Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 7 - Bors Larvest dan Sedikit tentang Sihir



Ah, uh. Kak Bors. Kebetulan sekali ya?" Suzu tersenyum terpaksa.


Yang ada di depannya adalah Bors Larvest, anak kedua keluarga Larvest.


("Bors Larvest. Dia kakakku, tapi jujur saja, aku kurang akrab dengannya. Dia cukup jarang berada di rumah. Dia pintar dalam sihir, tapi menolak untuk bersama ayah. Dia selalu pergi ke luar. Akhir akhir ini, dia terlihat bersama dengan paman, ya?") Suzu membatin ketika melihat sosok yang memanggilnya.


"K-kak Bors." Suzu tergagap menyipitkan matanya melihat Bors yang mendekatinya perlahan sambil mengambil kursi di depan Suzu.


"Apa kamu sering pergi ke sini?" Tanya Bors memulai percakapan. Dia menyapa dengan tenang, dan lembut, tapi terkesan berlebihan disana.


"Ngomong ngomong saya juga sering kesini." Bors mengambil teh nya yang sudah datang lalu meminumnya perlahan.


Bahasanya terkesan formal, bahkan dengan adiknya sendiri.


"Wahh, saya adalah pelanggan tetap toko ini. Anda tahu, kemungkinan kita akan bertemu satu atau dua kali jika kita berdua adalah pelanggan di toko yang sama." Suzu tertawa.


"Tapi sayangnya, saya belum bertemu anda sekalipun disini. Atau mungkin itu hanya kebetulan? Kalau begitu, itu adalah kebetulan yang luar biasa!" Suzu berkata sarkas, menunjukkan ketidaksenangannya pada Bors.


Mereka berbicara sangat formal, tidak heran jika mereka didengar seperti orang asibg yang saling berbicara satu sama lain.


Tidak ada yang akan menyangka mereka kakak adik.


"Ahahaha! Kau benar. Sayang sekali kita tidak pernah bertemu." Bors menyentuhkan jari telunjuknya ke cangkir teh, lalu memutarnya mengikuti cangkir itu.


Ekspresi wajahnya yang berubah sedikit kesal tidak tertutup sempurna, membuat Suzu merasa lebih senang.


Sejak awal, Bors memang bukan pelanggan toko ini, dan secara langsung dia mengikuti Suzu, dan mencoba mengajaknya bicara ketika di dalam toko ini.


"Ah! Saya lebih baik menanyakan ini. Apakah pelatihan sihir anda lancar? Saya mendengar kamu memiliki masalah dalam menangani Fehl dalam tubuhmu. Yahh, bagi seseorang berumur 6 tahun, kau memiliki Fehl yang besar." Bors tersenyum.


"Akan lebih baik jika kamu bisa mengendalikannya. Saya tidak ingin terjadi hal buruk denganmu." Bors menatap Suzu tajam.


Sebuah cahaya licik terpancar dari matanya beserta kebencian dan beberapa hal hal tidak mengenakkan lainnya.


Sebenarnya, Bors membenci Suzu.


Dia adalah laki laki satu satunya di keluarga Larvest. Dia juga pengguna sihir dengan kapasitas sihir terbesar di saat itu. Dia bahkan memiliki lebih banyak Fehl daripada Edna.


Itu membuatnya disanjung. Dia didamba dambakan untuk menjadi penerus yang kuat di masa depan.


Selain itu, kemampuannya dalam mempelajari sihir juga cukup cepat, sehingga sering dibilang sebagai anak yang berbakat.


"Dia jenius!" Itu yang sering dikatakan orang.


Tapi itu semua berubah ketika Suzu berumur 1 tahun, dimana dia di cek bakatnya.


Kapasitas Fehl Suzu sangat besar, bahkan mengalahkan kapasitas awal Bors!


Selain itu, dia juga dapat dengan cepat mempelajari sihir, mampu berpikir cepat, dan rasional.


Sebenarnya dia juga terganggu dengan adanya Ren, membuatnya semakin memuncak kan kemarahannya.


Suzu yang tumbuh dengan cepat, membuat orang orang berpaling dari Bors. Bors melihat itu merasa hancur, karena melihat adiknya yang dikelilingi orang orang.


Dia ingin disanjung, dia ingin dipuja!


Dan itu semua direbut oleh adiknya?


Klik!


Bors mengklikan giginya perlahan mengenang itu semua.


Dia dalam hati mengutuk Suzu, dan dia tahu bahwa dia tidak akan bisa menang melawan Suzu. Tapi sekarang ini, dia memiliki tujuan baru.


"Suzu. Aku tahu kau kesulitan akhir akhir ini. Aku juga tahu bahwa kau memiliki bakat yang luar biasa dengan ini." Bors menghela nafas, menciptakan keadaan dimana dia terlihat khawatir.


"..."


"Jujur saja, bagaimana jika aku mengatakan bisa membantumu, apa kau akan menerimanya?" Bors menutup matanya perlahan.


Ya. Ini adalah pilihan Bors. Dia mendapat ide dari pamannya. Bahwa mungkin dia tidak bisa menang, tapi dia bisa memanfaatkannya.


Bors berniat memanfaatkan Suzu untuk kepentingannya sendiri. Untuk itulah dia berniat mengikatnya disini.


"Apa maksudmu?" Suzu menatap curiga.


"Tidak ada. Hanya saja, kau pasti akan segera mengatahuinya." Bors menjawab misterius.


Suzu berpikir sesaat, dia memikirkan semua latihannya untuk bisa mengendalikan Fehl nya, mengatur mana di udara, dan bagaimana dia menjaga untuk tetap perlahan menaikkan MP dalam statusnya.


Tapi itu sangatlah sulit. Suzu sering kesulitan dalam hal itu, bahkan dia hampir menyerah. Tapi dia sudah membulatkan tekad, dan berusaha untuk menjadi sekuat mungkin.


Kenapa?


Karena kejadian kemarin. Dia tidak ingin Ren terlibat itu semua.


"Aku tidak tahu dari mana kau tahu, dan tidak tahu apa yang kau bicarakan." Suzu berdiri, meninggalkan teh nya yang baru dia minum sekali.


"Selamat tinggal. Mungkin aku bilang untuk tidak bergabung." Suzu menggumam perlahan, meninggalkan Bors dengan senyum.


"Suzu!" Bors berteriak tegas, menghentikan langkah Suzu di tengah bell yang berdering di pintu.


"Terserah kau saja!" Suzu berjalan tidak menghiraukan itu, meninggalkan ruangan dengan bell yang bergemerincing.


"Hu hu hu. Suzu. Kau pasti akan berbalik kemari. Aku akan menunggunya!"


***


Aku menepuk tanganku dua kali, mencoba meminta perhatian.


"Baiklah. Karena ini, aku tidak akan basa basi lagi. Aku akan mengajari semuanya mulai dari dasar." Aku mengatupkan kedua tanganku, lalu membuka tangan kiri ku.


Terlihat kak Edna yang sangat antusias dengan ini, bahkan membawa buku catatan sendiri. Bahkan dia juga menatapku dengan serius.


("Begitu kah? Dia sudah membulatkan tekad, ya?") Aku berbisik perlahan.


Aku segera membuat kelima elemen berputar di tangan kananku, dan cahaya dan kegelapan yang menari berputar membentuk yin dan yang.


Bukan apa apa, hanya menuruti pikiranku. Karena di novel, kegelapan dan cahaya itu yin dan yang, bukan?


"Whoah!" Kak Edna berteriak senang, bahkan menepukkan tangannya seperti anak kecil.


"Tunggu, Ren! Aku sudah menduga untukmu bisa menggunakan semua elemen. Tapi, untuk cahaya dan kegelapan juga? Jangan jangan kau juga bisa menggunakan sihir ruang?!" Kak Ruly berteriak cukup terkejut.


"Dan juga, kenapa kita berlatih di luar penghalang? Bukankah akan berbahaya untukmu?" Kak Edna menimpali.


"Baiklah akan aku jawab satu persatu. Bukankah aku sudah pernah bilang, bahwa semua orang memiliki semua elemen dalam tubuhnya. Dan tidak asing jika aku yang memiliki imajinasi yang kuat bisa mengeluarkan semuanya." Aku berkata pelan, sambil memutar mutar lima elemen di tangan kananku.


Itu mengatakan bahwa aku memiliki imajinasi luar biasa. Yaahh, mungkin memang begitu karena bisa dibilang aku adalah penderita sindrom kelas delapan dulu.


"Pertanyaan!" Kak Edna berteriak keras sambil mengangkat tangannya. Itu benar benar kekanak kanakan, membuatnya terlihat lucu.


"Bagaimana dengan sisanya?" Dia menempelkan telunjuknya ke mulut. Ugh itu imut.


"Humm, pertanyaan bagus. Baiklah, aku ulangi lagi. Karena kelima elemen sebelumnya adalah elemen dasar yang berdasarkan pengimajinasian, maka seharusnya tidak ada elemen cahaya, kegelapan atau ruang." Aku menutup tangan kananku, membawa tangan kiri ku ke tengah.


Aku membagi elemen cahaya dan kegelapan menjadi di kedua tanganku, dan menunjukkannnya pada mereka.


"Elemen cahaya dan kegelapan mungkin bisa digolongkan elemen yang labil, karena jumlahnya bisa berubah dalam kondisi tertentu. Dan juga ini sangat unik." Aku tersenyum.


"Kak Edna, bagaimana jika kau menunjukkan sihir cahaya mu. Gunakan imajinasimu untuk membuatnya bulat seperti ini." Kataku menyodorkannya.


Kak Edna terlihat kebingungan, dan sedikit takut. Mungkin tidak ada mantra untuk itu, tapi dia tetap melakukannya.


Dia menutup matanya, dan mengarahkan kedua tangannya ke depan. Dia terlihat sangat berkonsentrasi, dan akhirnya sebuah cahaya lebih kecil dari punyaku keluar.


"Kau berhasil!" Kak Ruly kini berteriak.


"Yeay! Aku berhasil! Aku berhasil!" Sungguh. Kak Edna sebenarnya sangat imut ketika terlihat kekanakan seperti ini.


"Uhum! Jadi, kak Ruly. Apa kak Ruly bisa menemukan perbedaan antara kedua sihir kami?" Aku bertanya pelan. Untuk itu, aku mendekatkan kedua sihir kami, membuatnya bersebelahan.


Kak Ruly mendekatkan wajahnya ke masing masing sihir.


"Hmm, milik Edna terasa sejuk, dan Ren terasa panas. Selain itu, warna sihir punya Edna lebih pucat, dan sihir Ren lebih berkilau!" Kata kak Ruly memberikan pendapatnya.


"Sudah kuduga, aku tidak bisa menyaingi Ren." Kami menutup tangan kami, menghilangkan sihir.


"Bukan begitu." Aku menggetok kepalanya perlahan, dan dia menunjukkan reaksi yang lucu sambil memegangi kepalanya.


"Kak Edna, apa yang kamu pikirkan saat menggunakan sihir?" Aku mulai menginterogasinya.


Edna sedikit bingung tapi dia memutar bola matanya keatas, seperti berusaha mengingat.


"Aku membayangkan sihir penyembuhan dimana tanganku bersinar. Sihir cahaya adalah sihir untuk menyembuhkan, bukan?" Dia berkata pelan, sambil beringsut ringsut menghilang.


Aku hanya bisa tertawa melihat ini. Lebih baik aku segera menjelaskannya.


Apa yang membuat sihir kami berdua berbeda.


"Kalian tahu, aku membayangkan matahari!" Aku terkekeh sambil melipat kedua tanganku.


Suasana hening sesaat, mungkin mereka membutuhkan waktu sejenak untuk berpikir.


"Ooh! Karena itu, sihir Edna menjadi tenang dan menyejukkan, karena dia membayangkan sihir penyembuhan, dan milikmu panas dan bersinar, karena kau membayangkan matahari!" Kak Edna dengan cepat mengerti.


"Ya. Itulah kenapa aku bilang itu unik. Selain itu, kedua elemen ini memiliki keunikan lain, yaitu kepemilikannya." Aku berhenti sebentar.


Aku jongkok perlahan, menggambar Yin dan Yang, beserta orang yang memilikinya.


"Elemen cahaya dimiliki oleh orang yang berhati bersih, memiliki niat yang kuat untuk menolong orang lain, dan tidak memiliki niat jahat untuk sesama." Aku melirik kak Edna.


"Yahh, aku bisa mengetahuinya dengan melihatnya." jawab kak Ruly.


Kami hening sesaat. Edna tampak tidak mengerti.


"Tapi, Ren. Itu berarti sebaliknya, bukan? Kau memiliki hati yang jahat juga?" Aku sudah menduga kak Edna akan mengetahui ini.


Tapi tak kusangka dia akan mengatakannya dengan jelas.


Dan keadaan menjadi sunyi.