Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 24 - Sampai di Kota Cerida



"Selamat tinggal!" Aku melambaikan tangan pada rombongan yang mengantarku pergi. Kereta kuda menjauh, meninggalkan kota Eldergale.


Ini adalah hari keberangkatan ku ke kota Furyuun. Tentu saja, aku sudah memiliki beberapa rencana tertentu.


Kami berangkat menggunakan kereta kuda, dengan kecepatan kira kira 20 km/jam. Kecepatan yang lambat bagiku, tapi cukup cepat di dunia ini.


Yang dimaksud kami, adalah aku dan kusir. Kusir ini juga sudah tahu bahwa aku manusia, dan dia tetap bersikap seperti biasa denganku. Sebenarnya, kami mendapat masing masing pelayan fi krluarga kami. Tapi aku menolaknya.


Dan pegawai yang paling sering kutemui adalah paman Kurls. Yahh, bisa dibilang dia akrab denganku karena aku terkadang mampir ke kandang kuda untuk melepas penat setelah bereksperimen.


"Paman! Kita berhenti sebentar di Cerida ya! Seperti biasa." Aku membuka jendela kayu yang memisahkan aku dengan bagian kusir.


"Baiklah, tuan muda. Tapi, jangan mengambil posisi sebagai kusir lagi, tuan muda! Saya merasa tidak enak." Dia menggaruk belakang kepalanya sambil mengingat ingat.


Ahh, sepertinya ada kejadian itu, ya? Tapi jujur saja, sangat menyenangkan rasanya ketika duduk di depan dan mengendalikan kuda.


"Ditolak. Aku sudah bilang bahwa jangan memanggilku "tuan muda" bukan? Panggil aku Ren saja seperti biasa. Aku tidak menyukai keformalan." Jawabku sambil mengeluarkan kepalaku lewat jendela.


"Uh, kalau kau bersikeras. Saya tidak akan menggunakan banyak keformalan denganmu, Ren." Jawabnya.


"Ya. Tapi, tetap saja usulan awalmu ditolak, Kurls." Aku terkekeh melihatnya menggelengkan kepala.


"Memang anda sekali, tuan muda." Dia berkata menyindirku. Aku hanya menanggapinya dengan meninju bahunya pelan.


Kurs, seorang pelayan yang sangat baik. Umurnya sekitar 30 an, dengan rambut disisir ke belakang dan kumis yang cukup panjang. Dia menggunakan pakaian formal, bisa dibilang dia mirip bartender kafe, tapi dari dunia lain.


Walau begitu, dia adalah orang yang kuat. Dan karena job awalnya adalah warior, bahkan perjalanan ini tidak membutuhkan penjaga.


Ahh tidak! Aku memiliki pekerjaan sendiri!


Aku kembali memfokuskan diriku untuk penelitianku. Aku mengambil Zadkiel di pinggang kananku.


"[Zadkiel]!" Aku mengangkat tanganku ke atas, lalu di punggungku muncul lingkaran intrinsik yang memiliki beberapa lingkaran kecil yang mengelilinginya lagi.


Itu cukup besar, mungkin berdiameter 50 cm dengan lingkaran lingkaran kecil seperti mata berjumlah tujuh mata.


Warnanya merah kehitaman, membuat itu menjadi sangat keren!


"First!" Lingkaran itu bergerak searah jarum jam, dan kemudian berhenti saat salah satu lingkaran kecil selaras dengan Zadkiel yang aku angkat.


Dengan suara klik, peluru dalam Zadkiel berubah. Aku kemudian mengeceknya, dan benar, pelurunya berubah menjadi peluru ledak. Aku tersenyum senang.


"Uhh, benar benar luar biasa! Aku tidak pernah menyangka akan melakukannya di dunia nyata."


"Sekarang apa aku akan menggunakan penutup mata? Atau mungkin, aku akan membuat kloning diriku menjadi banyak? Ugh, itu akan sedikit mengerikan. Tapi aku menikmatinya." Aku tersenyum senang sambil membolak balik Zadkiel.


Aku memodifikasi peluru pada Zadkiel, yang mana ketika aku mengeluarkan skill [Zadkiel], maka aku bisa mengganti pelurunya hingga 7 kali.


Yang paling aku sukai adalah yang terakhir, mode ke 7. Itu sama seperti sebelumnya, dengan aku mengacungkan senjata keatas, lalu menyebutkan mode ke 7, aku bisa membuat space magic dari ruang hampa itu terhubung kemari.


Dan senjata yang aku taruh di dalam sana, akan keluar sesuai yang aku inginkan, sekalian di tempat yang aku inginkan juga.


Ini bisa dikombinasikan dengan peluru dari ke-6 peluru lainnya, jadi ini benar benar luar biasa.


Jadi, Zadkiel adalah penemuan terbesarku sampai saat ini.


***


"Nak Ren, kita sudah sampai, lo!" Seseorang memanggilku ketika aku tertidur karena cukup lelah atas semua yang ada kemarin


Seperti yang pernah aku katakan, aku butuh tidur.


Aku tak akan lupa bahwa kerajaan ini mendiskriminasi manusia.


"Pak Kurs, tolong rawat kudanya sebentar ya. Aku ingin sedikit beristirahat." Kataku menepuk pundaknya. Dia hanya mengangguk tanda setuju.


Baiklah. Aku sudah sampai disini, mari lakukan ini dengan cepat.


Ada alasan tersendiri, kenapa aku ingin berhenti sebentar di kota Cerida. Ini karena Cerida adalah kota perdagangan dari Kerajaan Kin.


Dan tentu, kota ini sangat ramai.


Kerajaan ini memiliki beberapa kota besar. Ibukotanya, Dowtie, lalu ke selatan ada Cerida, sedangkan ke arah Timur dari sini ada kota Furyuun.


Kota Eldergale berada cukup jauh di bagian Barat laut dari kota Cerida ini, dan justru lebih dekat ke kota Siene, kota perbatasan.


Jadi, ketika Suzu bilang dia akan berangkat ke Furyuun, dia akan berangkat menyilang dari kota Eldergale, yang mana itu sangat jauh. Akan sangat merepotkan jika aku harus mengelilingi dunia ini dengan kereta kuda nantinya, aku harus segera bisa menggunakan sihir teleportasi.


Walau aku bilang begitu, aku sudah mulai bisa menggunakan sihir terbang. Itu adalah modifikasi dari sihir Angin.


"Baiklah. Seperti biasa, ayo ke Dungeon!" Ya! Ini adalah tujuanku datang ke kota Cerida ini.


Karena ini adalah kota perdagangan, bahan bahan material monster terjual lebih baik di sini. Jadi, aku bisa menjadi petualang dan mencari uang di sini.


Aku berjalan pelan menuju tujuanku. Aku ingat sudah melakukan ini sejak 2 tahun lalu, sejak ketika aku berumur 8 tahun.


Saat aku ingin memasuki Dungeon karena penasaran, aku harus menjadi seorang petualang terlebih dahulu. Yahh, aku memang membutuhkan uang, jadi tidak ada salahnya untuk mendaftar menjadi petualang.


Aku memimpikan akan membuat sebuah perusahaan, karena yang terpenting, adalah informasi. Aku ingin membuat sebuah perusahaan, tapi ada bagian yang bergerak di bawah bayangan.


Aku membutuhkan orang orang yang bekerja untukku mengumpulkan informasi atau melakukan hal hal tertentu.


"Yahh, berkat itu sekarang aku peringkat B ya? Itu mudah." Aku selalu membersihkan Dungeon hingga lantai tengah, dan membawa ke atas beberap bagian yang dapat dijual.


Monster di sini sangat lemah. Mereka biasanya keluar hanya dengan satu kali serang. Jadi, aku sangat menyukai untuk melawan boss lantai.


Ada beberapa monster dengan bagian yang dapat dijual dengan mahal. Aku bisa saja memburunya, tapi mekanisme respawn monster disini cukup lambat.


"Mungkin hari ini aku akan meningkatkan peringkatku, karena hadiah yang didapat dari adventurer rank A lebih besar. Mungkin ini saatnya turun dan memburu minotaur?" Aku bertanya tanya pada diriku sendiri sambil melihat kartu guild.


Aku menonton pintu masuk Dungeon yang dijaga ketat di pintunya. Karena hanya petualang yang bisa masuk.


"Tolong ya." Aku memberikan kartu tanda petualang setelah mengantre, dan aku menyimpan tudungku.


Terdapat sesosok orang dengan setelan hitam biasa, tambah masker hitam yang menutup seluruh bagian tubuhnya, dari mulut sampai bawah.


Terdapat pisau menyilang di belakang pakaian hitam yang tertutup tudung tadi, dengan setelan panjang serta sarung tangan menutupi seluruh tubuh.


Ini adalah aku. Hanya teknik penyamaran sederhana. Sedikit merubah pakaianku, dan statusku. Petualang solo yang menggunakan setelah hitam, itu sangat biasa dan mudah ditemukan dimanapun.


Kini aku adalah ras Beast, dengan pekerjaan sebagai Assasin. Tentu, levelku setara dengan beberapa petualang kelas atas, 48.


Aku menyetelnya demikian, karena Beast adalah ras terdekat dengan manusia. Mereka sangat mirip, dan cukup sulit dibedakan kecuali taring di bagian mulutnya. Itulah kenapa aku menggunakan masker menutupi mulutku.


Tapi ada beberapa ras Beast yang berbentuk mirip Half. Jujur aku ingin melihatnya suatu saat nanti.


"Petualang solo, kah? Wah! Sebentar lagi kamu akan naik peringkat, ya? Selamat selamat!" Penjaga itu menepuk punggungku ramah.


"Yahh, begitulah. Terima kasih." Aku melangkah masuk ke Dungeon itu sendirian.


Dengan begitu. Aku, Nier seorang petualang kelas B masuk ke Dungeon itu.