
"Apa ini? Sihir yang luar biasa? Tidak kukira aku akan menemukannya disini. Ada cukup, tidak. Sangat banyak. Lebih dari sepuluh, dan itu mengelilingi kota!" kata seseorang dengan senang dalam senyumnya yang mengerikan.
Orang itu lantas menyibakkan jubah yang dia pakai, menunjukkan wujudnya.
Tapi bagaimanapun, sekeliling nya dipenuhi oleh kegelapan, membuat siapapun yang melihat itu merasa tidak enak, atau bahkan pingsan. Bahkan, monster monster yang berada di hutan tidak berani untuk mendekatinya.
Orang itu tersenyum sesaat, sebelum akhirnya terdiam dengan wajah penasaran dan terkejut. Tapi setelah beberapa saat, senyumnya kembali, justru semakin lebar.
"Tidak, itu bukan orang yang berbeda. Dari jenis sihir nya, itu berasal dari satu orang yang sama. Apakah itu alat sihir? Yahh, aku tak tahu, tapi setidaknya dia layak untuk bertemu dengan ku." kata pemuda itu tersenyum menggurat.
Dia tidak lain adalah Gordo yang mengawasi kota Eldergale dari jauh, dan merasakan sihir yang dipasang Ren di sepinggir kota.
"Kalau begitu!" teriaknya tertahan, sambil mengangkat tangannya.
Seketika, kegelapan memancar dengan cepat, bagai tsunami yang dengan cepat menyebar ke sekeliling. Saat itu masih tengah hari, tapi seketika menjadi gelap karena sihir yang dikeluarkan Gordo.
Entah bagaimana, itu mendatangkan awan hitam, yang mulai menutupi matahari, membuat semua menjadi gelap. Selain itu, Dark Magic dari Gordo juga sudah mulai mengelilingi kota.
?!!
Ren yang sedang minum teh bersama dengan Syila dan keluarga nya terkejut, dan hampir menjatuhkan cangkir yang dia pegang.
Tangannya bergetar hebat, dan keringat dingin juga keluar dari pelipis nya.
Syila dan ibunya yang melihat itu segera menyadari, ada sesuatu yang aneh dengan Ren. Mereka saling memandang, sebelum ibu Ren, Nina mengawali.
"Ada apa, Ren. Kau kelihatan takut sekali?" tanyanya.
Ren hanya diam, dengan ekspresi gelap menunduk ke bawah. Dia menatap Syila dan ibunya bergantian. Terbayang puluhan penderitaan yang dia rasakan karena kejadian ini.
("Kematian Syila, lalu ibu yang terpapar Dark Magic! Semua masalah itu berasal dari kejadian ini!") pikiran Ren berteriak, dan matanya juga mulai berkaca kaca.
("Ibu diubah menjadi monster karena Dark Magic, itu juga kerena. Kalau tidak, kalau tidak! Kak Edna tidak perlu membunuh ibu dengan tangannya sendiri! Aku juga tidak perlu menderita! Tidak, tidak ada yang akan menderita jika hari ini tidak terjadi.") lanjut Ren, menggigit bibir, mencoba menahan tangisnya.
"Benar, Ren!? Apa yang terjadi? Kenapa kau sepertinya sangat menahan diri?" tanya Syila menanggapi.
Mendengar itu, Ren kembali sadar dan tersenyum pelan. Tapi ekspresi gelap nya tetap ada, memang tidak bisa berubah dengan cepat.
"Dia, sudah datang..." bisik Ren pelan.
"Dia? Siapa? Siapa yang akan datang?" tanya Nina penasaran.
BAMM!!
Suara pintu yang dibanting terdengar mengejutkan mereka semua. Dan dengan segera semua mata menuju ke arah pintu, melihat sesosok wanita remaja yang tampak terengah engah berdiri di ambang pintu.
"Kak Edna! Itu tidak baik!" teriak Ren segera.
"Ahh, benar. Maafkan aku! Eh, bukan ituuu!!! Kalian semua harus segera bersiap! Kita akan mengungsi!" teriak Edna dengan nada panik.
Orang orang yang ada di dalam ruangan itu saling berpandangan, kecuali Ren yang sudah mengetahui segalanya.
"Apa yang kak Edna maksud? Bisakah kak Edna menenangkan diri? Setidaknya, jelaskan secara perlahan." jawab Syila yang sekarang berwajah khawatir sambil membawa secangkir teh ke arah Edna.
Edna menerima itu, dan meminumnya beberapa teguk, sebelum mengangguk dan menarik nafas panjang.
"Hufft. Baiklah. Aku akan menjelaskannya. Aku tidak tahu, tapi itu tidak bisa dijelaskan. Langit tiba tiba gelap, dan ada sesuatu yang gelap mulai mengelilingi kota! Ayah tidak tahu apa itu, tapi dia sudah bergerak untuk membentuk tim jika terjadi sesuatu. Dan Ayah menyuruh kita untuk segera berlindung!" kata Edna.
Dia menjelaskan semuanya dengan jelas, dan runtut, membuat Nina dan Syila segera menengok ke arah jendela, yang memang diluar tampak awan badai yang membumbung di langit.
"Begitu kah... Tapi apa itu? Bukankah seharusnya kita meminta bantuan dari Guild kota lain?" tanya Nina.
"Ya. Ayah juga sudah bersiap melakukan itu. Katanya, jika terjadi sesuatu yang lebih parah, dia siap untuk segera meminta bantuan." jawab Edna cepat.
Tapi Ren tidak bergerak, justru terdiam, termenung di tempat duduknya.
"Ren! Kau tidak ikut?" tanya Edna sambil sedikit memiringkan kepalanya. Sedangkan Ren, yang ditanyai hanya diam, sambil memikirkan suatu hal dan berbisik pelan. Edna melihat itu tidak sabar, dan segera berjalan untuk menarik tangan Ren.
"Ren, ayo!" kata Edna.
Ren sedikit terkejut saat tiba tiba tangannya ditarik oleh Edna, tapi dia segera sadar dari lamunannya dan tersenyum. Setelah itu, Ren dengan lembut melepas tangan Edna yang menarik tangannya.
"Humm? Ren? Ada apa?" tanya Edna bingung.
"Tidak apa. Hanya saja, kalian berangkatlah dulu. Aku menyusul. Aku akan membantu Ayah terlebih dahulu. Sepertinya ini adalah bencana besar, jadi aku yakin semakin banyak orang akan semakin baik." kata Ren dengan yakin.
"Apa yang kau katakan?!! Kau tidak boleh melakukan itu! Kau hanyalah anak anak! Dan Roy juga tidak akan mengizinkan kau untuk bertarung!!" teriak Nina tidak Terima.
Tentu, anaknya yang belum dewasa, dan lagi dikenal sebagai orang yang lemah selama ini mengatakan ingin bertarung dengan bencana yang belum pernah diketahui sebelum nya, orang tua mana yang akan mengizinkan nya dengan mudah.
"Maaf, ibu. Keputusan ku sudah bulat. Tidak. Aku bukan bisa memutuskan soal ini. Ini adalah sesuatu yang harus aku lakukan. Bukan masalah aku mau atau tidak, ini adalah kewajiban, bukan pilihan." jawab Ren dengan tegas.
"Tapi..." Nina terdengar keberatan. Sedangkan, Ren jelas tidak memiliki niat untuk berhenti.
"Baik. Kita serahkan ini semua pada kau, Ren! Tolong bantu ayah! Dan juga, sepertinya kau tahu sesuatu tentang ini. Semoga kau bisa membantu ayah, dengan pengetahuan mu!" jawab Edna tiba tiba.
Itu membuat semua orang terkejut, bahkan Syila segera mengubah ekspresi nya.
"Kak Edna! Itu hanya...."
"Apa kau tidak percaya dengan Ren?"
"Huh?!" Syila langsung terdiam ketika bantahan nya langsung dipotong dengan cepat oleh Edna. Kini Edna juga menatap Syila dan Nina dengan tajam.
"Aku tanya sekali lagi, apakah Syila tidak percaya dengan Ren?" tanya Edna mendesak Syila.
"I-itu..." kata kata Edna cukup untuk membungkam Syila, membuatnya tidak mampu berkata kata dan hanya menatap Ren dengan penuh harap. Sepertinya menita Ren untuk tidak melakukan hal yang nekat.
Terjadi kebuntuan, terlihat dari setiap pihak yang tampak tidak ingin untuk mengalah sedikit pun.
Dan saat itu, Ren maju dengan senyum, menepuk pundak Syila dengan lembut.
"Jangan khawatir, Syila. Aku tidak melakukan sesuatu yang nekat seperti itu, kok! Aku tahu kekuatan ku, dan aku tahu apa yang harus aku lakukan." kata Ren menenangkan Syila. Dia juga menatap Nina dengan senyum lemah.
"Ughh..." kedua orang yang dibujuk Ren hanya diam, dengan wajah yang tidak puas. Tapi bagaimana pun, apa yang dikatakan Ren benar. Tidak ada celah untuk mereka berdua bisa menyangkal apa yang akan Ren lakukan. Tapi, tetap mereka berdua tidak bisa merelakan Ren pergi.
"Baiklah. Jika kalian berdua tidak bisa merelakan Ren untuk pergi, biar aku yang mengawasi Ren agar dia tidak bertindak nekat. Bagaimana?" tanya Edna memecah kebuntuan.
"Kak Edna!!" tentu, Ren berteriak tidak terima!
"Habis, mau bagaimana lagi, kan? Tidak mungkin mereka akan bisa melepaskan mu. Dan kamu sendiri juga akan sama keras kepala nya dengan mereka. Tidak, bahkan kau lebih keras kepala."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Edna sedikit mengomel.
Dia menatap ke Syila dan Nina, lalu berganti ke arah Ren. Edna melihat ekspresi wajah mereka semua yang terlibat sama, tidak tampak ada yang ingin mengalah. Oleh karena itu, Edna tertawa beberapa saat, walau dipandang aneh oleh yang lainnya.
"Hufft. Kalau Edna sampai seperti itu...." Nina mulia menyuarakan pendapat nya.
"Ya. Kalau kak Edna sendiri yang mengatakannya, aku jadi sedikit lebih yakin." tambah Syila dengan senyum, terlihat lega.
"Ibu.... Syila... Ugh. Kalau begitu, sepertinya aku tidak bisa menyangkal lagi. Kalau memang itu adalah syarat yang harus dilakukan agar aku bisa keluar, mau bagaimana lagi. Ya. Aku akan mengikuti itu." jawab Ren sambil mengambil nafas lelah.
Semua segera berwajah cerah, menyisakan ekspresi gelap Ren yang tersenyum sedikit menggurat muncul di wajahnya.
"Nahh.... Mari kita mulai game nya!!" bisiknya.