Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 13 - Let's Begin the Battle



"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" Roy berteriak pada salah satu staff nya. Mereka yang ada di sana hanya bisa berdiri ketakutan.


Ada sebuah aura kuat yang mengguncang mereka. Satu dari arah gunung, satu lagi dari arah Roy.


Mereka harus memilih pada yang mana mereka harus takut sekarang.


"Se-sepertinya ada sebuah naga yang tertidur di bawah gunung Bolinn, dan itu mengguncang kami hingga ke sini." Seseorang datang memberitakan pada Roy dengan segera, walau wajahnya setiap detiknya bertambah pucat karenanya.


"Apa apaan itu?! Bukit Bolinn? Aku baru tahu!" Teriak Roy.


"Yah, karena kami juga sebanrnya baru tahu sekarang. Kami mengetahuinya karena menyimpulkan getaran dan aura mencekam ini hanya dapat dibuat oleh naga, tuan Roy." Kembali, orang yang sama menjelaskan dengan tergagap.


"Ah! Tidak berguna!" Roy berteriak marah, membuat para bawahannya menjadi tambah bergetar.


Gunung Bolinn, yang jaraknya hanya sekitar 1 km dari rumah keluarga Larvest. Gunung ini sebenarnya tidak pantas disebut gunung, karena itu sangat pendek. Tapi, aktifitasnya yang hampir jarang berhenti itu membuatnya disebut sebagai gunung.


Gunung ini unik, karena mengeluarkan panas dari samping, dan itu mengarah ke hutan. Jadi, ledakannya tidak membahayakan kota Eldergale. Oleh karena itu, gunung ini jarang diteliti oleh mereka.


Tapi sekarang, semua orang kocar kacir karena itu.


"Roy, bagaimana keadaannya?" Childe datang dengan tergesa, didampingi oleh anaknya, Syila yang juga sedikit khawatir.


"Tidak baik. Mereka mengatakan ada naga yang tertidur dan kini terbangun! Apa hal yang lebih baik dari ini?" Kata Roy sedikit bercanda.


Dia sedikit mengenang masa lalu, ketika Roy dan Childe masih seorang petualang, dan berada dalam satu party.


"Bagaimana, ayah?! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ruly tergopoh-gopoh datang mendekati ayahnya.


Dia tadi sangat khawatir dengan Ren, tapi sekarang dia bisa merubah fokusnya dengan cepat untuk mengatasi hal hal seperti ini.


"Tidak. Tidak ada. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kalian awasi saja! Jangan sampai kepanikan terjadi di antar warga!" Roy memberikan komando.


"Dimengerti!" Ruly segera berlari, mengubah mimik wajahnya menjadi tenang.


"Ren, dimana kau sekarang? Apa kau aman? Semoga kamu segera berlindung!" Suzu sedikit berodoa karena melihat Ren yang bahkan belum kembali.


Syila hampir tidak bisa berfikir, hanya berlari kesana kemari setelah berhasil melepaskan diri dari tarikan ayahnya. Yang ada di pikirannya hanya satu, Ren.


Dia juga berpikir, gila bahwa dia tidak mengutamakan keselamatan dirinya sendiri, justru mencemaskan orang lain.


Tapi dia berpikir, dia tidak bisa mengabaikan Ren.


"Apa saat ini Ren ada di perpustakaan? Semoga saja begitu!" Syila berlari panik, tapi akhirnya dia sadar bahwa panik tidak akan bisa menghasilkan apapun.


Sialnya, dia bertemu dengan Ruly yang sedang mengamankan warga.


"Apa yang kau lakukan disini? Cepat kembali dan berlindung!!" Teriak Ruly sambil menangkap kedua bahu Syila.


Syila tentu terkejut, karena dia tidak menyangka akan bertemu Ruly di sana.


"Ahh, apa kak Ruly melihat Ren? Aku tidak melihatnya sedari tadi! Aku ingin mencarinya!" teriak Syila.


Ruly tersentak, memikirkan hal yang sama. Tapi untuk Syila berharap mencarinya, itu hampir mirip dengan mengantarkan nyawa.


"Aku tahu perasaanmu, tapi kamu adalah pemeran utama dalam acara hari ini. Kami semua tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja. Dan untuk Ren, sementara abaikan dulu dia." ujar Ruly menenangkan Syila.


Walau berkata seperti itu, Ruly jelas tidak bisa tenang.


"A-aku, entah kenapa untuk ini saja, aku tidak bisa mengabaikannya. Tidak, aku tidak bisa mengabaikan Ren!" jelas Syila.


"Kalau begitu, mau bagaimana lagi! Hei kalian! Sisanya kuserahkan pada kalian!" Ruly berteriak, ketika dia mengangkat Syila tiba tiba.


"T-tunggu! A-apa yang kakak lakukan?" Syila hanya bisa berteriak ketika Ruly membawanya kembali.


***


"Apa ini? Ini adalah getaran yang sama dengan getaran naga. Naga sepertinya sedang bertempur dengan seseorang. Selain itu, ***** membunuh ini sangat kuat. Apakah orang sebegitu kuatnya hingga menandingi Naga?" Seseorang dengan mata gelap memandang gunung Bolinn.


"Apa mungkin ini perbuatan kultus? Tapi aku tidak mengetahui apapun! Jika kultus melakukan semua ini, akan ada pemberitahuan, bukan?" Dia masih menggumamkan sesuatu. Kini dia menyebut kultus.


"Hanya ada beberapa orang yang bisa menandingi Naga. Salah satunya Childe dan Roy disini. Dan mereka berdua sedang berada di sini, untuk acara aneh itu." Dia berhenti sebentar.


"Tunggu. Jangan bilang, si "Shinigami" kemarin itu? Kalau memang benar dia, apa tujuannya?" Orang itu mengepal tangannya geram.


"Cih dasar sial itu! Aku tidak bisa memaafkannya!" Kini dia berlalu sambil menggumamkan sesuatu yang bahkan lebih jahat lagi.


***


Childe melihat itu, dengan segera berusaha menghentikannya.


"Aku yang akan pergi. Bagaimanapun, aku yang memiliki pengalaman langsung melawan naga." Kata Childe cepat. Raut wajah Roy berubah.


"Kau kira aku belum pernah? Bukankah itu adalah quest terakhir kita?" Roy sedikit cemberut.


"Ahahahaha!! Aku tidak akan melupakan itu! Tapi, sekarang kau adalah Guildmaster. Tidak mungkin Guildmaster akan meninggalkan kota, bukan?" Jawab Childe sedikit menyindir.


Sebenarnya, mereka berdua adalah mantan petualang. Dan mereka adalah salah satu party yang mendapatkan julukan "Dragon Slayer". Pada saat itu, mereka masih berumur 20-an.


Dan kekuatan masing masing dari mereka juga sudah mampu untuk solo melawan Naga.


"Jadi, berapa level kekuatannya?" Kembali, Childe bertanya pada Roy. Roy segera memberikan kertas yang dia dapatkan dari beberapa staff nya yang memucat tadi, dan dia memutuskan untuk pergi.


"Setingkat ini? Aku pasti bisa. Jika aku memiliki Agility lebih, aku akan menang telak.." Childe mengangguk sambil tersenyum pasti.


"Sudah kuduga dari {One Who Can Get More Than 1 job}. Aku tahu itu pasti mudah bagimu." Jawab Roy sambil menepuk punggung sahabatnya dengan keras. Tak lupa, senyum tenang juga terpampang di wajahnya.


BOOOM!!! Suara ledakan mengejutkan mereka semua. Dan asalnya? Gunung Bolinn!


Gunung itu bukan meledakkan lava, tapi menyemburkan tanah seperti ditabrak sesuatu. Tiba tiba, sebuah naga berwarna coklat kemeraha terbang, dengan pelindung selebar 20 meter mengitarinya.


Itu terlihat agak aneh, tapi memang seperti itu bentuk penghalangnya.


"Itu? Naga?!" Roy sedikit terkagum melihat kejadian itu. Naga itu tampak melempar sesuatu ke bawah menggunakan kepalanya, lalu menembakkan api panas sambil meluncur turun ke bawah dengan kecepatan tinggi.


Setelah itu, hening seketika, dan setelah beberapa detik kemudian, sebuah lolongan kebanggaan terdengar dari gunung Bolinn.


***


"Kau benar benar bodoh!" Ren dengan lantang mengatakan hal itu.


"Apa?" Naga yang sombong itu seketika merubah raut mukanya mendengar yang dikatakan Ren. Dia melihat Ren sekali lagi.


("Dia hanya bocah manusia, bukan? Kenapa dia bersikap seperti itu? Sombong sekali dia?") Naga itu membatin pelan, karena sikap Ren yang berubah drastis.


Suasana menjadi hening sesaat. Ini karena Ren sedang membuat sebuah rencana untuk melawan Naga itu.


Dia sudah bersujud padanya, dan itu membuatnya sedikit terluka. Ren menetapkan naga ini sebagai musuh yang harus dibasmi, yang bagi Ren hanya satu kemungkinan untuknya.


"Mati." Ren tertawa perlahan melihat kesombongan musuhnya, tidak tahu apa kekuatan Ren.


Membuat penghalang di sini berarti, dia bisa mengeluarkan sihir sampai seutuhnya, sampai Ren keluar dari penghalang, dan itu adalah awal dari batas Ren.


"Karena kau adalah musuh ku, maka kau harus mati." Kata Ren pelan sambil perlahan mengambil kedua pedang Azantium.


("Oohh! Sudah lama aku ingin mengatakan kata kata itu! Dan sekarang aku bisa mengatakannya!") Ren berteriak kegirangan dalam hati.


("Yahh, sayang sekali dia tidak bisa berubah menjadi manusia. Jika dia bisa, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menyelamatkannya.) Ren hanya diam dengan pikiran pikiran aneh.


"Dasar bocah tolol!!!! Mati kau karena kesombonganmu!!!" Naga itu mengamuk menghentakkan kedua kaki depannya.


Ren melihat itu segera mengambil tindakan dengan menacapkan kedua pedang Azantium ke tanah dan segera bergerak.


Ren melemparkan sihir Api dan Air dengan segera, yang menyerbu musuhnya dari kanan dan kiri. Ras naga dalam bentuk naganya memang kuat, tapi tidak bisa bergerak cepat. Naga itu dengan jelas terkena kedua sihir itu.


("Manusia? Sihir?) Itu meninggalkan kebingungan pada Naga itu, karena dia belum pernah melawan manusia sebelumnya.


Kabut muncul karena perpaduan kedua elemen, menjadikan sang Naga tidak mampu bergerak baik.


("Walau kulitku cukup keras, itu sangat menyakitkan! Bagaimana bisa?!") Masih keheranan, naga itu mengibaskan ekor serta sayapnya, untuk menghilangkan kabut yang mengelilinginya.


Kabut hilang, terlihat Ren yang sudah berada di langit, melompat ke arah naga itu sambil berteriak, mengacungkan kedua pedangnya. Melihat itu, naga itu tertawa.


"Bodoh sekali! Hanya pedang suci yang bisa melukaiku! Dasar tolol!" Ren hanya tersenyum.


Karena kenyataannya, tidak ada pedang yang lebih kuat dari Adamantin, tentunya hanya pedang suci dari pahlawan yang bisa melukai kulit naga.


Tapi tidak karena Ren memiliki pedang Azantium, menembus Admantium yang berada satu kelas di bawahnya bukanlah hal sulit.


Tapi sebenarnya ada beberapa pedang lain yang bisa melukai Naga.


"Kita lihat saja, dasar naga bodoh!"