Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 4: Bab 33 - Berburu



Suara berisi yang menjauh itu pun akhirnya terjawab dengan kedatangan Alpha.


“hanya seekor babi,” ucap Alpha sambil menyeret tubuh babi yang telah ditusuk dengan sebatang kayu. Babi itu tampajnya masih bergerak-gerak. Grh. Grh. Grh.


Air liur Fischia seketika muncul. “Kita bisa istirahat sejenak. Katakanlah seperti sedang sarapan dari sebuah hotel mewah, hehehehe…”


“Dasar tukang makan,” ucap Celica.


Fischia pun hanya terkekeh.


“Sebaikjnya, klita makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan,” ucap Alpha kemudian.


”Setuju,” ucap Fischia sekali lagi. Urusan makan memang dialah jagonya.


Liu Xiu menatap sekeliling dan mendapati mata mereka yang memohon. Karena itu, akhirnya Liu Xiu berkata: “Baiklah, kita istirahayt sejenak kemudian kita akan lanjutkank perjalanan,”


Mereka menghembuskan napas lega,


Segera Celica melemparkan sebilah pisau kepada Akpha dan dengan tangkas dengan tangan kanan. Tangan kirinya mengambil kaki babi itu kemudian disambar pisau dengan sangat cepat untuk menguliti dagingnya. Kemampuan pedangnya yang sangat tinggi hanya membutuhkan waktu beberapa saat daging dan kulit babi pun sudah terpisah.


Fischia pun segera mencari ranting-ranting kering di sekitar. Daun-daun berwarna coklat adalah prioritasnya. Dain menyiapkan batang kayu basah sebagai tusuk. Batang kayu itu sebesar tangan orang karena babinya agak besar. Takut patah jika dipanggang.


Sementara itu Beta sudah menyiapkan batu, sekam, dan kayu. Sebagai pembunuh yang cekatan, sebetunya dia juga bisa menangkap babi sama cepat dengan Alpha, tetapi saat itu Alpha telah maiu duluan. Dia merasa beruntung berasa dengan orang-orang henat dari berbagai ras ini.


Beta pun mulai membuat api degan menggosok-gosokkan batu supaya muncul percikan. Berkali-kali gagal.


Eina yang melihat hal itu segera mengacungkan tangan.


Beta pun menyerah. “Jangan pakai sihir!”


Tangan Eina pun hanya mengacung di udara.


“Kita ingin merasakan menjadi orang biasa,” ucap Beta.


Eina pun mengangguk.


Sekali lagi Beta kemudian menggosok-gosokkan batu untuk menghasilkan buang api. Setelah beberapa kali akhirnya bunga api itu pun menyambar sekam. Hasil sambaran itu adalah asap seperti sebuah benang putih yang bergerak-gerak.


Asap yang semula hanya sebuah benang itu pun kemudian bertambah lagi menjadi kepulan asap yang besar. Tak lama kemudian menjadi api.


Api yang berkobar itu kemudian ditindih dengan ranting-ranting kering.


Dia pun membuat api benar-benar menyala dengan stabil.


Fischia telah menemukan beberapa batang kayu yang kuat untuk penyangga.


Membuat babi panggang.


Mereka seperti sebuah tim yang kompak. Kali ini mereka bekerja dengan sangat efisien. Perburuan babi. Persiapan api. Pencarian kayu bakar. Sampai akhirnya pemanggangan.


Matahari mulai meninggi.


Angin berkesiur lirih dari ketiak-ketiak pohon. Rmput bergoyang. Angin di luar Hutan Ajaib tidak begitu kencang, tetapi cukuplah untuk menjaga agar api tetap menyala,


Begitulah. Mereka pun akhirnya menikmati babi panggang.


Liu Xiu mendapatkan kesempatan pertama untuk menyayat daging yang telah matang.


“Silakan.”


“Baik, Master.”


Kemudian Fischia sudah terburu-buru hendak menyantap daging babi panggang. Daging yang tersentuh aoi dan masih merah ini akan terasa sangat kenyal di mulut. Begitu gurih di lidah. Dan Menghangatkan tenggorokan. Betapa lezat. Dia pun mengambil beberapa sayatan sebsar kaki orang dewasa.


Yang lain hanya menggeleng dan mengangkat bahu.


Kemudian disusul Dain, yang pendiam, tetapi tak kuasa menahan lapar juga.


Beta sudah siap siap di dekat daging yang sudah berasap.


Demikian pula Eina.


Mereka ternyata lapar, pikir Liu Xiu. Itu wajar setelah menempuh perjalanan yang melelahkan di Hutan Ajaib. Pertempuran yang menguras segala tenaga.


Mereka makan seperti berlomba adu cepat. Tapi itu tidak lama.


Liu Xiu menemani makan dengan perlahan.


Alpha yang sudah mengambil berkali-kali pun seakan-akan tidak bisa berhenti.


Di sela-sela makan, Alpha membuka pembicaraan. “Izin bertanya, Master.”


Liu Xiu mengernyitkan kening. “Mau bertanya apa?”


“Begini,” sambungnya sambil menyantap paha daging panggang. “Saya tadi melihat master tidak ikut bergerak ketika terdengar suara berisik.”


“Ke asal suara untuk segera mengetahui apa yang terjadi.”


“Oh tadi.”


“Iya, sementara teman-teman lain sudah siap dengan senjata mereka, tetapi master hanya diam saja,” ucap Alpha.


Sosok yang dipanggil master itu pun tersenyum sebelum menjawab.


“Maaf, Master, Alpha telah lancang,” ucap Fischia.


“Oh tidak, tidak lancang. AKu suka malah.”


Fishcia pun memperhatikan dengan tatapan tajam.


“Apa yang sesungguhnya terjadi, Master?” tanya Eina yang selalu sok ilmiah.


“Jadi begini,” ucap Liu Xiu. “Ada perumpamaan yang bisa kalian jawab. Perumpamaan ini berupa pertanyaan. Apa yang kalian lakukan kulit kalian tersayat pisau?”


“Menjerit”.


“Berhenti menyayat.”


“Melemparkan pisau.”


“Mengelap darah.”


“Mencari air liur bekicot untuk menghentikan pendarahan.”


Liu Xiu menyetop. “Semua benar. Di antara yang sudah disebutkan itu, tidak ada upaya untuk mengamati darah, merasakan sakit tersayat.”


“Kenapa harus merasakan sakit, Master.”


“Karena dengan merasakan sakit itu, kita akan menjadi tahu kedalaman luka yang dimaksud.”


Semua terdiam.


Kalimatnya singkat tetapi dalam. Mereka benar-benar menghentikan makan mereka. Liu Xiu pun memberi kesempatan untuk berpikir. Berpikir tentang kedalaman.


“Hal yang perlu dilakuan adalah pengamatan atas apa yang sesungguhnya terjadi di sekitar kita,” ucap Liu Xiu.


Mereka pun mengangguk-angguk.


“Untuk menjadi mata-mata yang andal, kalian harus menjadi seorang pengamat yang hebat,” ucapnya.


Fischia mencerna ucapan Liu Xiu sambil menelan makanan. “Aku simpan dulu kalimatmu, Master. Nanti aku akan paham.


“Menjadi mata-mata adalah menjadi seorang pengamat yang tidak tertandingi,” sambung Liu Xiu selanjutnya. Hal itu menjadi pembicaraan pertama yang membuat mereka harus mengaku kehebatan Liu Xiu.


Pengamatan terhadap alam sekitar. Merasakan apa yang sungguh-sungguh terjadi.


Merasakan sesuatu yang ada di sekiltar seperti merasakan darah yang keluar dari tubuh.


“Kalian dari rasa yang berbeda, dari keahlian yang berbeda, akan menjadi seorang mata-mata yang hebat di kelak kemudian hari,” sambung Li Xiu kemudian.


Fichia masih menambah daging berkali-kali. Dia menuang air dan minum. Dia mengelus-elus perutnya.


“Apakah menjadi mata-mata boleh terlalu kenyang, Master? Hehehehe…”


“Boleh,” ucapnya. “Asal tidak bekerja selama sebulan.


“Hahahahahaha…” Alpha pun tergelak. Dia tertawa terpingkal-pingkal.


Ada-ada saja.


Fishcia pun segera berhenti makan. “Aku suka makan, tetapi aku lebih suka menjadi mata-mata yang tak tertandingi. Aku akan melakukan apa pun, bahkan kalau harus menghentikan makan. Bahkan ketika harus mati sekalipun.”


Eina menyambung, “Ini baru hebat.”


“Kalian semua hebat,” ucapnya.


Mereka pun sudah menghentikan makanan, bukan karena ucapan Liu Xiu, tetapi karena masing-masing memang dirasa cukup.


Daging babi di atas api masih tersisa lebih separuh.


“Sisa daging ini lebih baik saya akan bagikan pada harimau,” ucap Fischia sambil mengambil daging babi.


Diangkatnya daging babi itu kemudain dibawanya sendiri. Dia menggotong ke kejauhan. Dia berjalan sendirian. Mempertajam penciumannya. Memperjauh matanya. Dia hilang di balik rimbun pepohonan.


“Kami menunggu di seberang sungai dengan batu paling besar!” ucap Alpha dengan lantang. Hal itu supaya suaranya terdengar dari kejauhan.


“Kami menunggumu …..”


Segera disahut: “Sudah terdengar!!!!!” suara dari kejauhan tak kalah lantang. “Aku tidak akan hilang!”