Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 1: Bab 16 - Reinkarnator



"Jadi, apa ada yang ingin kalian katakan?" pajurit bebal itu mengatakan sesuatu dengan menyilangkan tangannya di dada.


"Tolong lepaskan aku terlebih dahulu!" teriakku padanya.


Dia segera melepaskanku, dan akhinya, aku merasakan kembali kebebasan yang sementara direnggut. aku berdiri mencoba menggerak gerakkan tubuhku kembali.


"Jadi, apa anakmu menjadi penculik, Kapten Roy?!" tanya si prajurit bebal itu. Aku sedikit mendengus kesal.


Setelah semua ini terjadi, dia masih berpikir bahwa aku penculik? Aku penasaran tebuat dari apa otaknya itu.


"Tidak mungkin! Dia anakku lho! Aku yakin dia melakukan itu pasti alasannya." ayah membelaku dengan keras.


"Dan tadi kau bilang, adikmu diculik? Apakah itu berarti Suzu diculik?!! Apa itu benar?!" tanyanya sambil memegang pundakku denga keras.


"Ya! Dan kalian menghentikanku untuk megerjar dia!" aku menyilangkan tangan sambil berbalik.


"Sekarang, dia sudah lolos dan telalu jau dari jangkauanku, dan itu semua karena kalian!" aku kembali mengecam keras.


"Apa?! Itu benar? Bagamana ini Seuird? Anakku diculik! Anakku diculik!" kata Ayaku, Roy Larvest sambil bergerak untuk memeluk Seuird.


Seuird dengan sengaja menjauhkan ayahku dengan tangannya dengan bersikap lebay.


"Ini semua salahku. Aku tidak bisa menjaga Suzu dengan baik. Aku bahkan meninggalkannya, bahkan jika itu untuk pergi ke toilet sekalipun," aku menggertakkan gigi, kesal.


Aku kesal dengan diriku sendiri, yang membiarkan semua ini terjadi begitu saja.


"Tidak tidak, Ren! Jika kau melakukannya, kau akan kuhukum!"


"Kasus ini sudah banyak sekali merebak. Bahkan kami pun kesulitan untuk bisa menangkapnya! Kau sudah sangat luar biasa untuk membututinya sejauh ini." kata ayahku menghiburku.


Aku merasa sangat sedih dan tertekan sekarang. Tapi, aku tahu itu semua tidak akan membantu. Aku harus berfikir.


(Ya! Berfikir adalah keahlianku!) Aku berusaha menghidupkan kembali kepercayaan diriku.


"Tapi, bagaimana dia bisa tidak terlihat oleh kalian para elf? Dan hanya aku yang tidak terpengaruh? Bagaimana itu bisa terjadi?" aku bertanya dalam kebingungan.


"Kemungkinan, pelaku menggunakan benda khusus yang disebut air suci. Yang mana penggunaannya bisa bermacam macam. Seperti untuk membuat alat sihir tertentu, termasuk ini."


"Kalau tidak salah, itu adalah kain yang tidak dapat dilihat Elf. Hanya itu yang menajdi kemungkinannya," jelas ayahku.


Kalau benda sepert itu memang ada, maka itu adalah sesuatu yang harus kuteliti, bukan?


Bisa saja ada sesuatu kandungan yang khusus di dalam air itu? Atau sesuatu lain yang mencurigakan? Atau sesuatu zat yang mempengaruhi Elf?!


"Pokoknya, sekarang kau ke kantor ayah dahulu. Disana, tenangkan dirimu dan tunggu kakakmu, Ruly menjemputmu. Seuird, antar dia!" ayahku berkata tegas.


"Tapi ayah! Aku juga harus ikut! Secara teknis, aku adalah orang yang membiarkan hal ini terjadi! Semua ini salahku!" jelas aku tidak terima!


"Ren, ini semua bukan salahmu. Kau tidak bisa menyalahkan dirimu seperti itu. Dan sekarang, ayah bukan memintamu kembali, tapi menyuruhmu kembali. Ini perintah." dia benar benar melarangku pergi?!


Tapi, apapun yang kulakukan tidak akan berguna. karena ayahku yang beanr benar keras kepala, jadi mlawannya tidak akan mengubah pendiriannya.


"Baiklah Seuird! Aku akan memastikan sistem keamanan, bagaimana orang ornag ini lewat. Tolong antar dia dengan baik!" kata ayahku, menatap Seiurd dengan tajam.


Tapi, Seiurd hanya diam, tidak bersuara, melamun.


"Hei, are you understand what i speak?!"


Aku terkejut. Apa aku salah dengar? Tidak, bukan? aku tdak salah dengar, kan?


Aku mendengarnya mengucapkan kata kata dari bumi, bukan? Apakah itu bahasa inggris?!


Dan lagi, dia memiliki rambut putih yang sama denganku. Jangan bilang. Jangan bilang bahwa, dia juga seorang reinkarnator?!


"Hei bodoh! Jangan mengatakan kalimat kalimat anehmu pada anakku! Apa kau tolol?!" ayahku memukul kepala Seuird, sedikit bercanda.


"Ahh, baiklah." lalu dia menatapku.


Beruntung, aku memiliki skill [Poker Face] membuatku mudah untuk mengelabuhinya dan memasang wajah bingung.


"Ini aneh. Kata Celestine semua reinkarnator berrambut putih, bukan?" aku mendengar Seuird itu menggumam perlahan.


(Celestine? Siapa itu?)


Perlahan, ayahku melambaikan tangannya sesaat ke arah kami, dan segera melompat pergi, menghilang.


"Kalau begitu, ayo!" Seuird itu menarikku pergi. Aku hanya menurut. Selain itu, saat ini aku benar-benar kekurangan infromasi!


Aku membutuhkan setidaknya beberapa informasi tambahan.


Dan sebagai kepala guild, atau bisa dibilang wali kota Eldergale ini, aku yakin ayahku memiliki satu atau dia informasi tambahan di ruang kerjanya.


"Kenapa? Tidak mau berbicara denganku?" si Seuird kembali mengajakku bicara.


"Cih! Aku tidak ingin bicara dengan orang yang ingin membunuhku!" kataku kesal, seidkit mendecak padanya.


Aku sedang membicarakan masalah tadi sekarnag.


"Ahh, soal itu? aku minta maaf! Sepertinya aku sudah keterlaluan! Tapi yaahh, mau bagaimana lagi, itu memang pekerjaanku!" katanya menggaruk kepalanya.


"Aku hampir mati, sialan!!" aku memukulkan tinjuku ke arahnya.


Dengan statusku, aku tahu, dia pasti merasa sakit dengan itu, tapi menahannya, kan?


***


"Inikah kantor Guild?!" tanyaku terkagum ketika memasuki kantor ayahku.


"Silakan duduk di manapun yang kau suka! Aku lebih suka duduk di sini!" kata si Seuird itu sambil memilih kursi utama, kemungkinan tempat ayahku duduk biasanya.


"Hei, apa maksud pertanyaanmu tadi? Aku tidak mengerti bahas yang kau ucapkan, jadi aku sedikt tertarik." kataku memancing informasi darinya.


Tak lupa, secara otomatis wajahku membentuk ekspresi yang kuingingkan, berkat skill [Poker Face].


"Heh?! Kau benar benar tidak mengerti? Apa kau memiliki ingatan dari duniamu yang dulu?!" katanya setengah berteriak.


Dia berdiri sambil setengah menggebrak meja, menekankan bahwa itu adalah hal yang seharusnya.


"Apa maksudmu? Aku tidak paham! Ingatan duniaku yang dulu? Apa yang kau bicarakan? Apa kau membicarakan reinkarnasi? Aku tahu apa artinya, tapi aku tidak pernah mengalaminya ataupun mengalaminya. Secara teknis, aku tidak ingin mati!" kataku.


Ha ha! Aku benar benar luar biasa dalam berakting!


"Huh! Kau masih saja berkelit, ya? Jadi, bagaimana kau menjelaskan rambut putihmu?" katanya sambil mengikat tangan di depan dada.


Sebenarnya, sudah kuduga dia pasti akan mengungkit hal ini. Dia memiliki banyak hal yang menandakan bahwa dia bukanlah orang dewasa.


Kemampuan berpikirnya yang belum terlalu matang, dan mudah percaya pada orang lain, membuatku semakin penasaran, apalagi dengan kehidupan masa lalunya.


"Ahh, rambut ini? Ini karena ibuku. Ibuku memiliki rambut putih seperti ini. Tentu saja, bukan ibu yang sekarang ini, tapi ibuku yang sebenarnya!" kataku sambil menyentuh rambut putihku dengan lembut. Dia mengangguk, tanda mengerti.


"Oh ya! Aku belum memikirkan kemungkinan adanya genetik yang turun ya? Aku juga belum terlalu paham masalah genetika," dia menggumam perlahan.


Baiklah, sepertinya ini saat yang tepat untukku bisa mengorek informasi, bukan?


"Hei! Kalau kau benar benar berreinkarnasi, seperti apa kehidupanmu yang sebelumnya? Ahh, apa mungkin kah berbohong? Kalau itu kau pasti begitu. Jadi, tidak mungkin kau memiliki ingatan masa lalu!" aku mencoba memancingnya.


Dan, dia yang masih labil dalam hal emosi, pasti-


"Apa kau bilang? Aku punya, tahu! Aku akan menceritakannya!"


-akan memakan umpannya.


Aku berhasil.


***


Intinya, dia adalah siswa SMP di kehidupan masa lalunya. Dia mengalami hidup yang buruk oleh kedua orang tuanya, dan dibuang entah kemana.


Tapi, dia masih bisa hidup sendiri hingga SMP. Sampai akhirnya dia meninggal karena kelelahan bekerja, dan akhirnya bereinkarnasi.


Aku jadi ingat perkataan Zadkiel, bahwa dia mengatakan bahwa aku adalah anak yang mati muda, denga masa muda yang kelam.


Jadi, kemungkinan orang orang yang berreinkarnasi disini adalah pelajar. Dengan kata lain, itulah yang meyebabkan teknologi belum berkembang di masa ini!


Kenapa? Karena mayoritas pelajar tidak pernah belajar, bagaimana smartphone dibuat, apa bahan baku kabel, atau lainnya.


Jadi, tidak mungkin untuk mereka memproduksi alat-alat modern seperti yang kusebutkan tadi.