
"Ya. Aku memiliki mimpi yang sangat mengerikan. Saking mengerikan nya, aku kira aku bisa mati ketakutan karena itu." kata Ren, sambil tersenyum lembut.
Liu Xiu adalah nama seorang Adventurer di Afsel. Sosok yang melarikan diri setelah beberapa pertarungan yang menghancurkan hatinya, dan mengubah namanya sendiri, berharap bisa menebus dosa nya.
Dan sekarang, Liu Xiu menjadi dirinya yang dulu, Ren.
Ren Larvest, seorang manusia yang bisa menggunakan sihir dan pekerja keras, serta memiliki banyak mimpi dalam hidup nya. Seorang Reinkarnator, yang sejatinya gelap dan datar.
Tapi setelah bereinkarnasi, orang itu menjadi benar benar bersemangat, dan berpikir secara rasional. Sellau bangkit jika ada masalah, dan tidak melarikan diri, atau menyembunyikan diri.
Itulah sosok Liu Xiu yang sebenarnya.
Syila yang mendengar itu hanya tertawa kecil, dan menyentuh dahi Ren.
"Aku penasaran, apa yang kau pikirkan di dalam sini hingga mendapat mimpi yang seperti itu." kata Syila, sambil tersenyum. Dia juga mengelus pelan dahi Ren dengan lembut.
Tapi saat dia menyadari bahwa dia terlalu dekat dengan Ren, wajah nya segera memerah, dan menarik wajah nya dengan cepat.
"Yahh, itu.... Kalau kau benar benar takut seperti itu, mungkin itu adalah mimpi yang benar benar menakutkan!" kata Syila sambil membuang muka nya, mengalihkan perhatian cepat.
Ren sedikit bingung awalnya, tapi dia sedikit tertawa, melihat tingkah laku Syila.
("Dari mana pun aku melihatnya, dia memang Syila, kah?") tanya Ren dalam hati.
"Yahh, jika kau bilang seperti itu, itu memang benar. Aku hampir tidak kuat hanya melihat dalam mimpi itu. Beberapa kali aku hampir mati, tidak. Aku memang susah mati disana." cerita Ren dengan tawa menyakitkan.
"Mou.... Kau tidak mungkin mati! Kalau begitu, dimana aku? Aku akan melindungi mu! Kalau kau mati, aku yang harus mati lebih dulu untuk melindungi mu!" kata Syila dengan serius.
Walau itu terdengar seperti sebuah ocehan anak biasa, tapi Ren bisa tahu bahwa Syila benar benar serius dari pancaran cahaya di mata nya.
Hanya dengan mengetahui itu, Ren dengan segera bergidik.
"Tidak tidak. Kau tidak boleh melakukan itu. Selamatkan dirimu sendiri. Karena jika kau sampai mati, tidak salah lagi aku akan menyalahkan diriku sendiri karena itu."
"Selain itu..." Ren tidak bisa menyelesaikan kata kata nya, melihat ke tempat yang jauh, tepatnya masa lalu.
Dia ingat saat dimana dia mati adalah saat berhadapan dengan monster hitam di Furyuun. Saat itu, dia yakin dia sudah tertusuk oleh serangan monster itu, dan Syila sendiri juga sudah tidak ada.
Sementara itu, Syila yang mendengar nya tidak puas, da hanya cemberut sambil sedikit menggembungkan pipi nya.
"Humm! Itu tidak adil! Dengar, Ren! Jika ada suatu hal, aku tidak akan lari meninggalkan mu! Aku akan bersama mu sampai akhir! Aku berjanji!" teriak Syila degan keras, terlihat ngotot dengan itu.
Ren sedikit terdiam sesaat, dan tertawa. Dia tertawa, karena bertanya tanya, kenapa dia bisa melupakan karakter Syila yang ngotot pada suatu hal.
"Aha ha ha ha! Kenapa kau menjadi sangat agresif hari ini, Syila?" tanya Ren sambil sedikit menggoda Syila.
Syila yang mendengar nya segera sadar, dan wajah nya berubah menjadi merah semerah tomat.
"Ahh! Aku tidak mau dengar itu darimu!! Semua ini salahmu! Dasar Ren jahat! Mesum! Jahil! Tidak peka! Mesum!!" teriak Syila sambil memukul mukul Ren pelan.
"Hey, tunggu! Kau mengatakan aku mesum 2 kali loh! Apa salahku?!!" teriak Ren berpura pura tidak menyadari apa apa.
"Ahhh! Ada apa denganmu hari ini, Ren! Jangan menggoda ku lebih dari ini!!" teriak Syila marah.
Tapi, Ren tahu itu, dan kembali memeluk Syila erat. Syila tidak mengetahui itu akan terjadi, sedikit terkejut. Tapi tidak menolak pelukan Ren. Justru, Syila bisa dibilang membalas pelukan itu.
"Apapun itu, aku benar benar merindukan mu, Syila." kata Ren, membisikkan kata kata itu di telinga Syila.
Jujur saja, Ren merasa tidak ingin waktu waktu yang indah seperti itu berlalu, tapi dia harus tetap tahu bagaimana keadaan sekeliling nya sekarang.
Dia segera bangun, dan sedikit mengajak Syila untuk beranjak pergi. Ren ingin sedikit melihat lihat beberapa tempat yang ada di dunia ini.
Oleh karena itu, Ren berjalan bersama Syila, kembali ke mansion milik keluarga Larvest. Tentu, Ren mengambil kesempatan itu untuk mencari informasi.
Ada banyak tempat dan orang yang sangat dia rindukan, terutama ini adalah kota kelahiran nya. Dan merasa ini semua sudah pernah dia rasakan, tapi Ren tidak merasa aneh, justru terlihat menikmati nya.
Ren sedikit melakukan beberapa penelitian sambil berkeliling dan melihat bersama dengan Syila. Dia akhirnya mendapat beberapa pengetahuan, bahwa ini bukanlah waktu nya dulu.
Dan entah bagaimana, Ren terkirim ke masa lalu. Dan jelas, Ren sangat mengingat hari ini.
Ini bukanlah hari yang spesial, atau apapun itu. Hanya saja, ini adalah salah satu hari yang tenang di antara banyak kekacauan yang akan terjadi selanjutnya. Dengan kata lain, ini adalah awal dari semua cerita.
Ketika Ren akan bekerja keras untuk meneliti monster baru yang muncul, dan ketika Ren akan berangkat ke Furyuun, menjenguk Suzu.
Ketika ada seseorang yang akan menghancurkan kota.
Ren berusaha menganalisis ini, tapi tidak ada yang berubah. Dan sekarang, dia sedang mengurung diri di sebuah gudang kecil, di hutan belakang rumah nya. Dia masih ingat, ini adalah tempat dia melakukan eksperimen dan ruangan pribadi nya.
"Humm. Apa yang terjadi? Apakah ini mimpi, atau nyata? Ini semua benar benar nyata, ketika aku berusaha melukai tubuhku sendiri dan tidak ada yang terjadi. Aku juga tidak bisa bangun setelah melakukan apapun." kata Ren.
Sekarang Ren sendirian, dan sedang menganalisis semua informasi yang berhasil dia dapatkan.
"Humm, bisakah aku menganggap ini semua nyata? Tapi ini semua terlalu bagus untuk menjadi kenyataan." bisik Ren lagi.
Tok tok!
"Humm? Silakan masuk." kata Ren.
Dia melihat orang orang yang mengetuk pintunya, itu Ruly dan Edna. Dan setelah mengingat ingat, Ren ingat bahwa ada kejadian dimana dia akan berlatih bersama dengan mereka berdua.
Dengan begitu, Ren mengikuti arus, dan berlatih bersama mereka berdua.
Untuk apa dia melakukan itu?
Ren sedang meneliti, apakah yang di lakukan Ruly dan Edna sama persis dengan yang mereka lakukan dulu. Dan jika Ren mengubah gerakan, apakah akhir yang di dapat mereka berdua akan berbeda?
Dan hasilnya mengejutkan Ren.
Gerakan mereka berdua sama persis, tapi saat Ren mengubah cara serang nya, gerakan mereka berubah, seperti memang sedang bertarung dengan Ren.
Walau begitu, pertarungan berjalan seperti biasa, dan terlihat lebih mudah bagi Ren untuk menang dari keduanya sekarang. Karena Ren yang sekarang sudah cukup berpengalaman untuk menahan serangan 7 orang dengan tingkat yang sepadan.
Tapi, bukan itu yang menjadi inti dari kesenangan nya.
("Heh? Jika aku melakukan sesuatu yang berbeda, masa depan akan berubah?!!") teriak Ren dalam hati. Dia hampir melompat kegirangan kala itu, tapi menahan diri untuk tidak melakukan nya di hadapan Ruly dan Edna.
Setelah sendiri lagi di dalam gubuk, Ren tidak lagi menahan dirinya.
"Jika setiap yang aku lakukan bisa mengubah masa depan, mungkin aku akan mampu menyelamatkan Syila, menyelamatkan keluarga, dan seluruh kota!" teriak Ren dengan bersemangat, mengangkat tangan nya.
"Aku tidak tahu apakah ini mimpi atau apapun itu. Tapi aku sudah mendambakan kesempatan ini begitu lama. Tidak mungkin aku melepaskannya begitu saja!" lanjutnya.
Ya. Ren benar benar menunggu kesempatan ini sangat lama.
Tapi dia mengurungkan niat nya, karena dia tahu, itu tidak mungkin terjadi.
Kalau ada kesempatan untuk kembali ke masa lalu, dia ingin kembali ke saat saat ini, saat akan terjadi kehancuran di kota.
Mungkin dengan dia berada di sini, kehancuran kota akan tercegah, begitu pikir Ren.
Oleh karena itu, dia segera menyusun rencana. Dia menulis kan semua kejadian esok hari yang dia tahu ke dalam sebuah buku, membuatnya benar benar runtut agar tidak ada satu pun kejadian yang terlewat. Dengan begitu, satu malam tak terasa terlewat dengan cepat.
"Humm. Jika aku ingin membuat perubahan besar, aku harus membuat persimpangan disini. Tapi dengan catatan, aku tidak bisa ke Furyuun, dan pergi ke Dungeon Rank-S disana." bisik Ren.
Dia sedang memandangi peta yang dia tempel di tembok, berisikan kejadian besok yang akan terjadi secara runtut.
"Ahh, aku tidak akan terlalu memikirkan tentang Dungeon. Tapi, aku sedikit bertanya tanya. Apakah pengetahuan ku tentang Dungeon itu akan terhapus jika aku tidak mengalami nya di saat ini?" tanya Ren jatuh dalam kebingungan.
Dungeon Rank-S juga salah satu informasi yang penting bagi Ren. Jika dia melupakan itu, tampaknya dia sedikit tidak rela.
"Apakah aku tetap berangkat dan mengunjungi Dungeon itu saja, dan segera berlari kemari untuk mencegah kehancuran kota?" kata Ren sambil sedikit menggambar di papan tulis.
Dia bermaksud mengambil keduanya, informasi dan menyelamat kan kota.
Tapi dengan segera dia menggeleng cepat.
"Tidak tidak! Itu terlalu serakah untuk ku mengambil keduanya. Aku harus bisa menyelamatkan kota terlebih dahulu, dan aku baru akan memikirkan yang lain nya. Ada baik nya aku fokus disini..." ucap Ren seraya sedikit menepuk pipi nya.
Dia melakukan banyak sekali corat coret di dinding tempat dia menggambar berbagai rencana.
Ren benar benar menggunakan pengetahuan tentang masa lalu nya dengan baik, dan menulis kan semua kemungkinan yang akan terjadi.
Dengan kata lain, Ren yang sekarang sudah siap. Dia benar benar siap untuk mengubah takdir.
"Nahh, apapun itu. Sekarang, maju lah! Aku akan mengubah ini semua, bahkan takdir dan masa depan! Aku tidak akan peduli bahkan ini hanyalah mimpi, atau aku merusak tatanan dunia. Tapi jelas ini hidupku, bukan hidup orang lain. Aku akan berjalan sesuai dengan kehendak ku!" teriak Ren yakin, sambil menatap rencana nya.
"Aku pikir ini seharusnya sempurna, bukan?" tanya Ren pelan, sambil menarik nafas panjang, menyentuh kan dahi nya ke tembok dia menuliskan semua rencana nya.