
"Tapi, Ren. Itu berarti sebaliknya, bukan? Kau memiliki hati yang jahat juga?" Tanya kak Ruly.
Itu membuatku terkejut, karena memang itu pertanyaan yang sulit.
Kak Ruly dan kak Edna menatapku tajam, menunggu jawabanku. Mungkin memang sudah kewajiban ku untuk menjelaskannya.
"Yaah, tentu saja. Aku punya keinginan melindungi yang kuat, jadi tentu aku memiliki sihir cahaya." Aku tersenyum hangat.
"Tapi orang yang mencoba mengganggu keluargaku, aku tidak akan segan pada mereka." Aku mengubah suasana senyumku, yang tadinya hangat menjadi gelap.
Mungkin karena aku memikirkan mereka yang mengincar Suzu. Aku menghela nafas.
"Karena itulah aku memiliki sihir kegelapan. Bagaimana? Apa ada yang aneh?" Aku hanya bertanya.
Suasana menjadi hening. Ahh, aku agak membenci suasana gelap seperti ini.
"Kesampingkan itu, apa ada yang ingin kalian tanyakan tentang elemen ini? Apa masih ada yang tidak kalian pahami?" Aku mengangkat kedua tanganku, mengibaskan nya.
"A-ah. Kau benar. Apapun itu, kau tetap Ren, ya?" kalimat kak Ruly sedikit melemah.
"Kalau begitu, aku ingin menanyakan tentang space magic, dan juga sihir langka seperti elemen es milik Edna." Kak Ruly sedikit tergagap ketika menanyaiku.
"Ah! Kak Ruly benar. Kalau Ren bilang bahwa elemen inti hanya lima, berarti elemen es sepertiku ini apa?" Kak Edna juga terlihat antusias.
"Hmm, aku juga belum tahu bagaimana Space magic terbentuk. Aku juga belum terlalu menguasainya." Aku menaruh tanganku di dagu.
"Heeeeh?!" Mereka berteriak keras sambil berdiri mendekatkan wajah mereka ke arahku.
"Bahkan Ren tidak bisa? Apakah aku anak spesial yang terpilih dewa?" Kak Edna memegang wajhanya sambil mengekspresikan kekagetannya.
"Kak Edna, apa yang kakak bayangkan ketika membayangkan sihir ruang?"
"Hmm, aku membayangkan ruang putih tanpa ada isi apapun." Jawab kak Edna.
Hmm, apa mungkin pengimajinasianku salah? Aku membayangkannya sebagai item box, kotak hitam tanpa dasar. Apa itu salah? Bisa jadi. Aku pasti akan mencobanya dengan yang lain secepat mungkin.
Aku sangat ingin melakukannya. Jadi mungkin aku akan membayangkan sesuatu seperti ruangan yang ada? Seperti dunia lain atau sesuatu seperti itu mungkin?
"Ren!" Suara kak Ruly mengejutkanku, membuyarkan lamunanku. Ah, mungkin karena aku melamun? Berapa lama aku melamun tadi?
"Ahh, maafkan aku. Aku akan melanjutkan menjelaskannya." Aku sedikit berdeham, lalu kembali memunculkan kelima elemen yang menari di tanganku.
"Seperti yang aku katakan tadi, elemen hanya ada 5." Aku menyodorkan kelima eleman, lalu menghilangkannya.
"Api." Api aku besarkan melayang di depan atas kepalaku, memberi mereka gambaran lebih baik.
"Air." Air kubuat menari mengelilingi mereka sebelum menggantikan posisi api sebelumnya, membuat nya bergeser memutar.
"Angin." Aku memainkan rambut mereka dengan mudah.
"Tanah." Batu batu mulai terbentuk.
"Petir." Secara cepat, itu bergerak dan menjadi sesuatu berbentuk pisau pendek yang berwarna ungu yang indah.
"Seperti yang aku bilang tadi, ini adalah kelima elemen dasar. Dan selain kelima elemen ini, semua adalah elemen turunan."
"Pertanyaannya, apa yang membentuk elemen es?" Aku menghapus semua elemen kecuali angin dan air.
"Air jelas menjadi elemen utama dari elemen es, dan untuk membekukannya, kita perlu angin yang cukup dingin untuk melakukan itu."
Aku membuat kedua elemen itu menari sesaat di sekeliling mereka, sebelum menyatu tepat di atas kepala mereka membuat ledakan kecil yang menghasilkan butiran butiran salju yang lembut.
Aku tahu mereka menyukai itu, karena terlihat mereka yang bermain dengan salju, bahkan kak Edna membuka mulutnya untuk merasakan salju yang jatuh ke lidahnya.
Seperti anak kecil?
"Selain itu, ada juga reaksi dari api dan air, yang menghasilkan elemen kabut." Sama seperti sebelumnya aku mempraktekkannya langsung.
"Dengan kata lain, fenomena yang ada di dunia ini berhubungan dengan elemen." Jelasku sambil mengangkat satu jari kananku.
Ya. Dunia ini merupakan dunia yang luar biasa unik karena setiap kejadiannya berdasarkan elemen.
Selain itu, aku bisa mengetahui ada sesuatu yang menjadi penghubung diantara sihir, yang sementara ini kusebut mana. Aku akan menyelidiki tentang "mana" ini lebih lanjut nanti.
"Jadi, kak Edna. Apa yang kau keluhkan? Secara teori, kau mampu memiliki 2 elemen dan 2 kemampuan langka Lo! Ada sesuatu?" Aku curiga bahwa kak Edna kurang bisa mengetahui kemampuannya disini.
"A-ah, tidak. Aku hanya merasa aku tidak memiliki sihir untuk menyerang, jadi itu dianggap tidak berguna." Kini dia menundukkan kepalanya.
Tampaknya hal itu membuatnya sedih, padahal jika kita berada di pertarungan yang sesungguhnya, akan lebih menyenangkan jika memiliki healer di sekitar kita. Yahh, walaupun aku belum memiliki pengalaman apapun, tapi aku suka memiliki healer di dalam game.
"Hmm, bukannya kau bisa menyerang menggunakan sihir es?"
"Ya, tapi itu sangat lemah." Dia menjawab sama lemahnya. Humm, apa ini merupakan masalah besar?.
"Ya, Ren. Tolong bantu Edna. Setidaknya, ada ujian untuk mengalahkan monster seperti kerangka mirip Undead untuk ujian akhir di Akademi dasar, yang diselenggarakan oleh Akademi dengan Tuan Moise sebagai pengujinya." Kini kak Ruly menimpali.
Heh? Undead? Apakah itu sihir pemanggilan? Kalau begitu, bukankah itu dark magic? Dan kalau dia memiliki dark magic, bukankah itu berbahaya?!
"Uh, hum! Kalau begitu, justru bagus!" Aku menggeleng gelengkan kepala berusaha mengusir pikiran burukku.
"Hmm, apa maksudmu?"
"Kalian tahu, bahwa pemanggilan Undead itu termasuk dark magic? Oleh karena itu, kelemahan dark magic adalah light magic, yang mana sangat cocok dengan elemen kak Edna. Sepertinya ada serangan untuk Undead agar mereka bisa mati dalam sekali serang." Aku tersenyum pada mereka berdua.
Yahh, aku pernah melihat sihir semacam itu di game. Dan aku pernah bermain bersama teman dengan job Priest.
Ketika boss yang kami lawan semacam Undead, dia dapat membunuhnya hanya dengan 2 kali skill!
Memang aneh, tapi dia adalah partner yang cukup baik.
"Heh?! Dark magic? Berarti Tuan Moise?" Kak Edna tidak bisa melanjutkan kata katanya. Ya memang aku yang sudah membocorkan rahasia dark magic pada mereka.
"Tapi, Ren benarkah itu bisa dilakukan?" Kak Ruly bertanya khawatir.
"Tenang saja! Aku yakin ini pasti berhasil!" Aku menyeringai, meyakinkan mereka!