
Aku kembali ke ibukota ketika hampir pagi. Tentu saja, aku tidak akan bisa masuk lewat gerbang depan. Menyusup adalah cara termudah untuk masuk ke kota di tengah malam seperti ini.
Yang merepotkan adalah mereka membagi ibukota menjadi beberapa distrik.
Sejak awal, kota itu berbentuk lingkaran, dengan diameter kira kira 1,6 km. Disana dibagi menjadi 9 distrik, yang mana diurutkan dengan kasta.
Tengah tengah lingkaran ada kastil, yang melambangkan pusat kota ini, lalu juga ada Gereja di pusatnya. Bangunan uty dikelilingi oleh parit mirip danau yang mengelilinginya. Disana tempat tinggal para keluarga kerajaan, atau disebut distrik 1.
Di sekeliling danau itu, ada tempat tinggal para bangsawan, yang dibagi menjadi 4 distrik. Distrik 2-5, dibagi sesuai mata arah angin.
Selanjutnya, lapisan berikutnya berisi rakyat biasa. Ini terbagi menjadi 4 distrik juga.
Dan sekarang, aku sedang berada di distrik 6, tempat aku dan kak Edna serta ibu menginap.
Aku sudah sempat ke alun alun tadi, tapi hari sudah semakin ramai. Padahal matahari belum menunjukkan wajahnya. Aku terjebak keramaian, dan akhirnya sampai di Distrik 6 ketika matahari sudah terbit.
Oh ya, aku ingat ingat lagi, aku sudah lama tidak mengajak mereka untuk pergi bersama, bukan? Aku selalu pergi sendirian jika sampai ke suatu kota, sedangkan aku meninggalkan mereka di penginapan?
"Humm, kita bisa mengunjungi Gereja besok. Sekarang mungkin baik untuk mengajak mereka jalan jalan. Mumpung kita susah sampai di Ibukota." aku berjalan senang menuju penginapan.
BRAKK!!!
Aku membanting pintu tempat kamar ibu dan kak Edna berada.
"Whoa!!!" aku berteriak keras ketika kak Edna melayangkan pisau ke arahku. Itu dekat dengan wajahku. Itu jelas akan mengenaiku jika aku tidak menghindarinya.
"Eh!! Maafkan aku, Ren! Aku kira kau penyusup!" dia segera berlari, mengambil pisaunya kembali.
"Ugh, itu juga salahku karena masuk sembarangan. Dan juga, pisau itu yang pertama kau periksa? Bagaimana dengan orang yang kau lempar?" aku berteriak. Setidaknya tanyakan keadaanku, bukan? Tapi dia hanya menanggapi dengan memasang wajah bingung ke arahku.
"Ahh, sudahlah. Lupakan! Biar aku jelaskan maksudku terburu buru hari ini! Ayo kita jalan jalan, kak Edna! Aku ingin mengelilingi kota ini sebelum kita pergi ke gereja besok!" kataku.
Mereka sedikit terkejut, lalu berpandangan. Tidak lama kemudian mereka tersenyum. Aku tidak begitu paham, tapi biarlah.
"Baiklah! Tunggu kami, biarkan kami bersiap!" jawab kak Edna bersemangat.
"Humm, kalau begitu aku tunggu kalian di lantai satu." jawabku sambil mengedipkan mata. Aku bisa mendengar samar samar suara kak Edna yang mengatakan itu mengejutkan.
Aku juga perlu mempersiapkan sihir ilusi ku untuk mengubah telingaku.
Tentu, aku tidak melakukan itu di tempat ramai, karena lantai satu penginapan itu sekarang menjadi tempat makan yang cukup ramai.
"Terima kasih sudah menunggu!" kak Edna menunduk ketika aku melamun menunggu mereka.
Sudah kuduga, kak Edna memiliki selera yang bagus dalam hal pakaian, tapi itu bukanlah pakaian yang bagus untuk berpergian. Sedangkan ibu, dia mengenakan kerudung hitam menutupi telinganya.
"Hufft. Seharusnya ibu bilang dari tadi." aku sedikit menghela nafas ketika melihat keadaannya.
"Ah? Eh ya. Maaf tapi bagaimana denganmu, eh?" ibu sepertinya akan mengatakan bagaimana denganku. Aku, jelas sudah punya penyamaran sendiri!
"U-Uwahh!!! Benar benar imut! A-apa ini?!! Aku baru melihatnya setelah ibu menyinggungnya! Tak kusangka adikku seimut ini!" kak Edna mendekat dan menyentuh telinga kucing ilusi ku.
?!!
Aku tidak tahu, tapi aku bisa merasakan ketika telinga kucingku diaentuh oleh kak Edna.
Bukankah ini seharusnya ilusi, jadi ini tidak akan bisa disengug? Tapi bagaimana jika Dark Magic membuat ilusi yang terlalu sempurna sampai bisa disentuh dan bahkan dirasakan?
"Uwahh! Ini seperti nyata! Benar benar lembut!" kata kak Edna.
"Humm. Cukup menyenangkan ketika dielus, eh bukan! Kak Edna, kau keluar dari karakter mu lagi lho! " kataku sambil menggerakkan kepalaku menjauh. Dia hanya terkikik.
"Jadi." aku melihat ibu baik baik. Kalau rambut ibu biru, akan cocok jika menjadi Beast kelinci, bukan?
"Wa wa wa!!" ibu berteriak kecil ketika kerudungnya naik. Dan ketika itu dibuka, terlihat telinga kelinci putih disana.
"Jadi sekarang kita akan berangkat?" aku mengangkat tangan sedikit, mengajak mereka untuk segera pergi.
Mereka mengangguk yakin dengan mata yang berbinar.
***
Dari sana, kami berjalan mengitari ibukota. Ada juga Adventurer Guild disini, jadi aku sempat melihat sebentar. Ada juga beberapa orang yang memberikan atraksi.
Tujuan pertama kami jelas ke Alun alun. Ini berada di utara kastil. Alun alun adalah satu satunya tempat yang tidak dipisahkan oleh tembok antar distrik.
Seperti alun alun biasa, ini berbentuk lingkaran, dengan diameter 100 meter. Sangat besar, tapi isinya juga bermacan macam. Banyak berbagai macam penjual disini.
Tapi yang paling mencolok adalah diskriminasi.
Kerajaan Kin adalah kerajaan matoritas Elf yang menunjukkan diskriminasi secara mencolok. Walaupun negara ini tidak secara terang terangan mencantumkan diskriminasi di beberapa peraturannya, tapi bahkan para bangsawan sendiri melakukannya.
"Hey! Bisakah kau kemari, Beast kucing, meow!! Ha ha ha!!" sekelompok Elf laki laki seperti preman memanggilku.
Huffy. Bahkan Beast sepertiku juga masih didiskriminasi seperti ini, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku terang terangan kemari sebagai manusia.
"Berisik. Diamlah." aku menaikkan keinginan membunuhku pada mereka.
"Hii!!" segera, nyali mereka ciut dengan itu. Huffy. Dasar orang orang yang menyedihkan. Tapi beruntung, ibu dan kak Edna tidak melihat aku melakukannya karena sedang sibuk dengan melihat keramaian ini.
"Hei. Bagaimana jika kita mencari makanan? Bukankah kita belum sarapan tadi?" aku mengawali percakapan.
"Ahh, benar Ren. Apa yang harus kita makan untuk sarapan?!" tanya kak Edna sepertinya sangat bersemangat.
"Setidaknya, makanlah sesuatu yang ringan terlebih dahulu. Bagaimana jika mampir ke tempat teh, dan makan beberapa kue disana? Aku sudah tahu tempat yang enak lho!" katakubsanvio berkacak pinggang.
"Fu fu fu. Kau hanya ingin minum teh bukan, Ren?" tanya ibu sambil menutup mulutnya.
"Hehe, ibu benar. Kalau begitu, ayo!" aku mengangkat tangan memimpin mereka.
Humm, tidak kusangka buku panduan yang dulu aku baca tentang bagaimana mengajak orang berjalan jalan akan berguna sekarang. Aku sedikit bersyukur atas hidup kelasku dulu.
Kami pergi ke tempat teh, memesan teh dan kue tentunya. Setelah dari sana, aku menyarankan mereka untuk membeli pakaian baru. Aku punya banyak uang, jadi tidak masalah.
"Humm! Itu benar benar cocok untuk kalian." aku mengangguk puas ketika melihat mereka keluar dari toko pakaian dengan pakaian baru.
"Aku penasaran kenapa kau punya begitu banyak yang, Ren." tanya kak Edna menyelidik.
"Ahh, jangan pikirkan!" aku sengaja menghindari pertanyaan itu. Tatapan curiga kak Edna melemah, sepertinya dia sudah mulai percaya padaku.
Setelah itu, kami terus berjalan mengelilingi seluruh ibukota. Kami masuk beberapa tempat makan, atau mungkin toko, kami memasuki semuanya.
Mungkin ada yang mengawasi kami dan menganggap kami aneh, tapi biarlah.
Biarlah kami bersenang senang, setidaknya 1 hari saja.
.
.
.
Note: Maaf lama ga update, HP author rusak kemaren, jadi ga ada sarana buat ngetik... Dan beberapa bab yang udah ditulis hilang. Sekali lagi author minta maaf...