
Hentakan tombak berat menggema beriringan dengan suara berat, menyahuti teriakan garang komando dalam pelatihan berbaju besi. Sekitar lebih dari lima ratus ribu tentara, melakukan pelatihan yang terkoordinasi serempak dalam sebuah lataran luas penuh semangat, tidak peduli air yang menitik deras dari langit.
Di bawah tekanan tak terlihat, para tentara berdiri penuh kekuatan tak peduli dengan kaki yang bergetar. Sinar cerah meliputi tubuh mereka membantu pondasi tubuh mereka untuk tetap bertahan atas penekanan seorang pria tinggi yang berdiri memberi arahan.
Pria jakung dengan penampilan tampan disertai baju besi hitam legam. Terlihat berusia 30an dan masih sangat bertenaga memberi pelatihan pada para pasukan. Siapa yang akan menyangka, pria dengan tampilan ganas itu adalah kultivator profesional lanjutan yang langka.
Pandangannya yang dingin dan tajam tanpa riak emosi melihat sekumpulan pria berpakaian besi. Sudah bertahun-tahun ia melatih mereka, mengurung diri sebagai komandan pasukan yang diatur khusus untuk Keluarga Tang.
Seorang wanita cantik muncul dari kelebat kabut merah seperti bunga yang bermekaran. Pakaiannya merah darah, memiliki belahan di rok menunjukkan salah satu kaki jenjangnya yang indah. Wajahnya cantik, disertai mata hitam legam yang memikat dan penuh aura rubah yang menggoda. Ia berjalan, senyum mekar di bibirnya yang merah, mendekati pria itu dengan tatapan genit dan menggoda.
Wanita itu dengan genit meletakkan tangannya di dada Sang Komandan. Tatapannya menatap langsung pria yang lebih tinggi darinya, namun wajah pria itu begitu dingin membuat ia semakin senangat menggoda pria kaku ini.
"Tang Wei, sepanjang hari kamu di sini bersama orang-orang bodoh itu, kau membuatku bosan." Wanita itu menasang ekspresi sedih sambil melihat permainan kuku-kuku tajamnya yang lentik di permukaan dada Tang Wei.
Kemudian mendongak melihat pria itu yang hanya diam tanpa meliriknya, semakin dingin seolah memintanya menjauh, wanita itu terkekeh. "Memang Komandan Tang yang terkenal. Ketika semua orang memujamu, mengagumi kekuatan dan wajahmu, kamu justru mengurung diri bersama orang-orang bodoh. Sangat disayangkan, bila bakat sepertimu disia-siakan hanya untuk melatih pasukan. Kenapa tidak mengambil murid dan memintanya melatih pasukanmu, sedangkan kita pergi bersenang-senang?"
Tang Wei melirik wanita yang masih tersenyum panuh godaan. Tatapannya sangat tajam, ia menggeser tangan wanita itu dan tidak lagi menatapnya. "Apa kamu begitu senggang?"
Wanita itu cemberut, mengalungkan lengannya di bahu Tang Wei dari belakang sedangkan kakinya berjinjit. "Aku sangat senggang, sampai bosan. Kakak Huai tidak memberiku pekerjaan untuk mencari energi murni karena arahan Kakak Qi. Aku bosan sampai mengering." Ia meletakkan kepalanya di bahu Tang Wei dan menghirup leher Tang Wei yang memiliki aroma memabukkan baginya. Irisnya sekilas menjadi merah.
Tang Wei yang sebelumnya bersikap dingin agak terkejut dan mengepalkan tinju. Ia menoleh melihat wanita itu dengan tajam serta menusuk.
Senyum wanita itu semakin melebar. "Kau tahu aku sangat menginginkan matamu itu."
"Mo Shenxi, apa setelah sekian lama, kau mulai bosan dengan Tang Jin?"
"Tang Jin? Meskipun dia bukan apa-apa dibandingmu, dia adalah Kepala Keluarga Tang juga merupakan kakak tirimu. Kau benar, aku sangat mudah bosan. Jadi, jika kau meminta bantuanku untuk menyingkirkan Tang Jin, akan kulakukan .... Tentu dengan imbalan." Mo Shenxi tersenyum sangat cantik, tapi senyum itu membuat siapa pun yang melihatnya merasa tak lama lagi akan ada pembantaian berdarah.
Tang Wei memutar bola mata. "Akan lebih baik bagimu untuk tidak ikut campur." Jelas ia menolak. Jika ia setuju bekerja sama dengan Mo Shenxi, sama saja mengantarkan diri sendiri ke jurang neraka.
Mo Shenxi adalah iblis langsung di bawah Huai Mao, wanita itu sangat suka pria tampan dan menghipnotis siapa pun yang ia sukai tanpa kekangan. Bahkan jika Tang Wei terkena hipnotisnya, Tang Wei juga tidak bisa bebas dari kegelapan.
Melihat Tang Wei pergi dari hadapannya, Mo Shenxi sama sekali tidak menurunkan senyum. Entah apa yang memancingnya, kepalanya menoleh ke arah lain merasakan seseorang datang. Ia berkata pada Tang Wei yang menjauh. "Sayangnya, kau harus lebih lama di sini bersamaku."
Tang Wei menoleh ke belakang, melihat kehadiran Tang Jin yang tergesa-gesa dengan raut masam seperti terkena masalah. Tang Wei mengerutkan kening, diam di tempat sedangkan Mo Shenxi berdiri di sebelahnya melihat Tang Jin yang mendekat.
"Apa semua pasukan sudah siap?" Tang Jin langsung bertanya selagi mendekat. Ketika pandangannya terarah pada Mo Shenxi yang mengedipkan sebelah mata genit, ia sedikit tersenyum kemudian manatap adik tirinya dengan serius.
"Jika kau ingin memobilisasi mereka untuk pergi ke Klan Xie, itu bukan waktu yang tepat."
"Xie Ran di sini, entah apa motifnya." Tang Jin merasa frustrasi mengingat bagaimana Xie Ran mengalahkan Tang Yueha dan Xie Chen lalu mempermalukannya begitu buruk di akademi. Kekuatannya tidak biasa, bahkan membuat Putra Tuan Kota Ye gila dengan sihir pesona.
Tang Wei menaikkan sebelah alis. Meski tidak mengenal Xie Ran dan belum pernah bertemu, ia telah mendengar banyak tentangnya.
"Hanya seorang gadis yang masih biru." Menurutnya Xie Ran hanya gadis polos yang tidak mengerti dunia. Meski kuat, tapi jika tanpa pengalaman dan selalu bersikap gegabah, dia akan tetap menjadi orang bodoh.
"Memang, sepertinya aku yang terlalu banyak berpikir." Tang Jin menghela napas. "Dalam waktu dekat, aku ingin pasukan kita lebih banyak dan pergi ke Klan Xie secepatnya. Yueha tidak berhasil mendapatkan Kaisar, Kaisar berniat melawan kita, jika ia itu terjadi, kita akan kehilangan banyak."
"Aku sudah mengumumkan penambahan anggota, namun orang-orang yang mendaftar sama sekali tidak berguna, hanya beberapa yang memiliki kualifikasi. Aku akan melakukan perjalanan mencari anggota lain di luar kota."
"Tidak perlu, ambil saja mereka dan tempatkan di tempat yang berbeda dari pasukan elit. Jumlah pasukan harus menempuh satu juta lebih agar dapat menyeimbangi kekuatan kekaisaran."
Tang Wei mengerutkan kening tidak setuju. "Aku tidak menerima sampah."
"Setidaknya dalam perang harus ada alat pancing." Tang Jin tidak mau tahu. Ia sudah menetapkan keputusan dan tidak bisa diganggu gugat.
Mo Shenxi yang melihat perbedaan pendapat antara adik dan kakak itu tersenyum misterius. "Keputusan Kepala Keluarga agak berani, tapi aku suka." Kemudian menatap Tang Wei si sebelahnya. "Tidak ada tempat untuk orang-orang lemah, mereka seharusnya merasa terhormat dijadikan pancingan untuk kemenangan Keluarga Tang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xie Ran menikmati layanan Keluarga Tang yang cukup ramah. Cheng Hua telah mengatur kamar dan fasilitas lain untuknya dengan teliti, sampai pelayan yang melayani di kediaman barat khusus tamu.
Tang Yueying mengantarkannya berkeliling sampai akhirnya tiba di kediaman barat. Sejak tadi Xie Ran tidak banyak bicara selain menanggapi tiap pertanyaan umum yang dilontarkan dengan sederhana. Sejauh ini, segalanya terasa lancar. Terlalu lancar ....
Sesungguhnya Xie Ran tidak percaya dengan berbagai kelancaran di tiap langkahnya. Ia telah memasuki sarang harimau, tidak mungkin sesederhana yang terlihat. Mereka tampak memperlakukannya dengan hati-hati seolah ia adalah harta yang mudah pecah. Seolah jika harta tersebut pecah, maka akan menusuk mereka semua secara tidak terduga. Tapi jika dijaga dengan benar, maka akan sangat menguntungkan.
Bagi mereka, Xie Ran adalah pedang bermata dua.
Tapi Xie Ran tidak memikirkannya lagi. Setelah mengantar kepergian Tang Yueying karena hari telah gelap, ia kembali ke kamar untuk menenangkan pikiran setelah lama mendengarkan ocehan yang membuatnya pening seharian.
Memasuki kamar dan menutup pintu di belakangnya. Ketika melangkah untuk beristirahat karena lelah, langkahnya terhenti ketika merasakan kehadiran seseorang. Meski keadaan sepi seolah tak berpenghuni, ia tetap tahu siapa yang datang.
Xie Ran memutar bola mata seraya berbalik. Melihat mata menarik yang sangat ingin ia cungkil, disertai senyuman tampan yang memikat bersandar di depan pintu dengan kedua tangan dilipat.
"Apa semua Kaisar selalu suka datang pergi seenaknya?" gumam Xie Ran berdecak sebal hendak mengabaikan kehadiran Zhong Guofeng.
Zhong Guofeng tidak menggubris sindiran Xie Ran, ia justru berjalan ke arah kursi dan duduk sambil meletakkan kepalanya di tangan yang berdiri di atas meja.
Xie Ran nyaris saja berteriak kesal akan tindakan tidak tahu malu Zhong Guofeng. Kenapa sangat suka berlama-lama di kamar wanita? Benar-benar membuatnya pusing. Jika Qu Xuanzi melihatnya, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Zhong Guofeng yang malang.
"Tidakkah kau mencariku?" Zhong Guofeng menegur. Senyumannya tidak luntur, justru semakin terlihat geli melihat betapa manis Xie Ran.
"Kapan?" Xie Ran tidak pernah merasa pernah mencarinya.
"Tadi siang," jawab Zhong Guofeng. Pandangannya sama sekali tidak beralih, seolah tidak ada yang layak diliriknya selain Xie Ran.
"Kau pergi tiba-tiba, aku awalnya berpikir bahwa kau berniat unjuk diri di depan Tang Yueying. Jika dia melihatmu, rencanaku bisa kacau." Xie Ran menjelaskan dengan tak acuh kemudian berkacak pinggang. "Kenapa kau kemari?"
"Merindukanmu."
Xie Ran mengedipkan mata merasa ada yang salah. "Kita baru bertemu tadi siang."
"Meski baru setengah hari yang lalu, itu tetap terasa seperti bertahun-tahun. Kita bahkan baru bertemu setelah sekian lama hari ini."
"Entah dari mana dia mempelajari kalimat murahan itu," gumam Xie Ran sangat pelan hingga Zhong Guofeng tidak mendengarnya. Xie Ran kemudian memasang senyum paksa. "Ada yang ingin dikatakan? Apa alasanmu datang?"
"Aku sudah mengatakannya, hanya ingin melihatmu."
"Jangan beritahu aku bila terjadi sesuatu, aku tidak memberi asuransi pada siapa pun." Xie Ran tidak bisa berkata-kata. Jika kedua hewan suci mendengarnya, ia tidak bisa membantu melainkan berdoa agar Zhong Guofeng kembali utuh-utuh.
Zhong Guofeng terkekeh akan balasan Xie Ran yang menurutnya sangat lucu. Ia tidak takut pada dua penjaga bodoh itu. Meski kuat, ia sudah mengalihkan perhatian mereka sedemikian rupa.
"Jadi, dalam waktu sehari kau sudah menjadi Nona Xie yang terhormat. Tempat ini cukup layak dibanding tempatmu di Kan Xie." Zhong Guofeng memandangi kamar Xie Ran dengan pertimbangan. Meski tempat ini cukup bagus, namun tidak lebih bagus dari tempatnya. Baginya masih berada di bawah standar, tapi setidaknya layak pakai.
"Kau telah memeriksa masa laluku?" Xie Ran menaikkan sebelah alis.
"Tidak sulit mencarinya," balasnya menaikkan bahu singkat. Hanya mencari informasi, dunia tengah miliknya, apa yang tidak ia ketahui?
Xie Ran sepertinya telah memikirkan sesuatu. "Karena kamu adalah Kaisar Manusia, maka kamu pasti tahu segala sesuatu yang dilarang orang biasa ketahui." Xie Ran mencoba memastikan. "Kau tahu Tang Zhi?"
"Ketua Klan Xie?" Zhong Guofeng terkekeh. "Kau tahu lebih baik tentangnya."
"Aku pikir kau tahu hal yang tidak kuketahui. Kau tahu masa laluku hanya dengan beberapa informasi mengenai Klan Xie, kau pasti tahu sejarah Keluarga Tang yang membuatmu ingin menyingkirkan mereka."
Ia berkata, "Sejujurnya aku tidak terlalu tertarik menyingkirkan Keluarga Tang."
Xie Ran mengerutkan kening. Sebelumnya Zhong Guofeng sangat ingin Keluarga Tang menghilang, kenapa sekarang berubah?
Zhong Guofeng melanjutkan, "Tapi karena aku harus mempertahankan posisiku dari pengganggu, aku tidak memiliki pilihan lain." Rautnya mulai serius, namun tidak meninggalkan senyumnya yang menawan. "Menyebalkannya, aku harus melawan orang yang sudah mati, sangat tidak menyenangkan."
Xie Ran tertegun untuk beberapa saat. Tang Zhi sudah mati? Ia tahu bahwa Huai Mao menyamar sebagai Tang Zhi untuk memasuki Klan Xie, tapi ia tidak berpikir bahwa Huai Mao sebenarnya mencuri identitas Tang Zhi dari Keluarga Tang. Semakin ke sini, semakin banyak dugaan di benaknya.
"Tang Zhi hanyalah cangkang kosong yang digunakan seseorang. Aku yakin kau pernah mendengarnya, Huai Mao, Iblis jenis Kucing Neraka, hanya sekali lihat aku sudah tahu itu dia." Tatapannya menjadi tajam dipenuhi kedinginan, sedangkan senyumnya menjadi mengerikan.
Xie Ran merasa suhu di dalam ruangan menurun begitu saja. Ia tidak tahu bagaimana Zhong Guofeng mengetahuinya, tapi ia yakin kekuatan Zhong Guofeng berada di atas Huai Mao sehingga dapat mengenalinya begitu saja. Orang biasa tidak akan berani menentang iblis seperti Huai Mao yang melahap segalanya dalam skema mengerikan.
Zhong Guofeng melihat Xie Ran yang tampak sangat serius berpikir, ia batuk singkat sebelum melanjutkan dengan normal, suhu dingin di ruangan mereda seketika. "Dilihat dari kemampuannya, sepertinya dia sangat kuat, kau bukan tandingannya."
"Aku tahu." Xie Ran saat ini memang bukan tandingannya. Tapi berbeda jika dengan Xie Ran 'yang lain'. Ia ragu Zhong Guofeng tidak tahu itu. "Kau bisa menjelaksanku mengenainya, tidak mungkin kau tidak mengenal musuh sebelum datang ke sini, 'kan?"
Zhong Guofeng bukannya terkejut malah tersenyum lebar dipenuhi kebahagiaan. Ranran selalu paham dan mengerti segala hal membuatnya terlihat sangat menarik, bahkan bertambah.
"Sebelumnya aku telah 'mengambil' beberapa orang untuk diinterogasi. Mereka dari Keluarga Tang serta Klan Xie yang sudah lama bekerja, namun telah dipecat beberapa tahun lalu. Pada masa Keluarga Tang berada di bawah perintah Tang Shen, Keluarga Tang berada di masa normal tanpa pergolakan atau perubahan. Namun, Tang Shen tiba-tiba mati, tidak ada yang tahu penyebabnya. Namun yang diuntungkan adalah Tang Jin. Kau tahu maksudku." Zhong Guofeng tidak perlu terlalu rinci karena Xie Ran sudah pintar menebak situasi.
Seseorang yang bertanggungjawab atas kematian Tang Shen hanyalah Tang Jin yang kini menjadi Kepala Keluarga Tang dan menguasai perbatasan begitu tirani. Xie Ran telah menebaknya sejak awal. Karena Tang Yueha adalah putri satu-satunya Tang Shen yang telah kehilangan segalanya, Tang Yueha telah dijadikan bidak utama bagi Huai Mao untuk mencapai kekaisaran.
"Pada saat itu, Tang Zhi sudah bukan lagi Tang Zhi yang dikenal sebagai wanita yang terobsesi pada Ketua Klan Xie, Xie Yun. Aku pernah melihat sebelumnya, bahwa Xie Yun terkena sihir aneh ketika dalam perjamuan dan saat itu ia membawa Tang Zhi. Aku yakin, dia terkena hipnotis dari Huai Mao yang menyamar sebagai Tang Zhi. Tidak ada yang sadar, aku juga tidak akan sadar jika tidak berinteraksi dengannya."
Begitu Xie Yun disebut, Xie Ran menurunkan pandangannya, mengepalkan tangan dalam keadaan linglung. Awalnya ia pikir Xie Yun mengambil Tang Zhi berdasarkan keinginan sendiri, tapi ternyata ia telah berburuk sangka.
"Jadi begitu," gumamnya. Hanya dengan penjelasan singkat Zhong Guofeng, ia dapat memahami sesuatu.
Huai Mao sengaja memanfaatkan Tang Zhi yang terobsesi pada Xie Yun, menjadi dirinya kemudian menghipnotis Xie Yun untuk mendapatkan posisi di Klan Xie dan menyingkirkan semua penghalang. Tapi pertanyaannya, mengapa Huai Mao menyisakan Xie Ran yang berpura-pura bodoh?
"Jika kamu ingin aku membantu membunuh Huai Mao, aku bisa membantu." Zhong Guofeng menawarkan diri.
Xie Ran menggeleng. "Aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri. Kau dilarang menyentuhnya."
Zhong Guofeng mengangguk setuju, "Baik." Kemudian ia melihat kalung yang dipakai Xie Ran. Ia baru menyadari bahwa Xie Ran mengenakan kalung yang agak menarik baginya, meski hanya terlihat sebagai giok kecil biasa. Selama ini ia tidak memperhatikan kalung yang tidak mencolok itu, tapi sekarang beda. "Kalung yang bagus," katanya.
Xie Ran menatapnya sekilas kemudian beralih pada kalung di lehernya. Ia tidak menyembunyikan apa pun, berpikir tidak ada gunanya jika Zhong Guofeng mengambil ketertarikan akan liontin tersebut.
"Pemberian terakhir ibuku, memang sangat menarik." Xie Ran sedikit menarik sudut bibirnya tanpa sadar. Melihat liontin itu, membuatnya teringat pada Qu Xuanzi. Apa yang sedang pria itu lakukan?
Ketika Xie Ran mengedip mata, ia sadar akan pikirannya sendiri yang tidak masuk akal. Ia melepas genggamannya terhadap liontin dan bersikap senormalnya.
Sikap Xie Ran yang aneh tidak luput dari perhatian Zhong Guofeng. Pria itu menyipitkan mata, terlihat seperti seseorang yang menaruh curiga sebelum akhirnya menormalkan rautnya ketika Xie Ran menatapnya.
Zhong Guofeng terbatuk sebentar kemudian bicara, "Ketika menuju Kediaman Tang, tanpa sengaja aku melihat salah satu temanmu di toko."
Mata Xie Ran menunjukkan kilatan cemerlang seperti anak kecil yang bersemangat menemukan mainannya. "Siapa?"
"Aku tidak tahu namanya, tapi dia salah satu teman perempuanmu selain Xiaorong."
Senyum merekah di bibir Xie Ran begitu lebar lalu beranjak dari kursi nyaris melompat. "Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku akan menemuinya, di mana dia?"
Zhong Guofeng tersenyum geli sambil berdiri dari kursi lalu berjalan ke arah Xie Ran. "Mau aku antar?"
Xie Ran mengangguk. Dengan adanya Mei Liena, rencananya akan benar-benar matang. Ia juga sangat merindukan gadis cerewet itu setelah lama tidak bertemu sejak pertempuran di pagoda.
Zhong Guofeng melingkarkan lengannya di pinggang Xie Ran menjadi lebih dekat. Xie Ran menatapnya bingung, tapi akhirnya ia mengerti bagaimana cara Zhong Guofeng menyelinap menghindari penjagaan Kediaman Tang.
Xie Ran merasa kakinya tidak lagi menyentuh tanah ketika Zhong Guofeng mengangkat tubuh Xie Ran yang pendek menjadi sejajar dengan tingginya. Segera setelah itu, wujudnya menjadi kabut yang melesat keluar jendela diiringi oleh angin yang berhembus.
Malam di Kota Dongzhou cukup ramai, banyak orang berlalu-lalang melalui lampu-lampu kuning yang menyala di berbagai sisi kota sebagai penerangan malam.
Di salah satu rumah makan, Mei Liena baru saja menyelesaikak makan malam kemudian beranjak setelah meletakkan satu koin perak di meja. Berjalan keluar rumah makan, ia meregangkan tubuh seperti habis bangun tidur karena lelah seharian berjalan.
Sepanjang hari ia berkelana, mencari lingzhi bermutu tinggi untuk pengobatan kakaknya tapi tidak ditemukan. Kebanyakan toko hanya menyedia lingzhi biasa, itupun harganya melangit. Perjalanannya di Kota Dongzhou hanya sementara sebelum pergi ke Sekte Bayangan Malam untuk menemui Pei Xi. Siapa tahu pria itu bersedia membantunya.
Setelah pertempuran di Pagoda Kaca, terlepas dari Xie Ran yang hilang, keenam sahabat berpisah untuk urusan pribadi. Sebelum itu, mereka mengungkapkan latar belakang masing-masing dengan jujur untuk saling berkunjung jika ada sesuatu yang diperlukan.
Pei Xi kembali ke Sekte Bayangan Malam menyelesaikan masalah yang telah dibuat Bao Jun di sana, sedangkan Zhong Xiaorong, Yan Yao, dan Liu Chang pergi ke Kota Zichen. Liu Chang adalah putra perdana menteri, ia harus menyelesaikan masalah di sana setelah lama diasingkan.
Sedangkan Zhou Kui dan Mei Liena kembali ke Kota Ye untuk reuni keluarga. Hanya saja, Zhou Kui tidak benar-benar reuni keluarga, pada dasarnya semua keluarganya telah tiada dan ia hanya membuka profesi sebagai penempa sekaligus membuatkan pesanan Xie Ran. Ia yakin suatu hari mereka semua akan reuni.
Setelah kembalinya mereka ke tempat masing-masing, mereka berenam membuat kejutan tersendiri pada keluarga mereka. Seperti halnya Zhong Xiaorong yang kini tidak lagi direndahkan dan mendapat gelar Putri Xuelian di usia yang masih muda. Sedangkan Yan Yao membuat Klan Yan meningkat pesat dan kini menjadi yang pertama setelah penurunan Klan Xie.
Mei Liena telah mengunjungi mereka semua selama ini. Keluarganya telah bangkit kembali dan ia bisa merawat kaki kakaknya yang lumpuh membuatnya sangat senang dan menceritakan semua pada teman-temannya. Hanya tersisa Pei Xi dan Xie Ran yang menurutnya sangat jauh untuk dikunjungi. Karena Xie Ran tidak jelas keberadaannya, ia memutuskan mencari Pei Xi di Sekte Bayangan Malam.
Melihat penginapan yang telah ia reservasi sebelumnya, ia langsung masuk ke dalam untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan jauh sambil mencari bahan penting untuk obat kakaknya. Namun begitu kakinya memasuki kamar, ia merasakan aura kamar berubah membuatnya waspada.
Cambuk muncul dari tangannya seperti ular yang menjulur disertai kabut hijau beracun yang meliputi cambuk. Cambuk itu ditemukan dari hasil berkelananya ketika perjalanan ke Kota Dongzhou, ia mengambilnya dari tangan seseorang yang ia ingin selamatkan tapi orang itu malah memberinya camhuk aneh ini sebelum orang itu meninggal.
Itu terbuat dari tulang ular tingkat tinggi yang sulit dipahami dengan racun yang tebal. Bahkan Mei Liena harus berhati-hati menggunakannya karena belum sepenuhnya menguasai kemampuan cambuk.
Langkahnya berjalan perlahan, mewaspadai aura kuat yang muncul di ruangan bersiap akan pertempuran. Sudah lama ia tidak bertarung, ia juga belum menggunakan cambuknya sejauh ini dan ingin tahu kemampuannya.
Suara langkah kaki terdengar di telinga, tangannya berayun cepat membiarkan cambuk menjulur panjang menghancurkan meja menjadi reruntuhan dalam satu tebasan. Ketika merasakan pergerakan lainnya, ia langsung mengalirkan kekuatan spiritual ke cambuk dan meluncurkan serangan.
Sinar merah menembus cambuk disertai aura kuat yang membuat Mei Liena tercegang. Ia mundur beberapa langkah dan menghitung kekuatan sosok putih tak terlihat itu dengan penuh kejutan. Kekuatan profesional lanjutan!
Mei Liena semakin waspada. Ia tidak tahu telah menyinggung siapa sehingga menyerangnya dengan begitu kejam di malam hari. Serangan itu berangsur muncul beruntun sehingga Mei Liena hanya bisa menghindar dan menangs serangan dengan kecepatannya. Ketika ia merasakan pergerakan lain dari belakang, ia berbalik dan meraih sosok tersebut untuk memberinya pukulan.
Tapi sosok tersebut jauh lebih cepat membalas serangannya. Ketika serangan sosok tersebut nyaris menyayat lehernya, serangan dialihkan ke samping membuat Mei Liena bingung. Orang itu bisa saja membunuhnya, tapi malah sengaja melesetkan serangan. Ini jelas ujian. Mei Liena pun mengambil kesempatan melakukan serangan balik. Cambuknya meluncur ke arah sosok yang masih sekelebat tak dikenal sampai akhirnya ia mendapatkan lengan seputih salju itu dan memutarnya.
Namun Mei Liena ikut berputar karena kekuatan lawan hingga akhirnya ia dapat melihat sosok putih di balik sinar merah yang menghalangi pandangan. Matanya terkejut penuh kejutan, ia mendarat melihat lawannya yang tersenyum dengan wajah yang sangat dikenalnya. Hanya dengan melihat itu, Mei Liena menarik semua aura dan menyimpan cambuknya, begitu pula orang itu.
Dapat mengalahkannya tanpa senjata, memang benar-benar seorang profesional lanjutan. Mei Liena tertawa setelah mengenali gadis yang tiba-tiba 'menyapa' sampai ekstrem dengan penuh kejutan. Gadis itu juga tertawa, ia tidak lain adalah Xie Ran.
Mei Liena menghentikan tawanya dan langsung menyambar Xie Ran dengan rasa kesal karena telah dipermainkan. "Membuatku takut saja, rasakan ini!"
Xie Ran semakin terkekeh sambil menghindari tangan Mei Liena yang menyerangnya. Ia lari mengitari ruangan sambil tertawa apalagi mengingat wajah panik Mei Liena setelah menyadari lawannya adalah profesional lanjutan. Sangat menyenangkan ....
Setelah beberapa saat berlarian sampai lelah, Xie Ran berhenti melihat Mei Liena membungkuk sambil memegang lututnya karena kelelahan. Xie Ran menghampiri, menepuk pundaknya dengan seringaian.
"Sudahlah, hanya bercanda," kekeh Xie Ran.
Mei Liena meliriknya lalu tertawa. "Entah dari mana kau belajar."
Xie Ran menggedikkan bahu tidak menjawab Mei Liena, melainkan duduk di kursi. Mei Liena menghampiri, duduk di sebelahnya sebelum melontarkan pertanyaan.
"Kemana saja kau selama ini? Menghilangkan tanpa jejak tanpa memberi kabar." Mei Liena menggerutu.
Xie Ran tetap lada senyuman indahnya sebelum akhirnya berubah menjadi senyum misterius. "Ingin mendengar cerita?"