
"A-a-apa apaan itu? Apa-apaan dengan ular besar yang memakan seluruh sihirku? Itu tidak normal! Itu benar benar tidak masuk akal!!" si perempuan mage berteriak tidak percaya.
Sebenarnya semua juga ingin berteriak hal yang sama, tapi-
"Diam!!" Ren berteriak dengan nada rendah di sana. Itu cukup untuk membekukan hati semua orang yang melihatnya.
Semuanya terdiam, hanya melihat Ren yang berjalan dengan kaki yang selalu meninggalkan jejak es di tanah yang barusan dia injak.
Alford mulai mendelik ketakutan. Selama ini, sejak dia meminta kekuatan ke Gereja, dia tidak pernah setakut ini, bahkan saat monster hitam itu mulai memasuki tubuhnya. Tapi melihat Ren dengan wujud yang dingin dan memandang dengan tatapan yang seakan menusuk itu, bahkan jauh lebih menakutkan dari itu!
Akal sehat Alford meminta untuk segera mundur, tapi harga dirinya tidak. Dia memiliki harga diri tinggi sebagai kapten Seven Knights, dan seorang Reinkanator.
"A-apa yang k-kalian tunggu! Kita berpencar! Shen, Lyfa, dan Tio! Kalian siapkan serangan jarak jauh, dan targetkan monster itu dan perempuan itu!! Aku akan mencoba memancingnya!" teriak Alford mulai mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.
Awalnya rekannya tidak percaya, tapi mendengar Alford yang akan menjadi umpan, mereka semua mengangguk.
Dengan begitu, Alford melompat turun, sambil mewarnai tubuhnya dengan cahaya. Itu adalah salah satu dari beberapa skill yang dia dapat saat bereinkarnasi, [Undefeated Time]. Skill itu membuatnya tidak terkalahkan untuk jangka waktu singkat.
Skill ini benar benar skill cheat, karena sejauh apapun perbedaannya dengan musuh, kau tidak akan kalah. Ini yang membuat Alford berani menerjang maju melawan Ren.
Ren hanya diam, tapi tiba tiba dari tanah muncul sulur sulur eh yang bersiap menyambut Alford.
"Hyaahhh!!!" Alford menyerang Ren, sambil mengayunkan pedang besarnya dengan sangat cepat.
Jika dinalar, tidak mungkin pedang sebesar itu bisa diayunkan begitu cepat, karena itu adalah skill lain Alford. Dia menghilangkan berat yang dia angkat, tapi untuk berat yang diberikan tetap sama.
Ren hanya diam sambil terus membiarkan sulur es di bawah kakinya menangkis semua serangan Alford.
Sementara itu, Shen, Lyfa, dan Tio yang membawa skill dengan dibuat panah, pedang, dan tombak itu berpencar ke seluruh arah mengepung Edna dengan skil skill mengerikan itu dari atas.
"Bwahahaha! Ini adalah balasan karena serangan tadi!!!" kata Shen, Kstaria pembawa pedang.
Edna yang sudah kehabisan sebagian besar MP nya karena pertempuran tadi, dia hanya bisa mundur sedikit, sambil merapal mantra.
Di sisi lain, Ren hanya bermain main dengan Alford, dan sulur es nya berhasil menangkap dan membuat Alford menjadi bola mainan, sebelum dilemparkannya kembali ke tempat asalnya.
Alford hanya bisa muntah darah, dengan tubuh yang sudah tidak karuan bentuknya.
"MAATTTIIIII!!!" terdengar teriakan ketiga orang yang mengepung Edna dari atas mulai menyerang menggunakan skill nya.
"Kak Edna, tolong tutup mata." terdengar bisikan sesaat di telinga Edna. Tapi Edna tahu, asal suara itu adalah Ren, yang sekarang telah menghilang entah kemana.
Edna hanya menurut, dan menutup mata cepat.
Dalam gelap ketika Edna menutup mata, dia bisa mendengar suara dentingan pedang, suara benda benda yang dipotong, dan suara petir yang bertabrakan dengan sesuatu.
Itu terjadi tidak hanya sebentar, tapi terjadi cukup lama.
"Sudah. Kak Edna boleh membuka mata." bisik Ren pelan sambil menyarungkan pedangnya kembali.
Saat membuka mata, Edna terkejut.
Rubuan panah dan pedang kini berserakan di sekeliling mereka, dan juga sekeliling mereka yang sudah tidak berbentuk apapun lagi.
"Jadi ini, kekuatan Ren? Dan bahkan Ren belum serius?" tanya Edna pelan.
Dia melihat ketiga orang yang mengepungnya tadi sudah terkapar tidak berdaya di sepinggir lingkaran ruang dibuat ribuan senjata.
"Master!! Apa itu tadi?!! Bagaimana mungkin bocah itu bisa menangkid semua senjata itu? Itu adalah sesuatu yang tidak mungkin, bukan?! Tolong katakan itu tidak mungkin!!" teriak Cilia tidak percaya.
"Ya. Itu tidak mungkin untuknya. Tapi mungkin untuk kita. Dengan kata lain~" Kei tersenyum sambil mengayunkan tombaknya.
Cilia tidak bisa menjawab lagi, karena dia sudah mendapat kesimpulan.
"Baiklah. Sekarang, bagaimana dia akan mengambil langkah selanjutnya? Jika dia tidak membunuh monster itu, aku akan turun sekarang." wajah Kei terlihat serius sekarang.
***
"Kak Edna." Ren mulai kembali normal, tapi tidak dengan pakaiannya. Dia tetap berjalan ke arah Edna, lalu berlari, dan memeluk Edna dengan keras.
Tidak ada yang menduga itu, bahkan Edna sekalipun. Tapi, dia merasakan air mata Ren yang mengalir di belakang punggungnya, itu dia rasakan nyata.
"AKU GAGAL! AKU GAGAL! AKU GAGAL DAN TERUS GAGAL!! APA GUNANYA SEMUA KEKUATAN INI, SEMUA KEMAMPUAN KU SELAMA INI?!!" teriakan Ren menjadi lebih pilu.
Ren mulai jatuh, dan disangga oleh Edna.
Di dunia putih itu, tidak ada yang bergerak, hanya merwka berdua yang berbagi kesedihan dengan saling menenangkan satu sama lain.
"Kak! Kenapa! Aku, aku selalu gagal?! Apakah ini takdirku? Apakah aku memang harus mengalami semua ini?! Kenapa itu terjadi pada keluargaku?!! Kenapa ini terjadi pada orang orang yang aku sayangi?!! Kenapa?!!" teriakan putus asa Ren terdengar menggema di suasana yang sepi itu.
Edna juga tak kuasa menahan tangisnya, dia memperhatikan monster hitam berliontin biru itu. Itu belum mati, tapi masih ditahan oleh es dan salju Ren, membuatnya diam dalam suara dan gerakan.
"Ini bukan salahmu, Ren. Ini bukan salahmu. Ini bukan-" Edna tidak mampu melanjutkan kata katanya, dan hanya menangis sambil memeluk kepala Ren erat.
Salju turun. Itu adalah fenomena yang aneh untuk salju turun di Kerajaan ini.
Tapi itu perlahan menngubur mereka berdua, seperti mengubur mereka dalam kesedihan.
"Ini yang terakhir." Ren perlahan berdiri, menutup matanya pelan.
"Huh?" Edna sedikit bingung.
"Aku akan memutus semua ikatan yang berhubungan denganku setelah ini. Dengan tidak ada yang berhubungan denganku, tidak ada yang akan terlibat dengan semua masalahku." kata Ren berdiri, mulai tersenyum.
Senyum pahit yang dipaksakan, sedangkan dia mengulurkan tangannya untuk Edna yang masih terduduk.
Sesaat, Edna tidak mengerti artinya, tapi begitu sadar wajahnya berubah.
"Tidak! Apa maksudmu memutus semua ikatan? Tidak ada hal baik yang datang dengan itu!! Kau tidak bisa seenaknya! Apa kau lupa dengan Suzu? Dengan Aina?! Kau hanya-"
Kalimat Edna terhenti, karena Ren segera menutup mulutnya, dan menatap Edna dengan mata yang dingin.
Edna merasa jantungnya berhenti sesaat. Edna juga bisa merasakan tangan Ren yang sekarang berubah menjadi sangat dingin, sama seperti pertama kali Ren menyentuhnya.
"Daripada itu, apa kakak punya kata kata terakhir untuk ibu?" tanya Ren.
Mata Edna membulat mendengar itu, apalagi ketika Ren mengambil pedang Azantium nya dari Inventory. Melihat itu semua membuat Edna semakin kesulitan bernafas.
"Kak Edna?" Ren juga khawatir dengannya.
"Aku tidak apa. Mungkin aku tidak punya apapun untuk diucapkan, karena jika ditanya aku ingin, sangat ingin mengucapkan banyak hal."
"Tapi aku tahu, semakin banyak aku berbicara, semakin sulit untukku melepaskannya." lanjut Edna.
Ren melihat itu tersenyum, sebelum dia mengambil nafas berat, menimang nimang pedang di tangannya.
Dia mengambil tangan Edna, dan memegang pedang itu bersama sama. Dua tangan, kedua orang, dengan satu pedang yang mulai terlapisi es.
Ren dan Edna berjalan perlahan ke arah monster itu, tapi hati mereka semakin berat. Semakin mendekat, semakin terbayang bahwa mereka akan membunuh ibu mereka sendiri. Semakin melangkah, air mata Edna turun semakin banyak.
Mereka sampai di depan monster itu dengan pedang diantara mereka.
"Kak Edna."
"Ren." suara Edna membelok. Dia tidak sanggup untuk bersikap tegar dan mulai menangis.
"Kalau begitu, ibu~" Ren mulai mengangkat pedang itu bersama dengan Edna, mengarahkannya ke dada, dibalik liontin biru yang indah.
Ren menoleh sesaat ke arah Edna, dan mereka berdua pun mengangguk.
"Ibu, selamat tinggal." di akhir, mereka berdua tersenyum sakit sambil mendorong pedang itu.
Es mulai bekerja, mulai dari bagian dada, menyebar ke bagian lain, hingga dalam sedetik saja, es sudah menyebar ke seluruh tubuh, dan detik berikutnya, es itu tiba tiba pecah, dan hancur menjadi debu.
Hanya tersisa liontin biru yang jatuh ke atas tanah yang penuh dengan salju.