
"Baiklah. Kita sudah sampai!" Aku menjatuhkan diri ke atas rumput, di bawah pohon yang rindang.
Rasa lelah menjalar ke tubuhku, ketika aku mengingat apa yang telah terjadi.
Aku mengalahkan naga di umur dan level segini. Aku takut ketika memikirkan itu. Itu semua karena sihir.
Walaupun aku tahu bahwa ini karena aku memiliki peningkatan 3 kali lipat, tapi di mata orang lain, aku hanyalah bocah 6 tahun!
Betapa kuatnya kekuatan sihir ini. Kalau dipikir lagi, aku tidak mungkin bisa melakukan itu tanpa sihir.
"Ren?" Suara kecil memanggil ku dari kegelapan. Aku tidak terlalu memikirkannya.
Aku jelas kalah dalam hal kekuatan dari naga itu, jika aku kena serang satu kali saja, aku mati. Tapi, apa yang membuatku menang darinya?
("Ya. Itu hanyalah sihir yang bisa membalikkan segalanya.")
("Kekuatan sihir bisa membuatku membalikkan fakta.")
("Bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.")
("Kesimpulannya, sihir adalah sesuatu yang mendasari seluruh kejadian di dunia ini.")
"Ada apa, Ren?" Seseorang kembali memanggilku. Aku merasa dia sedikit mengganggu ku.
("Jika sihir adalah sesuatu yang mendasari seluruh dunia, sesuatu yang membalikkan segalanya, membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, maka apa artiku? Apa arti diriku tanpa adanya sihir?")
Aku menutup mata dengan tangan kananku, yang dengan cepat ditarik lagi oleh seseorang.
"Ren?! Ada apa?! Sadarlah!" Itu suara yang sama dengan tadi.
("Aku. Tidak memiliki arti jika tidak memiliki sihir. Berarti, manusia yang tidak memiliki sihir di dunia ini tidak memiliki arti? Apakah itu arti manusia bagi dunia ini?") Aku mengubah tangan kiri ku untuk menutup mata.
Sesuatu dalam diriku mulai naik. Entah apa itu, tapi rasanya seperti membakar tubuhku.
("Kalau begitu, bukankah aku...) Lamunanku terhenti.
"Bangun, Ren! Ini tidak lucu!" Wajahku sedikit panas di bagian pipi, tapi yang aneh ada seorang perempuan di depan wajahku.
Wajahnya sedikit khawatir, dan juga ada setitik air mata di sudut matanya.
"Eh? Kenapa? Ini?" Aku berbisik perlahan, melihat ke kanan dan kiri. Aku merasa linglung, seperti kehilangan ingatanku sementara.
"Ren! Kukira. Aku kira terjadi sesuatu dengamu! Huuum! Jangan bermain seperti itu lagi! Aku benar benar khawatir lho!" Seseorang menangis dan memelukku erat.
Angin berhembus pelan, kembali mengingatkanku.
("Benar. Dia Syila.") Aku kembali tersadar ketika melihat kibaran rambut pendek Syila, dari angin yang kembali berhembus seperti meneriakkan serpihan ingatanku.
Aku senang, melihat dia memperhatikanku. Aku juga senang, ketika dia mengkhawatirkan ku.
Hanya saja, aku mengingat hal yang kuanggap "mimpi" tadi.
"Aku bukanlah apa apa tanpa sihir." Akhirnya aku mengatakannya pelan.
Aku tidak mau kehilangan orang yang mengkhawatirkan ku. Tapi aku juga tidak mau mereka menyesal. Lebih baik aku memberitahukannya pada Syila, bahwa aku hanya manusia.
"Hei, Syila." Aku mengelus rambutnya, memintanya bangun.
"Kamu adalah orang yang baik. Selain itu, kamu juga sangat cantik. Tapi, ada yang ingin kukatakan." Aku mencoba untuk ini adalah hal yang tidak terlalu menyakitkan, setidaknya untukku.
Syila hanya menunduk ke bawah, lalu duduk menghadap ku dengan wajah yang masih disembunyikan.
"Kamu tahu, kamu bisa dibilang luar biasa. Dan aku ingin kamu tahu ini sekarang. Aku juga tidak ingin kamu menyesal." Aku menghela nafas.
"Aku hanyalah manusia. Karena itu, lebih baik jangan terlibat denganku lagi. Kamu bisa bilang ke paman Childe bahwa kami menolak pertunangan ini. Aku juga akan membantumu untuk memutuskan hubunganku denganku. Karena itu, lebih ba..."
"Tidak!" Dia memukul dadaku dengan kedua tangannya.
"Aku, aku tidak apa dengan semua ini. Aku juga sudah tahu sejak awal, bahwa kamu adalah manusia. Aku belum pernah bertemu denganmu, Ren. Tapi aku merasa aku sudah pernah bersamamu. Aku merasa," dia berhenti.
"Aku merasa kalau takdirku berada padamu. Selain itu, aku juga merasa nyaman bersamamu, merasa senang ketika bersamamu. Aku tahu ini aneh, karena kita baru saja bertemu tapi, tapi!" Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Aku menyukai mu, Ren!" Dia berteriak, membuatku tersadar. Selama ini, aku hanya mengejar kekuatan. Aku bahkan tidak tahu seberapa mengerikan dunia sihir ini.
Tapi aku melupakan sesuatu yang jelas di depan mataku. Aku melupakan janjiku di masa lalu, untuk memiliki cinta di dalam hatiku.
Haruskah aku merasakan kepedihan gagal dalam memenuhi harapan orang orang sekali lagi? Haruskah aku mengkhianati kepercayaan mereka?
"Oy oy. Kita masih 6 tahun, tahu! Apa kau yakin, itu akan bertahan selama beberapa tahun ke depan?" Tanyaku memundurkan kepalaku sedikit, membuat tubuhku miring karena aku tidak bisa menggerakkan kakiku.
"Ya! A-Aku yakin itu tidak akan hilang! Jika aku bersamamu, itu akan bertambah besar, mungkin." Katanya sambil menutup mulutnya, dan memasang wajah seperti berfikir.
Aku hanya tersenyum mendengar itu. Itu adalah hal yang aku dengar ketika sampai di dunia ini. Aku ingin mendengar suara orang yang menerimaku apa adanya, tanpa memandang rendah diriku.
Orang pertama yang memberikan itu adalah ayahku, ibuku, kakak dan adikku, dengan kata lain, keluargaku. Dan orang kedua sekarang adalah Syila.
"Terima kasih! Terima kasih!" Aku memegang pipinya, rasanya air mata mengalir di pinggir mataku. Dia yang melihat ini menjadi salah tingkah, seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Ah, aku keluar dari karakterku. Sepertinya saatnya membalikkan situasi.
"Ah, baiklah. Kau kena!" Aku berusaha tertawa dengan suara setengah beegetar.
"He? Apa maksudmu?" Dia memiringkan kepalanya.
"Hehe. Itu tadi hanya pura pura saja. Akhirnya kamu yang mengatakannya pertama kali, ya? Bukan aku yang mengatakannya! Kamu yang mengatakan bahwa kamu menyukaiku kan? Apa kau lupa?" Aku mencoba menggodanya.
Ada jeda beberapa saat, sebelum dia meledak dan berubah seperti tomat, melompat mundur sambil memegang kedua pipinya.
Sepertinya dia akan mati karena malu. Aku hanya bisa tertawa melihat ini.
"Sepertinya kamu sudah ingat, ya?" Aku mulai menyapanya. Sambil memegang bahunya.
"Waaaaa! Pergi kamu Ren! Kamu jahat! Kau menjebakku! Jahattt! Dia terus berteriak sambil mengibaskan tangannya, menyuruhku pergi.
"Ahahaha! Kau benar benar mengingatnya ya?" Aku kembali terduduk, menghadap ke atas. Melihat dedaunan yang gugur ditiup angin.
"Kau jahat, Ren! Kau curang!" Syila masih berteriak sambil menutup wajahnya. Yah, ini adalah pemandangan yang baik, jadi tidak akan kuganti sementara. Tapi, ini adalah pemandangan yang ingin aku lindungi.
Akhirnya. Aku menemukan untuk apa aku melatih sihirku. Untuk apa kekuatanku dibutuhkan. Setidaknya, aku sudah menepati salah satu janjiku di masa hidup.
"Lihatlah aku sekarang, Shino. Aku sudah mempelajarinya. Walau sedikit." Aku tersenyum menatap langit.