Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 35 - Adventurer Guild Kota Furyuun



"Hei! Jangan bercanda! Ada Dungeon rank S disini, kan? Bukannya seharusnya akan ada petualan rank A atau bahkan rank S disini, bukan? Ayolah! Jangan bercanda denganku!" Aku berteriak mengguncang tubuhnya.


Sebenarnya aku masih berharap dia hanya bercanda mengatakan hal seperti itu.


"A-a-aku tidak berbohong! Kau bahkan bisa melihat salinannya!" Dia mengambil sebuah buku yang tidak bisa dibilang tebal atau tipis.


Aku menyambarnya cepat, membukanya dengan heran.


"Be-benar." Aku tidak punya tenaga lagi. Aku hanya bisa duduk dengan lemas. Aku tidak tahu kemana dia pergi, tapi sepertinya melarikan diri.


Oh, ternyata tebakanku salah! Dia datang dengan beberapa teh dan makanan, dan meletakkannya di depanku.


Aku benar benar tidak punya tenaga lagi. Aku menjatuhkan buku ke meja, karena guild ini benar benar parah. Dia mengambil buku itu dan menaruhnya ke bawah meja ini. Itu agak aneh karena harus ditaruh di bawah sini.


"Selain itu hebat juga kau bisa mengetahui bahwa disini ada Dungeon rank S. Siapa kau sebenarnya?" Tanyanya menyelidiki ku.


Entah kenapa aku langsung mengingat seseorang.


"Sebelum menanyakan nama orang lain, lebih baik kau sebutkan namamu." Aku melipat tanganku agak kesal.


"Ah, sepertinya aku tahu berasal dari mana kau. Kamu beradal dari kota Cerida, bukan? Dan guild master disana aneh, karena menyebutkan namanya di akhir." Katanya menyebutkannya dengan tepat.


"A-Ahh, kau bicara seperti pernah menemuinya! Luar biasa! Ya. Dia adalah orang yang aneh, tapi aku bisa merasakan bahwa dia adalah orang yang kuat." Aku menaruh tangan di dagu.


"Aku juga bisa merasakan pengalaman dari tatapannya." Aku tersenyum.


"Tetap saja dia aneh. Ya. Dia aneh." Aku kembali mengubah wajahku menjadi datar, mengingat pembicaraanku dengannya.


"Apa yang kau bicarakan di belakang orangnya?" Seseorang dengan suara anggun dan lembut menegurku.


("Suara ini, sepertinya aku kenal.") Aku menoleh.


"Soraya?!" Aku berteriak kaget. Aku hanya bisa berdiri memandangnya duduk di depanku, menghadapku.


"Ke-kenapa kau ada di sini?" Aku berbicara dengan gagap, karena dia sepertinya sedari tadi mengawasiku.


"Kenapa? Entahlah, kenapa ya?" Jawabnya dengan berpose aneh.


Humm, sepertinya aku mulai tahu bahwa ini semua berhubungan. Dan untuk selanjutnya, yahh aku bisa menebaknya.


"Ahh, sepertinya pertemuan yang kau katakan tadi adalah dengan guild master kota Furyuun ini, ya? Aku agak mengerti." Aku menganggukkan kepala, setelah sedetik berfikir.


"Ya. Soraya adalah kakakku. Ngomong ngomong, namaku adalah Diena lho! Salam kenal! Dia mengulurkan tangannya.


Aku tahu bentuk tangannya bukan mengajakku bersalaman, tapi meminta sesuatu. Jelas dia meminta kartu identitas petualang ku, bukan? Aku menariknya dari saku ku, dan memberikannya.


"Heh, kau lolos tes ini. Pengamatan ku cukup mengagumkan." Katanya.


"Persetan dengan itu. Aku tidak menyukai keformalan." Suasana hatiku sudah memburuk, tolong jangan perburuk lagi.


Dia melihat kartu guild ku, dan menganggukkan kepala.


"Begitu? Aku sedikit mengerti. Kau adalah petualang ajaib yang baru diceritakan kakak. Dan entah kenapa kau langsung datang kemari setelah mendengar Dungeon rank S sekali? Hanya satu kata untukmu." Dia menggelengkan kepalanya.


Uhum! Aku sedikit berharap untuk ini. Pandangan orang lain padaku, aku sedikit menantikannya. Diena mendekatiku, lalu mengatakan sesuatu.


"Tolol." Katanya mendekatkan wajah ke arahku.


"Permisi?"


"Ya! Kau tolol karena mencari tanpa ada perencanaan apapun. Kau tahu, itu adalah tindakan paling sembrono yang pernah aku ketahui." Dia berdiri, melipat tangannya di bawah "gunung" nya yang besar.


Uhh, aku sudah terlanjur terbawa emosi. Sial.


"Terserah. Aku hanya ingin tahu dimana Dungeon rank S itu, dan sisanya jangan tanya. Itu adalah privasi.


Ruangan menjadi hening sesaat. Soraya tampak selesai memakan camilan, sepertinya akan angkat suara.


"Sudah kubilang, dia itu bodoh bin tolol bin nekat. Aku bisa tahu sekali setelah melihatnya." Dia menutup satu matanya dan memiringkan kepalanya ke arahku.


"Jujur saja aku tidak ingin mendengarnya darimu." ahh, kata hatiku keluar.


"Tapi, tidak ada salahnya untuk menunjukkannya padanya. Lagipula, kematian seorang Petualang bukanlah hal baru disini." Lanjutnya dengan tawa sinis yang dibuat buat.


"Tapi, bagaimana bisa kau sampai disini dengan cepat? Kau tidak mungkin sampai disini secepat ini tanpa kereta." Selidik Soraya.


"Hik!" Aku hanya terkejut mendengar itu.


"Beri aku kartunya, Diena!" Soraya merebut kartu itu dari Diena yang masih menelitinya lebih lanjut. Aku hanya tidak paham apa yang dia lakukan.


Dia tampak meneliti dan menekan beberapa hal. Aku benar benar tidak tahu apa yang dia lakukan. Apa ada fungsi lanjut di kartu ini?


"Heh, ini mengejutkan. Kamu bisa sampai dari kota Cerida kemari tidak terdeteksi oleh gerbang manapun. Lewat mana kau?" Dia kini menyelidiki ku.


"Heh? Yang seperti itu memang bisa terlihat?" Tanyaku mendekatinya dan melihat dari belakang.


Terlihat ada catatan di tempat seperti log, yang mirip catatan safe dalam game. Dan sepertinya, itu akan tercatat di setiap gerbang masuk. Entah bagaimana, mungkin merupakan mekanisme pertahanan.


"Humm aku juga tidak tahu. Aku merasa tidak memberikannya pada siapapun, jadi mungkin itu tidak tercatat?" Tanyaku menggunakan skill [Poker Face] dan [Seduce] pada mereka.


Ini merupakan sesuatu yang tidak terduga, dan aku juga tidak bisa membantahnya. [Seduce], aku mohon rayu mereka!


"Ada kah mekanisme seperti itu? Sepertinya kita kurang waspada." Diena berkata mengawali pembicaraan yang tiba tiba menjadi sepi itu.


"Ya. Mungkin seperti itu. Tapi, apakah semua yang aku lakukan akan tercatat?" Tanyaku.


Bisa gawat jika itu terjadi. Bisa saja, aku masuk ke dalam suatu Dungeon dan mengalahkan boss lantai, bisa saja kartu itu akan mengetahuinya.


"Ya. Itu benar. Misalkan kau masuk ke sebuah Dungeon, itu akan mencatatnya. Tentu, hal penting seperti menangkap sebuah Dungeon juga akan tercatat, tapi hal sepele seperti mengalahkan boss lantai tidak akan tercatat." Jawab Soraya menjelaskannya sedikit.


Hufft, aku bisa mengambil nafas tenang untuk sementara ini.


Jadi, jika aku mengalahkan Boss lantai Dungeon rank S nanti, aku tidak akan diketahui.


"Oh ya. Aku lupa bertanya, tapi apa keuntungan yang didapat setelah menjadi Adventurer rank S?" Tanyaku.


"He? Kau benar benar ingin menjadi petualang rank S? Kau benar benar gila." Jawab Soraya lagi.


"Tidak! Aku hanya memikirkan keuntungannya. Kalau aku benar benar bisa, aku akan meraihnya dengan latihan. Kalau bisa menghasilkan lebih banyak, kenapa tidak?" Aku mencoba berkelit.


Mereka berdua tampak menarik nafas, dan kemudian mengangguk. Syukurlah jika mereka bisa mengerti.


"Sederhananya, kau menajdi bangsawan tingkat Earl." Jawab Diena singkat.


Heh?! Earl? Itu lebih tinggi peringkat ayahku, dengan kata lain lebih dengan peringkat seorang guild master? Bukankah itu gila?


Tunggu! Apakah ketika Adventurer Rank-S menjadi seorang Guildmaster, apakah justru akan menurun?


"E-earl? Aku tidak salah dengar, bukan? I-itu terlalu menggiurkan!" Mungkin melihat mataku yang sangat menginginkannya, mereka mundur sedikit.


"U-um. Kau benar. Jadi, apa sekarang kau tertarik?" Soraya mengangkat alisnya, menggodaku.


Memang benar. Setingkat dengan Earl adalah sesuatu yang menarik. Itu akan mendapat beberapa pelayanan yang sangat tinggi. Petualang rank S adalah hal yang istimewa sepertinya.


"Sayangnya, banyaknya rank S sangat sedikit di kerajaan ini. Kerajaan Kin hanya memiliki rank S kurang dari 20." Diena menyambung.


Aku kembali berfikir. Betapa benefit yang tinggi didapatkan, tapi aku tidak tahu apa yang aku inginkan setelah mendapat benefit yang tinggi itu.


Selain itu, dengan hak yang besar, pasti akan datang kewajiban yang besar juga.


"Hmm, bagaimana dengan pengalihan? Apa hak hak itu bisa dialihkan?" Aku memikirkan sesuatu.


"Heh? Dialihkan? Aku tidak pernah mendengar hal hal seperti petualang yang memberikan peringkatnya untuk orang lain, tapi sepertinya itu masih bisa." Jawab Soraya memasang pose imut.


("Itu bisa dialihkan ya? Aku tidak tahu untuk apa itu, tapi pasti akan berguna.") Pikiranku melayang entah kemana.


"Baiklah. Kalau begitu, bolehkah aku melihat Dungeon rank S sekarang?" Tanyaku memecah kesunyian. Mereka berdua berpandangan, dan kemudian tersenyum.


"Kita sudah sampai, lho!" Diena tersenyum menggurat.


"Apanya?" Jujur saja, aku sedikit bingung.


"Dungeon Rank-S itu. Kita sudah sampai!" kata Diena sedikit misterius.


"Dungeon Rank-S itu, ada di sini, disegel di Gedung guild ini."