
"Apa... Ini?" Aku berhasil sampai sekitar 2 jam setelah aku berangkat. Malam sudah datang, tapi semua yang aku lihat masih saja terang.
Api berkobar di beberapa rumah penduduk, dan ada banyak orang yang berlarian kesana kemari, dikejar sesosok makhluk berwarna hitam pekat, yang menembakkan banyak panah bagikan menari.
Ada banyak dari mereka, menghindari mereka rasanya tidak mungkin.
"[Zadkiel]" Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi. Kemana aku harus pergi. Apa yang harus aku perjuangkan lagi.
Tidak tidak! Aku tidak bisa putus asa seperti ini! Aku harus tetap ingat janjiku!
"Seventh" aku harus mengecek ke area keluarga Larvest! Aku yakin. Aku harus yakin!!
***
"Ini semua benar benar hilang." Kulihat ke kanan dan kiri, hanya ada bekas hitam yang aneh menempel di setiap batu yang hancur, juga melelehkan batu itu.
"Hey! Siapapun!" aku mencoba menyingkirkan beberapa puing, tapi yang aku lihat hanyalah mayat yang sudah tidak berbentuk.
Ini benar benar hancur karena tusukan brutal di seluruh tubuhnya.
Benar benar seperti hari akhir.
Serangan Rank-S, monster hitam itu, apa itu? Mereka menghancurkan seluruh kota! Apakah jangan jangan, "Apostle" itu?!
Lalu, bagaimana dengan Keluargaku, Paman Childe, atau bahkan Syila?
Oi oi! Jangan bercanda seperti ini! Mereka pasti sudah berlindung, bukan? Benar, kan?!!
"Tolong ak-" aku mendengar suara teriakan yang kemudian tertahan. Aku tak urung berlari ke asal suara.
Makhluk hitam itu menusuk seseorang dengan panah hitamnya. Sedangkan orang tadi, kini menjadi seonggok daging tidak bernyawa.
"Zadkiel." Aku hanya bisa menggumamkan kata kata pelan.
Senjata yang ada di belakangku siap menembakkan pelurunya menghabisi monster hitam tadi dengan sekali serang.
Aku tidak bisa lagi menjaga pikiranku tetap jernih. Kepalaku kembali kosong karena keadaan ini. Di sekeliling ku hanya ada mayat dan puing.
Mayat berjajar di sekelilingku, seperti berbaris dari kematian. Kondisinya banyak yang tertusuk, ada juga yang tidak memiliki kepala.
"Ini bohong kan?" Aku tidak bisa berpikir apapun.
"Seseorang?!" Aku hanya berteriak hampa.
"Adakah seseorang yang masih hidup?!" Hanya gema yang bisa menjawabku.
Air mataku mengalir pelan, mengiringi langkahku yang semakin pelan pula. Aku hanya bisa berteriak "Seseorang!" "Seseorang!" Padahal tahu tidak akan ada yang menjawab.
"SESEORANG!!!" aku mohon, sesuatu datanglah padaku! Entah itu hewan atau serangga! Kalau tidak, kalau tidak mungkin aku akan hancur!
"Seseor-" teriakanku terhenti.
Aku melihat sesosok yang bergerak, berlari menggendong orang lain di tangan. Dengan monster hitam di belakangnya.
Dia tampak terampil karena bisa melewati puing puing dengan cepat menggunakan kaki kakinya, sedangkan pedang di belakangnya.
Aku tak urung segera melesat secepat mungkin yang aku bisa untuk segera kesana.
"Orang? Orang! Heiii!!! Kemari aku akan menyela-" teriakanku tidak sampai sepenuhnya. Cakar hitam monster tak berbentuk itu menembus mereka berdua, yang berlari seperti satu satunya yang tersisa disini.
Cakar itu membunuh mereka berdua, tepat ketika aku akan menyelamatkan mereka.
Cakar yang menembus, bagai menembus semua harapanku. Itu menghancurkannya. Itu... Membunuhnya.
Dan mereka berdua mati di hadapanku.
"SIALAN KAUU!!! BAJINGAN MATI KAUUU!!!!" aku benar benar tidak dapat berpikir apapun sekarang selain membunuhnya.
Aku bergerak secepat mungkin memotong monster itu menggunakan pisau Azantium sampai ke potongan terkecil sekalipun! Kalau bisa, aku akan membunuhnya hingga ke jiwa jiwa nya!
"Huh, huh, huh." nafasku tidka beraturan karena emosiku.
"Apa kau ba-" aku benar benar tidak bisa melanjutkan kata kataku.
Mataku terbelalak, dan seketika itu juga, jantungku rasanya berhenti. Ada sedikit rasa senang karena aku bertemu seseorang, tapi itu lenyap seperti hancur ditelan monster tadi.
"Pa-paman. Paman C-Chil..de?" Seseorang yang aku kenal dekat, seseorang yang aku anggap ayah kedua. Sekarang ada di depanku dengan kondisi sekarat?
Jangan bercanda! Apa apaan ini! Tidak! Aku tidak bisa menerimanya!
"Maksimum Heal! [Sanctuary]!" Aku hanya bisa mengeluarkan seluruh sihir cahaya ku sekarang, mencoba menyembuhkan mereka, sampai aku menyadari-
"Ka-kalau be-begi-tu, y-yang di s-sana?" Aku enggan menoleh. Aku tahu siapa itu. Aku enggan menoleh. Tidak!!
Tuhan, siapapun itu Tuhan disini, aku mohon, siapa yang disana jangan seperti apa yang aku pikirkan!
"Sy-Syila?" Kondisinya tidak terlalu buruk. Dia sedikit tertusuk disana, tapi aku yakin [Sanctuary] ku akan menyembuhkannya! Ya! Itu pasti!
Aku yakin, Syila baik baik saja! Aku harus percaya! Aku...
"Re-Ren?" Suara berat datang dari belakangku.
"Paman Childe?! Paman Childe! Bertahanlah! Ayo kita cari penyembuh! Aku yakin bahkan jika itu kau kau bisa kembali seperti biasa! Lihat! Aku menggunakan teknik penyembuhan tingkat legendaris di sini. Jadi, bantu aku!" Teriakanku menggema di tempat yang dikelilingi api itu.
Semua hening, kecuali suara suara monster yang datang semakin berkumpul, suara api yang berkobar, atau suara bangunan yang mulai runtuh.
Dengan kata lain, hanya ada suara kehancuran.
"Ren. Maafkan aku. Maafkanlah aku yang tidak bisa menjaga Syila. Maafkan aku." Dia mengatakan hal hal aneh.
Jangan katakan itu, kumohon!
Dia menggapai tanganku, melihat Syila dengan senyum.
"Ini adalah kutukan. Dan sangat kuat. Bahkan kau tidak bisa menghilangkannya." Cerita paman Childe sedikit bergetar.
"Hoi! Jangan bercanda denganku! Bicaralah dengan benar!" Dia pasti bercanda kan? Aku? Tidak bisa? Kau bercanda, kan? Aku bisa melakukan segalanya! Aku, aku, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan! Semuanya!!!" aku berteriak tidak karuan.
"Ya ya. Aku minta maaf. Maafkan aku, untuk Syila. Maafkan aku. Syila juga. Maafkan aku." Dia mulai meminta maaf.
("Tidak. Jangan katakan itu. Jika kau mengatakan itu, hatiku akan hancur!") tapi sepertinya kenyataan berkata lain.
"Ahahaha. Itu tidak lucu. Hei! Jangan tidur! Lihat! Kau justru tertidur! Hei, Syila! Bangunlah! Lihat ayahmu tertidur di masa masa sulit ini!" Aku menuding paman Childe yang menutup mata, tertidur sambil tersenyum.
Dia mengerjaiku! Dia tertidur! Aku bisa melihat senyumnya dari sini!
Tunggu! Aku harus mengecek. Syila! Jangan bilang dia juga bermain main seperti paman Childe? Hei, jangan bermain main!
"Syila! Aku bisa menyembuhkanmu. Aku bisa menyembuhkanmu! Aku bisa menyembuhkanmu! Karena itu, karena itu! Tolong, tolong jangan berpura pura seperti itu!" Aku menggenggam tangan Syila. Dia akhirnya membuka matanya walau itu perlahan.
"Kekuatan sihir ini, Ren? Terima kasih. Aku merasa lebih baik sekarang." Dia tersenyum lembut.
Aku tertawa, melihat senyum itu justru rasanya menyakitkan bagiku.
"Benar kan? Kuberitahu, sebenarnya aku bisa menggunakan sihir. Aku juga memiliki semua elemen sihir. Bahkan aku bisa menggunakan [Sanctuary], ini adalah sihir penyembuhan terkuat yang aku miliki."
"Keren, bukan? Bahkan ini bisa mengembalikan kembali bagian tubuh yang hilang, dan menghilangkan abnormal status! Sekarang kamu tidak akan malu memiliki tunangan seorang manusia, karena dia adalah orang yang terkuat di dunia ini. Orang yang bisa... Bisa....bisa membahagiakanmu." Entah kenapa air mataku menjadi semakin deras.
Hei mataku! Kenapa kau mengeluarkan air mata? Bukankah aku sendiri juga sudah yakin bahwa aku bisa menyelamatkan Syila?
"Hei Ren. Apa kau tahu?" Syila tersenyum ketika memanggilku.
"Aku, merasa kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Aku merasa benar benar melihatmu, melakukan hal hal keren, bertarung menyelamatkanku."
"Awalnya aku hanya berpikir bahwa itu hanyalah mimpi, itu semua hanyalah khayalanku. Tapi semakin hari itu semua semakin jelas."
"Kesatria dengan rambut hitam, tapi hati yang putih. Kau adalah, pahlawanku." Dia menutup mata, membuat garis di matanya sambil tersenyum. Sangat manis.
Ini membuatku mengenang masa lalu. Masa pertama kali aku bertemu dengannya. Ketika setelah itu, aku dikenalkan dengannya oleh paman Childe, dan hari hari yang kami habiskan bersama.
"Ya. Aku disana dulu. Aku sudah menyelamatkanmu. Aku sudah menyelamatkan nyawamu! Jadi tolong, tolong jangan buat itu semua sia sia!" sial! Air mataku tidak bisa berhenti!
"Karena itu, Ren. Aku bisa melihatmu saat ini saja, itu sepertinya sudah keajaiban!" Katanya.
"Jangan. Jangan ucapkan itu. Apapun selain itu!" ("Karena itu sama denganku!") kalimat itu, adalah kalimatku dulu!
"Hei, Ren! Kalaupun aku harus pergi sekarang, aku sudah tidak apa." Apa? Jangan bercanda!!
"Ahahaha! Kamu mau pergi? Ayo! Kau lupa janjimu? Ayo kita pergi ke toko crepes! Kita makan bersama, dan kamu akan makan itu sampai gendut! Kalau begitu, ayo pergi!" Percakapan itu, aku masih ingat!
"Hu hu, itu pun kalau toko itu masih ada, kan?" Dia tertawa.
"Ah ya! Kau tahu, di kota Furyuun juga ada toko crepes loh! Aku sedang berkeliling bersama Suzu, dan dia menginginkannya. Aku tidak memakannya agar aku bisa merasakan rasanya saat bersamamu! Ayolah! Aku ingin memakan crepes! Aku... Aku..." air mata benar benar mengganggu pembicaraanku.
Dia tersenyum, melihat ke arah yang jauh. Seperti melihat-lihat dalam angan nya.
"Khu Khu Khu. Itu adalah salahmu karena tidak membelinya!" katanya bercanda.
"Ren. Kau tahu? Aku bahagia! Aku selalu bermimpi memiliki pangeran penyelamat, yang sangat kuat, tapi dia tidak sombong, dan membantu semuanya."
"Aku juga pernah bermimpi, untuk bisa bersamamu, menikah, bahkan memiliki anak. Lalu menghabiskan waktu bersama, sampai tua. Yahhh, walaupun aku elf, dan bisa hidup lebih lama, tapi aku tahu batasku. Aku tidak akan berbuat macam macam."
Hentikan! Hentikan! Jangan bicara!
"Apa kau ingat kata kataku dulu? Aku menyukaimu, Ren. Dari dulu, dan akan terus bertambah."
"Dan kau tahu?" Dia menarik badanku, membuat badannya semakin naik. Aku juga membantunya untuk membopong badannya.
"Aku benar benar, mencintaimu, Ren!" Dia menciumku, mengambil bibirku untuk bertemu dengan bibir nya.
Itu adalah first kiss ku. Selama ini, di kedua kehidupanku. Syila, menjadi orang yang pertama.
Tapi aku tidak tahu, ciuman pertama yang aku dapat justru serasa seperti darah di mulutku.
"Aku sekarang, merasa sangat bahagia!" Katanya tersenyum sambil menutup mata. Kepalanya dia sandarkan ke dadaku, badannya juga jatuh perlahan.
Syila terus diam, tapi wajah tersenyumnya terus tersisa. Senyum yang menenangkanku.
"Syila?!" aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan.
"Syila?!!" detak jantungku semakin cepat. Mataku juga semakin gelap.
"SYILAAAA?!!!" sesuatu terasa putus dalam diriku, dan aku tidak tahu apa yang benar disini.
***
"Syila!!!" aku masih disini, setelah beberapa menit. Aku masih berusaha membangunkan nya.
"Oi, Syila!! Sudahi bercandamu! Ayo kita temukan yang lain! Kalau kamu terus berpura pura tidur, kita tidak akan bisa menemukan yang lain!" dia tetap menutup matanya. Hufft, sejak dulu, dia suka sekali bercanda!
[Sanctuary] milikku mulai habis! Aku harus segera mencari orang yang memiliki sihir cahaya yang besar untuk membuat [Sanctuary] yang lain!
Tapi, kenapa aku harus membuat [Sanctuary] aku tidak ingat kenapa aku membuatnya.
"Ah benar. Aku harus minta tolong kak Edna! Dia pasti bisa menyembuhkan Syila! Tunggu sebentar, Syila. Ayo kita cari kak Edna!" Aku harus mencari kak Edna!
Semua orang pasti menungguku dan mengatakan: kena kau! Seperti itu, kan? Aku akan menunggu semua orang keluar! Mereka hanya bermain main denganku! Ini bukan seperri kota Eldergale diserang!
Semua orang hanya bercanda, bukan?