Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 4: Interlude 1 - Hari di Akademi



Ren masuk ke kelas dengan santai, dan mengamati sekeliling. Tentu, untuk mencari pengguna sihir, sekaligus mengamati Edna yang lama kelamaan semakin terganggu. Mungkin Edna sudah menduga apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Baiklah. Karena an- kamu ingin mengikuti kelas ini, tolong perkenalkan namamu terlebih dahulu." pengajar laki laki itu memberi kesempatan Ren.


Dia bahkan hampir memanggil Ren dengan sebutan Anda!


"Humm. Namamu Liu Xiu. Aku adalah anak dari Kerajaan Afsel,"


"Aku berada di sini untuk sebuah acara dari orang tuaku, dan sekarang kami sedang mengunjungi Furyuun dan mampir ke Akademi Furyuun. Menurut kabar, penyihir yang berada di sini merupakan penyihir terbaik yang pernah ada, bukan?" Ren melakukan aktingnya dengan sempurna.


Edna mendelik mendengar itu, sedangkan pengajar di depan kelas terlihat matanya memutih seperti akan pingsan.


"Wahh!! Orang luar!!"


"Selain itu, dia dari Afsel loh!!"


"Coba dengar nama imutnya, Liu Xiu! Bukankah itu sangat cantik?!! Ahh, aku juga ingin nama nama seperti itu!!!"


Keadaan segera menjadi ricuh, dengan orang orang yang saling membicarakan tentang Ren atau Kerajaan Afsel.


Sementara itu, Ren masih menelisik ke seluruh ruangan, sampai dia bertatapan dengan Reine yang berusaha menghindari tatapan Ren.


Ren segera sadar dan mengirimkan senyum sedikit saat Reine menatapnya.


"Liu Xiu! Duduklah di sini! Kita akan mendapat pemandangan terbaik untuk menonton Edna yang akan menjelaskan tentang bagian ini!" salah seorang anak laki laki melambaikan tangannya.


Sepertinya dia sedikit lebih tua dari Ren, dengan seragam Akademi dan rambut yang tertata rapi ke samping.


"Humm? Edna? Menjelaskan sesuatu?"


"Tidakk!!" Edna memekik pelan ketika Ren meliriknya dengan mata menyipit dan bibir sedikit terangkat.


"Baiklah. Apa yang akan dia jelaskan?" tanya Ren berusaha menutup mulutnya.


"Edna akan menjelaskan tentang konsep sihir cahaya yang tidak hanya dapat digunakan untuk pemulihan, tapi juga bisa digunakan untuk menyerang! Bukankah itu sangat luar biasa?" anak laki laki itu terlihat antusias.


Ren melirik Edna lagi, sambil menutup mulutnya dan tubuhnya yang bergetar.


"Sudahlah. Aku ingin mati...." Edna menangis pelan ketika melihat Ren mati matian menahan tawanya. Dia merosot lemas di meja nya ketika itu terjadi.


"Baiklah aku akan memperhatikan!" kata Ren dengan antusias.


Dengan begitu, Ren menjadi murid sehari di Akademi itu. Dan entah kenapa kebetulan hari itu mereka sedang mempelajari Sihir cahaya, yang merupakan keahlian dari Edna. Itu membuat Edna ditunjuk untuk menjelaskan unsur unsur tentang Sihir Cahaya.


Ren sedikit tertawa ketika melihat Edna yang menjelaskan apa yang dia jelaskan, tapi menggunakan bahasanya. Sedangkan Edna terlihat malu ketika itu semua terjadi.


Tidak hanya itu, Ren juga sedikit mengawasi Reine.


("Dia memiliki bakat yang bagus. Mungkin dia berbakat menjadi alchemist, dan memiliki kemampuan yang mirip dengan Yuna. Kalau bisa, aku ingin memiliki orang sepertinya di sekitar yang lain.")


Ren mempertimbangkan beberapa hal dan melihat ke sekeliling.


("Sepertinya dia memiliki sesuatu hal yang kurang baik dalam kehidupan nya. Aku sedikit mengerti apa itu.") pikir Ren lagi.


Saat itulah, Edna yang sedang mengajar tentang cahaya, dia mendapat beberapa pertanyaan.


Banyak pertanyaan hanya tentang bagaimana lingkaran sihir itu terbentuk, dan perasaan sihir mengalir, ditambah dengan pertanyaan tentang kelebihan dan kekurangan elemen cahaya.


"A-anu..." Reine mengangkat tangan dengan ragu ragu.


"Silakan, Reine. Jangan malu malu dengan itu." jawab Edna. Sekarang, kepercayaan dirinya sudah mulai tinggi karena telah mampu untuk menjawab banyak pertanyaan dari murid murid.


"Jika cahaya dan panas adalah sesuatu yang dibutuhkan dalam sihir cahaya, maka apakah bisa kita menggantinya dengan hal lain selain sihir?" tanya Reine.


Itu membuat kelas tiba tiba menjadi hening, dan semua menatap Reine dengan wajah bingung.


("Wahh, pertanyaan yang menariik. Dari sini aku juga bisa menyimpulkan kepribadian nya.") Ren tersenyum dalam lamunannya. Ketika dia menyadari-


("Ren tolong aku!!" )


Edna menatap Ren dengan wajah menyedihkan dengan mata yang mengucapkan hal itu. Ren hampir tertawa melihat itu, tapi itu berhasil dia tahan.


Ren menghela nafas, mengisyaratkan bahwa dia mengatakan "mau bagaimana lagi" dan dia pun mulai berjalan maju.


"Sihir cahaya memang bisa membuat ccahaya dan panas ergantung dari pengindraan kita," Ren mulai berdiri.


"Tapi, apakah ada benda untuk membuat cahaya dan panas tanpa menggunakan sihir? Itu jelas ada! Dari awal, contohnya saja, ketika membuat api, kita menghasilkan panas dan cahaya. Dan bagaimana api itu dihasilkan?" perhatian mulai terarahkan ke Ren yang berjalan di lorong kelas.


"Api dihasilkan dari banyak hal, percikan baru, sambaran listrik, gesekan kayu, dan lain sebagainya. Jadi kita tidak harus bergantung pada sihir untuk melakukan sesuatu." jelas Ren sambil berhenti berjalan, dan berbalik menepuk pundak Edna.


Edna terkejut, dan tersenyum dengan wajah yang terlihat akan menangis dengan mengatakan Terima kasih.


"Aku ada perlu sesuatu, nanti kita bisa bertemu dengan Suzu, bukan? Ada hal penting yang harus aku katakan." bisik Ren di telinga Edna. Tentu, Ren melakukannya secara diam diam karena mereka sekarang berada di depan kelas.


"Liu Xiu! Bagaimana mungkin kau bisa tahu itu semua? Apa kau sebenarnya jenius dalam sihir?" tanya anak yang tadi mengajak Ren.


"Aha ha ha! Tidak tidak! Aku hanya sedikit mengerti tentang ilmu alkimia, karena ada beberapa penelitian tentang hal-hal seperti itu di Kerajaan Afsel, jadi aku tidak asing dengan itu. Padahal aku sendiri tidak begitu bagus dalam hal sihir." Ren menggerakkan tangannya sambil sedikit memiringkan kepalanya.


Selain itu, Reine sekarang menatap Ren dengan mata berbinar, seperti ingin menanyakan sesuatu.


Kelas pun dilanjutkan, dengan keributan yang semakin bertambah dalam berbagai cara.


***


"Ada apa, Ren? Sampai mengumpulkan kita seperti ini? Apakah ada sesuatu yang gawat terjadi?"


"Ya. Dan lagi, kau bilang ini penting."


Mereka berdua adalah Suzu dan Edna, yang sedang duduk di sebuah kursi dengan meja bundar, cukup untuk orang tiga disana.


Ren, Edna, dan Suzu sedang berkumpul sekarang, karena Ren memintanya tadi.


"Yahh, tidak ada hal gawat sebenarnya." kata Ren membuka, yang segera diikuti dengan nafas lega dari dua yang lainnya.


"Aku hanya ingin menceritakan pengalaman ketika aku mampir ke kelas kak Edna, ada sesuatu yang benar benar menarik perhatianku. Dan juga, itu menyenangkan." kata Ren sambil tersenyum.


Dia melepas masker di mulutnya sekarang, membuat ekspresi nya terlihat jelas.


"Ugh tolong lupakan itu, Ren. Maafkan aku jika penjelasan tentang sihir itu masih banyak yang salah..." kata Edna sambil merosot ke meja.


Ren tertawa melihat itu, sedangkan Suzu membayangkan jika itu terjadi padanya, lalu melirik ke arah Ren. Seketika dia menggelengkan kepalanya cepat, sambil menepuk wajahnya yang memerah.


"Yahh, jangan terlalu fokus dengan itu. Aku tidak mengumpulkan kalian untuk hal seperti itu." kata Ren.


"Kau tahu tadi orang yang pertanyaan nya aku jawab? Kalau tidak salah, namanya Reine." lanjutnya.


Edna dan Suzu saling berpandangan, dan mengerutkan kening.


"Ya, aku tahu. Dia adalah orang yang tidak terlalu berkumpul dengan orang yang lain, seperti kebanyakan pendiam yang lainnya. Tapi karena dia banyak bertanya hal hal yang aneh, akhirnya teman temannya juga menganggapnya aneh." jelas Suzu.


Edna juga mengangguk, membenarkan pernyataan Suzu.


"Humm, padahal dia sangat berbakat loh! Dia mungkin tidak terlalu bagus dalam sihir menyerang, tapi dia memiliki penguasaan sihir yang sangat bagus. Kau pasti bisa merasakan sihir pemindai yang selalu dia aktifkan." cerita Ren.


"Hehhh?! Ternyata itu bukan hanya perasaanku?! Aku kira ada orang yang mengawasi ku saat di kelas, tapi ternyata itu sihir miliknya?" kata Edna sedikit cemberut.


"T-tunggu tunggu tunggu!! Aku memaklumi jika Ren bisa merasakannya, tapi bahkan kak Edna juga? Apakah hanya aku satu satunya yang tidak sadar tentang itu disini?!!" sela Suzu setengah berteriak.


"Mungkin karena penguasaan sihirmu kurang?" tanya Ren.


"Mungkin juga karena Suzu bisa mengendalikan kelima elemen, membuat kepekaan terhadap sihir berkurang?" tanya Edna menimpali.


Kini, Suzu tidak bisa berkata kata selain menatap yang lain dengan wajah bingung.


("Ren dan kak Edna benar benar berubah! Apakah ini yang dikatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik? Apakah aku juga harus mencari pengalaman agar bisa menjadi lebih kuat?") tanya Suzu dalam hati.


"Kesampingkan hal itu. Aku ingin memberi tahu kan bahwa anak itu memiliki bakat Alchemist yang bagus. Ada beberapa anak yang berbakat di Akademi ini, tapi sejauh ini dia yang menurutku paling berbakat. Akan sia sia jika bakatnya tidak tersalurkan dengan benar,"


"Maka aku mengusulkan untuk membentuk kelompok kecil seperti ekstrakurikuler yang berhubungan dengan Alchemist. Aku ingin kalian sebagai pengurus nya dan memasukkan anak anak yang sudah aku beri liat disini." lanjut Ren.


Ren memberikan kertas, yang di dalamnya berisi nama nama orang yang ada di Akademi.


Menurut Ren, anak anak itu berbakat dalam hal Alkimia, membuat mereka dalam satu grup merupakan hal yang bagus.


Tapi mendengar itu, wajah Edna dan Suzu berubah.


"Aku mengerti maksudmu, Ren. Tapi sayang, kami tidak memiliki pengalaman dengan itu. Akan buruk jika kami menjadi pengurus ekstrakurikuler itu." kata Suzu.


Edna juga terlihat seperti ingin mengatakan hal yang sama juga.


"Tidak tidak tidak! Ini bukanlah sesuatu yang seperti kalian bayangkan!" Ren buru-buru menyanggah.


"Aku ingin menyiapkan tempat untuk kalian berdua, sementara orang orang itu mendukung kalian. Aku ingin bersiap untuk sesuatu yang tidak terduga. Dan aku juga ada permintaan khusus untuk kalian." Ren mulai menuliskan sesuatu.


"Aku ingin kalian meneliti sihir saat aku pergi, dan menyelesaikan beberapa masalah ini." Ren menuliskan beberapa tulisan di atas kertas.


Edna dan Suzu membacanya sekilas, tapi dengan segera ekspresi mereka menjadi mendung.


"I-ini..." Suzu sedikit tergagap ketika membaca ulang isi kertas itu. Tapi, Ren hanya menatap Suzu dan Edna dengan serius, menunjukkan bahwa itu bukanlah hal yang dia buat bercanda.


("Kau masih memikirkan insiden itu ya, Ren?") batin Edna sedikit bertanya ketika melihat kertas itu.


Suzu dan Edna berpandangan sesaat, sebelum akhirnya mengangguk kecil.


"Baiklah. Kami mengerti. Kami akan melakukannya!" kata Suzu yang diikuti anggukan yakin dari Edna.