Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 55 - Kenyataan



Ren masih berjalan dengan tatapan kosong di matanya. Memang, terlihat tubuhnya ada disini, tapi tidak dengan jiwanya. Dia hanya terlalu takut untuk menyadari ini semua. Karena itu, dia membuat imajinasi bahwa ini semua hanya bercanda dari orang orang lain.


Dia juga masih berusaha mencari Edna, untuk menyembuhkan Syila. Walau dalam pikirannya dia ingin mencari Edna, tapi dia sebenarnya hanya tidak bisa menerima kenyataan.


Kenyataan bahwa dia datang terlambat, kenyataan bahwa kotanya sudah hancur, kenyataan bahwa orang orang dibunuh.


Kenyataan bahwa orang yang dia gendong di tangannya sudah meninggal.


Dia hanya berjalan lurus, dengan langkah pelan dan mata yang terus terbuka lebar, menggendong seseorang yang sudah tidak bernyawa. Dengan harapan tinggi untuk menyembuhkannya.


Tapi dalam sebagian dirinya masih sadar, terlihat dengan [Zadkiel] miliknya yang masih aktif, yang mana senjata senjata api itu terbang mengikuti Ren, menembaki monster monster yang mendekat.


Tapi sekali lagi, Ren tidak menganggap ini semua nyata. Hatinya terlalu hancur untuk menerima ini semua.


Ren juga berpikir bahwa ini hanyalah lelucon, dimana semua orang pasti hanya bercanda dengannya. Atau ini hanyalah mimpi menurutnya.


Dengan kata lain, dia sudah rusak.


Ren berjalan pelan, melewati sebuah tembok yang anehnya masih berdiri. Dia melongok, melihat ke kanan dan kiri, dibalik tembok itu.


"Ah!" Ren menjerit perlahan, ketika dia melihat siapa yang ada dibalik sana.


"Kak Ruly!" Dia tertawa. Walau tertawa, terlihat air mata mengalir deras dibawah senyum palsunya.


"Kak Ruly bersembunyi di sana, dan menungguku? Pasti dia ingin mengejutkanku. Tapi sayang, dia tertidur di sana." Suara Ren menjadi berat.


Ruly sudah meninggal. Dengan dada yang berlubang, dan mulut yang mengeluarkan darah. Dia termasuk beruntung, karena seluruh tubuhnya masih bisa dibilang utuh. Hanya untuk tetap utuh, itu juga merupakan keajaiban.


"Eh, kenapa aku menangis?" Ren menyeka air mata yang turun disamping pipinya.


Itu berarti salah satu pikirannya masih tahu, bahwa ini kenyataan.


Ren mendekat, lalu menaruh Syila sesaat. Dia menggendong Ruly di belakang, mengaitkan kedua tangan Ruly di lehernya, lalu kembali berdiri sambil membopong Syila di tangannya.


"Kasihan kak Ruly. Kalau dia terus tertidur di sini, dia pasti kedinginan! Bisa bisa, dia masuk angin, kan? Bagaimana menurutmu, Syila?" Dia sedikit menggoyangkannya. Tapi tetap, tidak akan ada jawaban darinya.


Hatinya sudah hancur, mentalnya tidak kuat untuk menahan ini. Dia masih berusaha bertahan untuk mengira ini semua hanyalah bohong.


"Hey, Syila apa kamu tahu dimana kak Edna? Aku benar benar belum menemukannya! Oh ya! Bagaimana dengan penampilanku? Bukannya aku tidak bisa berpergian sebagai manusia?" Ren berbicara pada "Syila" yang ada di tangannya.


"Ahh, biarlah. Lagipula, tidak ada orang yang melihat kita. Hmm, aku heran kenapa ini sangat sepi?" Dia masih berbicara sendiri, ketika kenyataannya orang orang yang dia cari berserakan di dekat kakinya.


Dia terus berjalan, sampai menemukan Roy yang sedang bertarung melawan monster besar yang diciptakan oleh Gordo tadi.


Ren bisa dikatakan "membantu" membukakan jalan untuk Roy dan yang lain kabur. Karena sejak tadi, [Zadkiel] nya masih aktif.


"Hai, kak Edna! Ibu! Ayah!" Ren berteriak senang ketika dia menemukan mereka semua. Spontan, dia berlari mendekati Edna.


("Ren? Kenapa Ren ada disini? Bukankah dia sedang di Furyuun? Ini akan sangat berbahaya! AHHHH!! Apapun itu, aku akan melindungi keluargaku!") Roy yang melihat itu, menguatkan pegangan di tangannya, lalu kembali menyerang maju.


Edna juga melihat itu, lalu tersenyum ketika melihat Ren membawa Syila dan Ruly, belum tahu keadaan mereka.


"Kak Edna! Tolong buat [Sanctuary] dan sembuhkan Syila! Dan juga, bangunkan kak Ruly. Dia tertidur di jalan tadi! Bahkan tubuhnya pun menjadi dingin sekarang. Beri dia selimut. Sedangkan ibu. Apa yang ayah lakukan?" Kata Ren.


Nina mendengar serta melihat itu, menangis. Begitu juga dengan Edna. Mereka tahu bahwa Syila dan Ruly sudah meninggal.


Srasshhh!!!


Suara pecahan terdengar! Roy yang masih bertahan kini tidak kuat lagi. Club yang dibawa monster itu beradu dengan pedang panjangnya, menghempaskannya ke belakang, ke tembok dekat mereka semua berada.


Bahkan pedang yang terbuat dari Admantium itu pun tidak kuat untuk menahan klub monster yang terbentuk dari dark magic!


Edna dan Nina berteriak, dan mereka berdua dengan segera menghampiri Roy yang dengan segera bersimbah darah!


"Ayah! Ayah! Bangun!" Edna menyingkirkan pedang dari genggaman Roy. Sedangkan Nina menangis sambil memeluknya.


Suasana seketika menjadi mencekam. Tapi justru Ren mematikan [Zadkiel] nya. Dia perlahan mendekati monster itu, dengan tatapan kesal.


"Hei, kalian berdua. Kenapa tidak lari? Cepatlah! Aku akan mengutuk kalian jika kalian berdua jika kalian berdua mati disini. Aku sudah lihat. Kalau Syila saja tidak bisa, maka Childe pun bersamanya."


"Aku ingin mati di tempat yang sama dengan Childe." Roy mengatakan itu dengan pelan, yang mungkin hanya didengar mereka berdua.


"Oh ya. Ajak juga anak bodoh itu! Dia sepertinya tidak bisa menerima kenyataan ini. Jelaskan pada dia perlahan. Aku yakin perasaan kehilangan baginya adanya sesuatu yang sulit." Roy tersenyum, sebelum dia menutup matanya.


Dahi Ren mengkerut melihat itu, lalu menghadap pmonster itu.


"Ren! Kita mundur! Mundurlah! Kita tidak akan bisa menang!" Edna berteriak pada Ren yang justru mendekati monster itu.


Edna hanya bisa menangis mendengar itu, tahu bahwa Ren yang kuat pun tidak bisa menahan perasaannya yang hancur.


"Ren..." Edna menggumam, menutup mulutnya sambil terus menangis.


Bruaakkk!!! Club monster itu menghantam tanah di depan Ren, membuatnya terpental jauh, kembali ke hadapan Edna dan Nina!


"Ren!" Nina sebagai ibunya dengan segera menghampiri dan menarik Ren untuk pergi.


Keadaan Ren cukup buruk, beberapa luka muncul di tubuhnya. Karena sejatinya, tubuhnya hanyalah tubuh manusia, jadi jika tidak menggunakan keterampilannya, Ren hanyalah manusia biasa.


Nina ingin mengangkat dan menggendongnya, ketika tangan Ren menghempaskan tangannya.


"Tunggu! Sembuhkan lah Syila dan bangunkanlah kak Ruly terlebih dahulu! Jangan bilang kalian akan meninggalkan mereka!" Ren berteriak tidak karuan, dan melepas gendongan dari ibunya. Berusaha berjalan ke arah Syila dan Ruly dengan sudah payah.


"Ren!" Edna melompat dan menerjang Ren.


Ren yang sudah sempoyongan tidak bisa menahan Edna, terjatuh menghadap Edna. Suasana mencekam, ketika monster itu mulai mendekat.


Edna menangis di dada Ren, menindihnya untuk menghentikan nya pergi.


"Ayo Ren, sadarlah! Mereka sudah mati!" Edna berteriak sambil meremas bahu Ren, masih menangis.


Ren tersentak dengan itu. Matanya membulat. Itu adalah pukulan besar untuk hatinya. Dia benar benar tidak ingin mendengar, atau pun mengetahui itu.


"Apa yang kau katakan kak Edna! Mereka tidak. Tidak! Mereka hanya bercanda denganku! Aku tahu kejahilan kak Ruly, dan dia mengajak Syila untuk melakukannya bersama! Ini semua pas-" teriakan Ren berhenti.


Edna menamparnya, membuat kepala Ren menoleh. Ren terbelalak memegangi pipinya dengan tangan kirinya.


"Sadarlah! Ren! Semua ini kenyataan! Sadarlah! Lihat ayah! Ayah sudah berkorban untuk kita! Apa kamu ingin mengkhianati keinginan terakhirnya untukmu? Benar begitu?!" Edna berteriak menghadapnya, masih duduk di paha Ren sambil menghadapnya.


"Tidak. Itu tidak benar." Ren menggelengkan kepala sambil menunduk. Ekspresi nya mulai menggelap sekarang.


"Buka matamu! Ren! Ayah sudah mati! Begitu juga dengan mereka berdua! Terimalah kenyataan itu!" Edna kembali berteriak, berusaha menyadarkan Ren.


"Itu tidak benar."


"Lihatlah sekeliling mu, Ren!" Edna mengambil wajah Ren, mendekatkan wajahnya sampai dahi mereka bersentuhan, berusaha menjangkau Ren dari matanya.


Mata Ren terbelalak. Matanya membesar, dengan pupil mata yang mengecil.


Ren mulai menoleh ke arah ayahnya. Mulutnya terbuka sedikit.


"Ayah?" Dia berpindah, menoleh ke arah Syila dan Ruly.


"Kak Ruly?" Giginya mulai gemertak.


"Syila?" Kini air mata mulai mengalir di matanya. Itu menetes deras, membuat Ren menjadi sadar dengan itu. Edna yang melihatnya mulai tersenyum pahit.


Ren sekarang ingat, apa yang terjadi. Semuanya, ketika bertemu Childe, ketika dia menemukan Ruly yang meninggal, dan ketika kematian Syila.


Dia menangis keras, tapi itu menandakan dia telah kembali. Edna sedikit tersenyum melihat itu.


"Syukurlah kalau kau-Kyaaaahh!!!" Edna berteriak ketika dia terlempar beberapa meter dari atas Ren.


"Apa yang-?!" Nina bertanya khawatir.


Ren mulai berdiri, dengan senyum dan benda seperti debu hitam yang mengelilinginya. Itu adalah sihir. Begitu padat hingga mampu dilihat oleh mata.


"Khu Khu ku. Ha ha ha!" Ren bagaikan gila tertawa menutup wajahnya dengan tangan kananya, menyibakkan rambutnya.


"Jangan bilang?!" Edna bangun dengan susah payah menonton Ren yang masih dikelilingi dark magic.


"Guahaha! Siapa?! Siapa yang melakukan ini?" Rambut putih Ren mulai menghitam. Mata putih bersihnya mulai berubah menjadi hitam.


Pupil merahnya menghilang, berganti kuning di bagian tengahnya, dan garis merah seperti membelah muncul.


Di tangannya juga mulai muncul topeng, mirip topeng setan yang dia pakai saat menyamar menjadi Shinigami. Topeng dengan tanduk serta taring yang tajam, dan bagian mata nya bersinar merah cerah.


Dia masih tertawa, ketika dia menyadari sesuatu.


"Oh. Aku tahu. Rasul itu, ya? Berarti lawanku adalah dewa?" Ren terkekeh.


"Jangan bilang itu," Edna mulai menyadari apa yang terjadi.


"[Armor the God of Darkness]" Nina menjawab dengan pasrah.