Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 3: Bab 16 - Pancingan



"Ren itu, dia memang aneh, ya!" Thui sedang berjalan bersama dengan Edna menuju ke Guild.


Ya! Thui berhasil dibujuk setelah mendengar cerita Aina.


Setelah Ren kembali dari Adventurer Guild, dia menemukan Thui dan Aina yang sedang berbincang bincang. Tapi terlihat beberapa bekas air mata di mata Thui.


Itu karena Aina menceritakan masalahnya dan itu membuat Thui menangis. Tapi Thui lebih dewasa dari umurnya, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan membahas hal hal yang Aina suka.


Ren tersenyum menyadari itu, dan menggunakan itu untuk menggoda Thui.


Pada akhirnya memang Thui menyetujuinya.


"Humm, memang dia agak aneh, tapi dia adalah orang yang baik. Dia sudah berkali kali menyelamatkanku." Edna menyatukan tangan, menaruhnya di dada.


Terjadi keheningan sesaat, ketika mereka berdua berjalan bersama. Tentu saja, Thui dan Edna dalam penyamaran.


"Oh ya. Ngomong ngomong, kenapa kamu bisa mengetahui identitas asli Ren? Dan kamu bisa menebak semua nama samarannya!" Edna mulai penasaran.


Thui sedikit terkejut, lali menunduk sambil menutup wajahnya.


"Aku... punya mata... khusus...." jawab Thui dengan suara pelan. Sangat pelan hingga hampir tidak terdengar oleh telinga biasa.


"Hehh? Hebat! Mata apa yang kamu miliki?!" mereka terhenti karena teriakan Edna.


Edna terlihat sangat antusias, memegang kedua pundak Thui, mendekatkan wajahnya ke kedua matanya. Sepertinya mencari perbedaannya.


"Kamu? Kamu tidak takut?" Thui bertanya dengan hati hati.


"Takut? Untuk apa?"


"Ya, habisnya, mata ini hanya ada beberapa di dunia ini, dan ini juga disebut sebagai mata iblis atau mata jahat. Banyak orang takut dengan orang orang pemilik mata khusus ini." Thui menjawab sambil memalingka muka.


Edna terdiam, terlihat mengingat ingat.


Memang benar, pemilik "mata jahat" ini dipandang remeh oleh orang orang dunia ini.


Katanya, mata ini adalah mata setan, mata yang diberikan oleh iblis. Padahal kenyataannya, ini seperti kemampuan khusus yang dimiliki beberapa orang.


"Yahh, aku tidak terlalu memikirkan itu. Bukankah itu adalah berkah? Untuk baik atau tidaknya, tergantung bagaimana kita menggunakannya!" Edna berpura pura tidak mengerti, tapi sebenarnya berusaha menghibur Thui.


Dan sepertinya itu berhasil.


"Unn! Kakak benar!" kini Thui memandangi Edna dengan mata berbinar. Terlihat jelas bahwa dia memang masih anak anak.


"Jadi karena itu cara bicaramu jadi aneh tadi?"


"Ahh bukan!" Thui dengan muka memerah berteriak.


"Ayo ganti topiknya! Oh ya! Mata yang aku miliki adalah mata kejujuran. Jadi jika orang berbohong, aku bisa mengetahuinya."


"Ini tidak sepraktis mata kebenaran, tapi aku tetap tahu jika ada orang yang berbohong tentang namanya." Thui mulai menjelaskan.


Edna mengingat ada yang ganjil, lalu bertanya.


"Uhm, kalau begitu, kamu sudah tahu bahwa orang yang waktu itu kamu tolong itu berbohong dengan melihatnya, bukan?"


"A-Ahh, kalau itu adalah salah satu kelemahan mata ini." Thui memalingkan wajah malu.


"Aku hanya bisa melihat kebohongan nya, tapi tidak bisa mendeteksi lewat suara. Dan ketika aku mendapat penglihatan bahwa dia berbohong, itu sudah terlambat karena aku sudah terkepung." jelas Thui sambil menggaruk pelipisnya menggunakan jari.


Edna hanya mengangguk, dan menggandeng Thui untuk pergi ke Guild.


Dia tidak bertanya apapun lagi setelah itu.


***


"Baiklah tikus tikus kecil, waktu bermain selesai!" teriakan Weiss menggema di ruangan gelap itu.


"Humm. Kalian memilih tempat yang bagus. Ruangan gelap, di pasar gelap. Ini mengingatkan saya bagaimana aku mendapatkanmu dulu, Aina." Weiss menyibakkan rambutnya pelan.


"Siapa sangka saya akan mendapatkanmu lagi disini? Ditambah aku akan mendapatkan bonus? Ini luar biasa!"


"Seperti saya akan membiarkan Anda menyentuh mereka!" Kurls tidak ada pilihan lain selain bertarung. Dia melemparkan semua benang, ke seluruh tempat, mengelilingi Weiss.


Dia menambah peledak di setiap benangnya. Tidak hanya itu, dia juga menambah kecepatannya memasang benang.


"Saya mendapatkan anda!" Kurls memegang semua benang di tangannya, menarik nya untuk menghancurkan Weiss.


Ledakan terjadi, dan Weiss terlilit oleh seluruh benang yang dikeluarkan Kurls.


"A-apa?!" tiga orang itu hanya menganga melihat kejadian yang ada.


"Ba-bagaimana mungkin itu bisa terjadi?! Benang saya, sama kerasnya dengan besi! Dan itu juga bisa menjadi sangat tajam! Saya juga sudah menempelkan peledak disana, tapi itu masih belum berhasil juga?!" Kurls hanya bisa memandang Weiss dengan mata terbelalak.


Weiss tertawa terbahak-bahak dalam keadaan masih terlilit benang.


"Kau tahu? Sihir bukanlah sesuatu yang monoton." Weiss menggerakkan tangannya yang tadi terkekang seperti tidak ada apapun.


"Jika kau sudah menguasai sihir, sihir bisa digunakan untuk apapun." benang benang itu mulai bersuara bersahutan.


"Seperti ini."


BLARR!!


Weiss menghentakkan tangannya maju, menghancurkan semua benang benang besi itu.


Wajahnya yang tadinya terhalang lilitan benang, kini menampilkan tawa yang memperlihatkan giginya.


"Baiklah Aina! Saya akan menikmati waktu demi waktu dengan tubuhmu, begitu juga denganmu, Suzu. Jangan khawatir karena saya punya waktu luang kalian berdu-" kalimat Weiss terhenti.


Kurls sudah mengaktifkan sihir miliknya, menuangkan setiap sihir ke peningkatan kecepatan dan kekuatan miliknya.


Senjatanya juga dia lapisi sihir, untuk bisa lebih kuat.


Dia menyerang Weiss dengan membabi buta, tanpa peduli apapun.


"Berani sekali kau menyela kata kata saya yang hebat ini?!" Weiss tampak marah, walau seluruh tubuhnya diserang.


Walau begitu, pelindung sihir yang Weiss pasang terlalu kuat bagi serangan serangan Kurls. Serangan kuat Kurls terlihat seperti mainan di hadapan sihir perlindungan milik Weiss.


"Diamlah!" Weiss merapal sesaat, lalu menggunakan dark magic untuk menangkap Kurls, dan melemparkan fireball yang sangat besar ke arah nya.


Itu adalah pukulan telak.


"Paman Kurls!!" Suzu dan Aina berusaha untuk mendekati Kurls walau dengan susah payah.


"Hwahahaha! Sudah saya bilang, semua yang kau lakukan sia sia! Nahh!! Sekarang, mari ikut saya, Aina! Suzu! Teman teman kalian sudah menanti!" Weiss tertawa senang sambil tersenyum. Senyum yang membuat Aina dan Suzu bergidik seketika.


"Saya sudah memikirkan berapa lama saya akan bermain dengan kalian ber-"


"[Im the Sadistic]!" suara yang familiar terdengar, lalu suara pecah terdengar. Itu adalah suara penghalang yang terpecahkan.


"[Lightning Root]!" seketika muncul lingkaran sihir di kaki Weiss.


Weiss terbelalak, dia merasakan bahaya yang datang langsung membentuk perisai di sekeliling tubuhnya sampai berlapis lapis, tapi itu tidak ada artinya untuk akar akar listrik yang muncul dari bawahnya.


"Aarggghhhh!!!" teriakan Weiss menggema di seluruh ruangan besar itu.


Hanya ada orang yang bingung menonton kejadian itu, melihat orang hanya seperti dipermainkan disana oleh suara misterius.


Clap clap clap.


Suara tepuk tangan berasal dari atas.


Muncul orang dengan pakaian hitam hitam, serta rambut hitam yang bercampur putih. Topeng setan bermata merahnya tersenyum, seperti menggambarkan perasaan pemakainya.


"[Lock]." ketika orang itu mengatakannya, muncul kurungan di sekeliling Weiss. Selain itu, juga muncul kurungan lain dengan orang babak belur di dalamnya.


Tidak sampai disitu, ruangan yang tadinya gelap gulita, kini mulai memperlihatkan cahaya cahaya yang ada.


Terlihat bentuk asli ruangan itu, theater pertunjukan tempat diadakannya pelelangan.


Mungkin terdengar aneh, tapi sebuah sihir mirip layar yang menayangkan kejadian terkini di tempat itu mulai terbentuk di tengah theater.


"Baiklah semuanya! Selamat datang di acara Pengadilan Malaikat Kematian!" orang berpakaian hitam itu kini berteriak.


"Dimana saya, Shinigami sebagai Moderator nya!"