
PoV: Ren
"Uhh, ini sangat merepotkan. Benar benar." aku hanya bisa mengeluh pelan ketika melihat kertas itu.
Setelah kuamati memang benar kota ini terlihat lebih sepi. Apa ini efek dari pengumuman itu? Sekuat itukah peranan Akademi pada kota ini?
Kalau begitu, sekuat apa pengaruh Weiss sebagai kepala sekolah Akademi?
"Ada apa, Ren? Apa kamu kenal dengan seseorang yang ada di dalam gambar?" kak Edna datang mendekat, penasaran.
"A-Ahh, ya. Tidak. Aku hanya bingung. Orang ini, aku kenal dekat. Yahh, bisa dibilang dia adalah calon muridku." aku benar benar bingung hingga kesulitan berkata kata.
"Kau? Kenal dengan seorang buronan? Selain itu, dia calon muridmu? Apa yang akan kamu ajarkan padanya!" kak Edna berteriak. Humm itu adalah tanggapan yang bagus.
Tapi ada sesuatu yang aneh dengab gambar gambar ini. Di sebelah Aina ada seorang Assasin.
Ahh, dia pasti paman Kurls. Dia akhirnya menunjukkan jati dirinya kah?
"Humm, mungkin kalian tidak akan percaya, tapi gambar orang yang ada di sebelahnya adalah paman Kurls." aku menunjuk pengumuman.
"Heh? Apa? Apa yang sedang kalian bicarakan?" tiba tiba ibu masuk dalam percakapan.
"Aku sangat percaya Aina, dan tidak mungkin Aina melakukan hal aneh. Selain itu, dia bersama paman Kurls. Jelas aku sangat percaya padanya." aku menghela nafas.
Kak Edna terlihat cukup yakin, tapi ibu terlijat bingung. Jelas ibu tidak tahu apa yang kami bicarakan sekarang.
"Pokoknya, ah! Paman penjaga! Bisa kami tanya apa kesalahan mereka hingga dipajang di poster, dan berapa uang yang bisa kita dapatkan jika menangkap mereka?" aku mencoba menghentikan seorang penjaga, dan bertanya padanya.
Dia melirikku sekilas, memperlihatkan ketidak sukaannya. Tapi ketika dia melirik poster itu, raut mukanya berubah.
"Oh! Poster ini?! Sebagai manusia matamu bagus juga! Benar! Katanya, mereka mencuri sesuatu yang berharga dari Akademi, karena itu mereka butuh untuk ditangkap hidup hidup." jelasnya.
"Persetan dengan alasannya, yang terpenting adalah hadiahnya. Dia berharga 2 koin emas loh!" katanya dengan mata berbinar.
Humm, agak mencurigakan. Memang benar bahwa aku yang meninggalkan mereka begitu saja, dan bisa jadi Aina panik dan melakukan sesuatu tanpa pikir panjang.
Tapi, di sana ada Suzu. Dia pasti tidak akan diam saja melihat Aina mencuri sesuatu di Akademi.
Dengan kata lain, ini adalah pemutar balikan fakta dari akademi.
"Terima kasih. Saya akan mengabarkan jika ada perkembangan tentang mereka." aku membungkukkan badan, memberi hormat.
"Bagaimana, Ren?" kak Edna mendekat ketika penjaga itu sudah berlalu.
"Entahlah. Ini semakin lama semakin membingungkan. Tapi, ada kemungkinan besar Suzu terlibat dalam semua ini. Dan ini tidak akan selesai tanpa berbicara langsung dengan mereka." aku hanya bisa menghela nafas.
"Ayo! Aku sudah tahu posisi mereka. Sekalian saja, kita akan bertemu Suzu, jadi lebih baik siapkan diri masing masing!" aku menyibakkan tangan, mengajak mereka pergi.
Ya. Aku sudah tahu lokasi mereka. Tapi bagaimana kami menuju kesana, adalah hal yang sulit.
Skill [All Map Exploration] ini sangat praktis, tapi sayang tidak bisa mendeteksi area bertingkat. Tapi aku pernah menggunakannya dalam Dungeon dan itu bekerja. Apa aku harus masuk ke dalam dahulu untuk mengungkap peta?
"Eh? Bukankah itu putri wali kota?" kak Edna menggumam pelan sambil menunjuk seorang anak perempuan.
Itu adalah anak dengan umur sekitar 7-8 tahun, ras Beast jenis kucing, dengan rambut berwarna merah.
Di sekeliling nya ada orang orang berbagai ras, yang menatapnya seperti menatap uang. Sepertinya mereka semua adalah bandit.
"Baiklah. Sepertinya akan terjadi pola klise disini. Tapi ada baiknya aku awasi dulu." aku mengangguk senang.
Aku mengambil perlengkapan untuk menyamar menjadi Nier, si Adventurer.
"Baiklah. Aku punya rencana. Kakak, ibu, mari kita tunggu dan lihat apa yang akan terjadi." aku mengubah bibirku. Aku senang tersenyum seperti ini, karena ini membuatku terlihat licik!
Tapi kak Edna hanya melongo, sambil melihat kembali ke arah anak perempuan yang mulai dikepung itu.
"Hei! Apa yang kamu maksud? Bukanlah sudah jelas bahwa anak itu akan diserang oleh para bandit itu? Apa kamu tidak akan menolongnya?!" dia menunjuk sambil setengah berteriak.
Hufft, jiwa jiwa keadilan mulai beraksi disini. Jujur, itu membuatku harus mendengus kesal.
"Ahh, untuk saat ini, diam saja dahulu dan pakai ini. Kita akan menyamar menjadi petualang." aku mengambil beberapa peralatan mirip milik Suzu, membuat kami tersamar menjadi petualang.
Kak Edna dengan pedang panjang, dan ibu dengan tongkat seperti mage. Aku benar benar ingin tertawa melihat kombinasi ini.
"Jangan tertawa!" mereka serempak berteriak sambil memukulku.
"Hei, kamu. Apa kamu baik baik saja? Kenapa? Ada masalah apa hingga kamu meminta tolong?!" aku masih bisa mendengar suara anak itu walau menguping dari kejauhan.
Baiklah. Mari kita tebak apa yang akan terjadi.
"HMMPHH!!" teriakan tertahan terdengar, dan ketika aku mengintip sedikit, aku sudah melihat karung kotor yang cukup besar, bergerak gerak pelan, sebelum akhirnya berhenti bergerak.
Humm, aku penasaran apakah "mengkarungi" seorang anak masih populer disini?
"Ren!" kak Edna dan ibu mulai berisik.
"Ya! Aku pasti akan menyelamatkannya, pada akhirnya. Ya. Pada akhirnya." aku mengangguk puas pada diriku sendiri dengan mengulang bagian "pada akhirnya".
Pada akhirnya, kami bertiga mengikuti para bandit itu.
Bandit itu aneh, kenapa mereka sangat lengah? Padahal bahaya bisa mengincar kapan saja!
Yahh, terserahlah. Yang penting, dengan begini waktu aku menyelamatkan anak itu dengan waktu pingsan nya tidak terlalu dekat. Akan repot jika aku dikira orang yang menculiknya.
"Ah Ren! Kau membiarkan mereka pergi sekarang untuk membuntuti dan mengetahui markas mereka, bukan?" kak Edna menepuk pundak ku, berwajah senang.
Heh? Apa itu? Aku tidak ingin menangkap mereka semua, jujur. Mereka tidak menggangu ku, itu saja sudah cukup untukku tidak mengganggu mereka.
"Tidak. Mari kita akhiri saja ini disini." aku sudah mendapat spot bagus untuk menyergap mereka.
Itu mudah, karena mereka sangat lemah, aku hanya mengambil yang paling belakang, membuatnya pingsan tanpa suara.
Aku melakukannya satu per satu, sampai akhirnya hanya dua orang tersisa.
"Hei, bukankah ini semakin sepi?" salah satu dari mereka akhirnya menyadari.
Tapi, itu semua sudah-
"Terlambat." aku muncul diantara keduanya, membuat mereka jatuh dalam sekali serang.
"Semua pingsan. Target diamankan. Misi, selesai." aku menutup mata perlahan, lalu mengambil karung berisi anak itu.
Tunggu! Sejak kapan cara bicaraku menjadi seperti ini?!
"Kak Edna! Ibu! Tolong ikat mereka. Sepertinya mereka bisa menghasilkan uang." aku mengangkat alis, melihat ke arah badan badan yang pingsan.
Kak Edna mengangguk jelas, sementara ibu mengepal kan tangan semangat. Eh, apa yang membuatnya sebegitu semangat?!
***
"Ren, bagaimana kondisinya." tanya kak Edna pelan.
"Detak jantungnya normal, nafasnya pun baik. Dengan begini, dia akan bangun dalam beberapa saat lagi." aku berhasil memeriksa keadaan anak itu.
Karena sekarang aku tidak bisa menggunakan light magic atau sihir penyembuhan lagi, aku harus sedikit mengingat tentang kedokteran di duniaku yang sebelumnya.
"Kalau begitu, itu baik. Tapi, kenapa-" pertanyaan kak Edna terpotong oleh suara rintihan dari depanku.
Anak itu terbangun dari pangkuan ibuku, dan menengok ke kanan dan kiri.
Dia pertama kali melihat bandit bandit itu, lalu dengan segera memucat, bahkan hampir melompat. Apa dia setakut itu?
Tapi, begitu menyadari mereka terikat, dia mulai melemah.
Selanjutnya, dia menoleh ke arah kami bertiga. Aku malas banyak bicara, jadi aku menunjukkan kartu anggota Adventurer Guild milikku.
"Aku adalah Adventurer Rank-A. Aku sudah menyelamatkan mu. Jadi, bisa beritahu rumahmu agar aku bisa mengantarmu pulang." untuk saat ini aku hanya berbicara singkat, padat, dan jelas.
"Uhm. Saya mengerti. Terima kasih telah menyelamatkan saya, petualang yang terhormat. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika anda tidak menyelamatkan saya."
"Perkenalkan, saya Thui Ravinder, putri dari walikota Furyuun, Rice Ravinder." dia menunduk, memperkenalkan diri ala Putri.
Humm, sikap yang bagus. Setidaknya, mirip kak Edna sebelum dia berubah jadi banyak bicara seperti sekarang.
Tapi yang membuatku penasaran, apa nama ayahnya benar benar nasi? Itu menggelikan!
*Note: Rice\=bahasa Inggris dari nasi
Ups! Aku hampir tertawa dibalik masker hitamku!