
PROLOG
"Kita akan melakukan rapat, yang membahas tentang tumbuhnya Wrath Seed yang terjadi akhir akhir ini!!" sambung Kei, sekarang dengan wajah yang serius.
Semua orang saling berhadapan, bahkan Weinia yang malas itu mengangkat kepalanya. Xie Liang juga menampilkan wajah senyumnya, dan burung gagak familiar Rinko sedikit mengepakkan sayapnya.
Semua terlihat antusias dengan itu, mendengar topik itu adalah topik yang baru di dalam rapat ini.
"Itu cukup aneh mendengar topik hari ini, tapi justru itu yang membuatku datang. Jika aku tidak datang, pertemuan ini belum tentu sah, loh!" kata Xie Liang, tetap dengan senyum di wajahnya.
"Kalau begitu, apa yang membuatmu tertarik, Rinko?" tanya Kei.
"Aku? Entahlah, tapi sepertinya aku melihat masa depan dimana aku akan melawannya. Mungkin aku sebagai boss terakhir? Dan aku tidak bisa melihat akhir pertandingan itu, jadi aku sedikit penasaran." jawab Rinko dari burung gagak hitam itu.
Itu membuat Kei menganggukan kepalanya. Dia tidak perlu bertanya pada Weinia, karena dia sudah menyampaikannya tadi.
"Baiklah. Memang ini adalah topik yang berbeda, dan sangat menyeleweng jauh dari keteguhan kita selama ini."
"Dan aku mengakui, itu semua karena aku. Itu semua karena pilihanku. Aku tidak bisa menyangkal itu, karena aku yang menyuruh Cilia untuk membuat Wrath Seed itu tetap hidup." lanjut nya, menutup mata dan menatap Cilia.
Yang lain hanya melongo, dan menatap Cilia dan Kei bergantian.
"T-t-tunggu!! Apakah maksudmu, pemilik Wrath Seed ini sudah mati? Dan kalian membangkitkannya? Lelucon macam apa ini?!!" teriak Xie Liang tidak terima. Dia bahkan tidak bisa menutupi wajah kesalnya.
"Yahh, kau tahu? Aku merasa dia mirip denganku, jadi aku sedikit merasakan kasihan padanya." jawab Kei pelan.
"Hehh... Kau punya hati juga rupanya." sahut Rinko.
"Itu tidak sopan! Aku juga punya hati, dan mengetahui masa lalunya, aku bahkan merasa marah. Jelas dia yang mengalami itu semua akan menginginkan balas dendam. Ditambah lagi, dia adalah Reinkarnator." teriak Kei menyangkal perkataan Rinko.
Itu lagi lagi memberikan kejutan, tapi yang lainnya sepertinya sudah mulai terbiasa.
"Kalau begitu, mungkin dia bisa..."
"Tidak! Dengan begitu, Kei harus melepas diri dari Wrath, bukan? Kau tahu itu bukan hal yang bagus!" teriak Xie Liang menyela gumaman pelan Rinko.
Itu membuat Rinko tidak bisa berkata kata, dan hanya mengangguk lambat.
"Benar. Aku tidak akan menyerahkan kutukan ini secepat itu. Dia benar benar kuat. Sangat kuat. Bukan hanya kemampuan, tapi juga mentalnya. Walau itu sudah hancur beberapa kali, dia tetap bisa bangkit dan menjadi lebih kuat lagi." kata Kei mengepalkan tangannya.
"Aku menyegel sihir alam dan kemampuan kutukannya sekarang, dan dengan kejadian dulu, dia mungkin tidak akan membuka status untuk sementara waktu."
"Kalaupun dia membuka status, dia pasti tidak menyadari betapa besarnya kekuatan sihir yang ada dalam tubuhnya. Bagaimanapun, dia punya skill [Fake], dan sering menggunakannya. Aku pikir dia akan menafsirkannya seperti itu." lanjut Kei.
"Aku sempat bertemu dengannya saat di Adventurer Guild kita Fuheng. Dan dia baru mendaftar di sana dengan nama baru, Liu Xiu. Nama yang terdengar seperti Afsel, bukan?" ucap Xie Liang.
"Uhh, aku jadi iri pada kalian yang sudah bertemu dengannya." ucap Rinko.
"Yahh, begitulah. Dia bahkan bisa membangkitkan iblis putih, kau tahu? Dan saat mode itu, dia bisa menahanku imbang, walau itu tidak akan berlangsung lama." ujar Kei lagi.
"Dia bisa mengaktifkan Iblis Putih? Dan lagi, mengimbangi mu? Gila!" sahut Xie Liang.
"Bukanlah orang sepertinya berbahaya untuk dunia ini? Bagaimana jika dia menjadi lebih kuat dan mampu melepas segel itu? Bukanlah dia akan jauh lebih kuat daripada kita semua?" tanya Rinko.
"Humm, bagaimana mengatakannya, aku pikir jika kita tidak macam macam pada keluarga nya, dia tidak akan bertindak bodoh."
"Dia adalah tipe orang yang bertarung saat diganggu." jawab Kei.
Xie Liang tertawa mendengar itu; "Bukankah itu mirip dengan mu? Apakah semua pewaris Wrath memiliki kebiasaan itu? Itu menggelikan!" kata Xie Liang.
Kei menatapnya dengan tatapan tidak suka, yang membuat Xie Liang segera membenarkan perkataannya.
"Yahh, intinya begitu. Kalian mungkin sudah mendengar alasanku membiarkan Wrath Seed tetap ada. Dan melihat ekspresi dan perilaku kalian sampai saat ini, aku melihat kalian memikirkan hal yang sama denganku. Bagaimana?" tanya Kei.
Semua terdiam, menatap Kei dengan serius. Bahkan Weinia yang biasanya terlihat mengantuk sekarang menatap Kei.
Terjadi jeda beberapa menit, lalu Cilia angkat bicara.
"Anu... Menurutku, jika itu kemauan Kei aku akan mendukungnya. Apapun itu. Dan juga, jika ada sesuatu yang membuat Keu harus menyerahkan singgasana nya, itu pasti sesuatu yang sudah tidak bisa kita tangani lagi." katanya.
"Benarkah, Cilia. Kau sudah tahu bukan? Hanya ada satu pewaris kutukan 7 dosa." tanggal Rinko.
Itu membuat suasana menjadi berat, dan Cilia menunduk karena itu.
"Ya. Aku tahu! Tapi, jika itu terjadi, maka terjadilah. Aku tidak akan bisa berbuat apa-apa. Yang bisa aku lakukan hanya bersamanya selama mungkin." jawab Cilia sambil menggenggam kedua tangan di dada.
Xie Liang dan Rinko bertatapan, mereka terlihat seperti membicarakan sesuatu, tapi hanya dengan tatapan mata.
"Kalau begitu, sudah ditentukan, bukan?" sahut Xie Liang.
"Hah?"
""Kami berdua setuju dengan apapun yang akan kau lakukan padanya!"" dua suara yang berbarengan terdengar, membuat Kei sedikit melongo.
"Yahh, aku juga tertarik dengan bocah itu. Kalau bisa, dia mungkin akan membalaskan semua dendam kita. Kita yang sekarang tidak lain hanyalah bidak yang tidak bisa begerak, hanya menunggu dijalankan. Aku harap dia bisa melepas kita dari hal yang membelenggu kita ini." ujar Rinko panjang lebar.
Semua mengangguk mendengar itu, bahkan Kei sendiri tidak menyangka itu akan terjadi. Terutama, ketika salah satu dari mereka menolaknya.
"Baiklah. Kalau begitu, sudah diputuskan! Kita akan mengawasi bocah itu, dan memutuskan apakah diablayak untuk menjadi pengganti."
"Jika dia layak, maka itu akan bagus, dan jika dia menyeleweng dari jalan yang seharusnya,"
"Kita bunuh!"