
Ini adalah waktu 3 hari dari seminggu yang dijanjikkan. Aku dan kak Edna benar-benar tidak sabar untuk menunggu hingga seminggu, tapi aku berusaha untuk membuat kak Edna tenang dengan membawanya berkeliling ibukota. Yahh, semoga dengan itu kak Edna bisa lebih tenang.
Aku juga berencana untuk bertemu dengan Yuna sekali lagi, tapi seperti yang aku duga, seorang Putri Kerajaan tidak akan bisa ditemui semudah itu.
Tapi ada perasaan tidak enak yang terus menggelanyutiku, aku penasaran apa itu.
"Ren, bagaimana dengan hari ini? Apa yang akan kita lakukan?" aku sedang melamun, itu membuatku sedikit terkejut.
"Ha? Ahh, benar. Mungkin hari ini kita akan mengalahkan beberapa monster dan menukarkannya di Guild. Humm, aku juga berpikir apakah lebih baik untuk kita mendaftar ke Adventurer Guild?" aku sedikit membuat suara bercanda dengan kak Edna.
"Humm entahlah, Ren. Apakah kamu akan menjadi Adventurer untuk selanjutnya? Jika itu yang kamu inginkan, maka itu bagus." jawab kak Edna.
"Itu benar. Pasalnya, kita sudah membunuh beberapa monster yang besar, tapi mereka tidak memberikan kita imbalan yang cocok. Katanya jika ingin mendapatkan imbalan yang sesuai, kita harus bergabung ke dalam Adventurer Guild." aku berbicara sendiri sekarang.
Jujur saja, itu adalah masalah yang mereporkan. Tapi mau bagaimana lagi, itu adalah peraturannya.
"Kalau begitu, mari kita daftar. Menurutku tidak ada salahnya. Kita juga mendapat kartu Identitas juga." kak Edna tersenyum sambil sedikit menjentikkan jari.
Aku yang melihatnya juga tersenyum. Sepertinya kak Edna sudah mulai sedikit tenang sekarang, aku bisa melihat dari matanya.
"Benar. Setelah itu, kita gemparkan Adventurer Guild!!" kataku sambil tertawa.
Keputusan akhir membawa kami untuk mengunjungi Adventurer Guild dan mendaftar.
Kota ini adalah ibukota, jadi aku sudah tidak heran jika kota ini memiliki Adventurer Guild yang besar. Disini juga sangat ramai, dan penuh dengan hiruk-pikuk orang yang berjalan dengan berbagai kebutuhan mereka.
Tapi aku bingung, dari mana mereka mendapatkan Quest, karena jelas dengan banyaknya orang, akan banyak pesaing dalam mendapat Quest.
"Permisi, kami berdua ingin mendaftar." aku mencoba mendekati resepsionis yang melayani beberapa orang. Dia berbeda dengan resepsionis yang kemarin aku dan kak Edna temui, jadi dia memandangku rendah.
"Kau ingin mendaftar? Isi saja formulirnya. Kau bisa membaca, bukan?!"
"Dan untuk elf yang disana, apakah anda juga ingin mendaftar? Kalau begitu, tolong isi formulir ini tulis nama, pekerjaan, dan kemampuanmu. Dan jangan lupa kembalikan itu kemari, ya!"
"U-Um." kak Edna sedikit tersenyum aneh menanggapi itu.
Yahh, aku sudah terbiasa dengan diskriminasi seperti itu, tapi yang menakjubkan adalah bagaimana Resepsionis itu bisa merubah gaya bicaranya secara cepat. Itu adalah kemampuan yang luar biasa.
"Tidak apa, kak Edna. Jangan hiraukan itu. Kita bisa isi ini dengan cepat dan ambil Quest yang banyak uang!!" aku sedikit tersenyum mengejek.
"Kau benar, Ren. Ngomong ngomong, apa yang harus kita tulis di sini?" kak Edna mulai duduk di sepasang kursi yang kosong.
"Kau tahu, kau sangat kuat dalam fisik maupun Sihir. Dan aku juga sedikit melenceng karena ajaran darimu. Apakah kita harus menulis data dengan memalsukannya? Atau bagaimana?" lanjutnya.
Memang benar. Ini adalah masalah untuk mengekspos kekuatan yang terlalu besar disini.
"Untuk kak Edna, tulis saja sesuai yang ada. Dia pasti memahami karena kakak adalah Elf. Dan aku? Aku akan menyamarkan statusku."
"Menyamarkan identitas tidak akan berhasil, karena mereka memiliki bola aneh yang akan mengecek statusmu. Dan ada alat untuk mendeteksi kebohongan. Yahh, itu semua pasti akan bekerja pada kak Edna, tapi aku punya skill [Fake], jadi aku bisa melakukannya." jelasku panjang lebar.
Kak Edna sepertinya mengerti dan menulis kan beberapa hal di formulir itu.
Ada beberapa pertanyaan seperti nama, ras, pekerjaan, kapasitas Sihir, kemampuan Sihir, dan beberapa skill. Ini benar benar sangat panjang, tidak seperti aku mendaftar dulu.
Kemungkinan karena ini adalah ibukota, jadi prosedur nya diperketat.
"Ren, kenapa kamu mengganti namamu?" tanya kak Edna. Dia sepertinya melihat formulir yang aku tulis, dan memang benar, aku mengganti namaku menjadi Rian.
"Ahh, aku terlalu banyak masalah jika harus menggunakan nama asliku, kak. Jadi aku mengubah namaku." aku sedikit nyengir menjawab itu.
Setelah itu, kami berdua berhasil mendaftar setelah melewati beberapa tes dan ujian di sana. Itu membuat kami mendapatkan Rank-F, rank terendah bisa dicapai oleh pemula.
Aku sedikit mengaharapkan ada orang yang mengganggu kami seperti cerita klise biasanya, tapi sayangnya itu tidak terjadi padaku.
Itu semua selesai saat tengah hari, dan kami sepakat untuk mencari beberapa monster sampai gelap.
Aku menemukan beberapa camp Orc dengan Orc King di dalamnya, itu cukup aneh padahal ini adalah ibukota, tapi kenapa ada camp monster besar di sekitar sini?
Tapi aku dan kak Edna sudah memutuskan, untuk membasmi sadang mereka.
***
"Kak Edna! Jatuhkan dia dengan Sihir Es, lalu kunci pergerakannya!!!" aku berteriak ketika menghindari ayunan kayu dari Orc King yang melayang ke arahku.
"Baik!!!" kak Edna berteriak, sambil menyiapkan sihirnya.
Ini semakin berbahaya karena serangan gerakan Orc King itu semakin lama semakin tajam. Aku tidak tahu, sepertinya dia belajar? Bagaimana mungkin, aku juga tidak tahu. Sepertinya dia memiliki kecerdasan.
"Ini dia!! [Ice Floor]!!" kak Edna bertediak, dan sedetik kemudian, es mulai muncul dan dengan cepat menjatuhkan Orc King itu.
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan menyerang persendian Orc King itu. Orc itu mengaum keras, mengamuk seakan mengumpat ke arahku.
Aku sedang menggunakan belati besi yang aku buat dulu, dan tidak menggunakan pedang karena kecepatan lebih dibutuhkan disini.
Dan tidak hanya itu, aku juga menyerang persendian untuk memberi waktu pada kak Edna untuk mengeluarkan satu Sihir lagi yang bisa mengunci pergerakannya. Setelah itu, aku bisa menghabisinya dengan mudah.
"Ren! Aku sudah selesai! Menjauh dari sana!!!" kak Edna berteriak.
Seketika, aku mundur dan kak Edna melepaskan sihirnya. Es yang tadinya berasa di bawah Orc itu mulai naik, merambat ke tangan, kaki, dan juga perutnya. Itu benar benar mengunci pergerakan Orc itu.
Melihat itu, aku segera mengambil nafas lega.
"Bagus sekali, kak Edna. Kakak sangat tanggap." aku mengacungkan jempol, sambil mengedipkan mata.
"Ahahaha! Terima kasih. Itu juga berkat arahan yang sangat baik darimu, Ren!!" katanya sambil bertepuk tangan kecil, senang.
GROAHHH!!!
Suara itu muncul di tengah tengah kegembiraan kami, membuat kak Edna dan aku lompat cukup jauh.
Aku dan kak Edna saling berpandangan, ketika asal suara itu adalah Orc yang masih terkunci di es, dan belum aku bunuh ataupun bergerak lagi.
"Setidaknya, bunuh monster itu dulu, Ren!!!" seru kak Edna marah.
Sedikit tertawa, aku berjalan dan membunuh Orc itu dengan memenggal kepalanya segera. Dan seperti sebelumnya, itu berubah menjadi item dan meninggalkan cahaya.
Tapi, Orc ini agak aneh, karena ini bahkan lebih besar dari biasanya.
Ini bahkan hampir menyerupai Ogre, kau tahu! Apakah ada suatu hal yang terjadi berhubungan dengan ini? Entahlah. Aku hanya bisa mencurigai beberapa hal tentang ini.
"Bagus. Sepertinya cukup untuk hari ini. Kita bisa kembali. Aku sedikit penasaran bagaimana wajah resepsionis itu ketika menerima barang barang ini? Apakah dia akan memujamu, Ren?!" kata kak Edna sambil tersenyum.
"Hentikan khayalan anehmu, kak!" aku menyentil dahinya pelan.
"Lebih baik kita kembali. Ini benar benar sudah gelap. Akan buruk jika kita kita bertemu dengan bandit di jalan, tahu." aku menyilangkan tangan dan mengangguk yakin.
"Hufft. Saat itu terjadi, kamu akan melakukan sesuatu, bukan?" tanya kak Edna sambil mengedipkan mata.
Aku hanya menariknya pergi, meninggalkan tempat itu.
***
"Humm, apakah kau merasakan sesuatu yang aneh, Ren?" tanya kak Edna.
"Benar. Ini agak terlalu sepi untuk jalan menuju Ibukota. Selain itu, ada banyak tentara yang daritadi terus berdatangan, dan banyak kereta pedagang pergi meninggalkan kota. Dan ini semua terjadi saat hari hampir gelap. Ini benar benar aneh." aku memandang semuanya sambil menaruh tangan di dagu.
"Kak Edna. Kita harus segera sampai di Ibukota. Kita akan berlari!" kataku pada kak Edna, yang diikuti anggukan lemah darinya.
Kami berlari sekuat tenaga untuk menuju Ibukota. Tentu, aku menyelaraskan jalanku dengan jalannya, tapi kami berhasil sampai di Ibukota dengan cepat.
Sampai di Ibukota, kami dikejutkan oleh keadaan.
Seperempat Ibukota sudah menjadi reruntuhan dan dilalap api!!
Suara bel bertentangan, dan peringatan untuk mengungsi dikumandangkan. Banyak kereta yang berebut untuk keluar dari pintu masuk, membuat keadaan menjadi lebih kacau. Matahari yang sudah turun juga menambah suasana mencekam di sini.
"Apa yang terjadi di sini?!!"