Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 21 - Latihan



Tok! Aku mendengar suara pintu diketuk. Ini adalah malam hari, dan aku bertanya tanya siapa yang mengetuk pintu.


"Silahkan masuk! Aku sedang tidak melakukan apapun!' aku berteriak cukup keras, sambil terus menulis beberapa berkas.


Ini adalah hasil penelitianku, yang aku bukukan. Aku juga mencatat buku diary, siapa tahu aku bisa membawanya bersamaku saat bertemu Shino di alam sana nanti.


Uhm! Topiknya menjadi berat!


"Uhh Ren maaf kami mengganggu malam malam." Aku menoleh sedikit.


"Kami?" Aku memperhatikan mereka. Lalu, kak Edna melambaikan tangannya ke arahku. Ahh, aku hanya bisa mengangguk.


"Ada apa? Kalian tidak seharusnya kemari. Ini semua hanya akan menambah masalah!" Aku mempermasalahkan kedatangan mereka kali ini.


Sekarang aku sedang berada di hutan belakang kediaman Keluarga Larvest. Tempat ini adalah tempat adanya masalah.


Ah ya. Tepat setelah pertunanganku dengan Syila, aku tidak tahu, ada sedikit masalah yang terjadi.


Ada monster jenis baru yang menyerang kota, tapi yang aneh adalah monster itu menyerang wilayah kami, wilayah keluarga Larvest. Aku sudah mengkonfirmasi ini dengan Childe, tapi dia juga tidak tahu apa apa.


Aku yakin ada seseorang yang menarik benang di belakang semua ini, tapi mereka bermain sangat rapi.


Dan ini bukanlah sesuatu yang bisa diperbuat oleh seseorang, dan ini adalah perbuatan suatu organisasi. Aku sedang menyelidiki itu, dan membuat sebuah rencana untuk mencarinya atas nama "Shinigami".


Inilah kenapa aku membuat sebuah rumah kecil disini, mencoba bergerak secepat mungkin.


Dan itu hanya diketahui oleh orang orang yang tahu bahwa aku adalah "Shinigami". Bahkan ayahku sendiri tidak tahu ini.


"Ah, ya. Tapi kami berpikir tidak baik menyerahkan semuanya padamu. Mungkin setidaknya kami harus membantumu sedikit?" Kak Ruly membuat alasan. Dan dibelakangnya, kak Edna mengangguk cepat.


"Hufft." Aku menghela nafas. Aku tahu perasaan mereka, tapi sangat berbahaya berada di hutan ini. Kita tidak tahu kapan sesuatu akan menyerang.


"Baiklah. Kalau begitu bagaimana jika kita latihan sebentar. Kalian berdua melawanku. Bagaimana?" Aku menawarkan apa yang terlintas di pikiranku tiba tiba.


Mereka terlihat terkejut, lalu seketika tersenyum.


"Ohh, kau pikir kau bisa mengalahkan kami berdua? Kami sudah berkembang cukup jauh, lho!" Kak Ruly menyilangkan kedua tangannya.


"Hum! Aku sudah meningkat jauh dari yang kalian duga!" Kini kak Edna juga ikut ikutan.


"Kalau begitu, kenapa tidak? Aku akan berlari keluar lebih dahulu, dan setelah 10 detik, kalian punya waktu selama mungkin untuk menangkap ku, atau mengalahkanku. Kalian bisa kerahkan semua yang kalian punya, dan aku akan sedikit menahan diri. Aku akan dianggap menang jika berhasil mengalahkan kalian berdua. Bagaimana? Apa itu cukup jelas?" Tanyaku sambil menyiapkan pedang biasa di punggungku.


"Ya! Kami mengerti!" Mereka menjawab dengan semangat dan wajah yang sumringah.


Aku segera melangkah keluar, berlari secepat mungkin melewati hutan, melompat dari beberapa dahan ke dahan lain. Menghindari semak semak atau pohon yang bisa memberikan suara berlebih.


Aku membawa beberapa peralatan ringan, pisau biasa dan pedang biasa. Ini hanya latihan, jadi aku tidak perlu membawa peralatan super rare disini.


"Yahh, ini akan baik untukku, sebagai pengusir rasa bosan." Aku mengangguk pelan, sambil menghitung hingga hitungan ke sepuluh.


Tepat saat itu, aku berhenti bergerak cepat, menyesuaikan detak jantungku selemah mungkin. Aku mulai mengawasi sekitar tanpa membuat suara.


Kapasitas Fehl ku sudah melebihi 100.000, dan aku bisa menggunakan 3/4 nya sekarang. Itu berkat aku yang berlatih seperti akan mati selama ini. Jadi, ini akan mudah bagiku. Tapi, aku tidak bisa lengah begitu saja.


"Baiklah. Detak jantungku tidak akan bisa dideteksi lagi." Aku mulai menunduk, memanjat sebuah pohon untuk mengawasi sekaligus menyamarkan keberadaanku.


Boff!! Aku mendengar suara ledakan kecil dari Utara, tepat arah angin berhembus.


("Kabut? Begitu kah? Apa mereka sudah menemukanku?!") Aku mengamati dalam diam ketika tiba tiba kabut mulai menyelimuti hutan di sekitarku.


("Tidak. Mereka belum menemukanku. Ini adalah sesuatu yang membatasi jarak penglihatan, tapi bagi yang bisa melakukan pendeteksian, ini bukanlah masalah besar. Dan yang bisa melakukan itu kebetulan adalah kak Edna.") Aku mengangguk mengerti.


("Dan pembuat kabut ini pasti kak Ruly. Dia memiliki bakat di elemen air, tapi kurang paham di elemn lainnya. Terlihat jelas bahwa kelembapan kabut ini sangat tinggi.") Aku menyentuh kabut itu pelan, sambil mulai turun.


Ting!!


Aku merasakan pandanganku menjadi seperti hitam putih. Ini adalah tanda dari seseorang yang menggunakan magic pendeteksi.


("Sial! Energi ku masih cukup besar untuk dilacak, ya?") Aku menggerakkan gigi sedikit geram. Aku harus meminimalkan jumlah sihir yang dapat dilacak. Caranya hanya satu. Ya. Hanya aku yang bisa melakukannya.


"Baiklah. [Serenity]!" Aku berbicara pelan sambil menutup mataku, mengaktifkan skill [Serenity]. Ini adalah skill yang aku dapat setelah meneliti garis kematian sewaktu kak Ruly mencoba menenggelamkan ku dulu.


Dengan ini, aku bisa melacak sangat jauh dan sangat detail dari bentuk hingga ukurannya, bahkan bisa melihat secara langsung apa yang mereka lakukan.


Dan karena ini adalah skill yang terbuat dari saat saat tipis kematian, ini akan menghapus seluruh jejak Fehl yang kupunya seketika.


Bisa dibilang, hanya aku yang bisa melakukannya karena hanya aku yang sudah pernah merasakannya.


Tidak, kecuali aku bisa bertemu dengan reinkarnator lain, dan mengajarkan skill ini.


Aku bisa melihat kak Edna yang memegang tanah terkejut, lalu menghubungi kak Ruly yang sedang berlari ke arahku. Kak Ruly mendecakkan lidahnya, mungkin kesal dengan itu.


Tapi aku sepertinya juga agak berlebihan. Seharusnya aku buat ini menjadi lebih seru.


"Mungkin aku harus maju?" Aku hanya bisa mengangguk yakin.


Aku segera meninggalkan skill [Serenity] dengan cepat menerjang maju menuju ke arah kak Edna.


Mungkin ini adalah kecepatan biasa bagiku, tapi ini bukanlah kecepatan manusia biasa! Aku tak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku tetap berari hanya dengan kecepatan ini saja.


Bruuuuk!! Kak Edna menyadari apa yang mendatanginya, dengan cepat membuat tembok es setebal 50 cm yang mengelilinginya, sambil menyiapkan jebakan es.


Aku tidak mundur dengan itu, justru menerjang maju untuk menghancurkan penghalang itu. Aku yakin dia tidak akan memikirkannya.


Tebakanku tepat, membuat kak Edna sedikit terkejut dan mundur selangkah.


Bersamaan dengan itu, sebuah sihir air melayang cepat di belakangku dengan kecepatan tinggi.


Es itu pecah dengan suara nyaring, setelah sepersekian detik jebakan di belakangku aktif, tidak mengenai siapapun. Aku sedikit tersenyum, tapi aku merasa sebuah keberadaan cepat datang dari kananku.


"Kak Ruly, kah? Mari kita lihat apa dia cukup cepat untuk menahan ini?" Aku berbisik pelan ketika bilahku melayang menuju kak Edna.


Traaang!!! Suara dentang berbunyi keras, menandakan serangan ku ditangkis.


"Wahh, kau berhasil, kak Ruly! Selamat!" Aku masih berkutat dengan kak Ruly, yang pedang panjangnya menghalangiku.


"Aku merasa tersanjung!" Dia menyentak, dan seketika tubuhnya menguat.


("Apa?! Sihir buff?!") Aku sedikit terkejut, karena kak Edna bisa menyalurkan sihirnya dengan tepat waktu.


Sekuat apapun aku setelah berkembang 4 tahun ini, tetap tidak bisa menahan itu dengan mudah. Aku hampir menggunakan tangan kiri ku untuk menahan bilah, tapi aku tahu itu berbahaya, jadi aku hanya memiliki pilihan untuk menggeser pedangnya, untuk berdering sepanjang jalan dan jatuh memotong tanah.


Aku tak ada pilihan selain mundur sedikit, mencoba mengatur ulang strategi.


"Baiklah jika itu maumu, aku akan melayani mu dulu!" Aku berteriak, menarik kak Ruly untuk satu lawan satu.


Aku bergerak cepat di antara hutan, sambil terus menghadap samping menonton kak Ruly yang mengejarku.


Srett! Itu mencoba mengarahkan pedang panjangnya ke arah tubuhku.


("Itu cepat!") Aku membatin pelan.


("Tapi tidak cukup cepat untuk membangunkan [Critical Perception] ku ya?") Aku sudah jarang mendengar skill itu menderingkan bahaya bagiku.


Aku hanya menangkis, tapi tetap. Kekuatannya berbeda! Aku terpaksa melemparkan beberapa pisau untuk melepaskan diri.


Suasana sunyi. Aku tidak bisa menggunakan [Serenity] karena posisiku sudha diketahui. Dan kak Edna terus menerus memantau posisiku. Aku juga yakin, kak Ruly sudah berjaga di sekitar sini untuk menyerangku.


Aku berada di tengah. Aku tahu dimana kak Edna, tapi aku agak ragu dimana kak Ruly. Tapi.


"Kena kau!" Seseorang datang dari atas, salah satu titik buta terbaik. Tapi sayang, semua titik buta sudah tidak ada gunanya untukku.


"Bagus!" Aku sudah menunggu ini. Aku menunggu kak Ruly keluar menyerangku, dan aku akan mengambil kak Edna lebih dulu dengan cepat, dan menyelesaikan ini.


Karena pada saat menyerangku, Kak Ruly akan menurunkan penjagaannya pada kak Edna. Otomatis aku harus bisa bergerak secepat mungkin untuk mengakhir mereka berdua bersamaan.


Sringg! Sebuah tanda selesai, dimana kak Edna dan kak Ruly jatuh bersamaan, mengeluh pelan.


"Ughh. Aku kira aku sudah bisa mendapatkanmu, Ren!" Kak Ruly mengelus pundaknya yang kupukul pelan ketika aku menjatuhkannya.


"Ya! Aku kira kami berhasil kali ini, tapi ternyata tidak." Kak Edna sedikit sedih.


"Tidak tidak! Aku benar benar terpojok kali ini. Kerja sama kalian luar biasa. Bisa dibilang, kalian setara dengan ksatria kerajaan!" Aku mengangguk sambil membereskan barang barang ku.


"Jujur saja, kalian bahkan bisa mengalahkan ayah atau paman Childe jika kalian bersama, dan kalian melawan salah satu dari mereka." aku membersihkan tubuhku lagi.


"Tapi dengan catatan, kalian tetap bersama, dan bekerja sama seperti tadi!" aku menepuk tangan sekali, untuk mengembalikan fokus mereka.


"Benarkah?" Kini kak Edna kembali semangat.


"Umm! Tapi, bagaimana kalau kita kembali terlebih dahulu? Udara mulai mendingin." Aku mencoba membantu mereka mengusir kabut dengan sihir angin ringan.


"Ah. Kau benar. Sepertinya kita harus segera kembali. Tapi jika seperti ini, aku pasti yakin, Edna bisa berhasil dalam ujiannya." Kata kak Ruly sambil menunjukkan ibu jarinya pada Edna. Yang baru sjaa berdiri.


"A-ah, tidak. Itu karena kalian semua yang melatihku!" Kak Edna menggeleng gelengkan kepalanya.


"Oh, ya. Sebentar lagi ujian kelulusan, ya? Bagaimana dengan itu?" Aku bertanya pada kak Ruly.


"Yahhh, itu akan dilaksanakan saat kau pergi, jadi kau tidak akan bisa melihat kemajuan muridmu, Ren! Bukankah itu sedikit menyakitkan?" Tanyanya sambil menutup mata.


"Ah, ya. Tapi, berjuanglah, kak Edna!" Aku berusaha memberikan kata kata baik sebagai gurunya.


"Umn!" Dia tersenyum lebar, sambil memiringkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, kami berjalan kembali sambil tertawa bersama.