Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 56 - Pertemuan Terakhir



"Jangan bilang itu," Edna menyadari apa yang terjadi.


"[Armor the God of Darkness]" Nina menjawab dengan pasrah.


Graaahhhh!!!! Monster hitam itu mengamuk bagai marah karena diabaikan. Dia membanting banting club' nya, lalu berlari maju, menerjang Ren yang sudah mulai terbang naik.


Ren sudah mulai berubah, ketika sihir sihir di sekeliling seperti terserap ke arahnya.


"Berisik sekali!" Ren menjentikkan tangan kirinya yang bebas. Sedetik kemudian, monster itu pecah, berterbangan bagaikan debu yang terhempas angin.


Dan setelah itu, dia mengibaskan tangan nya, membuat sebuah tebasan kecil.


Itu hanya gerakan kecil dari tangannya, tapi dampak yang dia hasilkan mampu menghabisi semua monster monster hitam yang lain!


Nina dan Edna yang berlindung ternganga ketika melihat kekuatan besar di depan mata mereka.


"Jadi inilah, kekuatan yang sebenarnya dari [Armor the God of Darkness]?" Edna sedikit mundur melihat itu. Itu benar benar mengerikan.


Ren mulai terbang. Tangan kirinya mulai berlapis zirah dengan sisik, begitu pula dengan tangan kanannya.


Itu memiliki cakar, dengan warna hitam, membuatnya semakin serasi dengan rambut Ren yang kini mulai berubah hitam.


Selain itu, ditambah mata hitam Ren dan garis merah di tengah matanya, membuat itu menjadi mirip Demon God yang ada di mitologi dunia ini.


Selain itu, masih ada atribut tambahan lain.


Tangan kanannya menggenggam sebuah topeng hitam dengan balutan hijau dan mata yang bersinar merah yang mengerikan. Dengan perubahan segini, terlihat jelas kekuatan Ren meningkat semakin pesat. Tapi jelas, dia belum berubah sepenuhnya.


Ren tertawa kecil mengingat ini.


"Lawanku dewa? Hufft. Yahh, aku tidak pwduli." tangan Ren membentuk panah kecil, yang menembak beberapa monster hitam yang berhasil lolos.


Dia tertawa semakin keras.


"Ha ha ha! Mereka sudah bermain main denganku! Aku juga pasti akan bermain main dengan kalian! Akan aku buat menyesal mereka yang berurusan denganku, walau kalian adalah Dewa sekalipun!" Ren tertawa, ketika rambutnya mulai menghitam separuhnya.


Ren mulai melayang tenang, ketika senyumnya mulai terus mengembang. Tawanya juga terus terdengar, menggema di gelapnya malam.


"Kalau sudah begini," Edna mulai berlari, mengejar Ren.


"Aku harus menghentikannya!"


***


Kak Edna menamparku keras. Dia bilang, aku harus melihat ke sekeliling ku. Apa yang dia katakan? Aku sudah melihat sekelilingku dengan baik!


"Ayah?" Ayah yang tadi kulihat sedang berlatih, sekarang sudah terkapar, bersimbah darah.


"Kak Ruly?" Hampir mirip dengan ayah, dadanya tertusuk suatu benda, membuatnya sudah tidak bernyawa. Itu berarti dia tidak tidur, atau hanya menjahiliku.


"Syila?" Dia hanya tersenyum, menanggapi panggilanku. Persis seperti ketika aku melihat nya di akhir, ketika dia meninggal di pelukanku.


("Begitukah? Aku lagi-lagi gagal?") Aku menangis. Oh, air mata. Janganlah keluar!


("Aku gagal melindungi?") Dadaku serasa remuk, bahkan lebih menyakitkan daripada kematian yang pernah aku rasakan.


("Lalu, untuk apa aku menjadi kuat sampai sekarang?!") Nafasku menjadi berat, bahkan lebih berat daripada saat paru paruku rusak saat berlatih dulu.


("Aku tidak berguna!") aku merasa frustasi dan putus asa pada diriku sendiri.


("Aku gagal lagi. Aku gagal lagi!") Aku sudah tidak kuat lagi.


Air mataku berhenti. Aku sadar, ini semua adalah kebodohan ku. Ketidak jelasan, sebuah kebodohan nan menggelikan yang aku lakukan.


Aku hanya bisa tertawa. Tertawa mengingat apa yang terjadi. Tertawa melihat kegagalanku, dan hasilnya yang ada di depan mataku.


Dadaku serasa berputar, rasanya semua yang ada di dalam tubuhku berubah, menjadi sesuatu yang lain.


"Khu Khu Khu. Ha ha ha!" Aku hanya bisa tertawa. Aneh, dadaku sakit. Tapi aku selalu menertawakan diriku sendiri. Pandanganku mulai kabur. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Sepertinya aku menghancurkan sesuatu, dan di pikiranku hanya ada "Apostle" itu. Dia sudah salah berurusan denganku. Aku akan menghancurkannya, apapun itu. Dia akan menerima balasan yang berkali kali lipat ketika dia bertemu denganku lain kali.


Tapi, jika aku berurusan dengan "Rasul" aku berurusan dengan sesuatu yang lebih besar. Dengan begitu, lawanku adalah dewa.


Aku tidak peduli! Dewa hanyalah boneka bodoh dari orang lain, dari dunia ini!


"Aku akan menghancurkan mereka semua, atau mungkin aku akan menghancurkan dunia ini saja leb-"


Srettt??!!


Aku merasakan hangat di dalam hatiku.


"I-ini?" Heran, hanya itu yang ada. Aku sekarang berada di dalam suatu ruangan. Yang putih bersih, tanpa bayangan satupun! Mirip saat aku bertemu dengan Zadkiel dulu.


Aku seperti satu satunya zat yang kotor disana.


"Ren!" Sebuah suara memanggilku.


Suara ini? Aku kenal! Aku kenal suara itu!


"S-Syila?" Aku tahu itu suaranya! Dan aku harus segera melihatnya!


Aku menolehkan kepalaku segera, ketika aku melihat sebuah bayangan dan seseorang yang tersenyum, sama seperti senyum yang pernah kulihat terakhir kali ini.


"Syilaa!!" Aku tak bisa mengendalikan diriku ketika aku melihatnya. Memeluknya, itu hanya yang bisa kupikirkan.


Apakah ini nyata? Tidak. Ini pasti mimpi! Walaupunini mimpi, aku ingin aku bisa merasakannya lebih lama.


"Ya. Aku tahu. Ren, karena itu Ren lepaskan aku!" Dia mencoba mendorong ku menjauh. Aku melihat diriku sendiri.


Sebuah topeng aneh muncul di tanganku, dan juga kedua tanganku berlapis zirah mirip sisik naga! Tidak, seluruh tubuhku kini menjadi besar, seperti menggunakan Armor. Dan aneh, dengan jubah di belakangku. Dengan cakar yang melapisi tiap tiap jariku, aku menjadi mirip menggunakan zirah naga.


"Kau tahu, Ren. Setelah mengatakan hal hal tadi, rasanya agak memalukan untuk bertemu denganmu." Syila terlihat malu.


"A-ah um." Aku juga tidak bisa menjawabnya dengan baik.


Uhh, suasana sedikit canggung sekarang!


"Kamu bisa lihat, kan? Apa yang terjadi sekarang? Coba lihat ini semua. Lihat kak Edna yang berjuang menunggumu kembali. Bahkan ibu juga." Syila menampilkan sebuah gambar, sepertinya itu keadaan yang terjadi di luar.


Kak Edna yang terlihat menyerang ku dengan menggunakan sihir cahaya, dan berkali kali terpental mundur.


"A-Aku tahu. Tapi, mereka. Aku tidak bisa memaafkan mereka. Meraka yang mengubah ini semua menjadi neraka. Aku tidak akan bisa!" Aku menutup mata.


Syila menghela nafas, lalu mengambil kedua tanganku yang masih menggunakan Armor itu, menggabungnya dengan tangannya yang lembut.


"Aku tahu. Aku tahu. Dan aku tahu kamu akan menjadi lebih kuat. Tapi, jika kamu hanya menargetkan itu, kamu tidak akan pernah berkembang melampaui itu lho!" Katanya lembut sambil tersenyum.


"Syila, kau tidak marah? Kamu tidak melarang ku?" Aku sedikit heran.


"Tidak ada gunanya aku menahanmu. Karena aku tahu, kamu pasti akan memilih, dan melakukan yang terbaik. Jadi, kembalilah. Aku akan senang untuk itu." Tanganku yang dia genggam sudah kembali ke wujud asalnya, dan pandanganku kembali jernih.


"Tapi, aku ingin ini terjadi lebih lama." Aku hanya bisa memeluknya sekarang, membiarkan waktu berjalan lebih lambat.


Dia membalas pelukanku, dan setelah beberapa saat dia melepasnya.


"Aku juga, Ren. Tapi, hiduplah tanpaku. Dan juga, aku akan selalu ada bersamamu." Dia menyentuh dadaku dengan telapak tangannya.


"Aku akan berada di sini, jadi jangan lupakan aku, ya!" Dia tersenyum, lagi. Air matanya sedikit keluar, tapi aku tahu dia bahagia.


Aku juga ingin ini berlalu lebih lama, tapi aku tahu ini tidak akan terjadi selamanya.


"Syila." Aku tidak bisa menahan air mataku.


"Terima kasih atas semuanya!" Aku menunduk sedikit, mensejajarkan kepalaku dengannya. Membungkuk untuk mengucapkan terima kasih pada orang yang aku hormati, orang yang menyelamatkanku dari kehancuran.


Memeluknya untuk terakhir kali, hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini, sampai akhirnya sosok Syila melebur menjadi cahaya.


Dan beberapa saat kemudian, kesadaranku kenbali.