Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 46 - Pertandingan?



"Baiklah. Kalau begitu, pertandingannya dimulai!" Wasit itu menggerakkan tangannya maju.


"Hraaaahhhhh!!! Sialan kau mati!!!" Rian berteriak maju, mencoba menyerang.


Ren diam, hanya menunggu di tempatnya ketika Rian datang dengan pedang kayu yang diayunkan dari atas kepalanya dengan kecepatan tinggi.


Tuan juga diam diam memasukkan sihir penguat ke pedangnya agar pedang kayu itu bisa sekeras pedang besi.


("Ha ha. Bahkan dia tidak bergerak!") Rian berkata penuh kemenangan dalam hati.


Srettt!! Suasana hening seketika. Ketika melihat Rian yang melayang tanpa pedang, dan Ren yang mengangkat pedang kayunya.


"Eh? Bagaimana?" Rian melihat itu terkejut, ketika pedang kayunya melayang tenang, tidak lagi ada di dalam genggamannya.


Semua penonton bingung, tapi yang bisa menjelaskan itu hanyalah Ren yang sedang berdiri dengan kuda kuda menangkis, yang terlihat membuat pedang itu terpental menjauh.


"Seperti yang diharapkan dari kakak! Dia menyelesaikannya dengan cepat!" Suzu melihatnya tersenyum senang.


Kurls dan Aina juga melihat itu. Aina bahkan bertepuk tangan diantara hiruk-pikuk orang orang yang menonton dan tidak percaya.


"Aku sudah tahu kalau tuan Ren sangat kuat, tapi saya tidak tahu bahwa sampai bisa secepat ini." Kurls berdeham pelan.


Jelas saja, Aina mendengarnya. Dia tertawa seperti dia yang dipuji oleh orang orang ini.


"Ya!! Kak Ren memang sangat kuat! Gerakan yang dia lakukan juga sangat indah dan cepat!" jawab Aina dengan mata berbinar.


"Tunggu, Aina! Kau bisa melihat serangan tadi?" Kurls tampak kaget. Sedangkan Aina, dia hanya menatap Kurls dengan bingung.


"Ya? Kenapa? Memang itu adalah serangan yang sangat cepat. Kalau aku tidak memusatkan mataku untuk melihatnya, pasti itu tidak akan terlihat!" teriak Aina dengan bersemangat.


("Tidak kusangka dia bisa melihat serangan barusan. Aku juga bisa melihatnya, hanya saja orang yang belum berpengalaman mana mungkin bisa melihatnya begitu saja. Yang berarti, Aina bukanlah orang biasa.") Kurls membatin.


"Yahh, aku tidak akan tahu apa yang Tuan Muda Ren rencanakan." Kurls mengangguk dalam ramainya penonton yang mulai berisik.


Suasana riuh juga penuh dengan kasak kusuk penonton yang merasa tidak puas.


"T-tunggu. Aku belum siap tadi." Kata Rian mengambil kembali pedangnya.


("Ada apa ini? Ada apa ini?") Rian yang membelalakkan mata berteriak dalam hati. Tangannya bergetar, merasakan kemarahan yang membara dalam dirinya.


("Kalau begitu, aku harus menguatkan tubuh!") Rian menggunakan beberapa sihir untuk menguatkan tubuhnya.


Sebenarnya, ini dilarang karena pertarungan ini adalah pertarungan adu kekuatan, yang tidak boleh dipengaruhi hasilnya oleh sihir. Tapi Rian mengabaikannya.


Tentu saja, Ren mengetahuinya dengan mudah. Tapi dia membiarkannya. Dia justru semakin bersemangat dan mulai bergerak menyerang!


"Sudah kubilang." Ren menggelengkan kepalanya, lalu bergerak cepat ke sebelah Rian tanpa diketahui olehnya.


"Percuma." Ren membisikkan kata tersebut sebelum mengirim Rian terbang, menatap tembok pembatas dengan tendangan memutar, membuat beberapa bagian tembok hancur.


Semua di arena itu terkejut melihat pemandangan itu. Terutama Doys dan komplotannya yang menonton itu.


Suasana hening sesaat, lalu wasit segera sadar dan menguasai dirinya.


"Kalau begitu, pemenangnya-"


"Tidakk!!!" Rian muncul dengan bentuk Beast nya. Dia mengubah dirinya ke batas maksimalnya, dalam wujud harimau. Itu adalah teknik terlarang yang dimiliki Beast, untuk memaksimalkan batas yang ada dalam tubuhnya.


"Kenapa aku tidak menang? Aku adalah Beast! Aku akan menggunakan seluruh yang aku punya untuk melawan manusia itu!! Matii!!!" Rian mulai melepaskan pembatasnya.


"Rian! Saya sebagai wasit melarang itu!" Teriak guru yang menjadi wasit dengan khawatir.


Tapi, mata Rian sudah tidak melihat sekelilingnya. Dia mengaum hebat, membuat orang yang melihatnya bergetar. Matanya hanya tertuju pada satu, Ren.


"Grahhh!" Rian kembali mengaum, sebelum mengambil ancang ancang untuk menerjang.


Dia menyerang Ren secara membabi buta, ke kanan, kiri, bahkan manapun yang bisa dijangkaunya. Ren berlari ke samping, membuat pedangnya lurus dengan tubuhnya. Tapi, jelas saja Rian dapat mengejarnya.


"Kenapa? Kau lari? Ha ha ha!" Rian berteriak senang melihat Ren yang berlari cepat meninggalkan Rian yang mengamuk.


Suasana menjadi berat, ketika Rian mulai membuat tanah yang dia pijak setiap kali bergerak hancur.


Ren masih hanya bisa bergerak menghindar, karena jika terkena satu kali saja serangan Rian, itu akan sangat berbahaya untuknya.


("Dia cepat. Tapi sayang, tidak secepat King Hell Bee. Tidak. Dia tidak bisa dibandingkan bahkan seujung kuku pun dengannya.") Ren tersenyum senang.


Ren mundur beberapa langkah, menjauh dari Rian. Itu membuat jarak diantara mereka.


"Hahaha! Kau ketakutan? Itulah! Itulah tempatmu seharusnya!" Rian berteriak senang, dengan suara menggelegar.


Tidak ada guru yang mencegahnya. Justru beberapa malah terlihat senang.


"Ah, begitu kah?" Ren sedikit tersenyum.


"Kalau begitu, biar aku tunjukkan, ketakutan yang sebenarnya." Senyum di wajah Ren menghilang. Berganti dengan wajah datar yang menatap Rian bukan sebagai lawan, tapi sebagai mangsa.


Ren melepaskan keinginan membunuh yang kuat, mencoba menggetarkan mental lawannya.


("Apa apaan, suasana tidak enak ini?") Rian merasakan perbedaan, mencoba mengamati sekeliling.


"Hei, kau beralih dariku lho!" Ren berteriak, ketika dia menyerang Rian, dan bergerak terbang, maju lurus tanpa takut.


"Apa?! Sial!" Rian dengan mengandalkan refleks mengayunkan cakarnya menerima Ren dari depan yang meluncur dengan cepat. Dia mengira Ren bodoh, karena melompat ke depan tanpa apapun.


Rian tertawa senang dalam hati, melihat Ren yang maju di dalam jangkauannya.


"Maaf saja, ya. Kau tidak akan menang dariku." Ren berpindah dengan cepat, berada di belakang Rian dengan seketika. Itu yang terjadi ketika Ren menggunakan kecepatan maksimalnya.


Ren menghujamkan pedang kayu ke punggung Rian. Rian mengerang sakit. Dan segera mencakar balik tempat Ren berada.


"Aku disini." Ren kembali mengejutkan Rian, yang muncul dari bawah, menghantam perut Rian dengan gagang pedang. Mata Rian mulai memutih, dia mulai kehilangan kesadarannya.


Rian masih berusah bangkit, walau jelas dia tidak punya kesempatan untuk menang. Wujud Beast nya sudah mulai babak belur, padahal hanya beberapa serangan pembuka dari Ren.


"Kenapa?!" Rian berteriak marah.


"Kenapa aku tidak bisa mengenalmu?!! Kau hanyalah manusiaaa!!!!" Rian berteriak marah sambil menyerang secara acak.


Dia bagaikan gila menyerang Ren tanpa arah. Serangannya menjadi monoton. Tentu, Ren tidak kesulitan menghindari itu semua.


"Biar kuberitahu kau satu hal, kenapa kau kalah dariku." Ren kembali muncul di belakangnya, lalu menebas punggungnya.


Sedetik kemudian, Ren menyapu kaki Rian, membuatnya terbang memutar, lalu terjatuh berlutut menghadap Ren.


("Hoo! Jatuh yang sangat sempurna! Mari kita lakukan ini!") Ren sepertinya bersenang senang dengan dirinya sendiri.


"Kau tahu? Kau jauh, sangat jauh lebih lemah dariku. Karena itu kau tidak bisa menang!" Ren mengarahkan pedangnya ke arah kepala Rian, mencoba memintanya untuk menyerah.


Rian mempertahankan kesadarannya sekuat mungkin, tapi hanya untuk bulan bulanan Ren saja.


Bahkan Ren mampu membuat Rian yang sudah berlutut kembali berdiri, berada dalam serangan nya.


Ini sudah bukan lagi pertandingan, tapi permainan.


Sampai akhirnya, Ren menghentikan serangannya, membuat Rian berdiri diam, tidak bergerak. Dia pingsan berdiri!


Beberapa detik kemudian Rian jatuh ke tanah dengan suara berdebam, menyisakan keheningan di antara para penonton. Semua terperangah melihat itu, bahkan tidak ada yang bersuara.


"Pe-pemenanhnya, Re-" wasit akan memutuskan pemenang diantara kasak kusuk penonton yang mulai sebal.


"Tidak, tunggu!" Ren mengangkat tangannya, mencegah pengumuman kemenangannya.


Dia juga masih tersenyum licik seperti biasa, dan sepertinya memiliki rencana lain.


"Aku yakin para penonton masih belum puas dengan ini," Ren mengangkat kedua tangannya, lalu menghadap ke arah kursi penonton.


Dia berjalan pelan, menuju pemisah antara penonton dan arena.


"Itu benar! Aku mengharapkan penyiksaan terhadap dirimu!"


"Itu benar itu benar!" Riuh teriakan penonton penuh mencela dan mencaci maki Ren dengan keras. Ren hanya tersenyum sambil melangkah ke arah Suzu.


"Dengan begitu aku mengusulkan Suzu untuk maju menggantikan Rian di sana." Kata Ren mengulurkan tangannya pada Suzu.


Suzu hanya terdiam, bingung.


"Apa maksudmu?"