Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 3: Bab 38 - Kekacauan?



PoV: Third person PoV


Suara lonceng berdentang, juga derap kaki para tentara yang semakin menggema di penjuru kota. Orang orang berlari panik, bahkan terjadi saling dorong yang membuat luka.


Seperempat Ibukota sudah hancur, membuat semua petarung dan penyihir terbaik segera berkumpul untuk mengalahkan monster monster yang menyebabkan ini.


"Apa yang terjadi?" Ren dan Edna yang baru saja sampai benar benar tidak bisa mengikuti keadaan.


"Kak Edna! Kita harus naik ke atas untuk penglihatan yang lebih jelas. Aku akan menggendong mu!" Ren berlari, lalu mengangkat Edna dengan mudah.


Edna sedikit terkejut dengan itu, tapi tidak butuh waktu lama untuknya dapat menyesuaikan kembali.


Ren segera melompat setinggi mungkin, lalu menggunakan sihir angin untuk pijakan dan terus melompat lompat seperti kelinci yang mendaki tembok besar. Ren bertujuan untuk melihat dari atas tembok yang memisahkan antar distrik di kota itu.


"Yang benar saja!!" Ren bergumam pelan ketika melihat pemandangan di depannya.


"Ini benar benar tidak mungkin!" Edna menambahi.


Apa yang mereka lihat adalah keadaan kota yang mulai hancur, dengan puluhan monster hitam aneh yang menyerang seluruh kota. Monster hitam itu belum pernah Edna atau bahkan Ren lihat, memberikan sedikit atmosfer mengerikan muncul diantara mereka.


Satu satunya monster yang bisa menjelaskan keberadaan mereka hanya satu. Perubahan Weiss di kota Furyuun dulu!!


"Ren! Mereka terlihat mendekati Gereja loh!! Ada apa ini?!!" Edna berseru sambil menunjuk, ketika monster monster itu bergerak beraturan ke arah yang sama. Itu benar benar aneh jika memikirkan kembali.


"Kakak benar. Apakah ada sesuatu hal yang membuat mereka mengincar Gereja?" Ren mulai berspekulasi.


"Berpikir saja tidak ada gunanya. Jika mereka terus menyerang Gereja, semua orang, bahkan Ibu juga akan dalam bahaya!" kata Edna.


Sementara itu, sebelum semua kekacauan itu terjadi...


Istana Kerajaan.


"Yang Mulia! Dilaporkan monster muncul dari dalam tanah, dan menghancurkan seluruh bangunan yang ada di jalannya! I-Itu mengarah ke Gereja sekarang!!" seorang pengawal dengan bergetar melaporkan keadaan pada Raja nya.


Raja itu sedang ditemani oleh seorang permaisuri, pangeran, dan tentu putri di sekelilingnya. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu.


"Cih! Dasar Gereja! Bukankah aku sudah bilang jangan melepasnya disini?!" sang Raja mendecak pelan.


"Soal itu, Yang Mulia! Kami mendapat kabar bahwa ada satu monster yang terbesar, membuka jalan dari bawah tanah untuk monster monster lain keluar. Mungkin itu adalah boss mereka, Yang Mulia!" jelas prajurut itu lagi.


Sang Raja hanya tertawa mengejek. Dia paham maksud terselubung dalam perkataan prajurir itu.


"Maksudnya penelitian mereka mengalami kebocoran, kah? Alasan yang klasik!" bisik Raja.


"Apa lagi yang kalian tunggu! Cepat basmi monster itu!"


"B-baik! Yang Mulia!!!" teriak prajurit itu segera mundur.


Suasana menjadi hening, ketika masing masing dari mereka tampak khawatir. Terlebih sang Putri, Yuna. Tidak hanya itu, Permaisuri juga menatap Raja dengan bingung.


"Huhh.. Aku tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Jika yang mengalami kerusakan hanya distrik bawah, aku tidak akan terlalu peduli. Tapi jika distrik atas yang terkena, apalagi Gereja, itu akan benar benar menjadi masalah." Kata Raja itu yang segera dipelototi oleh sang Putri.


Seperti biasa, raja itu masih menggunakan sistem kasta dalam pikirannya.


Walau begitu, wajahnya terus memancarkan senyum yang tidak biasa.


"Humm, apakah kami harus bergerak, Yang Mulia?" tanya orang itu sambil membungkuk, merendahkan kepalanya.


"Alford dari Seven Knights kah? Ini bukanlah sesuatu seperti masalah yang sangat besar. Tapi jika ini menjadi lebih parah, aku akan menyerahkan mereka padamu." jawab sang Raja.


"Terima kasih, Yang Mulia." jawab Alford. Dengan begitu, dia berbali, tetap dengan senyum di wajahnya.


Semua kejadian itu dilihat dari kejauhan oleh Kei, yang sedang mengawasi semua yang terjadi dari atas menara. Dia juga melihat monster monster itu sudah bergerak untuk menghancurkan kota.


"Akhirnya ini dimulai, kah?" kata Kei pelan.


"Tapi Master, Seven Knights sepertinya akan ikut masuk dalam pertempuran ini. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Cilia menanggapi.


"Apa? Humm, aku yakin anak itu bisa mengatasi para Seven Knights itu sendirian dengan kemampuan nya yang sekarang. Tapi, melakukan itu hanya akan menjadi masalah di masa depan. Sebisa mungkin aku ingin menghindari itu." jawab Kei.


Kei terlihat berpikir keras, tapi dari raut wajahnya, terlihat bahwa dia tidak mendapatkan apapun yang baik.


"Hufft. Tidak ada cara lain, kah? Mungkin aku harus membuat para Seven Knights pingsan dengan kedatangan kita, sehingga mereka tidak melihat apapun. Sayang sekali kita tidak bisa menghapus ingatan orang." Kei mendengus kesal.


"Yahh, jika itu adalah rencana Master, aku akan mengikutinya!!" kata Cilia senang.


***


Jadi, Kei dan Cilia sedang mengawasi kekacauan di Ronia dari langit, melihat tajam ke arah Ren.


"Kak Edna! Sepertinya kita memang harus turun tangan!! Monster itu terlalu banyak, dan para prajurit benar benar tidak berguna! Jika ini dibiarkan, mungkin kota ini akan hancur!!" kata Ren.


"Kau benar, Ren! Apa yang harus kita lakukan?!" tanya Edna.


"Untuk saat ini, mari kita habisi keroco yang paling dekat dengan Gereja, karena prioritas kita adalah ibu yang sedang berada di sana!!" kata Ren.


Segera setelah itu, Ren menggendong Edna lagi. Edna juga sudah mulai terbiasa dengan ini, dia tidak akan terkejut lagi.


"[Icycle Proyektile]!" Edna meneriakkan beberapa mantra untuk membersihkan monster monster hitam kecil yang ada di hadapan Ren, untuk memberikan jalan padanya.


"Bagus dan terima kasih, kak Edna!!" kata Ren sambil tersenyum.


"Ya ya ya! Terima kasih atas tumpangan nya juga! Fokuslah berlari, Ren! Aku akan mengatasi monster di sekitar!!" kata Edna dengan yakin.


"Maaf, kak Edna!" mendengar itu, segera Ren berlari sekuat tenaga. Dia melewati puing sambil menggendong Edna dengan mudah, dan Edna juga terus menjauhkan monster dari Ren. Dengan begitu, mereka dengan cepat sampai di depan monster yang mengarah ke Gereja.


Ren menurunkan Edna perlahan, sambil menatap rombongan monster yang bagaikan mayat hidup berjalan ke arah mereka.


"Kak Edna, aku peringatkan. Aku sebisa mungkin tidak ingin menggunakan sihir disini. Kenapa? Karena sihirku akan benar benar mencolok. Aku tidak ingin menjadi terlalu mencolok sekarang." bisik Ren sambil menoleh ke arah Edna.


"Yahh, aku mengharapkan itu. Kalau tidak, aku benar benar tidak akan berguna disini!" jawab Edna yakin.


"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai pestanya!!!" Ren menyeringai senang.