan bisa melawan mereka dengan kemampuan seperti ini. Aku sudah melihat bagaimana mengerikan kekuatan dari Seven Knights, bahkan kak Edna sendiri menjadi saksinya~" Ren menoleh ke arah Edna.
Edna mengangguk membenarkan itu.
"Dan aku harus ingat, aku hanyalah manusia. Aku tidak boleh melebihi batasku. Menyelidiki dan melawan itu semua adalah sesuatu yang tabu sepertinya." lanjut Ren lagi.
Semua orang berekspresi pahit, mendengar penjelasan Ren, sampai tiba tiba-
BRAKK!!!
"Aduhh!!! Kenapa kalian mendorong!!!"
"Maafkan aku, ketua!!! Aku penasaran karena tidak bisa mendengar apa yang kak Ren katakan, jadi aku berpikir untuk bisa mendengarnya dengan mendekat...." salah satu anak menjawabnya.
"Ya benar! Tidak adil jika hanya Thui dan Aina yang mendengar semuanya!!" kini yang lain menjawab.
"Kami juga penasaran!!" ada lagu yang bersuara sekarang.
Semua yang ada di ruangan itu saling berpandangan, sebelum akhirnya melirik Ren sebagai langkah terakhirnya.
Ren sedikitnya mengerti, dan sedikit terbatuk.
"Uhum! Apa yang kalian lakukan disini?!!" kata Ren setengah berteriak.
"Hwaa!"
"Kalian tidak boleh lho, menguping seperti itu!" Suzu menyipitkan mata, mencoba menggoda anak anak itu. Tapi, semua anak itu hanya tersenyum seakan tidak ada yang terjadi.
Ren yang melihat itu semua tersenyum. Itu bukan senyum palsu, tapi senyumnya yang nyata.
"Bagaimana mungkin aku bisa mengorbankan mereka semua untuk balas dendam ku? Itu tidak mungkin." bisik Ren pelan, yang mungkin tidak akan terdengar siapapun.
"Ren? Kau bilang sesuatu?" telinga Suzu yang seorang elf bisa mendengarnya karena memang dia yang terdekat.
Ren sedikit terkejut, tapi hanya tersenyum mengejek.
"Tidak ada. Ya. Tidak ada." jawabnya.