Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 6: Bab 7 - Permulaan



Ren tidak menemukan cara bagaimana agar tubuhnya tetap bertahan setelah mengeluarkan sihir skala besar. Tapi dia tidak mau menyerah. Tidak, bukan nya tidak mau, tapi dia tidak boleh menyerah.


Pasal nya, jika dia menyerah di sini, itu juga akan menjadi akhir bagi nya. Karena saat ini Ren berada di kota saat kejadian, tidak menutup kemungkinan dia akan mati bersama dengan kehancuran kota ini jika dia tidak berhati-hati.


Terakhir saat dia berhasil lolos, Ren menggunakan kemampuan [Armor the God of Darkness] itu adalah akar di mana Ren mendapat beberapa kekuatan aneh di masa depan.


Dan setelah dia benar benar memikirkan kembali, akhirnya Ren mengingat tentang apa dunia ini sebenarnya.


Sulit untuk mengakui itu, tapi Ren sudah


"Humm. Aku harus nya tahu bahwa ini adalah dunia fiksi. Ini tidak nyata, dan semua yang ada di sini adalah palsu. Oleh karena itu, aku tidak bisa terbawa suasana di dunia ini..." kata Ren.


"Aku tahu, mungkin ini adalah ujian untuk ku. Lagipula, ujian ini dilakukan agar aku bisa mendapat kekuatan ku lagi, jadi mungkin Kei membuat nya seperti ini agar aku bisa berusaha sendiri dengan kekuatan ku sendiri."


"Ya. Berarti aku harus bisa menyelamatkan kota tanpa menggunakan kekuatan aneh itu, dan hanya dengan sihir ku sendiri. Mungkin itu adalah syarat kelulusan dari Dungeon ini." lanjut Ren.


Dia berbicara sendiri, saat berjalan pelan menyusuri gua bawah tanah yang dia temukan dulu.


Saat ini, Ren mengerti apa yang harus dia lakukan. Tapi, sedikit salah pemahaman di sana, karena dia berpikir bahwa bisa menyelamatkan kota dengan kekuatan nya sendiri.


"Ya. Seperti nya seperti itu. Yahh, mari kita lihat apa yang bisa aku lakukan." kata Ren.


Dengan begitu, dia menuju ruangan eksperimen milik nya, sambil terus memikirkan bagaimana cara dia bisa menghadapi krisis besok.


Ren bisa dibilang sudah lupa, bagaimana keadaan nya di luar sana. Dia lupa bagaimana sebelum dia masuk ke dunia ini, padahal dia masih diculik di dunia luar dengan beberapa orang reinkarnator disana.


Tapi saat ini, dia hanya memikirkan bagaimana menyelamat kan kota.


Dengan pemikiran seperti itu, Ren masih akan terus berusaha, bahkan hingga titik darah penghabisan.


***


HINGHYYEEE!!!!


Suara ringkikan kuda terdengar keras ketika sebuah kereta kuda tiba tiba berhenti setelah si kuda meringkik liar. Pasal nya, ada sesuatu yang jatuh tepat di depan si kuda, membuat kuda itu panik dan berhenti tiba tiba.


Itu adalah kereta kuda yang dinaiki Ruly, dimana Kurls menjadi kusir kereta itu.


"Aduhh!!" teriakan kecil terdengar dari dalam kereta kuda, bersamaan dengan suara sesuatu yang saling bertabrakan. Tampak nya itu Ruly, yang terjun menabrak dinding kereta karena kereta kuda yang berhenti mendadak.


Sedikit terhuyung huyung, Ruly membenarkan posisi nya, dan mulai bisa melihat lurus.


"Ughh, bagaimana keadaan mu, Lulu? Apa kau baik baik saja?" tanya Ruly saat berusaha bangun seraya sedikit mengelus jidat nya yang memerah karena terbentur dinding kereta.


"Saya tidak apa, Nona. Yang lebih penting, apa Nona Ruly terluka? Biar saya bantu anda berdiri. Dan juga, saya tidak mengerti kenapa, tapi saya mendengar barusan ada suara ringkikan kuda yang sangat keras. Mungkin itu ada hubungannya dengan kejadian ini." kata Lulu.


Dia membantu Ruly berdiri, sambil menenangkan Ruly yang sedikit panik tadi.


"Ya. Kau benar. Mungkin ada baiknya kita tanyakan dulu pada paman Kurls." Ruly mengangguk dengan saran dari Lulu, dan berusaha membuka pembatas yang memisahkan gerbong dengan tempat kusir berada.


Dan setelah pembatas itu dibuka, Ruly dan Lulu melihat Kurls, yang sedang berjalan turun dari pelana.


Wajahnya sangat serius, selain itu, juga tampak khawatir. Tapi, terlihat bahwa dia benar bener berhati hati, bahkan hanya untuk turun dari kursi kusir.


"Ada apa, paman Kurls?!" tanya Ruly cepat.


Kurls tidak menjawab, hanya melambaikan tangan sambil menyuruh Ruly dan Lulu diam. Itu sedikit mengejutkan mereka, tapi Ruly dan Lulu hanya diam, menurut.


Sementara itu, Kurls menenangkan kuda, dan mengecek benda yang jatuh di hadapan nya.


("Apa ini?! Benda hitam?!!") tanya Kurls sedikit kebingungan.


Di depan kuda kuda itu, terdapat sebuah benda hitam, yang berbentuk padat, atau mungkin cair tapi dengan bentuk jeli. Itu terlihat mengalir, tapi juga terlibat seperti benda padat yang membuat Kurls bingung benda apa itu sebenarnya.


Walau begitu, ketidak tahuan benar benar tidak membuat nya nyaman. Kurls menarik belati yang tersembunyi dengan cepat, dan mencoba menyentuh jeli hitam yang aneh itu. Tapi tetap Kurls dengan hati hati dan penajaman indra yang sangat tinggi saat itu.


Punyi punyi....


Kurls menekan nekan jeli hitam itu dengan ujung belati nya perlahan, tapi jeli hitam itu memantulkan belati itu.


("Humm. Rasa nya kuat, tapi memantul mantul seperti slime. Apakah ini slime jenis baru?") tanya Kurls keheranan.


Itu karena slime dikenal dengan monster yang memiliki evolusi tanpa batas, karena itu bukan kemungkinan kecil monster itu berevolusi menjadi sesuatu yang aneh seperti itu.


Dengan begitu, Kurls segera membelah benda itu menjadi beberapa bagian. Pada awalnya, Kurls berniat untuk membawa monster itu sampai ke Furyuun untuk diteliti lebih lanjut. Tapi Kurls tahu, berpergian bersama monster mungkin kurang baik. Apalagi, sekarang dia sedang bersama dengan Ruly.


Tapi hal yang aneh terjadi.


"A-apa?!! Bagaimana mungkin?! Apakah ini kemampuan baru dari monster jenis ini?!!" teriak Kurls tidak percaya.


Itu karena slime hitam yang dia tebas tadi bukannya menghilang menjadi cahaya, justru bergerak gerak pelan dan menjadi banyak bagian yang lebih kecil!


Ruly yang mendengar itu tak bisa menahan rasa penasaran nya karena teriakan Kurls.


"Ada apa, paman Kurls?! Apakah ada sesuatu yang berbahaya?!" teriak Ruly bertanya pada Kurls. Segera, Ruly juga bersiap untuk turun.


"Berhenti! Jangan keluar dari kereta!" teriak Kurls cepat, menghentikan Ruly yang sudah akan membuka pintu.


Ruly tidak paham, dan menoleh ke arah Lulu. Tapi Lulu juga tidak mengerti apa apa, dan hanya menggeleng pelan sambil sedikit mengangkat tangan nya.


Dihadapkan keadaan seperti itu, Ruly menelan ludah, bingung dengan apa yang harus dia lakukan.


?!!


"Bahaya!!" teriak Kurls tiba tiba.


Ruly juga merasakan nya, tapi dia terlambat untuk bergerak, dan menyadari apa yang terjadi. Sedangkan, Kurls yang sudah siap siaga sejak awal menyadari nya lebih dulu, dan mampu bergerak lebih cepat.


DARRR!!!


Sebuah suara keras terdengar, dan kereta yang mereka naiki hancur berkeping-keping menjadi beberapa bagian yang lebih kecil! Lulu dan Ruly sudah melompat ke samping berkat peringatan Kurls, tapi mereka masih belum tahu apa yang terjadi.


Ada sebuah benda yang menyambar kereta, dengan kecepatan sangat tinggi dan kekuatan yang luar biasa!!


Tapi beruntung, dengan refleks cepat Kurls yang bergerak maju, dengan peringatan yang cepat, Kurls entah bagaimana berhasil menahan serangan itu.


"Hehh... Tidak buruk..." suara pelan terdengar dari atas langit, tempat serangan itu berasal. Tapi Kurls, Ruly, dan Lulu terlalu sibuk untuk menyadari suara itu.


"Nona Ruly! Lulu! Apakah kalian baik baik saja?!" segera, Kurla mencari masing masing orang yang dia panggil untuk memastikan keadaan mereka. Walau begitu, tangan nya tetap siap di belati yang dia acung kan di depan dada nya, dan mata nya tetap mengarah ke benda yang menyerang nya tadi.


"Jika kau mengira kami tidak apa, kau aneh, paman!" teriak Lulu menjawab pertanyaan Kurls seraya sedikit tertawa dan membersihkan debu yang menempel di seragam pelayan nya.


"Ya ya ya. Jika kamu bisa bercanda seperti itu, maka artinya kamu baik baik saja, kan?" tanya Kurls sedikit tertawa.


Ruly yang mendengar sedikit perdebatan itu tersenyum, dan segera bangkit. Tak lupa, dia mengambil peralatan bertarung nya, dan dengan cepat bergerak ke sisi Kurls. Dia juga sedikit mengamati apa yang sedari tadi di awasi Kurls tanpa berkedip.


"Apa itu, paman?" tanya Ruly sedikit melongo.


Di hadapannya, ada sebuah benda hitam yang mirip dengan tangan, yang sekarang sudah terbelah dua. Mungkin karena berbenturan dengan belati Kurls tadi, saat dia menahan serangan tangan itu. Sebagai bukti, belati retak Kurls sekarang tergeletak di tanah.


Benda itu tidak bergerak, tapi tidak diam juga. Secara tempat, itu diam. Tapi benda itu terus bergerak, mirip dengan slime hitam yang ditemukan Kurls tadi.


"Maaf, Nona. Saya tidak dapat menjawab apa pun soal itu." kata Kurls dengan nada kecewa.