Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 3: Bab 21 - Kematian?



Di kota Furyuun....


Pertarungan antara Ren dengan monster itu sudah terjadi dengan sangat intens. Hampir setengah kota Furyuun sudah rata dengan tanah.


Itu karena mereka tidak hanya bertarung dengan kekuatan fisik, tapi juga dengan sihir.


Ren sudah bertarung habis habisan dengan monster itu. Hasilnya, dia berhasil memotong kaki kiri dan ekor monster itu, membuat monster itu sudah kesulitan melakukan gerakan.


Walau begitu keadaan Ren sendiri juga tidak baik.


Dia bisa melakukan ini karena topeng itu, tapi kini itu sudah hancur setengah menampilkan wajahnya dan mata merahnya.


Stamina nya juga sudah menurun, gerakannya juga semakin tumpul.


Tapi mereka berdua tetap mengayunkan pedang dan cakarnya.


Monster itu menyerempet Ren di bagian perut, tapi sebagai gantinya, Ren berhasil memotong tangan kanan monster itu.


Tapi sepertinya dia sudah menyadarinya, jadi dengan cepat tangan kiri monster itu menusuk dada Ren, menggenggam jantungnya!


Itu adalah pancingan untuk Ren. Dengan mengorbankan tangan kanannya, dia ingin untuk membunuh Ren seketika.


Seketika Ren berhenti bergerak, tapi dia masih hidup. Karena dia tahu, sedikit saja dia bergerak, dia bisa mati.


"Khuhuhu, sebuah percobaan yang bagus, tapi sayang, aku yang menang." monster itu tertawa senang, tapi dengan tangan yang masih berada di dalam dada Ren.


"Aku salah besar. Aku memang harus membunuhmu sekarang. Kau bertambah kuat seiring waktu, dan bisa jadi kau akan mengalahkan ku."


"Aku akui kau, seorang Manusia terkuat. Tapi sayang," tangan monster itu semakin erat.


"Berisik!!!" Ren meraung marah, sambil melemparkan pisau ke dada monster itu.


"Selamat tinggal!" tangan monster itu kini menggenggam, menghancurkan jantung Ren. Itu membuat pandangan Ren kabur. Pisau yang dilemparkan Ren hampir menembus monster itu, tapi sayang itu kekurangan tenaga.


Sesaat sebelum mati, Ren melihat sebuah pemandangan orang membawa tombak hijau di atasnya.


Mereka berdua adalah Kei dan Cilia yang sudah sampai di atas kota Furyuun.


Itu adalah kecepatan yang luar biasa, menyebrangi lautan hanya dalam waktu beberapa menit.


"Kei. Bagaimana mungkin?! Monster itu? Apa ini ulah Kultus?" Cilia yang terbang di atas Ren terkejut ketika melihat monster itu.


Kei tidak menjawab, hanya turun dengan cepat, dengan tombak hijau yang ada di tangannya.


Saking cepatnya, monster itu bahkan tidak menyadari serangan dari atas, dan tiba tiba merasakan tanah yang dia pijak mulai hancur, dengan dia dan Ren yang terpental jauh dari ledakan.


Langit menggelap, dengan petir hijau yang saling bersahutan.


"Kei! Hentikan! Jangan gunakan itu!" Cilia segera turun dan dengan segera mengambil tangan kiri Kei yang sekarang sudah berubah wujud menjadi sarung tangan berisisk naga.


Monster itu mau tak mau menyadari apa yang ada di hadapannya. Itu membuat kakinya bergetar bahkan hanya dengan melihat bayangan awan di atas kepalanya.


"A-apa? 7 Demon Lord? Spear of Wrath? Kei?!" monster itu berteriak ketakutan ketika melihat sosok yang muncul tiba tiba di hadapannya.


Dia merangkak dengan satu kaki dan satu tangan, berlari ketakutan.


"Hei, kau dari Kultus, bukan?" mata Kei berubah hijau. Itu memancarkan aura yang mengerikan, dan menyabetkan tombak yang dia bawa.


Monster itu semakin berkeringat, ketika dia berusaha merangkak secepat mungkin. Kekuatannya hilang, membuatnya jatuh bangun karena ketakutannya sekarang.


Tapi Kei tidak memperdulikan nya, dia hanya berjalan pelan, meninggalkan api hijau yang berkobar kecil di setiap langkahnya.


Dia melemparkan tombaknya, lalu tombak hijau itu berubah bentuk, melilit leher monster itu.


Itu mengangkatnya, membawanya mendekat ke arah mereka berdua. Monster itu benar benar ketakutan, dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan lilitan yang ada di lehernya.


"Aku anggap diam mu adalah jawaban ya." Kei menggeram pelan, kemudian tangannya mengambil kepala monster itu, meledakkannya.


Bahkan sampai badannya juga, itu hancur hingga seluruhnya.


Itu adalah pemandangan yang menjijikkan, tapi Cilia berlari cepat ke hadapan Kei, berusaha untuk menyadarkannya.


"Kei! Hentikan! Jangan termakan amarahmu!" Cilia menampar wajah Kei.


!!!


"Ahh, maafkan aku. Aku memiliki kenangan buruk dengan Kultus." awan gelap dengan petir hijau, serta pakaian bersisik naga miliknya mulai hilang menjadi cahaya.


"Tapi sekarang, itu tidak ada hubungannya lagi dengan kita. Kita juga tidak campur tangan dengan urusan Kultus." lanjutnya.


Wajah Cilia yang biasanya ceria sekarang berubah sedih, seperti mengingat hal yang tidak mengenakkan.


Kei menoleh ke arah Ren yang terbaring dengan dada berlubang. Walau begitu, topeng di wajahnya masih separuh, dan bagian matanya masih menyala merah terang.


"Anak ini? Manusia?!" Kei terkejut ketika mendekati Ren.


"Kau benar, Kei. Selain itu, berapa umurnya?! 15 tahun?! Tidak. Aku yakin dia masih lebih muda dari itu." Cilia kemudian menanggapi.


Mereka berdua lama menatap sosok Ren, lalu Cilia mengawali.


"Bagaimana, Kei. Apa ada yang ingin kau pastikan lagi? Dia sudah mati, bukan?" tanya Cilia lagi.


Kei hanya diam, masih terus melihat ke Ren.


Cukup lama dia menatapnya, entah menilainya atau hanya menatap wajah mayat Ren. Itu lama lama menjadi mengerikan ketika dia hanya diam!


"Hei, Cilia. Kau bisa membangkitkannya lagi, kan?" tanya Kei tiba tiba.


"A-A-APA?! A-aku memang bisa, t-tapi kenapa kamu ingin membangkitkannya?" Cilia menggabungkan jari jarinya dengan wajahnya yang memerah.


Kei hanya diam, menatap langit yang sekarang mulai cerah.


"Aku tidak tahu, mungkin karena aku bisa merasakan kemarahannya? Aku tahu bagaimana dia dicaci maki karena dia Manusia, aku tahu bagaimana dia kehilangan orang yang dicintainya, aku tahu bagaimana marahnya dia ketika tahu ada orang yang akan melecehkan teman dan keluarganya."


"Umm, bagaimana mengatakannya. Bahkan aku yang tidak melihat atau merasakannya sendiri saja merasa marah dengan itu, maka wajar dia merasa marah." Kei mengepalkan tangan, memegang dada kirinya.


"Selain itu, dia melawan makhluk seperti ini. Mustahil dia tidak membutuhkan kekuatan lebih. Dan sangat luar biasa dia bisa menahannya sejauh ini." jelas Kei.


Hanya hening yang ada di dataran yang hancur itu, dengan dua orang yang berdiri menatap mayat.


"Baiklah. Aku mengerti alasanmu, Kei. Sudah kuduga Master adalah orang yang baik!" kata Cilia sambil mengungkap sayapnya.


Tapi seketika dia menjadi gelisah.


"Uhm, Master. Kau tahu bagaimana ini bekerja, bukan? Ini agak memalukan untuk dilihat olehmu, karena kita sering melakukannya, bukan?" tanya Cilia dengan malu malu.


Seketika Kei terlihat memerah, dan memalingkan wajahnya cepat.


"Bukan itu b-bodoh! Maksudku darah! Jika dia melakukannya denganmu, aku akan membunuhnya segera setelah dia bangun!" Kei menyilangkan tangan, tapi masih tampak merah.


"Uuu! Dasar tsundere!" kata Cilia menggoda Kei.


Cilia dengan segera memulai ritualnya, dan sedikit menyobek telapak tangannya menggunakan pisau, membuat darahnya mengalir.


Dia sedikit meringis ketika melakukan itu, dan darah dari tangannya pun masuk ke mulut Ren, membuat Ren meminumnya.


Itu adalah kemampuan khusus milik Cilia.


Cilia adalah ras High Priest, yang mana keberadaannya bahkan tidak mencapai seluruh jari tangan yang ada di dunia ini. Dan kemampuan khusus mereka, membangkitkan orang mati sebelum lewat lima menit menggunakan cairan dari tubuhnya.


Yang paling mudah adalah menggunakan darah, tapi ada cara absurd adalah dengan air liur.


"Siapa disana?" Kei mengangkat tangannya ketika merasakan Edna melayangkan sihir sihir cahaya dan es seketika, melihat Cilia melakukan sesuatu pada Ren.


Dia datang karena dia tidak tahan melihat Ren yang sendirian berjuang.


Suzu dan Kurls sudah pingsan, dan mereka sudah pergi ke tempat yang aman bersama dengan warga kota. Tapi itu membuat Edna khawatir.


"A-aku yang ha-harusnya be-bertanya! K-kau apakan Ren?!" teriak Edna sambil setengah marah, walau tetap dengan kaki dan mulut yang bergetar ketakutan.


Kei tidak memperdulikan nya, dan hanya tertawa sedikit.


"Bagaimana, Cilia? Apa sudah selesai?" tanya Kei.


"Sedikit lagi!" tepat setelah Cilia mangatakan itu, tubuh Ren sedikit bercahaya, dan lubang yang ada di dadanya mulai tertutup.


Melihat itu, Kei mendekati Edna.


Edna mulai menggigil ketakutan, dan mencoba memasang penghalang.


"Jangan mendekat!" Edna berteriak sambil menutup mata. Tapi Kei hanya menerobos penghalang yang dibuat Edna seperti menembus sebuah kertas.


"Bilang padanya, jangan gunakan itu lagi. Kutukan itu terlalu kuat." bisik Kei di telinga Edna.


Edna tidak berani menoleh, hanya mengangguk.


"Ayo pergi, Cilia!" Kei berteriak, tiba tiba melompat ke udara.


"Baik, Master!" Cilia pun melakukan hal yang sama, dan kemudian mereka berdua menghilang dengan cepat.